Wedding Story

Wedding Story
Lima Puluh Tiga ( Lagi)


__ADS_3

Lagi, saat mataku berhasil terbuka, ruangan serba putih dengan nuansa bau nya yang khas yang kudapati. Bau obat yang sangat kentara di indra penciuman. Tanpa meminta penjelasan dari orang lain, aku sudah tau kalau aku sekarang tengah berbaring dirumah sakit.


Kejadian yang menimpaku ternyata bukan mimpi buruk di tidurku. Melainkan kenyataan pahit yang menghampiri hidupku.


Keringat dingin menjuluri sekujur tubuhku. Bayangan terkepung dalam kukungan api di dalam kesendirian nampaknya menyisahkan trauma yang lumayan dalam.


" Hiks..ibu. rere takut sendirian" isak ku penuh luka. Siapa sebenarnya yang membawa aku kesini. Karena saat pertama aku membuka mata, tak ada satupun orang diruangan ini kecuali aku.


Ingatanku kembali berputar saat kak fadil menolak untuk pulang saat aku mengabarkan kalau aku sedang ketakutan melalui telpon. Pantaskah aku menyalahkan kak fadil dengan peristiwa yang kualami. Kalau saja dia bersedia untuk pulang, mungkin kejadian buruk ini tidak akan menimpaku, aku tidak akan berbaring lagi dirumah sakit yang membosankan ini, dan lagi kebakaran itu pasti bisa terelakkan. Pikiranku sekarang tertuju pada kondisi rumah ibu yang terakhir terekam jelas di ingatanku, ruang tengah sudah setengah termakan oleh sijago merah.


Saat pikiranku sedang berkelana kemana mana, pintu rawat inap terbuka dan menampakkan sosok yang kurindukan kehangatannya, tapi mengingatkan aku tentang kekecewaan yang mendalam terhadapnya.


" Re, kamu udah sadar"


Aku membuang pandanganku kesamping. Rasanya enggan menatap pria yang berstatus suamiku itu sekarang.


" Sayang.."


Aku nggak bisa menahan untuk tidak menangis mendengar panggilan lembut dari kak fadil padaku yang berapa hari ini tidak terdengar, karena permasalahan yang mengakibatkan kami bertengkar hebat.


" Aku tau kamu kecewa sama aku. Tapi untuk yang kesekian kalinya aku minta maaf sama kamu"


Jangan luluh renata. Jangan. Ingat lelaki susah dipercaya omongannya. Aku meyakinkan diriku untuk nggak terlalu mudah percaya dengan mulut manis nya.


" Re..kamu nggak mau jelasin sesuatu sama aku"


" Apa aku harus sampai sekarat dulu baru kamu mau dengerin penjelasan aku hiks?"


" Re-"


" Kamu tau nggak mas, gimana takutnya aku saat itu. Disaat aku butuh kamu, hiks tapi kamu nggak ada mas"


Kak fadil merengkuhku kedalam pelukannya. Aku ingin berontak, tapi tampaknya tenaga laki laki nggak akan sebanding dengan tenaga wanita, apalagi dalam kondisiku sekarang yang tidak stabil.


" Maafin aku re..maaf"


Aku memukul dada kak fadil yang memelukku erat. Rasanya ego ini nggak mau memaafkan. Tapi hati tidak bisa untuk menolak perlakuan manis suami yang hobi diemin istrinya ini.


Kak fadil membiarkan aku menangis sepuasnya di dekapannya. Nggak peduli sekarang kemeja yang dikenakannya mungkin udah bisa diperas karena basah oleh air mataku.


" Rumah ibu gimana?" Sontak aku menghentikan tangisku saat mengingat perihal rumah ibu.


Kak fadil terdiam dan menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


" Mas" ku goyangkan lengannya agar dia tersadar. Sungguh aku sangat ingin mengetahui kondisi rumah peninggalan ibuku.

__ADS_1


" Kamu yang sabar ya. Aku janji bakal perbaiki rumah ibu lagi supaya bisa di tempati kembali"


Kata kata kak fadil bagai batu besar yang di jatuhkan menohok hatiku. Rumah tempat aku dibesarkan, yang menjadi saksi kasih sayang yang dicurahkan oleh kedua orang tuaku, saksi dalam suka dan duka kami, kini harus lenyap hangus menjadi abu.


" Mas...Bisa tinggalin rere sendiri?" Pintaku lirih dengan harapan yang kosong.


Kak fadil menggeleng " Nggak re. Aku nggak bisa ninggalin kamu dalam kondisi kacau seperti ini. Ayok re. Bagi sama aku kesedihan kamu sayang.."


Air mataku semakin deras mengalir " Hiks rumah itu satu satunya kenangan aku dengan ibu dan ayah mas"


Kak fadil mengambil tanganku dan menggenggam erat nya " Aku ngerti perasaan kamu re. Tapi kamu nggak boleh jadiin itu beban pikiran. Nanti berpengaruh ke kandungan kamu"


" Kamu tau mas? Tanyaku memastikan.


Kak fadil mengangguk lemah " Dan aku sangat berterimakasih karena kamu udah mengandung darah daging aku lagi" Tangan kak fadil udah bergerak lembut di perutku yang berbalut pakaian khas pasien rumah sakit.


" Mas..rere juga mau minta maaf " Kataku sedikit ragu.


" Coba jelasin. Mas mau denger"


Aku sedikit heran dengan panggilan kak fadil terhadap dirinya. Dia menyebutkan dirinya sendiri dengan sebutan " mas" apa aku yang salah dengar?. Tapi apapun itu untuk sekarang nggak penting. Sekarang yang terpenting adalah menjelaskan semuanya kepada kak fadil agar permasalahannya selesai.


