
Waktu nggak terasa begitu cepat berlalu, dan oma udah mau sebulan aja di indonesia. Oma rencana mau pulang sekitar 2 hari lagi ke Belanda. Padahal mama sama kak fadil udah bujuk mama biar nggak perlu balik lagi kesana. Kondisi oma juga udah lebih membaik. Kalo soal kontrol rumah sakit di indonesia juga cukup berkompeten untuk melakukannya. Tapi tetap saja oma ya oma. Katanya dia udah nyaman sama betah disana.
Pagi ini dirumah lagi riweh, karena malam nanti ada acara makan besar sebelum oma balik ke Belanda. Sebenarnya dalam rangka ulang tahun oma sih. Tapi oma nggak mau dirayain yang gimana gimana gitu. Oma cuma minta dinner sama ngundang kerabat dekat aja. Dan, ya kak fadil pasti mengiyakan itu.
Lagi banyak kerjaan gini mendadak badanku lemas, apa efek aku daritadi sibuk mempersiapkan persiapan malam nanti sampe lupa makan. Akupun nggak tau, tapi bawannya rasanya aku ingin merebahkan diri saja. Tapi mana mungkin orang orang lagi sibuk, aku malah rebahan di kamar.
" Re, kamu pucet loh mama lihat" mama datang menghampiriku. Ya. Mama udah bisa jalan walaupun sangat lambat. Tapi itu udah perkembangan yang sangat bagus banget.
" Rere nggak papa kok ma" alibiku. Karena faktanya aku nggak baik baik aja sekarang. Badan lemas dan sedikit pusing.
" Kalo nggak enak badan istirahat" titah mama yang langsung ku angguki.
" Oiya, cucu ganteng mama mana?" Tanya mama.
" Sama ayahnya ma" jawabku. Kak fadil emang nggak ngantor. Aku sedikit bersukur untuk itu. Aku jadi bisa bebas beraktivitas karena ada yang ngejaga fayyadh.
" Yaudah re. Mama ke oma dulu ya. Mau bantu buat puding" kata mama.
Oma emang lagi asik banget sama kegiatannya buat puding ntar malem. Dan bisa ku pastikan sebelum nanti malam pudingnya pasti udah diserang fiona kalo sampe dia tau. Makanya nanti mesti disembunyiin ini.
" Mbak, ini wortel sama buncisnya rere aja yang nerusin. Rere nggak sanggup buat ngebersihin ikan sama ayamnya. Bawaannya pengen muntah kalo nyium amis" pintaku pada mbak mirna. Tadi setelah ngeblenderin bumbu bumbu niatnya mau bersihin ikan, tapi baru aja aku pegang satu. Perutku langsung bergejolak nyium amisnya. Padahal biasanya juga aku yang nyiangin, kalo mau masak.
"Bunda, fayyadh mau mimik ini"
Kegiatanku yang lagi ngiris wortel terhenti karena kedatangan dua manusia ganteng. Kak fadil mengambil posisi duduk disebelahku. Karena posisinya aku lagi duduk di meja makan ngirisin wortel sama bincisnya.
Fayyadh langsung kegirangan gitu ngeliat wajahku " Bentar ya sayang. Bunda mau cuci tangan dulu"
Karena merasa ditinggalkan. Fayyadh udah nangis kejer. Padahal cuma ditinggal buat cuci tangan loh.
"Kenapa nangis, nggak sabaran banget sih ganteng"
Aku mengambil alih fayyadh dari pangkuan kak fadil dan langsung nyusuin fayyadh. Takut keburu ngambek dia.
" Lagi sakit bund?" Tanya kak fadil yang memeperhatikan wajahku
Aku menggeleng
" Udah makan belum?" Tanya kak fadil lagi
Dan aku masih memberi jawaban yang sama. Menggeleng.
" Nggak ***** ayah" lirihku
Kak fadil berdiri dan melenggang menuju dapur. Aku yakin pasti ngambilin nasi untuk aku. Kan kesel, dibilang nggak ***** juga.
" Nih makan" kak fadil meletakkan sepiring nasi goreng yang ku masak pagi tadi buat sarapan semua orang, kecuali aku sama fayyadh.
Aku menggeleng lagi " Males ih mas" tolak ku.
" nggak usah cari pekara deh re. Ntar sakit gimana?"
