
Aku membuka mataku. Pemandangan serba putih, itu lah yang pertama kali ku lihat. Lagi?, Ini kali kedua aku masuk rumah sakit setelah bertengkar dengan kak fadil. Tiba tiba aku langsung teringat bayi yang ada di dalam kandunganku. Ku raba perutku ternyata jagoan ku masih ada.
Aku tersenyum lega " Makasih udah kuat jagoan bunda" ku usap lembut perutku
" Alhamdulillah. Kamu udah sadar nak" Aku tersenyum ke arah mama yang terlihat bahagia melihat aku udah bangun
Aku tersenyum lemah ke arah mama. Apa mama yang bawa aku ke rumah sakit?
" Kalo mama nggak nganterin fiona pulang, mama nggak tau apa yang akan terjadi sama kamu juga calon cucu mama" Isak mama
Benar dugaan ku ternyata mama yang nganterin aku ke rumah sakit. Dimana kak fadil?. Pikirku
" Sekarang rere kan udah nggak papa ma. calon cucu mama juga kuat kok" Kataku lemah
" Ini kenapa?" Tanya mama memegang sudut bibirku
Aku jadi ingat tentang kak fadil yang menamparku. Hatiku kembali teriris kalo ngingat itu " Mungkin karena rere jatuh ma" Kataku berbohong. Aku nggak mau cerita yang sebenarnya ke mama. Aku juga nggak bilang soal perihal pertengkaranku sama kak fadil, aku cuma bilang kalo aku jatuh di kamar mandi karena terpeleset lantai kamar mandi yang licin.
" Fadil mana?. Mama nggak ada liat dia" Tanya mama
Aku tersenyum getir. Aku pun sama ma, nggak tau kak fadil dimana. Bahkan dia nggak tau anak dan istrinya hampir aja meregang nyawa " Mas fadil ke kampus ma. Kayaknya ada ehmm ada acara gitu" Bohong lagi. Begitu banyak kebohongan yang harus ku ucapkan demi menutupi kesalahan kak fadil
Mama dari tadi udah ngomel ngomel nggak berhenti. Karena ponsel kak fadil sama sekali nggak bisa dihubungi
" Mungkin lagi sibuk ma"
Mama tetep terus ngomel sambil terus coba nelponin kak fadil, tapi hasilnya nihil " Memang kelewatan anak itu" Geram mama
" Re, tapi kalian memang baik baik aja kan?" Tanya mama lagi kembali memastikan
Begitulah feeling orang tua. Selalu terasa saat anak anak nya ada masalah. Sekuat apa pun kita menutupinya, pasti sedikit banyak nya terasa juga terhadap mereka. Apalagi ibu.
" Ma, handphone mama bunyi" Kataku. Aku bernafas lega, setidaknya aku terbebas dari mama yang mendesak ku dengan pertanyaan yang sama terus
Mama langsung mengangkat teleponnya. Aku nggak tau dari siapa, tapi raut wajah mama seketika berubah. Ntah kabar apa yang di terima mama
" Mama keluar bentar ya" Bisik mama menjauhkan sedikit hp nya.
Telepon penting mungkin, jadi nggak mau kalo aku dengar. Pikirku
Mama masuk lagi dengan mata yang berair, habis nangis pikirku?
__ADS_1
" Mama baik baik aja kan?" Tanyaku khawatir.
Mama mengangguk. Dan langsung berhambur memelukku " Mama baik baik aja sayang. Kamu wanita kuat, kamu wanita kuat" Isak mama
Aku mengernyitkan kening ku. Apa maksud mama bilang kaya gitu ke aku
" Mama kenapa?" Tanyaku lagi semakin penasaran
" Mama nggak papa sayang" Lirihnya. Tapi aku dapat melihat mama yang terus terusan memandangku dengan tatapan iba
****
Aku lagi sendiri di ruangan ini sekarang. Mama tadi ada panggilan mendadak yang sangat penting. Awalnya mama ragu buat ninggalin aku sendiri. Tapi ku yakinkan mama kalo aku udah nggak papa. Lagian kalo aku butuh sesuatu bisa panggil susternya. Akhirnya mama pergi juga setelah yakin ninggalin aku sendiri.
