
Keriuhan malam ini berakhir karena tokoh utamanya udah tepar. Siapa lagi kalo nggak adek kakak berbeda gender fayyadh dan fiona. Yang dari tadi hebohnya minta ampun. Apalagi fayyadh yang hari ini aktif banget. Udah ngerti kali ya kalo lagi rame gitu.
Disamping kananku udah ada anak ganteng yang tidurnya udah lelap banget. Kecapean main kayaknya. Sedangkan fiona ngerusuh pengen tidur bareng oma sama oma buyut, dan para oma oma dengan senang hati mengiyakan kehendak fiona. Kata oma nanti gelar kasur busa dibawah biar nggak terlalu sempit.
Sekarang aku nggak bisa tidur mendadak kepikiran ucapan oma tadi siang. Apa mungkin bisa terjadi ya. Kegelisahanku ini akan terus bersarang kalo aku nggak cerita sama kak fadil. Tapi orangnya udah tidur sambil meluk meluk anak gantengnya. Aku nggak tega kalo harus bangunin dia tidur.
Posisi tidurku daritadi nggak ada yang nyaman. Aku udah bolak balik putar badan sakingkan gelisahnya nggak mau tidur nih mata. Padahal dua cowok ganteng disebelahku udah daritadi menyelami dunia mimpi. Lah aku, masih tenggelam dengan pikiran pikiran yang sangat menghantuiku.
" Kenapa re?" Tanya kak fadil dengan suara khas bangun tidurnya.
Aku meringis " Kamu keganggu karena aku ya mas?" Tanyaku nggak enak. Ya gimana nggak keganggu, daritadi nggak bisa diem, otomatis ranjangnya ikut gerak gerak. Masih untung yang bangun kak fadil bukan fayyadh. Bisa auto nggak tidur deh aku malam ini.
Kak fadil merubah posisinya jadi duduk dan bersandar di kepala ranjang " Kenapa nggak tidur?" Tanya kak fadil lagi.
" Nggak bisa tidur" jujurku.
" Kenapa, ada yang sakit atau ad-"
Aku langsung menggeleng kuat. Karena aku memang sehat secara fisik nggak ada yang sakit. Cuma ya pikirannya aja yang lagi nggak tenang.
" sini deh re" panggil kak fadil. Dan bak anak kecil yang penurut, aku langsung berjalan menghampiri kak fadil dan langsung memeluknya. Menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Karena sejujurnya memang ini yang aku butuhkan dari tadi.
" Kenapa sih hem?" Lagi, kak fadil bertanya hal yang sama sambil mengusap usap lembut rambutku.
Nyaman. Ternyata gini rasanya, patut saja fiona suka banget kalo udah diusap usap rambutnya.
" Kamu nggak bakal ninggalin aku kan mas?" Tanyaku akhirnya. Karena pokok utama kekhawatiranku ya ini.
" Kenapa nanya gitu?"
" Aku takut mas" lirihku
" Aku cuma perempuan sebatangkara yang nggak punya harta, serta nggak berpendidikan. Beda sama kamu" lanjutku
Dapat kurasakan hembusan nafas berat kak fadil diatas kepalaku. Aku tau pasti dia nggak suka kalo aku udah bahas persoalan kayak gini.
" Apa yang buat kamu overthinking kayak gini?
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya tanpa ragu " Banyak mas"
" Jadi kamu maunya gimana. Mau lanjut homeschooling?"
__ADS_1
Aku menggeleng yakin " Aku nggak mau anak anak terabaikan nanti"
" Jadi solusinya gimana dong. Kamu maunya gimana pasti aku turutin selagi itu baik"
" Solusinya kamu nggak boleh kepincut cewek lain"
Kak fadil malah terkekeh. Padahal aku lagi serius banget.
Bibirku memprout " Serius ih mas"
" Buat apa sih aku selingkuh, kalo yang didepan aku ini udah bisa ngasi aku kebahagiaan yang luar biasa"
Aku makin mengeratkan pelukanku pada kak fadil " kamu janji ya mas. Kalo ada yang kurang dari aku kamu harus kasih tau. Jangan cari pelampiasan diluar sana"
" kamu kurangnya cuma 1 sih re"
"Apa?" Tanyaku
" Sering nolak kalo diajak buat adeknya fayyadh"
Aku langsung menepuk dada kak fayyad. Nggak kuat sih. Bahaya. Lagian istrinya lagi serius, dia malah becanda kemana mana. Kan kesel.