Aku memanyunkan bibirku " Pengen ketoprak masa" Ucapku dengan menampilkan puppy eyes ku.
" Ngidam?" Ledek kak fadil yang membuat aku kesel
" Mau beliin nggak. Kalo nggak mau aku nggak bakal makan ini" ancamku. Siapa tau berhasilkan hihi.
Kak fadil menjawil hidungku gemes " banyak maunya kamu kayak fiona" geram kak fadil
" namanya juga ibu sama anak" jawabku asal
" Mau berapa porsi?" Tanya kak fadil sambil berdiri hendak pergi
Aku sempat berpikir sejenak " Mbak mir.. mau ketoprak nggak?" Tanyaku dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
Mendengar namanya terpanggil mbak mirna datang dari dapur " iya bu, ada apa?"
" mbak mau ketoprak nggak?"
Mbak mirna sempat sedikit mengerutkan keningnya bingung " Ketoprak darimana bu?"
" Ini ayah anak anak mau beli"
Mbak mirna tersenyum canggung " Nggak deh bu. Nggak usah repot repot "
" Nggak repot kok mbak. Yaudah berarti dua ya" putus kak fadil sebelum pergi.
" 3 mas" selaku
" 1 lagi buat siapa?" Tanya kak fadil. Karena kak fadil nggak suka makan ketoprak.
" buat aku hehe"
Kak fadil cuma geleng geleng kepala ngeliat tingkahku. Tapi dia tetep aja menuhin kemauan istrinya yang persis kayak orang yang lagi ngidam.
Mataku membulat sempurna melihat penampilan kak fadil yang mau keluar buat beli ketoprak. Cuma pake bawahan boxer sama atasan kaus nggak berlengan. Apa apaan ini, mau tebar tebar pesona gitu. Keluar dalam keadaan ****.
" MASS" Teriakku memanggil kak fadil yang terkecut.
" apa lagi?" Tanya kak fadil lelah
" Kamu mau keluar kayak gitu?"
" Kenapa?" Tanya kak fadil menyelidik penampilannya.
" Isss ganti ah. Kamu mau tebar pesona?" Jengkelku
" Ya ampun re. Timbang ke depan doang"
" Tapi aku nggak suka ya mas"
" Tuh mantu mama banyak banget aturannya. Heran fadil"
Hatiku sakit mendengar ucapan kak fadil " yaudah nggak usah jadi beli ketoprak " lirihku dan beranjak meninggalkan kak fadil dan mama yang terpaku melihat kami.
" Kamu apa salahnya sih nurutin maunya istri dil" tegur mama yang masih bisa kudengar.
" Salah lagi fadil" ucap kak fadil dan pergi ntah kemana. Aku tetap melangkahkan kaki ku kesal. Terkesan nggak sopan emang ninggalin mama sendiri tanpa kata. Tapi aku udah terlanjur kesel sama kak fadil.
****
Suasa rumah malam ini lumayan rame. Ternyata oma ngundang adik nya, tapi yang datang anak dari adik oma itu, yang baru ku ketahui namanya tante Arum. Dia datang bareng anak gadis sama suaminya.
Nggak ada acara potong kue. Karena oma maunya pake tumpeng, jadi sebagai gantinya ya potong tumpeng.
Fiona dari tadi udah heboh. Padahal bukan dia yang ulang tahun, tapi dia yang heboh mau potong tumpengnya.
Kalo ditanya hati, sebenanrnya aku pengen rebahan di kamar aja. Rasanya badanku makin malam makin lemas. Tapi nggak enak juga sama oma kalo sampek aku nggak nampakin batang hidung.
" Terimakasih semuanya yang udah nyiapin ini semua. Sekarang kita makan yuk. Udah ada banyak makanan yang terhidang"
" oiya. Sebelum kita makan, kenalin ini mantu cucu ku"
Aku tersenyum kikuk. Nggak tau mau ngomong apa.
" Ohh, istrinya fadil. Aku kira baby sitternya tadi" sindir tante Arum. Emang dari tadi aku perhatikan tante arum emang nggak suka gitu ke aku. Padahal perasaan aku nggak ada buat salah ke dia.
" Arum.." Tegur papa.
" Maaf mas. Kan aku ngga tau" meskipin yang anak oma itu mama, tapi sepertinya tante Arum hormat banget sama papa.
__ADS_1
" yaudah mari semuanya kita makan" titah oma.
