
Keringat dingin menjalari semua tubuhku. Rasa sakit diperutku rasanya nggak bisa tertahan lagi. Sekarang masih jam 04. 00 pagi. Dari dua jam yang lalu mataku nggak bisa di ajak merem sakinkan menahan sakit diperut. Mau ngadu ke suami, kak fadil malam tadi nginap di rumah sakit nungguin mama. Mau nelpon dia, tapi takut kena marah dan ujungnya dibentak bentak.
" Adek, di dalam kenapa sayang. Maafin bunda kalo ada salah ya. Baik baik di dalem sana " Lirihku sambil mengelus perut rataku yang berisi janin 2 bulan lebih sepuluh hari.
Setiap orang pasti ingin punya keluarga yang utuh bukan, begitu pula denganku. Tapi kenapa di saat saat sulitku mengandung, selalu saja ada permasalahan di rumah tanggaku. Kata orang, dibalik ujian atau cobaan yang Allah berikan pasti ada hikmah dibaliknya. Dan saat ini, aku masih setia menanti hikmah dibalik ujian rumah tanggaku ini.
Mataku sekarang mendadak ngantuk setelah rasa sakit diperutku sedikit berkurang. Mau tidur lagi pun nanggung, nanti ujung ujungnya kesiangan. Akhirnya aku memilih untuk mandi sepagi ini biar badan seger, katanya mandi subuh gini juga baik.
Selesai mandi bersamaan dengan berkumandangnya azan subuh. Pas sekali bukan. Aku langsung meraih mukenah untuk melaksanakan sholat subuh.
Saat saat seperti ini, jadi keinget kak fadil. Apa
Saja kegiatan yang ku kerjakan berhubungan dengan kak fadil pasti hatiku sakit. Seminggu ldr. tapi setelah berakhir seminggu bukannya bisa kangen kangenan, malah harus jauhan. Bayang bayang mau makan sate bareng suami nampaknya harus ku tepis jauh jauh dari ingatan. Karena mungkin nggak akan kesampaian untuk saat ini. Dan aku berharap akan datang masa masa dimana keluarga kami harmonis kembali.
Selesai dengan kewajiban seorang muslimah. Sekarang saatnya melaksanakn kewajiban seorang istri dan seorang ibu. Seperti rutinitas biasa. Beres beres rumah, memasak sarapan, sekaligus mau masak bubur buat dibawa kerumah sakit.
Semalam niat buat ke rumah sakit harus gagal, karena kak fadil melarang aku dan anak anak kesana. Padahal aku pengen tahu gimana perkembangan keadaan mama. Aku nggak tau apa alasan kak fadil ngelarang aku jengukin mama. Tapi, mau nggak mau aku tetap nurut. Karena nggak mau nambah persoalan semakin rumit.
Makanan buat sarapan udah tertata rapi di meja makan. Kak fadil juga udah pulang dari rumah sakit. Kayaknya lagi mandi.
" Bund, kakak sarapannya roti aja ya" kata fiona sambil menempatkan posisi duduk disebelahku yang sedang menyusui fayyadh. Anak gantengku itu bangunnya pas sekali, setelah aku selesai beres beres dan masak. Walaupun belum sempat mandi lagi, masih bau keringet sama bau bawang, anak gantengku itu tetap aja mau ndusel ndusel di ketek bundanya. Ya untung nggak bau bau amat ya kan ganteng.
" kok roti kak?" Sekarang atensiku sudah beralih ke arah fiona.
Fiona cuma nyengir " Nasi gorengnya di bekelin aja bund"
" Bunda masak banyak sayang. Kalo mau bawa bekel nasi goreng juga masih cukup kok"
Fiona menggeleng " Bukan gitu tau bunda cantiknya kakak, kalo fiona makan nasi goreng lagi dirumah. Takutnya kakak kekenyangan. Terus mau BAB deh. Kakak nggak suka buang air disekolah"
Aku terkekeh. Fiona persis sekali seperti aku. Rasanya paling anti buat buang air besar di toilet sekolah. Tapi kalo sekedar buang air kecil aku masih mau. Nggak tau apa bedanya sih.
" yaudah, makan roti aja. Nanti bunda isiin nasi gorengnya ke kotak bekel kakak"
" fiona berangkat sama pak didik" Kak fadil baru saja tiba di meja makan. Dan langsung bicara dengan ketus.
Fiona cuma begong " apa lagi, pak didik udah nunggu di depan"
Susu nya aja belum sempat diminum anaknya udah disuruh berangkat sekolah. Ini ada apa sih sama kak fadil. Apa nggak cukup aku aja yang jadi pelampiasan amukan nya.
" Ayah tap-"
__ADS_1
" Ayah nggak suka di bentak. Sekarang berangkat ke sekolah" potong kak fadil.
Ingin rasanya aku mencakar mukanya yang datar sembari mengolesi selai coklat ke roti yang dipegangnya.
Melihat fiona yang menatapku dengan sendu akupun memberanikan diri untuk buka suara
" Mas, biarin fiona habisin sarapannya dulu"
" Aku nggak minta pendapat kamu" sarkas nya.
" Iya, tapi kan-"
Braakkkk
" Ayah"
" Astaghfirullah" desisku bersamaan dengan teriakan fiona saat kak fadil membanting satu gelas kopi kelantai.
