Wedding Story

Wedding Story
Delapan Puluh Tiga ( Ending)


__ADS_3

Hampa. satu kata yang menggambarkan kehidupanku sekarang. seminggu sudah berlalu, kak fadil pergi meninggalkan aku dan anak anak untuk selamanya.


Air mataku rasanya sudah mengering akibat terus menerus menangis. Banyak yang bilang tidak baik untuk meratapi berlebihan. Tapi, hanya menangis yang bisa membuat dadaku sedikit lega dari sesak.


Ingin rasanya aku secepatnya untuk menata hati untuk terus melanjutkan kehidupanku kedepan. Tapi, saat ku tatap mata anak anak, hatiku rasanya tersayat. Kenapa begitu cepat mereka hidup tanpa seorang ayah. Lantas bagaimana aku akan memberikan penjelasan kepada anak kami yang masih di dalam perut. Kenapa sesakit ini Tuhan.


" Bunda.." Pangggil fiona yang memasuki kamar kak fadil yang dirumah Mama dengan membawa segelas susu. Ya. saat ini kami masih di rumah mama. Soal Mama, Aku tahu mama pasti lebih terpukul karena harus kehilangan anak semata wayangnya. Tapi, mama selalu saja terlihat tegar di depan orang orang.


" Kenapa kak?" Tanyaku lembut


" Kakak bawa susu untuk bunda sama dedek bayinya" Kata Fiona sambil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.


" Makasih kak" Ku ambil segelas susu dari tangannya dan membawanya untuk masuk kepelukanku dan menghujaninya ciuman ciuman.


" Bunda.." Panggil fiona


Aku menatapnya karena panggilannya terhadapku " kenapa sayang?"


" Kakak tahu kok, Apa yang terjadi. Tapi kakak tidak mau Bunda sedih terus"


" Kakak akan jaga Bunda sama adik adik sesuai permintaan ayah" Kata fiona


" Ayah bilang apa kak?" Tanyaku lirih


" Waktu ayah masuk rumah sakit, kalau kakak lagi berdua sama ayah, karena oma pergi. Ayah selalu bilang ke Kakak gini. Kak, kamu kan yang paling tua dari adik adik. Kalau ayah nanti sudah tidak ada, kakak harus jaga adik adik. Jangan nyusahin bunda, jangan ngebantah dan yang terpenting jangan buat Bunda nangis"


Air mataku tidak terasa jatuh saat mendengar cerita Fiona yang mengalir " Ayah bilang gitu kak?"


Fiona mengangguk " Ayah sering nangis diam diam kalau ngelihat foto bunda sama adik. Fiona sering lihat, Bund"


Aku menghapus air mataku. Aku tidak ingin anak anakku melihat aku terus menerus terpuruk " Ayah kalian orang yang hebat sayang, jadi kalian juga harus jadi anak anak yang hebat ya. Bunda cuma punya kalian sekarang"


" Kakak sayang bunda" Lirih Fiona sambil memelukku menenggelamkan kepalanya di dadaku. Aku dapat merasakan badannya bergetar. Menangis.


Mas lihatlah anak anak, sudah begitu mengerti membaca keadaan yang sedang dihadapkan kepada mereka. Aku akan mencoba ikhlaskan kamu, Mas. Aku akan menjaga anak anak sekuat dan sebisaku. Kamu yang tenang disana.


****


Pagi ini kukuatkan hatiku untuk kembali menjalani hari hari. Sudah seminggu aku mengurung diri di kamar kak Fadil. Awalnya Mama menyarankan agar aku pindah tempat tidur saja, agar tidak terus mengenang kak fadil. Tapi aku menolaknya, Karena bagiku mengingat kenangan kenangan bersama kak fadil dapat menjadi obat rindu untuk diriku.


Seminggu meratap, selama itu pula aku tidak menginjakkan kakiku kedapur. Dan Mama sama sekali tidak melarangku. Dia membiarkanku sampai aku berhenti dan lelah sendiri. Dan pagi ini, saat ini aku sudah berkutat di dapur memasak sarapan untuk Mama, dan anak anak.


" Re.." Panggil mama. Aku tersenyum. Mungkin Mama sedikit tidak yakin dengan keberadaanku disini sekarang.


" Ma.. Bentar ya. Masakan Rere sedikit lagi selesai kok" kataku.


