
Suasana rumah sudah sepi saat aku dan kak fadil beserta anak anak tiba di rumah. Mungkin mama udah tidur. Berhubung anak anak ikut semua, jadi mama nggak ada temen buat main. Ya begitulah mama, daripada ngajakin aku buat ngobrol, dia lebih milih buat main sama fayyadh dan ngobrol dengan bayi berusia hampir 6 bulan yang belum paham apa apa.
Tiba dikamar, aku langsung merebahkan diri di ranjang dan mencari posisi ternyaman di sebelah anak gantengku yang udah terlelap setelah nyusu di sepanjang perjalanan pulang.
" Mau air anget?" Tanya kak fadil ntah kepada siapa. Walaupun aku tau pertanyaan itu ditujukan padaku, tapi aku malas untuk menyahutinya.
" Re..".
" hemm" jawabku sekenanya
Kak fadil mendekat kearahku dan duduk disebelahku disisi ranjang yang ada sedikit cela buat duduk
" Kamu mau air anget. Biar aku ambilin"
" nggak" jawabku singkat dengan tidak membuka mataku sedikitpun
Kak fadil menarik gusar nafasnya " masih mual. Aku olesin minyak angin ya ?" tawar kak fadil yang udah siap siap buat menyingkap bajuku.
" nggak perlu " Ku tepis tangannya yang ada diatas perutku.
" Kenapa lagi sih re?. Aku minta maaf kalo misal kamu ngambek gara gara aku bentak tadi. Aku kelepasan karena kamu nggak mau jujur ke aku"
" Hiks.. tapi nggak harus sampe bentak bentak gitu kan?" Isak ku pelan, karena takut fayyadh kebangun.
" Kamu seolah olah hiks..hiks membenarkan ucapannya istri pak riyan riyan itu mas"
" Duduk dulu yuk duduk.." Kak fadil membantuku untuk duduk.
" Aku cuma khawatir sama kamu dan calon anak kita sayang.."
Diangkat kak fadil daguku agar mau menatapnya " Maafin aku ya.."
Bukannya malah menjawab, ntah dorongan darimana aku malah berhampur kepelukannya menangis dengan tersedu sedu.
" Kayaknya aku bakal dapet anak cewek lagi deh sayang " Kata kak fadil disela sela keheningan kami.
Kutarik diriku dari pelukannya dan menatapnya dengan tatapan bertanya tanya
" Soalnya aku perhatiin, akhir akhir ini kamu manja banget, terus gampang nangis" ucap kak fadil sambil terkekeh.
" Masa sih?" Tanyaku seolah olah tidak membenarkan ucapannya, ya walaupun dalam hati aku mengiyakan.
" Iyalah. Aku yg merhatiin tiap hari " Kata kak fadil
Aku menatapnya penuh selidik " cieee yang suka merhatiin. Udah cinta sama aku ya?" Tanyaku dengan jail. Melupakan kesedihanku tadi. Cepet banget kan, padahal bekas air mata aja masih membekas. Tapi suasana hati, udah kembali ceria.
" Udah mau dua loh sayang hasil mahakarya aku. Masa kamu belum bisa menyimpulkannya"
Aku mengerucutkan bibirku " Tapi aku nggak pernah denger ucapan cinta dari mulut kamu "
Kak fadil menatapku dengan lekat " Apa prilaku aku selama ini nggak cukup mewakili ungkapan rasa cinta aku?"
Aku refleks menggelengkan kepalaku " nggak cukup. Aku tuh pengen sesekali di ajak romantis tau mas. Kamu nya aja yang nggak pernah peka" cibirku
Kak fadil tersenyum mengejek kearahku " Udah jadi emak emak kali re, nggak cocok mintak romantis romantisan"
Tanganku reflek mencubit pinggangnya " Aku masih muda ya kalok kamu lupa. Karena nikahnya aja yang cepet" kesalku. Kan emang iya. Baru beberapa bulan aku menginjak 17 tahun.
Tangan kak fadil berhasil membawaku kedekapannya yang ajaibnya bisa langsung menghilangkan kekesalan ku" Jadi bunda nya anak anak pengen diromantisin gimana, hem?"
Tanyanya sambil menghadiahi kecupan lembut dipuncuk kepalaku.
" ya kamu inisiatif sendiri lah mas, masa nanya ke aku "
Nah kan. Aku rasanya pengen ngebedah isi otaknya suami gantengku ini. Biar agak sedikit pintar untuk masalah manis manisin istri.
" Suami kamu ini nggak romantis sayang. Jadi, bantu saran dong"
" Ya apa kek, ajak dinner berdua atau apa aja gitu"
Kak fadil terkekeh " Kalok dinner berdua kayaknya sekarang aku nggak bisa menuhin"
Aku sontak mendongakkan kepalaku menatapnya " Kenapa?"
__ADS_1
" Ya mana bisa kan ada anak -"
" Ya anak anak bisa di titipin bentar gitu sama omanya. Mama nggak bakalan keberatan kalo masalah cucu nya" selaku
" Yakin?"
Aku mengangguk ragu. Karena jujur sekarang rasanya agak berat gitu buat pergi- pergi nggak bawak anak. Raganya sih emang lagi diluar tapi pikiran selalu ke anak anak. Tapi, kalo sesekali nggak papa kali ya. Anggap aja ini ngidamnya aku pengen diromantisin sama ayahnya anak anak.
" Kamu nggak ngitung yang diperut?" Tanya kak fadil
Aku mengerutkan keningku nggak paham maksud ucapan kak fadil.
Nah, iya. Baru ingat, kalo lagi berbadan dua. Maafkan bunda ya nak. Yang hampir ngeluapain keberadaan kamu.
