
Duniaku serasa terhenti begitu mendengar penjelasan dokter. Mama udah bangun sejak satu jam yang lalu. Tapi mama cuma diam. Tatapannya kosong. Yang buat aku panik dokter bilang bahwa mama terkena stroke ringan.
Awalnya aku nggak percaya melihat sinetron yang menceritakan adegan yang cuma jatuh atau terpeleset dapat meneyebabkan stroke. Tapi sekarang aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan dengan penjelasan dokter yang nggak mungkin berbohong tentang kondisi pasiennya.
Sekarang udah jam 8 malam. Aku beserta anak anak udah dirumah di antar pak didik atas perintah kak fadil.
Mengingat kak fadil, aku sedih. Begitu tiba dirumah sakit, dia sama sekali nggak ada bicara sepatah kata pun padaku. Aku yakin dia marah. Tadi waktu aku ngabarin kalo mama masuk rumah sakit lewat telpon, aku tau dia marah, terdengar dari suaranya yang meninggi.
Aku tau, ini semua terjadi karena keteledoranku. Tapi ini semua nggak sepenuhnya salahku. Aku juga nggak mau buat mama celaka. Tapi, untuk saat ini biarlah kak fadil dengan kemarahannya. Kalaupun sekarang aku berusaha untuk menjelaskan pun tak akan bisa. Dia masih tersulut emosi karena kondisi mama yang memprihatinkan.
" Bund, kakak bobok sini ya" fiona masuk kedalam kamarku dan kak fadil dengan memeluk boneka dora emon yang besarnya hampir sama seperti dia.
" Sini kak" panggilku
" Adek cepet banget boboknya. Padahal kakak mau main" gerutu fiona sambil menoel noel pipi fayyadh.
" Adeknya udah ngantuk kak. Lagian ini udah waktunya bobok. Kakak juga harus bobok ya"
Fiona menggeleng " nggak bisa bobok" Cicitnya
" kenapa hem?" Ku usap lembut rambutnya yang terurai halus.
" kepikiran oma" lirihnya
Hatiku sakit melihat raut wajah sedih fiona. Wajar fiona sedih seperti ini. Dulu sebelum adanya aku, fiona selalu lengket sama mama. Apa apa selalu mama. Pantas saja kalo dia takut kehilangan omanya.
" kakak berdoa ya. Biar oma cepet sembuh, terus bisa main lagi sama sama"
" Sekarang, bobok ya nak" .
" nggak bisa bund" lirih fiona lagi masih menolak.
Aku bingung harus gimana lagi. Jujur sekarang aku udah ngantuk banget. Badan pegel pegel satu harian mondar mandir nggak tenang, ngurus anak anak sambil mantau keadaan mama. Sekarang rasanya aku mau merebahkan diri barang sebentar. Tapi nampaknya akan gagal. Fiona suasana hatinya masih belum baik.
" Bunda puk puk, kayak adek mau?" Tawarku. Biasanya fiona paling semangat kalo tidurnya di puk puk sambil dikeloni. Tapi untuk saat ini sepertinya itu nggak berlaku karena suasana hatinya.
" Telpon ayah dong bund, kakak mau liat oma bentar aja, ya" pinta fiona.
Aku sebenarnya ragu untuk menelpon kak fadil. Tapi fiona nggak bakal mau tidur sebelum keinginannya di penuhi. Mau nggak mau pun aku menelpon kak fadil dan langsung menyerahkan ponselnya ke fiona sebelum kak fadil mengangkatnya. Aku takut melihat ekspresi marahnya. Karena aku melakukan panggilan vidio.
" ayahh" cicit fiona. Aku sedikit lega. Kak fadil masih mau menerima telpon dariku
" Kenapa kak?"
" Nggak bisa bobok. Kepikiran oma" Adu fiona
senyumku nggak bisa kusembunyikan walaupun cuma bisa mendengarkan obrolan mereka dengan seksama. Mendengar suara kak fadil saja udah buat aku lega, walaupun dia lagi nggak bicara denganku.
" Oma udah bobok. Kakak juga bobok ya" Titah kak fadil dari ujung telpon sana.
__ADS_1
" Hiks.. kenapa oma harus masuk rumah sakit sih yaahh" isak fiona akhirnya. Mungkin dari tadi fiona udah berusaha nahan tangisnya. Dan sekarang pecahnya.
" Anak ayah jangan nangis dong. Sekarang bobok ya. Minta puk puk sama bunda"
Hatiku sedikit senang, setidaknya kak fadil masih mengingat aku di sela sela omongannya.
Fiona menyerahkan hp nya kepadaku dan beralih menenggelamkan wajahnya keperutku. Memang sekarang posisiku masih duduk bersandar di ranjang.
" Mas ak-"
" Aku tutup telponnya. Aku capek mau istirahat"
Jlebb. Panggilan di putus sepihak oleh kak fadil. Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tapi udah disela olehnya. Sakit sekali rasanya. Mau nangis tapi aku nggak mau buat fiona makin kepikiran.
Ku simpan kembali hp ku ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur.
" Boboknya yang bener yok kak. Biar bunda puk puk" titahku mengarahkan fiona.
Fiona bangkit. Dan aku langsung memposisikan diriku berada ditengah tengah antara anak cantik dan anak gantengku.
