
Dadaku terhunyuk melihat kondisi kak fadil yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. Tak ada lagi kak Fadil yang tegap dan gagah. Tubuhnya kian menipis kurus seiring dengan berjalannya hari dengan penyakit yang di deritanya.
Leukimia
Perasaanku rasanya hancur saat baru mengetahui fakta itu. Penyakit mematikan yang menggerogoti tubuh kak Fadil itu sangat menakutkan bagiku. Kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi terus menghantui pikiranku.
" Mbak Renata"
Tatapanku yang sedaritadi menerawang keadaan kak fadil dari celah kaca pintu, terusik dengan panggilan terhadap namaku.
Dia, Kartika yang menyapaku dengan tatapan sendunya.
" Ada apa?" Tanyaku, dengan mengenyampingkan perasaan sakit hatiku terhadap maduku.
" Aku sama Mas Fadil itu sebenarnya tidak menikah Mbak"
Dahiku mengkerut mendengar pernyatannya
" Mas Fadil bawa aku ke rumahnya hanya sebatas dasar pertanggungjawaban sama almarhum Bapak. Waktu itu, Mas Fadil tidak sengaja menyerempet bapak. Sebelum Bapak pergi, Bapak menitipkan aku sama Mas Fadil. Karena Bapak takut aku akan hidup sebatang kara"
Aku mulai mengerti alur pembicaraan Kartika " Lalu?"
" Awalnya aku tidak mau di ajak Mas Fadil, Tapi Mas Fadil memohon padaku agar aku ikut dengannya dan-" Kartika menjeda kalimatnya
" Apa?"
" Berpura pura menjadi istri mas Fadil"
Air mataku rasanya tak bisa tertahan lagi. Maksudnya apa
" Alasannya apa?" Lirihku.
" Sebenarnya, Mas Fadil yang lebih berhak untuk memberitahukan sama Mbak Renata. Tapi, aku takut Mas Fadil tidak mempunyai waktu untuk menjelaskannya sama Mbak hiks"
" Kenapa sebenarnya?"
" Mas Fadil mau Mbak Renata membenci Mas Fadil, agar Mbak tak akan terpuruk saat Mas Fadil gagal melawan penyakitnya mbak"
Sakit. Sakit sekali rasanya. Kenapa aku menjadi orang terakhir yang mengetahui kondisi terpuruk suamiku.
" Setiap detik Mas Fadil selalu menanyakan tentang Mbak, anak anaknya. Bahkan Mas Fadil juga meminta orang untuk mengawasi setiap gerak gerik Mbak"
Aku tak tahan lagi menopang diriku. Kakiku rasanya melunak seperti jel.
" Dan puncaknya, saat Mas Fadil mengetahui kalau Mbak pendarahan dan di bawa ke rumah sakit. Mas Fadil sangat kecewa terhadap dirinya sendiri. Dan menolak untuk melanjutkan kemoterapi lagi-'
" Kenapa Mas Fadil menolak" lirihku
" Mas Fadil beranggapan tak ada lagi gunanya dia untuk terus hidup, kalau hanya untuk menjaga anak anak dan istrinya tidak bisa"
" Mas.. hiks kenapa kamu tidak jujur saja kepadaku. Aku ini istri kamu"
__ADS_1
Pandanganku rasanya sedikit mengabur " Kartika, tolong tuntun aku untuk duduk di kursi" pintaku lirih. Aku takut aku akan tumbang.
" Ya ampun. Ini Renata kenapa?" Aku mendengar suara Mama yang memekik khawatir
" Kartika sudah bilang semuanya Ma. Mbak Renata berhak mengetahuinya"
" Bunda.. Kakak kangen"
Aku tersenyum tipis mendengar penuturan anak gadisku " Bunda juga sayang"
" Minum dulu Re" kata Nana seraya menyerahkan sebotol air mineral.
Setelah minum dan memicingkan mataku beberapa saat. Kondisiku rasanya sudah lebih stabil.
" Kakak bunda minta maaf karena tidak bisa hadir ke sekolah kakak" kataku kepada Fiona yang sudah bersandar manja di sebelahku.
Fiona mengangguk " Kakak tahu. Kata oma bunda lagi di rumah sakit"
Aku melirik Mama " Mama juga mengetahuinya Renata" lirih mama
" Onty Nana juga sudah memberi tahu kakak, tapi onty melarang Kakak untuk ketemu bunda waktu bunda di rawat. Kan Bunda di rawat disini juga. Jadi kakak cuma ngintip dari pintu"
Aku baru sadar, kalau rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat yang sama aku di rawat. Lantas aku melirik Nana meminta penjelasan kenapa dia melarang anak cantikku untuk bertemu denganku. Dan si empu hanya senyum senyum tak jelas.