" Gimana?" Tanya kak fadil mengejek
" Tau ah" kesalku. Dan melepaskan diri dari dekapan kak fadil.
" Mau kemana?" Tanya kak fadil yang melihat aku berdiri.
" Mau makan. Laper "
" Aku temenin ya"
" nggak usah mas. Kamu tungguin fayyadh. Ntar dia kebangun. " selaku saat kak fadil baru saja hendak beranjak dari duduknya.
" Kalo gitu kamu tunggu aja disini. Biar aku yang ngambil makanan ke dapur" Ujar kak fadil seraya berdiri.
" Kenapa gitu?" Heranku
" Anggap aja simulasi romantis" jawabnya sambil terkekeh.
Aku senyum senang mendengar ucapan kak fadil " Emang kamu tau aku mau makan apa ?"
" Makan nasi kan?" Tanya nya memastikan
Kepalaku menggeleng " Buatin mie goreng ya mas?" Pintaku dengan menampilkan puppy eyes .
" Nggak ada mi goreng mi gorengan ya re"
" Kali ini aja, ya mas ya?" Ucapku lagi berusaha meyakinkan.
" padahal ini maunya anak kamu " keluar sudah rumus andalan. Jalan satu satunya biar di bolehin ya gini. Duhh maafin bunda ya nak.
" Oke. Malam ini kamu aku izinin buat makan mie instant, buat 3 bulan ke depan" putus kak fadil
Aku membelalakkan mataku. Gimana bisa absen makan mie berbulan bulan. Ada ada aja nih bapak bapak
" Gimana?" Tanya kak fadil lagi memastikan.
Aku akhirnya menganggukkan kepalaku. Nanti kalo misal pengen makan mie lagi, bilang aja alasannya maunya dede bayi. Hihi.
Kak fadil keluar dari kamar setelah acara negoisasi perihal mie instan tadi. Meninggalkan aku dengan wajah kesal yang di tekuk. Bayangin gimana ceritanya sih mie goreng nggak pake cabai. Aneh aneh aja memang tuh si bapak fadil. Awas aja kalo nggak enak. Aku suru dia yang ngehabisin.
Padahal aku tadi bayanginnya mie goreng ekstra pedas pake rawitnya banyak. Kaum adam memang mana ngerti yang namanya ngidamnya istri. Awas aja kalo nanti anaknya lahir ileran biar tau rasa.
*****
Bosan nungguin kak fadil yang nggak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan membuka aplikasi hijau di ponselku. udah seharian ini nggak ngecek ponsel. ya karena males, nggak bakalan ada yang penting juga.
sekarang megang hp ya cuman buat ngabari suami, kalo mau izin keluar kalo dia lagi nggak di rumah. sesekali buka instagram, buat ngeliat keadaan dunia. ya selebihnya buat ngeliat vidio tutorial resep masakan.
Aku membuka roomchat dari nana yang ada 30 pesan belum terbaca. aku mengerutkan keningku heran. apa gerangan si onty cantiknya anak anak spam chat sebanyak ini.
...Nana Jomblo...
P
P
P
P
__ADS_1
P
P
Re....huaaaaa lo dimana sih bumil
Re, pen curhat nih
Re
Renataaaaa
Iiihhhh sibuk bener nih emak emak
*Re.. capek. pen nikahh gueee
Re
Renata
istrinya pak fadil
Capek gue kerja re 😞
suruh Aldo buat ngelamar guueee
huaaaaa😭😭
Maaaaamaaa
reeeee
gue mau bunuh diri. Tapi nggak berani. Takut arwahnya gentayangan
ihhhh rere kemana sih.
Lagi program anak ke 4 ya?😏
Nggak usah ngebut kali re. yang di perut aja belom lahir. wkwkwkk
kalo udah selesai balas chat gue ya re*
Aku membulatkan mataku kesal, membaca isi chat nana jomblo. bisa bisanya pikirannya jauh traveling kemana mana.
^^^*Ape najom. nana jomblo^^^
^^^Kenapa tiba tiba mau nikah?^^^
^^^Ada masalah apa?. cerita sama gue..^^^
^^^tapi kalo mau curhat dateng ke rumah kak fadil aja. males gue dari chat gini.^^^
^^^Dan satu lagi. mulut lo minta gue cabein ya. program anak ke 4 ndasmu*!!!^^^
Setelah mengetikkan dan menirim pesan dari nana. aku langsung mematikan kembali hp ku, berhubung datangnya suami tercinta dengan nampan yang ada piring dan segelas air minum.
Mataku berbinar menatap tampilan mie goreng ala suami yang keliatannya menggiurkan.
" Woahhh.. makasih ayah" kataku antusias
Kak fadil tersenyum mendapatkan respon baik dariku. Aku harus mengapresiasi usaha nya kak fadil. kasihan masak mie instant sebungkus aja udah keringetan sampe bajunya basah kayak habis mandi ujan.
" Suapin ya mas?" Pintaku. manja mode on. hihi
Kak fadil menyuapkan sesendok mie ke mulutku. rasanya enak. tapi tunggu kayaknya ini pake cabai deh.
" Kamu kasih cabai juga?"
" 2 biji " Jawabnya singkat
" Terimakasih ayah" Ku daratkan sebuah kecupan dipipinya yang lagi banjir keringat.
" Sebelah lagi belum nih sayang " Protesnya
__ADS_1
" Nggak mau. kamu bau keringat " Jawabku yang membuat kesal di wajahnya.
Kak fadil lanjut menyulangi aku sampai mie goreng di piring habis kandas. Rasanya puas banget. makasih suami sayang.