
Detik berganti menit, berganti lagi menjadi bulan, selama itu aku menikmati peran sebagai seorang istri dan sekaligus seorang ibu. Aku menikmati gelar kebanggaan yang amat sangat luar biasa itu dengan senang hati.
Usaha kue yang ku rintis dari sangat kecil sekarang alhamdulillah sudah berkembang, dan udah punya toko tersendiri. Itu juga berkat bantuan teman aku dulu waktu SMP, yang nggak sengaja beli kue di tempatku. Karena dia rasa kue ku enak dan bakalan laku keras di pasaran, dia minjemin aku modal buat buka toko kue sendiri. Dan akhirnya, jadilah toko kue Renata yang sekarang udah banyak peminatnya.
walaupun aku udah punya beberapa karyawan sendiri, aku masih tetap ikut andil di dapur untuk memastikan kualitas terbaik untuk kue di toko ku. Aku nggak mau buat pelanggan kecewa kalo sampe kualitas kue nya berkurang. Alhasil, kalo di toko aku sibuk di dapur, dan mengecek pemasukan dan pengeluaran harus di rumah saat udah balik dari toko
" Bund, ini gimana kakak nggak ngerti" Fiona menghampiriku yang lagi sibuk dengan data data pemasukan kue
" Sama ayah kak, bunda lagi sibuk nih" tolak ku. karena jujur aku lagi pusing dengan perkerjaan sekarang
" Ayah lagi boboin adek. Lagian kakak maunya di ajarin bunda"
" Bund"
"bundaaaa"
" Ayo bund, kakak nggak paha-"
" Fiona!!. Kamu denger nggak bunda bilang lagi sibuk!"
" Maafin fiona bund" Lirih fiona dan kembali ke kamarnya dengan wajah lesunya.
Aku sebenarnya nggak tega bentak fiona gitu. Tapi, dia nggak pernah paham kalo di bilang sekali. Udah tau bundanya lagi sibuk. Masih tetep aja di buat ribet.
Aku melanjutkan kegiatanku yang tertunda tadi. Sekarang udah jam 9 malam. Tapi aku masih sibuk dengan pekerjaan. Sampe sampe makan malam aja lupa.
" Aku nggak suka ya, kamu bentak anak kayak tadi" Ucap kak fadil tiba tiba
Aku memejamkan mataku lelah " Rere lagi nggak mau berantem ya mas"
Kak fadil menatapku tajam " Siapa yang ngajakin kamu berantem. Kamu kayak lupa kodrat kamu sebagai wanita re"
Aku berdiri hendak meninggalkan kak fadil
" Aku belum selesai bicara"
Aku nggak mengindahkan ucapannya. Baru dua langkah kaki ku berjalan. Tanganku udah di cekal sedikit kasar oleh kak fadil
" Duduk" Perintahnya
__ADS_1
Aku tetap diam di tempat
" Duduk re!!"
Aku terkejut dengan suara kak fadil yang meninggi. Aku paling anti sama yang namanya bentakan. Air mataku seakan kontak kalo dibentak langsung berhambur keluar.
" Apa lagi sih mas?"
" Denger ya re, aku nggak pernah permasalahin kamu buka toko kue, ini udah aku bilang dari awal. Asal kamu nggak lupa sama keluarga. Tapi apa kenyataannya, kamu lupa sama anak kamu. Fayyadh udah kamu berentiin minum asi, kamu ganti pake susu formula, padahal umurnya baru 5 bulan, fiona kam-"
" Itu fayyadh yang emang udah nggak mau asi lagi mas, buk-"
" Jangan sela omongan aku" Sarkas kak fadil dengan tatapan seperti ingin makan orang.
Kak fadil menarik nafasnya panjang " kamu buat dunia ini terbalik re, aku yang jagain anak anak di rumah. Kamu yang kerja keluar cari nafkah, Aku kayak udah kehilangan jati diri aku sebagai seorang laki laki."
Air mataku udah mengalir makin deras. Hatiku tertohok mendengar penuturan kak fadil " Mas.."
" Kamu tau nggak, gimana perasaan aku antar jemput fiona sambil gendong fayyadh kesana kemari, di liatin ibu ibu teman sekolah fiona, seakan akan aku nggak punya istri".
" Maafin rere mas"
Aku menyesal. Apa sesibuk itu aku sekarang, sampai segitunya mengabaikan keluargaku.
