
Baru dua hari di rumah, kak fadil sudah mendapatkan mandat untuk ke luar kota lagi, lagi dan lagi. Sedih, jengkel dan prasangka buruk berbaur menjadi satu. Siapa yang tidak berprasangka buruk kalau suaminya mendadak jadi sering ke luar kota, dalam seminggu bisa sampai dua kali.
Kali ini kata kak fadil cuma untuk satu malam, besok sore sore udah ada di rumah lagi. Percuma sih di rumah, waktu buat anak sama isteri tetap nggak ada. Kerja nya di porsir terus kayak ada yang di kejar.
" Re..jangan ngambek lah. Kan cuma sehari. Besok juga udah di rumah" Kata kak fadil membujuk.
Aku bukannya marah. Tapi, lagi males aja buat jawab kata kata nya yang itu terus di ulang ulang, dari mulai aku mandiin faza sampai sekarang faza udah selesai aku dandanin omongan kak fadil itu terus.
" Berangkat jam berapa?" Tanyaku seraya menyusui faza.
" Ini bentar lagi" jawabnya.
Aku membuang nafasku panjang. Sebenarnya ada kejanggalan di hati yang ingin ku lampiaskan, tapi kalau ku mulai pasti ujungnya jadi berantem. Jangan lupakan kak fadil yang emosian. Apa lagi kalau sampai aku menuduhnya yang bukan bukan.
Hening. Tidak ada obrolan antara kami berdua. Padahal kak fadil dari tadi masih setia duduk di sebelahku. Atensiku masih tertuju pada faza yang matanya mulai meredup bersiap mau berselancar di alam mimpi.
" Jangan diem terus sayang" ucap kak fadil lembut dengan tangannya yang udah ikut andil mengusap lembut rambutku.
" Ada yang kamu sembunyiin dari aku mas?" Tanyaku to the point.
Kegiatan tangan kak fadil di atas kepalaku terhenti setelah mendengar pertanyaan tiba tiba ku " Kamu nanya apa sih sayang. Aku nggak ada nyembunyiin apapun dari kamu"
" Aku juga berharap gitu mas" lirihku
Ku paksakan senyum di bibirku. Untuk pagi ini cukupkan mikir yang tidak tidak. Karena ada yang bilang baik atau tidaknya harimu itu di tentukan dari saat pagi. Kalau dari pagi aja udah muncul masalah gimana siang sore sampai malamnya. Untuk itu cukup sudah.
Faza udah lelap tidurnya. Ku pindahkan anak bontotku itu ke ranjang kami, biar lebih nyaman tidurnya.
" Bawa baju berapa?" Tanyaku tanpa memandang kak fadil.
" Baju yang mau aku bawa udah aku prepare sendiri tadi"
Hatiku mencelos mendengar penuturan kak fadil. Semangat sekali yang mau berangkat ke luar kota. Karena merasa nggak ada yang harus di kerjakan lagi, fiona udah berangkat ke sekolah, fayyadh lagi main sama omanya. Jadilah aku berbaring di sebelah faza yang masih nyenyak tidurnya.
Bilang saja aku ini kekanakan. Tapi mood nya ibu hamil itu nggak menentu, terkadang udah baik tapi dalam sekali kedipan mata bisa saja berubah jadi buruk. Dan itu yang sedang ku alami sekarang.
Lama berkutat dengan pikiran, lamunan ku terhenti karena rasa mual yang bergejolak. Kaki ku langsung beralari menuju kamar mandi yang ada di kamar kami.
Kak fadil langsung saja tergesa menghampiriku dan memperparah mual ku. Tanganku ku kibaskan mengisyaratkan agar kak fadil menjauh. Karena penyebab mual ku ini karena bau parfume kak fadil yang sangat menyengat di penciuman.
" Jangan deket deket mas" lirihku setelah membasuh mulutku dengan air kran.
Aku tau kak fadil pasti bingung dengan sikapku. Tapi mau bagaimana lagi rasa mual yang bergejolak ini bukanlah yang sengaja ku buat buat.
Kak fadil mengindahkan ucapanku dengan meninggalkan ku sendiri di kamar mandi jangan lupakan wajah pucat yang terpampang di cermin kecil yang ada di kamar mandi ini.
" Minum dulu re" kak fadil datang dengan membawa segelas air di tangannya.
" Kamu tuker baju deh mas. Beneran aku nggak kuat nyium parfume kamu" perintahku.
Tanpa mendebatkannya lagi, kak fadil langsung saja menukar kemeja biru yang semula di pakainya dengan kemeja lengan panjang dengan warna yang sama seperti tadi.
" Gimana udah enakan?" Tanya kak fadil yang siap siaga berdiri di sebelahku. Posisi kami masih berada di kamar mandi kecil kami ini.