Sekarang posisiku menghadap ke kanan yang terdapat fiona. Karena adeknya udah tidur, sekarang fiona bisa menguasai aku seutuhnya. Ku tepuk lembut badannya sesekali mengusap lembut rambut anak cantik ku itu.
" Udah baca do'a hem?" Tanyaku yang membuat fiona mendongakkan kepalanya menghadapku dan menggeleng.
" Baca do'a dulu ya. Doain oma juga biar cepet sembuh"
Fiona menuruti dan langsung membaca doa sebelum tidur. Dia juga menyempatkan diri berdoa untuk omanya.
****
Pagi sekali aku udah sibuk berkutat di dapur. Mumpung anak anak belum bangun, aku buru buru menyiapkan makanan buat dibawa kerumah sakit. Kak fadil pasti belum makan. Jadi aku berniat buat nganterin makanan sekaligus pakain ganti buat suamiku itu.
Semua yang telah ku masak, ku susun rapi di kotak makanan berwarna hijau muda milik mama ini. Aku harap hari ini kak fadil udah nggak sedingin tadi malam.
Setelah semuanya tertata rapi. Niatku ingin mandi dan bersiap siap ke rumah sakit ku urungkan, karena mendengar suara ketukan pintu.
Siapa yang bertamu sepagi ini. Pikirku
Daripada terus terusan penasaran akhirnya kuputuskan untuk melihat siapa yang datang.
Begitu pintu terbuka terlihatlah kak fadil dengan wajah kusutnya, kemeja yang udah digulung sampe siku, menampilkan kalau dia sedang tidak baik baik aja.
" kamu pulang mas" cicitku pelan.
Kak fadil yang menjadi lawan bicaraku hanya diam dengan tatapan lurusnya terus berjalan tanpa menghiraukanku.
Nggak papa. Aku terus mengikuti langkah kak fadil menuju kamar. Mungkin dia mau bersih bersih.
Sampai di kamar kak fadil langsung menjatuhkan dirinya disofa kamar " Mandi dulu mas, biar seger" yang namanya renata nggak akan mau berhenti walaupun udah diabaikan.
__ADS_1
Hening. Nggak ada suara maupun gerakan yang ditunjukkan kak fadil. Dia tetap menutup matanya dengan tangan sebelah kanannya.
Aku menghela nafas " Apa mau makan dulu aja mas, biar aku ambi-"
" Kamu bisa diam. Aku ngantuk, capek, mau istirahat!!!"
Aku tersentak kaget mendengar bentakan kak fadil. Pandanganku langsung mengarah ke dua anak anak ku yang masih terlelap. Untung mereka nggak terusik dengan bentakan kak fadil.
Tetap memaksakan senyum walaupun keadaan hati sangat sakit. Melihat sepatu yang masih melekat di kaki kak fadil, aku berjongkok untuk membukakan sepatunya.
Braakk
Aku reflek memegang perutku takut bayi yang didalam kandungan kenapa napa
" LO NGGAK NGERTI BAHASA INDONESIA!!!!"
Bentakan kak fadil membuat aku semakin syok. Keterkejutanku karena kak fadil yang menendang aku yang ingin membuka sepatunya saja masih belum bisa ku terima. Ditambah lagi dengan suara bentakannya.
" Huaaaa...ndaaa"
Dari tempat tidur, fayyadh terbangun disusul dengan tangisan. ditambah fiona yang menatap heran kedua orang tuanya. Aku udah sering memperingati kak fadil buat nggak marah marah kalo di depan anak, tapi kayaknya dia nggak bisa mengindahkan itu kalo lagi emosi.
" Kalo kamu mau bales aku karena mama yang masuk rumah sakit dengan cara nyakitin aku, jangan sekarang, aku lagi hamil anak kamu kalo kamu lupa" lirihku
Berusaha mati matian aku untuk menahan air mata, aku nggak mau anak anak tau kalo orang tuanya sedang tidak baik baik aja. Terlebih fiona yang udah mulai paham tentang kejadian kejadian disekitarnya.
" Satu lagi, jangan marah marah di depan anak anak. Aku nggak mau mereka takut sama kamu" setelah mengatakan itu aku berjalan menuju ranjang. Karena fayyadh yang udah banjir air mata.
" Kenapa gantengnya bunda?" Kuraih anak gantengku untuk digendong.
" Mau mimik ?"
Fayyadh menerima asi yang ku arahkan kemulutnya dengan sangat tergesa. Betul betul haus ternyata.
Aku terkejut saat fiona memelukku erat dari samping " Ayah kenapa teriak tadi bund?" Tanya fiona pelan.
" Nggak teriak kok kak. Ayah lagi capek aja" alibiku
" Kakak takut kalo ayah lagi marah marah gitu"
Hatiku mencelos mendengar penuturan fiona. Ini yang ku khawatirkan kalo kak fadil marah di depan anak anak, yang mengakibatkan anak anak takut sama ayahnya sendiri.
" Kok takut sih, ayah kan sayang sama kakak" ujarku
" sekarang mandi gih kak. Udah kebanyakan loh bolos sekolahnya. Katanya mau jadi dokter. Kalo mau jadi dokter harus pin..."
" Terrrr" sambung fiona.
" Pinternya anak bunda. Yaudah gih mandi sana"
__ADS_1
Fiona berjalan lesu ke arah kamar mandi. Aku tau dihatinya mau manja manja sama ayahnya, yang tidak terlihat seminggu. Tapi, dia takut melihat ayahnya yang menampilkan wajah menakutkan.