Wedding Story

Wedding Story
Empat Puluh Empat ( Lembaran Baru)


__ADS_3

Ku perhatikan dengan seksama rumah yang menjadi saksi pertumbuhan dan perkembanganku selama ini. Rumah yang menyimpan banyak kenangan suka maupun duka, dulu bersama ibu setelah kepergian ayah.


Aku sedih, apakah rumah ini emang di takdirkan buat keluarga yang nggak utuh. Sekarang aku mengulanginya, tinggal disini bersama dua orang anak ku, tanpa suami.


Fiona akhirnya ikut tinggal denganku karena dia menolak dengan keras tinggal dengan oma nya. Setidaknya aku lega bisa bawa fiona tinggal denganku, walaupun dengan keadaan yang pas pasan. Tapi akan ku pastikan fiona nggak akan kekurangan kasih sayang dariku.


" Kakak, liatin adek nya bobo bentar ya nak, bunda mau masak dulu" Aku meletakkan fayyadh di ranjang dengan meletakkan dua bantal guling di sisi kanan dan kirinya, khawatir dia terguling.


" Siap bunda.. Masakin nasi goreng ya bun?"


Aku mengangguk. Dari awal memang aku mau masak nasi goreng buat sarapan, sekalian irit. Aku belum punya pekerjaan untuk dapat penghasilan. Untung aku masih punya uang tabungan dari uang yang sering di kasih kak fadil ke aku dulu. Aku rencana mau buat usaha kue, biar kerjanya di rumah aja dan bisa ngawasin anak anak.


Nggak ada yang berubah dari dapur ini. Tetap sama seperti dulu, tempat yang sering ku datangi kalau lagi pagi, masak sarapan buat bunda sebelum berangkat ke sekolah.


Satu porsi nasi goreng, buat ku berdua sama fiona.


" Kakak, makan dulu yuk" Aku masuk ke kamar tempat dimana fiona dengan fayyadh


" Jagoan bunda udah bangun ya, kok cepet banget sih nak" Aku menghampiri fayyadh yang matanya udah seger banget, sambil senyum senyum ke arah ku gitu. Ganteng banget, kayak ayahnya. Lagi, masih terus keingat walau aku udah berusaha lupain.


" Buka mulutnya kak" Perintahku ke fiona.


Fiona membuka mulutnya dengan antusias. saat ini nasi goreng buatanku masih jadi yang nomor satu di hatinya.


" Bunda, dedeknya mau makan juga tuh" Kata fiona. Ternyata fayyadh dari tadi fokus liatin aku nyuapin kakaknya.


" Belum boleh makan nasi ya nak, tunggu giginya tumbuh dulu ya" kataku lembut ke fayyad. Dia tersenyum seakan mengerti apa yang aku bicarakan.


" Kenapa nggak boleh makan nasi bun. Jadi dede bayi nya makan apa?"


" Habisin dulu nasi yang di mulut. Baru ngomong kak"


Fiona udah cengengesan gara gara di tegur. Emang kesalahan dia. Aku udah sering mengingatkan hal yang sama. Tapi tetap aja di ulang lagi.


" Udah habis nih" Fiona membuka mulutnya lebar yang memang udah kosong.


" Jadi dede nya makan apa bun?" Tanya fiona lagi. Mungkin dia penasaran


" Dede nya makan dari asi bunda" Jawabku


" Asi?"


Oeeekk oekkk


Aku langsung menggendong fayyadh " Kenapa sayang, haus ya hem?"

__ADS_1


Aku langsung menyusui fayyadh. Awal awal masih ragu canggung kayak gimana gitu. Tapi udah seminggu jadi bundanya fayyadh jadi udah terbiasa


" Pelan pelan adek, nggak ada yang minta " Aku terkekeh melihat fayyadh yang begitu semangat menyedot asinya. Denger denger dari orang sih gitu, bayi laki laki itu lebih jago nyusu, daripada anak perempuan.


" Udah kenyang ya hem. Udah cukup?. Bunda simpen yaa?. Tanyaku pada fayyadh yang udah memberhentikan aksi menyusunya.


Aku meletakkan fayyadh ke ranjang kembali. Sekarang waktunya dia mandi pagi. Sebelum itu aku mau nyiapin segala keperluan buat dia mandi.


" Iya sayang, bentar. Bunda mau nyiapin air mandinya dulu" Kataku dari kejauhan yang mendengar fayyadh merengek


Aku memandikan fayyadh dengan telaten. Berkat pengajaran dari suster dan sering memerhatikan bagaimana cara memandikan bayi dengan benar, aku udah mulai bisa dan berani memandikan fayyadh, walaupun masih sedikit gamang.


" Udah wangi ya dek ya.Pake bedak dulu biar makin ganteng" Aku megusapkan bedak ke wajah ganteng fayyadh. Nambah berlipat ganda gantengnya.