Aku memejamkan mataku. Kalo udah begini gimana urusan toko kue ku " Tapi mas"
" Jadi, kamu nggak perlu khawatir lagi urusan duit. insya allah aku bisa menuhin kebutuhan kalian"
Kak fadil berbalik meninggalkan ku diam tanpa kata
" Aku nggak ngelarang kamu tetap buka usaha, tapi jangan jadikan itu prioritas utama. Karena kamu udah berkeluarga" Lanjut kak fadil sebelum akhirnya benar benar meninggalkan ku yang masih diam terpaku.
Malam sunyi seperti sekarang, seperti mendukung ku untuk menyesali semua kesalahanku. Aku baru sadar, beberapa bulan belakangan aku melupakan keluargaku, pergi pagi pulang malam. sampe di rumah masih tetap bekerja, sampe fayyadh ku putuskan untuk memberikan nya susu formula. Karena asi ku yang di pompa, fayyadh sama sekali nggak mau minumnya. Makanya beralih ke susu formula.
****
Pagi pagi sekali aku udah berkutat di dapur. Aku udah mutuskan untuk memperbaiki kesalahaku yang udah mengabaikan keluargaku belakangan ini. Aku udah masak nasi goreng sebagai menu andalan sarapan kesukaan orang orang di rumah ini.
Aku berjalan ke arah kamar fiona untuk melihat apakah dia udah siap siap untuk berangkat ke sekolah
__ADS_1
" Kak, udah selesai belum?" Tanyaku pada fiona. Tapi begitu terkejutnya aku saat mendapati fiona yang masih bergulung di selimutnya
Ku hampiri dia yang berbaring di tempat tidur " Ya ampun kak, kok belum siap siap sih nak?"
Fiona nggak menjawab pertanyaanku. malah aku melihat matanya yang udah berair. Aku keheranan dengan sikap fiona " Kenapa nak?" Tanyaku lagi. seraya duduk di sebelahnya
Fiona cuman menggeleng, sekarang air matanya udah mengalir di pipi gemoynya " Kenapa kak?" Aku masih terus berusaha bertanya pada fiona, tapi dia masih tetap diam, malah fiona seperti menghindar dariku
" Kok belum siap siap sekolah kak?" Kak fadil masuk menghampiri fiona dan duduk di sebelahku
" Kenapa sayang hem?" Kak fadil membawa fiona ke gendongannya. Hatiku sedikit teriris, tadi aku mau pegang fiona aja dia seperti menghindar. Apa fiona marah ke aku.
" Kakak nggak mau sekolah hiks.. Pr nya belum selesai" adu fiona seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher ayahnya
Aku merasa bersalah, tadi malam udah nolak fiona yang minta ajari aku. Jadi ini alasan fiona murung pagi ini, sampe sampe mau mogok sekolah.
" Udah ya, masa anak cantik ayah nangis sih. Nggak papa kak. Hari ini libur dulu, nanti ayah izinin sama bu guru nya ya. Nanti kita buat Pr nya sama sama. ayah temenin" Kata kak fadil lembut yang di angguki fiona.
Ku pandangi interaksi fiona dan kak fadil, terlihat kak fadil yang udah rapi dengan setelan kemejanya. Ternyata benar, kak fadil hari ini udah mulai kerja.
" Kak, sama bunda aja yuk. Makan dulu, bunda udah masak nasi goreng kesukaan kakak"
Fiona menggelengkan kepalanya menolak ajakan ku. Detik berikutnya kak fadil membawa fiona ke luar kamar, ntahlah kemana tujuan mereka. Yang jelas, detik ini aku kembali merasakan seperti nggak di anggap
Ku langkahkan kaki keluar kamar fiona. Hatiku begitu teriris melihat fiona ceria dengan ayahnya tanpa aku.
" Ayah, ihh jangan ciumin kakak dulu. belum sikat gigi tau"
" Jorok banget sih anak ayah, sana gih cuci muka dulu terus gosok gigi. Ayah tungguin disini"
" Siap kapten" Fiona pergi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi
" Kamu selalu berhasil ya mas, buat anak anak kayak biasa aja tanpa aku" Lirihku pada kak fadil
" Jangan salahin orang lain, atas kesalahan kamu sendiri"
Aku tersindir mendengar ucapan kak fadil " Aku harus gimana mas, apa aku tinggalin usaha yang udah aku rintis dari awal biar kamu seneng iya?"
" Aku tegasin sekali lagi. Aku nggak pernah larang kamu untuk berkarir. Asal tau batasan"
__ADS_1
Kak fadil menatap ku sangat lekat sekali " Dan satu lagi, jangan salahkan orang lain karena perubahan sikap fiona ke kamu. Tanya diri kamu sendiri"
Aku tertegun mendengar penuturan kak fadil. Lidahku seakan kelu untuk bicara seolah olah aku membenarkan semua yang dikatakan kak fadil. cobaan apa lagi ini ya allah.