****
Malam hari tiba, aku masih setia menunggu kak Fadil di ruang inapnya. Mama dan yang lainnya sudah pulang. Tadi mama juga menyarankanku untuk pulang saja. Tapi aku tetap ingin berada disini. Mana bisa aku tenang dirumah kalau suamiku saja sedang mati matian melawan penyakitnya.
" Aku tidak menyukai caramu yang seperti ini. Kamu pikir aku sama anak anak bahagia selama ini. Fayyadh mencari kamu terus, dia rindu kamu, ayahnya Mas"
" HIKS. Kamu bangun ayo. Aku tau kamu kuat, aku rindu mendengar suaramu Mas, Ayoo bangun ya"
Nihil. Tak ada satupun perkataanku. Katakan saja aku gila mengharapkan orang yang koma untuk merespon segala ucapanku. Tapi, ada yang berkata kalau orang yang sedang koma itu ternyata masih bisa mendengar kejadian kejadian di dekatnya. Tapi akupun tak tahu pasti tentang kenenarannya.
Tatapan sendu nan kosongku kini terbuka lebar saat melihat mata kak Fadil perlahan terbuka " Mas..." lirihku
Kak fadil menatapku sendu. Belum ada perkataan yang keluar dari bibirnya
" Aku panggil dokter ya, mas"
Kak Fadil menggeleng " Maafkan aku Re"
Aku menitikkan air mataku saat mendengar kalimat pertama kak Fadil
" Aku maafkan kamu Mas. Aku mau sama kamu terus. Kamu harus sembuh ya. Anak anak menunggu kamu di rumah"
" Aku lemah Re, aku rasanya tak kuat lagi"
Aku membuang arah pandanganku. Rasanya hati ini tak suka mendengar kak Fadil berucap demikian.
__ADS_1
" Aku sayang sama kamu" Lirih kak Fadil
" Kalau kamu sayang sama aku, Ayo semangat. Kamu pasti bisa sembuh Mas"
Kak Fadil menggeleng " Rasanya sakiit sekali. Aku tak kuat"
Aku menatapnya tak suka " Kamu tega meninggalkan aku sama anak anak. Tega kamu membuat mereka masih kecil tapi sudah tidak punya ayah"
" Hiks.. kamu tega, Anak yang di perut aku lahir tanpa ayah. Kamu tega ha?"
Kak fadil mengatur nafasnya yang tersendat sendat " Kamu wanita kuat, hebat. Kamu pasti bisa menjaga anak anak kita"
Air mata kak fadil yang jatuh semakin mengiris sakit hatiku. Aku berhambur kepelukannya. Pelukan yang sangat ku rindukan beberapa waktu terakhir ini, dan mungkin akan selalu ku rindukan. Nanti
" Papa aku datang, Re"
Aku semakin menangis dengan kalimat ucapan terakhirnya. Aku mendongak menatap kak Fadil yang tersenyum " Aku cinta sama kamu" .
Aku menjerit saat kak fadil menutup matanya " dokter, suster tolong"
" Mas. Bangun kamu mas. Aku belum memaafkan kamu. Bangun mas"
" Permisi bu. Biarkan kami memerika keadaan pasien terlebih dahulu"
" Dokter, suami saya pasti bangunkan. Suster bangunkan suami saya"
" Ibu. Yang sabar bu tenang. Biarkan dokter melihat nya"
" Innalillahi wa innailaihiroji'un. Catat tanggal kematiannya sus"
" Baik dokter"
" DOKTER BICARA APA. SUAMI SAYA BELUM MENINGGAL. JANGAN MENGADA NGADA DOKTER" Teriakku histeris
" Sabar bu. Ini sudah kehendak yang di atas"
" Suster, saya sedang hamil. Anak anak saya juga sedang menunggu ayahnya di rumah"
" Mereka masih kecil, mereka masih butuh ayahnya sus" Kataku semakin melemah.
Suster tersebut dapat kulihat menatapku dengan iba. Mungkin siapa saja yang melihatku akan simpati melihat keadaanku yang seperti ini.
" Kenapa sesakit ini mencintai kamu mas.. aku lebih baik kamu dengan orang lain daripada kamu meninggalkan aku untuk selamanya begini"
" Aku belum siap untuk kehilangan lagi, mas"
Setelahnya pandanganku buram dan aku tak sadar bagaimana lagi keadaan selanjutnya.
****
Say goodbye sama Mas Fadil Gaes huhuhu
__ADS_1