" Sekarang kakak yang mandi yok, bunda temenin. Belajar mandi sendiri ya nak. Kan udah gede"


Fiona berjalan dengan menyampirkan handuk di pundak nya, aku mengekorinya dari belakang sambil membawa fayyadh di gendonganku


"Sikat gigi nya kak" Aku memerintahkan fiona agar mengikuti saranku. Biar dia terbiasa mandi sendiri. udah mau 5 tahun, seharusnya udah mulai bisa kan, tapi aku masih mengawasinya. Belum yakin ngelepasin fiona mandi sendiri.


" Bunda..kepangin rambut kakak" Rengek fiona setelah aku selesai membantunya pake baju.


" Coba, tanya ke dede nya, mau nggak di letakin bentar buat ngepang rambut kakak" Kataku, sebenarnya aku cuma mau menggoda fiona


"Gimana?. adenya mau nggak?


" Harus mau dong bund"


Aku terkekeh. fiona udah mulai cari cari cara biar bisa aku perhatiin terus. Padahal nggak perlu gitu, aku pasti perhatiin dia tanpa di minta.


" Kak, nanti liat sekolah baru sama onty nana ya" Kataku, sambil menata rambut fiona perlahan


Fiona mengangguk. Dia sekarang udah nggak banyak nuntut kalo ke aku. Sebenarnya aku kasihan, tapi mau gimana lagi. Kalo tetep di sekolah yang lama, masalah biaya aku bisa nabung buat bayarin bulanannya, masalahnya jarak dari rumah ibu ke sekolah fiona yang lama itu cukup jauh, makanya aku mutusin buat mindahin sekolah fiona ke yang lebih deket. Biar aku juga mudah mantau fiona.


" Udah beres nih. anak bunda udah cantik"


Fiona udah senyum malu malu kucing gitu, kalo aku bilang dia cantik. Udah ngerti masa masalah gitu


Aku menunjuk nunjuk pipiku ke arah fiona. Dia yang langsung mengerti mendaratkan sebuah kecupan di pipi kiriku.


" satu lagi dong kak" Pintaku memelas


Fiona malah mendaratkan banyak ciuman di seluruh area wajahku, mata, hidung, bibir, nggak ada yang terlewat.


" Makasih kakak"

__ADS_1


" Sama sama bunda cantiknya kakak"


****


" Gimana na, sekolah baru nya?" Tanyaku pada nana. Tadi mereka pergi liat sekolah yang mau di tempati fiona. Aku minta tolong nana, karena aku belum bisa bawa fayyadh keluar rumah terlalu lama.


" Bagus kok re, fiona juga suka kok gue liat"


Aku lega. Setidaknya fiona nggak terpaksa pindah sekolah, karena nggak rela ninggalin sekolahnya yang lama.


" Na, gue mau jualan kue gitu... Lo bantu promosiin ya"


Nana menatapku iba " Re..kenapa sih lo kayak nggak boleh ngerasain bahagia?"


Aku mengerutkan keningku " Gue bahagia tau na, sama kehidupan gue yang sekarang. Di titipin anak anak yang lucu lucu kayak mereka" Kataku sambil menatap dua anak ku yang udah tidur bersebelahan di ranjang.


" Na, gue bangga sama lo"


" Mau peluukk.."


Aku terkekeh dan menerima pelukannya, aku menangis di pelukan nana. Tapi aku berusaha nahan biar nana nggak mendengar tangisanku. " Nangis aja re, kalo lo nggak kuat lagi"


" Hiks naa..Makasih sekali lagi udah selalu ada"


" Salah nggak sih na, kalo gue masih ngarepin kedatangannya mas fadil?"


Rere sontak melepas pelukan nya. dia menatapku tajam " kenapa sih re, lo masih harepin orang yang udah ngsih luka sama lo?!."


Nana memang udah benci banget sama kak fadil. dari dulu sebenarnya nana nggak pernah dukung hubunganku sama kak fadil. Tapi ngeliat aku bahagia, nana jadi sedikit demi sedikit buat nerima hubunganku dan kak fadil.


" Perasaan nggak bisa dibohongi na... Lagi pula anak gue masih butuh sosok ayah nya"


" Ayah macem apa yang udah ngelantarin anak nya re ha?!. Lo bisa ngurus anak anak lo sendiri. Gue yang akan bantu lo, nggak usah harepin dia lagi re"


Aku menggeleng kuat. sekeras apa pun nana meyakinkan aku, hatiku tetap aja masih ada nama kak fadil. Sampai aku tau, keberadaan kak fadil. kalaupun sebenarnya dia udah nikah lagi dan punya keluarga yang baru, biar aku mendengar kata talak dari mulut kak fadil sendiri.


" Makasih udah peduli na" Aku tersenyum tulus ke arahnya. Aku tau dia kesel sama aku, tapi itu nggak akan lama kok. Nana nggak bisa lama lama diemin aku.


" Udah makan na?"


Nana menggeleng cepat. Aku terkekeh, walaupun sebenarnya dia udah makan, pasti dia bilang belum makan, kalo udah aku tawari makanan masakanku. nggak akan pernah bisa nolak.


" Yaudah makan yuk, muka nya nggak usah di tekuk gitu bayi gede " Ujarku mengejek


" gue masih kesel sama lo ya re" Aku makin terkekeh melihat tampang kesel nana yang makin parah.

__ADS_1


__ADS_2