" kakak. Berangkat sekarang ya nak. Nanti bunda anterin bekalnya ke sekolah kakak" aku yang masih dalam keadaan syok pun menguatkan diri untuk memeluk fiona yang udah pucat pasih ketakutan.
" Tapiii bund-"
" Nggak papa kak. Jangan takut sama ayah ya nak" bisikku sambil mengecup lembut keningnya.
Aku dapat melihat wajah ketakutan fiona. Mau berangkat sekolah kenapa dikasih beban kayak gitu. Aku nggak habis fikir sama kak fadil yang nekat banting gelas di depan anak.
" Aku nggak tau apa yang buat kamu semarah itu mas" lirihku dengan tangan perlahan memunguti pecahan kaca. Jangan lupakan fayyadh yang di gendonganku menatapku dengan tatapan. Ah ntahlah akupun susah untuk mengartikannya.
" Tega kamu berbuat kayak gitu di depan anak"
" Diam kamu" bentak kak fadil.
Rasanya aku udah nggak sanggup nahan hatiku yang berkecambuk. Aku perlahan berdiri walaupun pecahan kaca itu belum selesai kupunguti.
" Sebenarnya apa mau kamu mas. Apa aku harus ngalamin kayak mama baru kamu puas iya?" Lirihku
" Kenapa aku harus menanggung akibat dari yang bukan perbuatanku mas.." nggak ada nada bentakan yang ku keluarkan dari mulutku. Karena masih ada fayyadh di gendonganku.
" Kamu dendam kan sama mama?" Tanya kak fadil to the point
" Karena sikap mama yang kurang baik sama kamu" lanjutnya seperti mengintrogasi.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku kuat. Karena memang nggak ada dendam sama sekali di hatiku " Kamu salah besar kalo kamu nuduh aku kayak gitu mas".
" Halahh.. jujur aja renata" tungkasnya
" Kalo aku mau, dari dulu aku balas dendam ke mama. Kalo kamu lupa mama yang buat ibu buta"
Plakk
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kananku " Stop ngungkit masa lalu" dalam sekali perkataan kak fadil sambil menunjuk nunjuk wajahku.
Sekarang fayyadh udah ikutan nangis karena melihat dengan mata kepalanya sendiri bundanya di tampar
" AKU CAPEK SAMA KAMU MAS" Aku udah nggak sanggup lagi. Ntah keberanian darimana aku berani membentak kak fadil..
" Apa, capek?" Ucapnya dengan penuh smirk
Kak fadil menggeretku dengan kasar menuju lantai atas. Aku setengah mati meronta ronta berusha minta dilepaskan. Tapi sama sekali nggak dihiraukan. Yang menjadi kekhawatiranku sekarang cuma fayyadh. Aku nggak mau rekaman pertengkaran orangtuanya jelas tercetak di ingatannya.
Sampai dikamar kak fadil mendorongku kelantai. Aku berusaha melindungi fayyadh sampai lupa aku juga masih membawa satu nyawa lagi di perutku.
Kak fadil manarik fayyadh dari dekapanku dan meletakkannya diranjang tempat tidur. Raungan fayyadh sama sekali nggak dihiraukan ayahnya. Aku takut sama kak fadil yang sekarang.
" Mas.. sadar" lirihku. Bibirku berdesis menahan sakit yang amat di perutku.
Bukannya iba denganku kak fadil malah menjambak rambutku dengan sangat kasar " Nyesal aku menikahi wanita pembawa masalah kayak kamu"
Sakit batin sakit fisik bercampur jadi satu. Wanita pembawa masalah sebutan yang dilontarkan suami sendiri, rasanya pedih sekali. Sakit sekali menjadi sebatang kara sepertiku, nggak ada tempat untuk mengadukan keluh kesahku.
Tamparan bertubi tubi mendarat dipipiku. Sudut bibirku sekarang rasanya pedih sekali. Inilah kak fadil kalo lagi tersulut emosi.
Rasa sakit diperutku semakin menjadi jadi. Setengah mati aku menahannya, tapi rasanya nggak bisa tertahankan lagi
Dengan keberanian diri yang tersisa, aku memegang lembut tangan kak fadil yang mencengkram rambutku " Mas...sshh..aku udah bilang kan..aku lagi hail anak kamu hiks..kamu mau bunuh dia" lirihku.
Tatapan kami bertemu. Kak fadil menatapku dengan sangat dalam " Shhh..tolongin dia mas, aku udah nggak kuat. Hikss..sakit banget" ucapku terbata bata.
Kak fadil melepaskan cengkaramannya dari rambutku. Dia menatapku dengan sangat dalam. Ntah raut penyesalan atau apa. Akupun nggak bisa mengartikan.
Pandanganku dari kak fadil teralihkan begitu melihat darah yang megalir di betisku. Rasa takut seketika menjalari " Mas..darahh hikss" lirihku. Aku sangat khawatir dengan kandunganku.
" Re.. kamu yang kuat ya"
__ADS_1
Masih jelas ku dengar suara kekhawatiran kak fadil. Namun pandanganku makin lama makin pudar " Ka..mu..salah sasaran..shhs..buat balas dendam..mas. ka.mu udah nyakitin anak kamu ..se..ndiri" kalimat terakhir yang ku ucapakn. Setelahnya aku nggak tau apa lagi yang terjadi.