" Re, Kamu-"


" Rere sudah tidak apa apa, Ma" Potongku seakan mengerti kemana arah pikiran Mama.


" Mama mau Teh, biar Rere buat?" Lanjutku bertanya


" Mama saja yang buat teh nya sayang. Kamu lanjutkan saja masaknya. Biar kita makan bareng anak anak"


Aku mengangguk mengiyakan " Kartika sudah bangun ma?" Tanyaku pada mama seraya masih mengaduk nasi goreng yang masih berada di wajan


" Sudah. Tadi sepertinya lagi main sama Fayyadh"

__ADS_1


Aku tersenyum " Lohh. Fayyadh sudah bangun. Tumben tidak mencari Rere ya Ma" Kataku sambil terkekeh. Memang kuperhatikan fayyadh jadi dekat sama Kartika selama seminggu terpurukku. Aku dapat melihat ketulusan Kartika terhadap anak anak. Dan itu tidak dibuat buat.


" Senang dapat teman baru itu anak kamu Re" Kata Mama dengan kekehannya juga.


" Rere ke kamar si kakak dulu ya Ma. Biar kita bisa sarapan. Anak anak juga pasti sudah pada lapar" Pamitku setelah memindahkan nasi goreng spesial dengan potongan sosis kesukaan anak anak"


" Iya. Ini biar Mama yang bawa ke meja makan"


" Terimakasih, Mama".


****


Makan pagi pertama kami berkumpul setelah kepergian kak Fadil. Sedikit ada yang kurang dan terasa berbeda memang. Tapi aku harus terbiasa dan membiasakan kondisi itu sekarang.


Aku makan dengan memangku Faza, sedangkan Fayyadh yang tidak mau kalah merengek pada Kartika minta dipangku dan si suap juga. Dan Kartika tidak keberatan akan hal itu.


" Bang.. Tantenya kan mau makan juga. Duduk di samping bunda saja sini. Biar makannya berdua sama adek Faza" Kataku membujuk, sedangkan Fayyadh hanya menggelengkan kepalanya.


" Tidak apa, mbak" Kata kartika


Aku menarik nafasku berat. Ya begitulah Fayyadh kalau sudah merasa nyaman kepada seseorang. Dia akan merasa memeiliki orang itu seutuhnya.


" Kar, Mbak mau tanya boleh?" Tanyaku yang diangguki Kartika.


" Kamu tidak ada niatan mau lanjut ke perguruan tinggi?"


Kartika yang kutanyai hanya menundukkan kepalanya


" Kalau kamu mau, mbak bisa biayai kamu Kar. Masa depan kamu masih panjang"


" Kalau kamu takut membebani mbak, kamu bisa kerja di kafe tempat mbak. Kamu bisa kerja paruh waktu disana. Kafe itu sudah mbak percayakan sama Nana teman mbak"


" Iya kartika, apa yang dibilang Renata itu benar. Ada baiknya kamu melanjutkan pendidikan kamu " Tutur mama ikut menyahuti.


" Kartika takut menyusahkan, Bu" Kartika memang memanggil mama dengan sebutan Ibu. Mama pernah bilang untuk panggil Mama saja. Tapi kartika bilang lebih nyaman manggil ibu.


" Kamu itu kan sudah menjadi tanggung jawab mas Fadil. Tapi, karena mas Fadil sudah pergi, Jadi izinkan mbak untuk tetap melaksanakan tanggung jawab suami mbak" Kataku pada kartika.


Kartika mengusap air matanya yang ntah sejak kapan menetes " Kartika pikir pikir dulu ya mbak"


" Kartika sangat beruntung bisa bertemu keluarga ini. Ntah apa jadinya nasib kartika kalau Kartika tidak bertemu kalian. Sekali lagi terimakasih atas kebaikannya mbak, bu" Lirih kartika


" Sudah, hari ini dan kedepannya tidak boleh lagi ada air mata. Kita harus enjoy terus, ya kan abang" Kataku pada fayyadh yang ternyata sedari tadi menperhatikan kami.


" Iya dong bundanya abang"


" Nanti ketemu ayah mau?" tanyaku pada fayyadh


" Mau mau bunda" Sorak fayyadh dan Fiona heboh


" Re.."


" Renata kangen ma, Anak anak juga pasti kangen ayahnya"


" Kalau gitu mama ikut" Putus mama


****

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, mas"


" Ucapin salam sama ayah nak" Perintahku pada ketiga anakku. dan di turuti mereka serentak.


