
Harapan kak fadil akhirnya terwujud, Karena calon bayinya berjenis kelamin laki laki. Senangnya bukan main dia.
Semalam saat kami usg, dan dokternya memberi tahu kalau dia laki laki, kak fadil loncat loncat kegirangan padahal masih di ruang pemeriksaan.
Sepanjang perjalanan senyumnya tak pernah luntur, dan tak henti hentinya mengucapkan terimakasih padaku. Aku jadi merasa seperti wanita terbahagia didunia
Sebulan dari pertengkaran hebat kami yang membuat aku masuk rumah sakit, rumah tangga kami adem ayem. Aku juga tidak pernah melihat kak fadil lagi sama fania, ku cek hp nya pun sama. Tak ada tanda tanda mereka berkomunukasi. Semoga saja dia tidak datang datang lagi
Perihal homeschooling, aku menolak nya. Untuk saat ini aku mau fokus sama anak anak. Mungkin nanti setelah melahirkan mungkin bisa aku pertimbangkan. Bawaannya malas terus kalau sekarang mau beraktifitas.
" Re, dasi aku mana sih?" Tanya kak fadil yang dari tadi mondar mandir
Aku yang masih berbaring malas di tempat tidur cuma bisa nunjuk nunjuk dimana tempat barang yang dia cari . Kebiasaan sih, semua suka istri yang mempersiapkan. jadi takk tau kan tempat barang sendiri. ****** ***** dia saja aku yang menyiapkan.
Kak fadil duduk disebelahku sambil membawa dasi. sudah bisa kutebak. pasti minta di pasangkan dasi
" Dedeknya lagi males nih yah" Ucapku beralasan. Walaupun kak fadil belum mengutarakan keingininnya audah bisa aku tebak sih
Kak fadil mengusap kepalaku lembut " Paling bisa kamu buat si kecil jadi alasan".
" Ayo ah duduk. Bantu pasang. Lagian jagoan aku yang disini mana mungin malas malasan" Katanya sambil mengusap perutku
" ehh, dia nendang tau bund" soraknya heboh. Kalau aku sih sudah biasa merasakan gitu. kadang nendangnya keras sampai perut aku ngilu.
" Sudah jago main bola walaupun masih di dalam perut " ucapku sambil terkekeh. Ku arahkan tanganku pertanda minta bantuan buat duduk sama kak fadil. Tentu saja dibantunya dengan senang hati
Kuraih dasi yang ada ditangannya, Kupakekan dasi dilehernya dengan teliti
" Aku baru sadar kalo kamu cantik tau re" Katanya sambil menatapku lekat
Aku yang masih sibuk berkutat dengan dasinya, mengeratkan ikatan dasi tersebut kelehernya
" Mau jadi pembunuh kamu re?" Katanya
Aku hanya diam nggak menanggapi. Pagi pagi paling suka mancing emosi bumil tuh orang
"Re, aku penasaran deh, kok bisa kamu suka sampe awet gitu sama aku. Walaupun aku cuma diam, tapi beritanya sampe ke aku tau"
Aku yang selalu malas kalau kak fadil membahas permasalahan ini pun, langsung membaringkan tubuhku kembali keranjang. Kupunggungi dia. Pura pura marah kayaknya seru
" Gitu aja marah kamu re. Ayo ah, aku mau berangkat nih" katanya seraya berusaha membalikkan badanku
Tidak semudah itu ferguso. Aku tetap tak mau menghadapnya " yaudah sana kalau mau pergi" Ketusku
" Aku mana tenang mau pergi kalau kamu masih marah gini re. Ayo bangun dulu" Katanya
" Siapa yang marah?"
" Ya kamulah. Yang tukang marah kan kamu"
Tuhkan, disaat seperti ini saja masih sempat menilai jelek istrinya
Aku duduk dan langsung meraih tangannya untuk ku cium" hati hati. jangan lupa sarapan" Ucapku setelah itu kembali berbaring
__ADS_1
" Padahal aku mau ngajak kamu ke kafe aku nanti. Tapi kayaknya sia sia, kamu aja nga.."
" Kamu serius mas?" Tanyaku antusias memotong perkataannya
" Harus ada pancingan ternyata" Kata kak fadil pelan. tapi tentu saja masih bisa kudengar
" Kamu serius bukan sih?" Kali ini aku udah duduk. Terlalu semangat mau diajak ke kafe. Karena sekalipun aku belum pernah diajak kesana. Selalu saja ada alasan kalo aku mintak ikut.
" Serius. Jam 7 aku jemput ya" katanya
Aku mengangguk bahagia. Akhirnya kesampaian juga
" Yasudah aku berangkat dulu " Pamitnya sambil mengecup keningku dan turun ke perut. Mana mungkin lupa dia sama jagoan kecilnya " Ayah pergi dulu ya jagoan. Baik baik sama bunda"
Aku selalu terharu saat kak fadil berinteraksi dengan anaknya begini " Pamit ke si kakak dulu mas. Nanti dia kecarikan. bangun tidur kamunya sudah tidak ada"
Sekarang fiona sudah ada kamar sendiri, itu idenya kak fadil sih. Katanya fiona kan udah gede, sudah harus punya kamar sendiri. Awalnya aku tak setuju sih, tapi si fiona nya mau. Karena kamarnya sudah seperti toko boneka diisi ayahnya. Emang paling jago merayu anak sih
" Iya. aku pamit" katanya sekali lagi sambil mengusap kepalaku dan pergi ke luar kamar.
****
Sekarang aku lagi duduk di ruang tamu menunggu gempa kak fadil. Aku sudah rapi, degan polesan sedikit make up. Pokoknya perfect deh.