Aku mengangguk lemah " Aku mau ke tempat tidur aja" pintaku.
Kak fadil langsung saja membantuku untuk sampai ke tempat tidur. Tadi sempat menawarkan diri untuk di gendong aja, tapi aku menolaknya. Lagian aku masih sanggup buat jalan, ketimbang dekat.
" Kamu kalo mau berangkat sekarang nggak papa mas. Ini nanti pasti enakan sendiri" ujarku.
__ADS_1
" Aku nggak tenang kalo harus ninggalin kamu dalam kondisi kayak gini re"
" Disini ada banyak orang yang disekitar aku. Jadi kamu nggak usah khawatir mas"
" perjalanan luar kota sekarang kan penting banget buat kamu, ya kan mas?"
****
" Assalamualaikum bundaaa" teriak fiona nyaring dari luar kamar.
" Kakak, suaranya. adek nya lagi bobo ini" tegurku pada fiona yang baru pulang sekolah.
Fiona datang menyalimiku dan tak lupa kecupan manis di pipi kiri kananku. Udah kebiasaan fiona kalo mau pergi atau pulang sekolah harus kecup kecup bundanya dulu.
" Adek tidur mulu ih" ujar fiona sambil mengerucutkan bibirnya. Memang saat ini fayyadh sama faza lagi tidur siang berdua. Adem deh hati kalo liat anak anak tidur anteng gitu.
" Ya kakak juga harus bobo siang. Tuker seragam sekolah nya, terus habis itu makan" perintahku lembut pada fiona yang sekarang udah gelendotan sama aku.
" kakak udah makan sama onty nana" celetuk fiona.
Aku baru ingat kalo fiona pulangnya di jemput nana. Tadi aku minta tolong, karena aku rasanya lemes, jadi nana deh yang jemput fiona dari sekolah.
" Onty nana nya sekarang dimana kak?"
" Ngobrol sama oma di depan, bund" jawab fiona di barengi dengan uapan kecil dari mulutnya.
" Capek kak?" Tanyaku pada fiona sambil menyingkirkan rambut rambut kecil dari keningnya. Padahal pagi tadi pas berangkat sekolah kepangan rambutnya rapi banget hasil karya oma sayang.
"Ngantuk bund" adu fiona
" Ganti baju dulu, cuci tangan sama kaki nya habis itu langsung bobok gih "
Sepeninggalan fiona dari kamar, tidak berselang lama nana datang menghampiriku ke kamar. Jujur senang banget bisa ketemu nana lagi. Udah hampir sebulan kita berdua nggak ketemu. Wajar sih sama sama sibuk. Aku sibuk ngurusin anak suami nana sibuk ngurusin persiapan pernikahannya sama Aldo. Jadi nggak sabar liat nana bersanding di pelaminan. Hihi.
" Aduhhhh ponaan gue pada tepar semua ternyata" seru nana heboh. Mataku langsung saja melotoinya bisa bisa nya teriak kayak gitu.
" Awas tu mata lo keluar re" ejeknya.
" Calon pengantin ngomongnya harus di jaga. Ntar kena azab tau rasa lo" celetukku
" ihhh serem lo re ngomongin azab" kata nana sambil bergidik ngeri. " Btw suami lo kemana emang ?" Lanjut nana bertanya.
" Ada urusan kerjaan ke luar kota" jawabku sekenanya.
" Pergi mulu perasaan. Ada rumah ke dua tempat pulang kali"
Aku reflek menepuk lengan nana yang memang kebetulan berada di sampingku " Ngomongnya na, ih" kesalku.
" Ya bisa aja kan re. Tapi, mudah mudahan tuduhan gue ini nggak bener. Kasian gue sama lo yang tersiksa mulu" Ucap nana enteng tanpa memikirkan perasaanku. Ya, begitulah nana. Dia akan mengeluarkan kata kata sesuai apa yang ada di hatinya. Dia nggak peduli lawan bicaranya bakal sakit hati apa enggak. Yang penting unek unek nya tersampaikan.
" habis ini jangan hamil lagi lah re. Setelah yang di perut udah brojol stopin aja. Udah 4 juga udah lebih dari cukup itu. Pemerintah aja menyarankan 2 anak cukup" titah nana.
" Anak itu rezeki na. Rezeki nggak boleh di tolak" jawabku sekenanya.
" Bukan maksud gue gimana gimana ya re. Kalo suatu saat lo ada masalah sama suami lo. Nggak banyak yang mesti lo tanggung re"
" Na.. tolong jangan buat gue makin berprasangka buruk sama suami gue" lirihku.
" Nah kan. Lo aja ragu kan re. Jujur aja" ujar nana.
__ADS_1
" ntahlah na" lirihku.