Aku sama sekali nggak selera dengan makanan yang menggiurkan didepanku ini. Ucapan tante arum menambah buruk situasi hatiku.
" Kakak, mau makan pake apa nak?" Tanyaku pada fiona. Daripada aku cuma diem mendingan aku ngurusin anak anak ku.
"Nggak deh bund. Udah kenyang makan tumpeng oma" tolak fiona. Udah kenyang katanya tapi tangannya masih sibuk nyomotin puding buatan oma. Alesan aja biar nggak makan nasi.
" Kamu nggak makan re?" Tanya mama yang membuat aku jadi pusat perhatian saat itu juga. Jangan lupakan tatapan datar dari suami ngeselinku itu. Dari pagi tadi kami masih perang dingin. Memang keterlaluan itu suami, bukannya minta maaf. Mala ikutan diem.
" Iya ma. Habis nyuapin fayyadh dulu" jawabku seadanya.
" Kamu lulusan apa renata?" Tanya tante Arum di sela sela kunyahannya.
Kegiatanku nyuapin fayyadh mendadak berhenti, apa yang harus ku jawab sekarang, aku bingung.
" Renata mau fokus sama anak dan suaminya rum" ujar mama membuka suara.
" Kata fadil renata itu nggak tamat SMA nya ya kan tante"
Blam. Satu fakta yang dikeluarkan fina, anak tante Arum berhasil mengobrak abrik hatiku. Kak fadil tega banget ya mengumbar tentang pendidikan ku. Ya walaupun memang itu kenyataannya.
Tante arum membuka mulutnya nggak percaya " Kalian nikah karena kecelakaan. Dil, kamu yakin milih dia?" Tanya tante arum makin me jadi jadi. Satu tetes cairan bening berhasil jatuh dari pelupuk mataku. Sakit sekali rasanya Ya allah.
" Rum, udahlah kenapa jadi bahas mantu ku sih" geram mama.
Satu orang yang ku harapkan mengeluarkan kata katanya nyatanya cuma diam nggak bersuara. Tega kamu mas.
" Nggak habis fikir aku, gimana sih kamu milih mantu buat putra semata wayang kamu"
Cukup. Aku udah nggak tahan lagi. Pusing dikepalaku makin menjadi jadi, ditambah lagi sakit hati mendengar ucapan menghina tante Arum.
" Oma, rere tinggal ke kamar ya. Kepala rere pusing banget" lirihku
" Iya nak nggak papa. Kamu istirahat aja ya" ujar oma lembut.
" Ma, pa, semuanya rere pamit ke kamar ya" pamitku lirih.
" Halah alesan aja tuh" sinis tante Arum yang sekarang udah nggak ku pedulikan.
Aku berdiri sambil menggendong fayyadh. Baru dua langkah berjalan kaki ku rasanya lemas. Kalo saja aku nggak pegangan ke kursi aku sama fayyadh pasti udah terkulai di lantai.
" Dibantu istrinya fadil. Kamu ini gimana sih!" Ujar papa kepada kak fadil.
Kak fadil mengambil alih fayyadh dari gendonganku, dan berjalan sambil merangkul ku ke kamar.
" Makasih" ucapku lirih setelah kak fadil berhasil membantu sampai di kamar dan berbaring di ranjang.
" Perlu ke dokter nggak?" Tanya kak fadil ketus. Aku tau dia kesel sama aku karena masalah tadi pagi. Ditambah acara makan malam ini sedikit berantakan karena aku.
Aku menggeleng lemah " kamu balik aja ke bawah. Siniin fayyadhnya biar sama aku aja" ujarku.
Kak fadil membuang nafasnya lemahb" Tadi pagi makan? Tanya nya
Aku menggeleng
" Siang?"
" Sedikit" jujurku.
" Kamu emang hobi ya re, cari perhatian. Hobi banget ngundang penyakit. Heran aku"
Air mataku mengalir tetes demi tetes " Aku juga nggak minta kondisi aku kayak gini mas" lirihku.
" Siapa sih yang mau sakit mas. Nggak ada"
__ADS_1
" Ntahlah re. Istirahat disini, biar fayyadh sama aku" putus kak fadil.
Sepeninggalnya kak fadil aku menangis tersedu sedu. Sesakit ini kah berbaur dengan keluarga terpandang, sedangkan kita dari kalangan bawah, wanita biasa.