Aku menjelaskan semuanya dari awal alasanku meminum pil penjegah kehamilan. Tentang ketakutanku untuk melahirkan dan khekhawatiranku fiona dan fayyadh kekurangan kasih sayang. Terlebih fayyadh yang masih sangat kecil. Dan masih membutuhkan Asi hingga menginjak usia 2 tahun.


" Aku cuma kecewa karena kamu mengkonsumsi pil itu tanpa sepengetahuan aku re" Kak fadil membuka suara saat aku sudah selesai menjelaskan semuanya


Kulirik kak fadil yang menarik nafas panjangnya " jelas re. Jelas aku nggak akan bolehin kamu mengkonsumsi pil itu. Kenapa coba harus mengkonsumsi pil pencegah kehamilan itu?"


" Karena rere nggak bisa nolak kalo kamu minta mas!" cicitku dengan tampang yang sangat polos


Kak fadil melebarkan matanya menatapku. Aku kembali dilanda ketakutan. Tapi nyatanya di detik berikutnya aku mendengar suara gelak tawanya.


" Minta apa sayang?" Tanyanya belaga nggak tau


" Kamu pura pura nggak paham" ujarku pelan dan membalikkan pandanganku dari arah kak fadil yang berada di sisi kanan ranjang rumah sakit.


" Sayang..liat mas dong "


" Ihh mas.. rere malu " Kataku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Karena walaupun udah mau jadi ibu dari 3 orang anak. Aku masih malu kalau lagi membahas hal hal yang berbau ranjang. Dan itulah bahan ledekan andalan suami mesumku itu.


" Banyak anak banyak rezeki sayang"


" nggak ada ya mas. Habis ini tutup " Kataku sambil menatapnya sinis.


" 12 ya istri"

__ADS_1


Aku membelalakkan mataku kaget dengan ucapan kak fadil " Suami aja yang hamil" ketusku.


" Tugas suami cuman bantu ngadon saya -"


" IHH MASS" Kucubit perut kak fadil karena kesal dengan omongan yang sangat vulgar. Kalo bicara suka nggak di filter. Heran.


" Ampun sayang iya nggak lagi ampun" kata kak fadil berteriak heboh. Padahal lagi di rumah sakit. Kalo ditegur aku nggak ikut ikutan.


Aku menghentikan acara cubit mencubitku setelah kurasa cukup. Berhubung tanganku juga udah pegel jadi ya di stop.


" Anak anak dimana mas?" Tanyaku seraya memperhatikan kak fadil yang lagi fokus banget ngupasin buah apel permintaanku. Nggak tau tiba tiba pengen makan apel.


" Dirumah mama" jawab kak fadil santai


Bibirku memprout " Kangen anak anak. Pengen pulang " kataku dengan menunjukkan wajah yang dibuat buat memohon


" Kemungkinan kamu besok udah boleh pulang. Karena nggak ada luka yang serius" jelas kak fadil


" kok besok sih mas. Sekarang aja ya. Aku udah nggak papa" protesku


" Kamu nggak liat udah jam berapa?" Ucap kak fadil sambil menampilkan layar ponselnya kearahku.


Aku terkejut ternyata udah hampir jam 11 malam. Pantas saja sejak tadi terasa sangat sunyi.


" Nih apelnya udah selesai aku kupas" kata kak fadil seraya mengarahkan potongan apel ke mulutku.


Aku menggeleng menolak " Buat kamu aja ya mas. Rere udah nggak selera buat makan"


Baik nampaknya kesabaran seorang fadil akan diuji untuk 9 bulan kedepan. Aku tertawa dalam hati. Lagian siapa suruh ngehamilin istrinya. Ehh, tapi kan wajar ya.


" Yaudah sekarang kamu tidur ya " ujar kak fadil dengan sabar


Aku menggelengkan kepalaku lagi " Belum ngantuk " sepertinya sifat manjaku sudah bertmbah 30 persen efek ada dede bayi lagi di perut mungkin.


" Aku mau kamu ceritain gimana bisa kamu bawa aku kerumah sakit. Padahalkan mas ketus banget waktu rere telpon" pintaku.


Ternyata kak fadil yang membawaku kerumah sakit dengan dibantu oleh beberapa tetangga sekitar. Katanya setelah menerima telpon dariku tiba tiba perasaan kak fadil mendadak nggak enak mengkhawatirkan ku. Akhirnya kak fadil memutuskan untuk pulang dan mendapati rumah yang sudah ramai orang orang yang membantu memadamkan api.


" Kamu tau re, jantung aku rasanya berhenti berdetak waktu itu. Aku nyesel udah ninggalin kamu sendiri" lirih kak fadil dengan penuh penyesalan.


" Udahlah mas. Semuanya udah terjadi. Dan aku nggak apa apa kan sekarang. Masih ada di depan kamu "


" semua ada hikmahnya. Dengan kejadian ini permasalahan kita jadi selesai kan. Aku bahagia mas " lanjutku .


Kak fadil sontak berhambur kepelukanku " Aku nggak mau kehilangan kamu re. Aku nggak sanggup buat sekedar membayangkannya aja aku nggak kuat" lirih kak fadil.

__ADS_1


Aku tersenyum getir " Kamu harus janji nggak diemin aku kalo kita lagi ada masalah mas. Ajak rere bicara buat nyelesain semuanya ya" pintaku sangat berharap.


Kak fadil mengangguk mengiyakan. Permasalahan dalam suatu hubungan itu pasti ada. Itulah yang disebut dengan bumbu bumbu rumah tangga. Seharusnya dengan adanya permasalahan itu menjadi pelajaran buat diri masing masing, apa yang salah dari diri, bagaimana memperbaikinya agar suatu hubungan tidak mudah terpecah belah.


__ADS_2