Jujur kecurigaan itu ada. Istri mana sih yang nggak curiga kalau suaminya mendadak jadi sering pulang pergi ke luar kota. Kalau seandainya emang dari awal, kerjaannya memang seperti itu, mungkin ini nggak akan jadi permasalahn. Tapi kalau tiba tiba seperti ini, siapa sih yang nggak negative thinking.
****
Malam ini tempat tidur yang biasa di tempati kak fadil kembali dingin, kosong nggak di tempati. Sunyi sepi. Nggak kebayang kalo nggak ada anak anak di sisiku pasti aku akan sendiri. Jadi, anak itu bukan beban untuk orang tua.
Udah jam 9 tapi anak anak matanya masih aja terjaga lebar. Lagi fiona belum balik ke kamarnya. Masih asik mewarnai di karpet bulu yang sengaja ku gelar buar anak anak. Jadilah, fiona sama fayyadh berperang dengan alat alat mewarnai di bawah. Fayyadh sih yang paling heboh sendiri, padahal bisa nya cuma nyoret nyoret, untung mood fiona malam ini lagi bagus, jadi di biarin aja adeknya ngerusuhin peralatan mewarnainya. Sedangkan si bontot faza udah tidur lelap banget. Hari ini faza anteng banget nggak rewel, tapi memang faza anaknya nggak rewel sih, paling kalo lagi laper haus, atau pup baru rewel, selebihnya anteng ateng aja.
Matku sebenarnya udah ngantuk banget. Tapi fiona sama fayyadh belum ada tanda tanda buat tidur " Kakak, abang. Udahan ya. Udah malam ini bobok yuk"
" Tanggung bund" Ujar fiona
" Abang, bobok yuk"
" Beyum antuk bunda" Tolak fayyadh dengan bahasa cadelnya.
Mau di tinggal tidur nggak mungkin. Tapi asli aku udah ngantuk pake banget. Selanjutnya atensi beralih ke benda pipih yang bergetar di nakas sebelah tempat tidur.
Ku raih benda pipi itu. Tertera nama nana, langsung saja ku geser tombol hijau untuk menerima panggilan dari nana.
" Kenapa na?"
" Re..suami lo beneran ke luar kota?" Tanya nana heboh dari sebrang telpon sana.
" iya nana. Kenapa sih emang nya?"
" Isss jadi siapa yang gue liat di rumah sakit deket rumahnya Aldo, re. Masa kembaran suami loh sih"
Alisku berkerut mencerna omongan nana barusan. " Siapa tau orang lain yang sekedar mirip kan?" kataku mencoba berfikir positif
" Penglihatan gue masih bagus renata. Bentar ya gue kirimin foto nya. Tadi gue sempet foto" ujar nana.
" Lo ngapain ke rumah sakit na?" Tanyaku coba mengalihkan pembicaraan nana tentang kak fadil yang sejujurnya masih mengganggu pikiranku.
" Mama nya Aldo di rawat lagi. Nah re. Udah gue share ke lo. Coba liat baik baik itu beneran kak fadil apa bukan" kata nana akhirnya.
Setelah panggilan di putus sepihak oleh nana. Aku langsung membuka foto yang dikirim nana melalui aplikasi berwarna hijau itu.
Baju yang di pakai seseorang di foto yang di kirim nana sama persis kayak yang di pakai kak fadil pagi tadi saat mau berangkat. Apa mungkin kak fadil udah kembali?.
Jari jariku langsung saja mencari nama kontak kak fadil. Aku harus memastikannya. Aku nggak mau prasangka buruk ini terus saja mengganggu pikiranku.
Panggilan pertama langsung di terima oleh kak fadil. Aku masih diam belum memulai pembicaraan.
Sampai akhirnya suara kak fadil menyadarkanku dari balik telpon sana " Kenapa sayang?"
" Lagi dimana mas?" Tanyaku langsung. Karena jawaban itu yang ku harapkan.
" Baru balik ke penginapan ini re. Kerjaan hari ini banyak banget"
" Brarti masih di luar kota?" Tanyaku kembali memastikan.
" Iya sayang. Kan aku pulangnya besok" jawab kak fadil.
Bohong. Jawaban bohong yang ku dengar. Rasanya sesak sekali mengetahui kebohongan suami sendiri.
" Yaudah mas. Aku mau nidurin anak anak dulu. Kamu juga istirahat. Assalamualaikum" Belum sempat aku mendengar jawaban kak fadil selanjutnya, aku langsung saja memutuskan panggilannya sepihak. Terlalu sakit kalau harus mendengar ucapan bohong kak fadil lagi. Karena kalau sudah sekali berbohong pasti bakalan di lanjut dengan kebohongan kebohongan berikutnya. Sekali berbohong nggak akan berhenti untuk berbohong.
__ADS_1