Ya. disinilah kami di depan makam yang tanahnya masih basah, Tanda makam yang masih baru. Hatiku sedikit teriris melihat nama yang tertulis rapih di nisan yang tertancap dibagian kepala kuburan ini. Rasanya kembali seperti mimpi. Tapi aku kembali mengingatkan dan menguatkan diriku, kalu tujuanku kesini bukan untuk menambah kesedihanku


" Mas, Aku sudah ikhlas atas kepergian kamu. Aku kuat mas. Kamu yang tenang disana ya. Hanya doa yang bisa aku dan anak anak persembahkan untuk kamu"


" Kamu lelaki hebat yang pernah aku temui. Banyak kenangan indah yang kamu ciptakan di pertemuan singkat kita ini. Kamu suami terbaik yang dikirim Tuhan untukku. Terimakasih ayahnya anak anak. Kamu akan tetap berada di hati aku dan anak anak mas"


" kakak, abang, adek doain ayahnya nak" Pintaku pada fiona, fayyadh dan Faza.


" Ayah semoga ayah bahagia. Kakak rindu ayah. Hadir dimimpi kakak ya ayah" ujar fiona masih dengan tangan terbuka berdoa. Dan aku turut mengaminkan doa anak sulungku itu.


" Ayah, fayyadh lindu ayah banyak banyak. Kata kakak kalau kita bisa temu ayah dalam mimpi. Temui abang dimimpi ya ayah. Amicuuu ayah"


Kenapa anak anakku sedewasa ini dalam bersikap. Aku sangat terharu melihat ketegaran mereka. Terlebih Fiona yang sudah paham dan mengerti apa yang terjadi.


Terakhir si kecil Faza hanya diam memperhatikan kedua Kakaknya heran.


" Ohh iya mas. Tanggal persalinan aku juga sudah dekat. Sebentar lagi buah hati kita akan melihat dunia ini. Aku pasti kuat kan mas hiks. Kamu jangan khawatir ya mas, Aku nanti minta Aldo suaminya Nana buat azanin anak kita hiks"


" Sudah Re, mari kita pulang" Ujar Mama yang menyadarkanku


Aku mengangguk " Renata sama anak anak pulang ya mas. Aku akan sering datang kesini"


" Aku cinta kamu selamanya, Ayahnya anak anak. Tunggu aku di syurga ya mas" Kataku sebelum beranjak dari makam kak fadil.


Perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian. Jangankan untuk mendengar suaranya, melihat wajahnya atau sekedar senyumnya saja tak akan pernah bisa. Kematian adalah perpisahan yang abadi. Tak akan ada jalan untuk bisa kembali lagi, meskipun kita mencoba untuk terus meminta.


waktu akan terus berjalan. Kita tidak akan pernah bisa untuk menghentikannya barang sedetik. Malah kita yang akan berhenti kalau sudah tiba waktunya.


Ditinggalkan atau meninggalkan, Kita semua pasti akan mengalami fase ini. Jadi, gunakan waktu sebaik baiknya untuk mencintai, mengasihi orang orang terkasih kita. Jangan ragu untuk mengungkapkan rasa sayang lewat kata maupun perlakuan.


Karena, Benar adanya lirik lagu " Kalau sudah Tiada baru Terasa"


Terasa kehilangannya, Terasa bahwasannya seseorang tersebut sangat berharga.


kalau sudah begini, Hanya doa dan ikhlaslah jalan yang bisa kita perbuat.


SELESAI


******


Woaahhhh Fayyadh pergi. Cerita ini pun berhenti. Karena setiap orang ada ceritanya dan setiap cerita ada orangnya.


Aku mau mengucapkan terimakasih kepada Teman Teman Readers yang masih setia di cerita ini. Tanpa kalian mungkin aku sudah berhenti untuk menyelesaikan cerita ini.


And, terus berikan like serta komen kalian ya teman teman. Karena seorang penulis sangat mengharapkan dukungan dari pembaca pembacanya.


Mohon maaf jika ada yang kurang suka sama endingnya, Karena cerita yang aku tulis itu mengalir begitu saja.


Cerita ini benar benar selesai guys


Terakhir, jangan lupa mampir ke cerita aku yang lain yang sedang Ongoing. Chek bio aku.


I love you se Indonesia All❤

__ADS_1


__ADS_2