Sudah lewat hampir 2 jam dari pukul 7 malam. Tapi belum ada tanda tanda bahwa kak fadil akan pulang. Daritadi sudah ku telpon tapi belum dijawab sama sekali.
" bund, kakak sudah mengantuk " rengek fiona sambil menguap
" Yasudah kakak bobok yok, bunda peluk"
Fiona langsung mengangguk. Matanya memang sudah merah dan berair, keliatan sekali sudah mengantuk
" Kakak minta tolong ke mbak mirna buat ganti baju dulu ya. Bunda juga mau ganti baju. Nanti bunda susul kakak ke kamar " Pintaku pada fiona
Aku berjalan ke kamar fiona setelah mengganti pakaian ku dengan daster kebanggan ku. Capek capek aku dandan tidak ada gunanya. Awas saja kalau dia pulang. habis aku buat.
Kuhampiri fiona yang ternyata sudah berbaring di tempat tidurnya yang sudah lautan boneka.
" bobok ya kak" Aku ikut berbaring di sebelah fiona. Dengan mata beratnya fiona menghadap ke arahku dan menenggelamkan wajahnya kedadaku
Kuusap lembut punggungnya lama, membuat kantukku datang. Kulirik jam berbentuk dora emon yang tergantung manis di dinding, menunjukkan pukul setengah 10 malam. kak fadil betul betul keterlaluan.
" Re, pindah yuk. jangan tidur disini ntar perut kamu bahaya kalau si kakak nendang tidurnya" Belum lama aku memejamkan mataku, tidurku terusik dengan usapan lembut dipipiku
Kubuka perlahan mataku, ternyata kak fadil. Mungkin dia tidak menemukan aku dikamar kami, makanya dia langsung ke kamar anak gadisnya. ya aku kemana lagi kalau tidak ke kamar fiona.
" Masih ingat pulang kamu" Kataku malas
" Ada kerjaan mendadak tadi re" Katanya pelan. Mungkin khawatir anaknya kebangun
Aku memutar mataku malas " Apasih gunanya hp mas, kamu beri tahu biar anak sama istri kamu tidak perlu capek menunggu" Kataku sedikit keras
" Husssyy, jangan marah marah depan anak sayang" tegurnya lembut
__ADS_1
Kupandangi kak fadil, ternyaata dia sudah rapi dan wangi. Mau kemana lagi jam segini. baru pulang mau pergi lagi ceritanya " Kamu mau kemana rapi gini?" Tanyaku menyelidik
" Mau ke kafe aku. Teman kampus kasih kabar kalau mereka lagi nongkrong disana" Katanya
" Harus banget sewangi ini?"
" Ya ampun re, biasanya aku juga pakai miyak wangi gini, kamu biasa aja "
Ya emang sih, tapi kali ini aku tak suka, kan nanti banyak yang tergoda
" Sekarang pindah ke kamar atas" Perintahnya
" Malas ah. Masa aku tidur sendiri disana. sedangkan kamu saja mau pergi" Tolakku
Kupandang kak fadil dari atas sampai bawah lagi lebih intens rasanya tak rela kak fadil keluar dengan tampilan seganteng itu. Takut digaet kucing garong yang kelaparan " lagian kamu, baru pulang sudah mau pergi lagi"
Kak fadil menarik nafasnya jengah " Ya aku mana enak sama anak anak Re, mereka sudah terlanjur disana" Katanya
" kamu kan memang selalu begitu, kalau sama orang lain pasti jaga perasaan mereka terus. Kalau sama keluarga sendiri mana pernah " Ucapku protes
" Sekarang kamu maunya bagaimana?" Tanyanya akhirnya
" Aku ikut" Ucapku. sebenarnya ini cuma alasan biar aku bisa mengawasi kak fadil. Bisa dibilang kalau aku cemburu kak fadil keluar rumah dalam keadaan ganteng
" Sudah malam Re. "
" Yasudah berarti kamu juga jangan pergi " Ucapku cepat memotong ucapan kak fadil. Sebenarnya aku bukan maksud mau mengekang kak fadil begini, cuma karena aku lagi kesal plus dia sok kegantengan dandanannya makanya, aku bertindak seperti ini
" Yasudah, sekarang kamu ganti baju sana"
" Aku sudah siap begini" kataku yang membuat dahi kak fadil berkerut
Aku meneliti tampilanku " Kenapa, malu bawa aku kalau dasteran. Malu punya istri jelek yang badannya sudah bengkak bengkak begini?" Lanjutku bertanya
" Kesal aku mas sama kamu. Tadi aku sudah cape cape dandan, tapi kamu tidak menepati janji. Aku sama fiona nungguin kamu hampir 2 jam, tapi kamu tidak ada kabar" Ucapku disertai air mata. sedih ditambah kesal menjadi satu
" Re, sudah dong. Jangan menangis nanti fiona bangun" ucapnya menenangkanku
" Kalau kamu mau tetap dasteran. yasudah ayok. aku tidak masalah sama sekali" Lanjutnya lagi
" Lagian moodku sudah hilang. Kamu saja yang pergi sana" Kesalku
" Yasudah aku batal pergi kalau begitu" Kata kak fadil mengalah
" Pindah ke kamar" Katanya seraya mengusap lembut perutku
kak fadil bangkit dari duduknya " Aku diruangan kerja. Itu yang kamu maukan.aku Cuma boleh ngantor dan ngampus.
" Semoga aku betah" Katanya sebelum pergi meninggalkan kamar fiona
Aku menangis mendengar ucapan kak fadil. Apa aku keterlaluan sudah mengekang dia. Tapi, kan aku bukan berniat mengekang dia.
" Hiks.. gara gara daster nih" lihku sambil menangis pelan. Takut fiona dengar
__ADS_1