Hening kayak gini aku jadi rindu kak fadil. Selalu nggak pernah ada kalau lagi di saat saat seperti ini. Hatiku masih sakit, tapi nggak ada sama sekali niat untuk membenci nya. Malahan aku sekarang lagi pengen meluk kak fadil. Menumpahkan rasa kekhawatiran ku, tapi orangnya aja nggak tau ada dimana
" Sus, Bisa tolo-"
Ku kira yang datang adalah suster, saat aku mendengar pintunya terbuka ternyata bukan
" Kamu butuh apa re?" Tanya kak fadil yang udah berdiri di sebelah ranjangku
Yang datang adalah kak fadil. Penampilannya sangat mengiris hatiku, kak fadil datang dalam keadaan babak belur. Lebam lebam memenuhi wajahnya
" Bahkan luka ini belum seberapa dengan luka yang udah aku buat ke kamu re"
" Luka rere udah kering mas" jawabku sambil memegang sudut bibirku. Luka ini kan yang dimaksud kak fadil
Kak fadil duduk di kursi yang dekat denganku. Di pegangnya sudut bibirku yang ku tunjuk tadi " Aku berengsek banget ya re" Ujar nya dengan air mata yang kembali mengalir
Ku pegang tangannya " Rere udah nggak papa mas. Rere minta maaf, karena udah sering mancing mancing emosi kamu " Jelasku. Karena memang akulah yang selalu mengawali pertengkaran. ya walaupun aku memulai karena ada penyebabnya
Ku tatap mata kak fadil dalam " Rere nggak papa kalo mas mau ketemu lagi sama fania. Karena gimana pun kalian berdua kan orang tuanya fiona " Jelas ku dengan senyum menghiasi wajah. Aku ikhlas, walaupun sedikit berat di hati
Kak fadil menggelengkan kepalanya. Di genggamnya tanganku sambil terus mengucapkan kata maaf berulang ulang
" Re, apapun yang nanti terjadi tolong jangan tinggalin aku"
Aku bingung dengan kak fadil. Kalimat ini udah sering diucapinnya beberapa minggu terakhir ini
" kamu kenapa sih mas. Rere masih disini" Kataku.
__ADS_1
" Aku mau kamu janji" Pintanya
Aku iba melihat wajah mengharap kak fadil " Rere janji nggak akan ninggalin mas, sekuat dan semampu rere"
" Kecuali mas yang minta rere pergi" Lanjutku dengan suara yang sangat lirih
" Nggak akan pernah re" Jawabnya
Kak fadil berdiri dari duduknya. Diciumnya keningku lama " Kamu baik baik ya" katanya
" Kamu mau pergi?" tanyaku nggak rela
" Mau ngurus administrasi kamu" jawabnya
aku tersenyum lega " Aku udh boleh pulang?" Tanyaku bersemangat
Kak fadil mengangguk " Yaudah, jangan lama ya mas" Kataku mengingatkan ka fadil
" Aku keluar dulu" Kata kak fadil sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan tempatku di rawat
****
" Ma, nggak nunggu mas fadil dulu?" Tanyaku ntah udah ke berapa kalinya.
Sepulangnya mama dari pergi karena ada urusan, mama langsung beres beres menyiapkan kepulanganku. Tapi kak fadil belum kembali juga dari ngurus administrasi padahal udah lama
" Ma, ini nggak jalan ke rumah rere" Protes ku saat mang mamang, supir pribadi mama mengemudikan mobilnya bukan ke arah jalan rumahku dan kak fadil.
" mang, ini salah jalan mang" Kataku pada mang mamang
" ini bener re. Kamu pulang ke rumah mama" Mama menjawab pertanyaanku. Aku heran kenapa pulang ke rumah mama.
" Kenapa ma?"
" Biar mama bisa ngawasin kamu"
Aku memutar mataku malas " Di rumah juga ada mbak mirna yang bisa bantuin rere ma" Ujarku memberi tahu
" Di rumah mama lebih aman. Fiona juga udah disana" Kata mama
Aku merasa ada yang aneh dengan keluarga ini. Dari mulai sikap kak fadil yang tadi saat dirumah sakit, Terus nggak balik lagi setelah katanya mau ngurus administrasi. Sekarang mama bawa aku pulang ke rumah nya
__ADS_1
Aku juga udah cerita ke mama perihal wajah kak fadil yang babak belur. Tapi reaksi mama biasa aja nggak ada tampang kaget kagetnya anaknya babak belur. Biasanya mama paling heboh kalo kak fadil lagi sakit, demam sedikit aja mama langsung heboh nelponin aku berulang kali nanya soal kak fadil. tapi sekarang kenapa mama seakan nggak peduli