Mata kak fadil langsung berbinar udah kayak menangin proyek besar. " SIAP ISTRI" Kata kak fadil semangat namun detik berikutnya dia langsung membekap mulutnya yang nggak ngerti situasi.
" Ndaa" Rengek fayyadh mencari keberadaanku.
Aku terkekeh geli melihat raut wajah melas kak fadil " Anda belum beruntung pak" bisikku. Setelah itu aku langsung bergeser mendekat ke arah fayyadh.
" Kenapa ganteng, bunda disini kok sayang"
" Nen nda, nen" rengek fayyadh.
Aku langsung mengambil posisi miring disebelah fayyadh. Dari sini aku masih bisa melihat wajah kesal kak fadil.
" Seharusnya bagian ayah itu fayyadh" ucap kak fadil dan langsung menarik selimut. Tidur sambil minggungin aku sama anaknya guys. Kesel beneran. Lagian salah siapa yang nggak bisa jaga mulutnya yang nggak tau situasi kondisi.
Sepulu menit nungguin fayyadh yang belum berhenti dengan kegiatan nyusunya, mataku mendadak berat. Aku coba nahan sampe fayyadh tidur dulu. Nggak berapa lama kegiatan fayyadh kurasa udah berhenti. Ternyata anaknya udah merem lagi. Aku akhirnya lega bisa tidur juga.
Baru ingin terlelap, tanganku udah diguncang dari samping. Tapi karena sakingkan ngantuknya aku nggak menghiraukan guncangan dilenganku itu.
" re " bisik seseorang yang sangat kuyakini adalah kak fadil.
__ADS_1
" Apa sih mas?" Kesalku. Bisa bisanya dia masih mengusik tidurku. Ini udah hampir jam 3 pagi. Bentar lagi udah pagi. Masa nggak bisa sih biarin istrinya tidur bentar.
"Kamu nggak lupa yang tadi kan?" Bisiknya. Takut fayyadh kebangun lagi mungkin.
" Aku ngantuk banget mas."
" Ayolah re" bujuk kak fadil terus menerus. Mau nggak mau aku bangun dengan sangat terpaksa. Karena dipaksakan buat tidur juga nggak bakalan bisa. Karena gangguan suami tercinta tapi ngeselin ini. Menuhin kemauan pak suami yang nggak bisa ditolak. Nggak bakalan tidur lagi ini sampe pagi.
****
" Maaf atuh bu, saya bangunnya kesiangan" ujar mbak mirna nggak enak karena mendapati aku didapur udah masak sarapan.
" Saya yang kecepetan ini mbak" kekehku. Memang begitu adanya. Tadi selesai sholat subuh aku langsung turun kebawah buat masak. Sedangkan kak fadil kembali ke alam mimpi buat menyusul anak gantengnya. Alesannya masih ngantuk. Ya gimana nggak ngantuk. Nggak tidur sampe azan subuh. Dia mah enak bisa tidur lagi. Lah aku. Nasib emang.
" waahh sepagi ini dapur udah harum bau masakan aja " oma datang menghampiriku ke dapur.
Aku tersenyum " Mau rere buatin teh oma?" Tanyaku.
Oma menggeleng " oma mau ikut masak sama kamu" ujar oma
" nggak usah oma. Lagian udah mau selesai kok ini" ucapku gelagapan.
Oma tersenyum " Yaudah kalo gitu. Oma mau liat liat tanaman diluar deh ya" kata oma
Aku mengangguk. Oma sama mama memang sama sama penyuka tanaman, khususnya bunga. Emang cocok deh mama jadi mantunya oma. Ada kesamaan hobi. Kalo aku ada nggak ya kesamaan sama mama. Pikirku.
" Pake jaket oma. Udaranya masih dingin. Apalagi sepagi ini" kataku sebelum oma keluar dari dapur.
" Iya ya re dingin. Itu kamu nggak dingin keramas sepagi ini?"
Aku sontak membulatkan mataku mendengar pertanyaan oma. Malunya setengah mati banget. Bodohnya aku yang nggak ngeringin rambut dulu tadi biar bisa diiket.
Oma terkekeh " Fayyadh mau dapet dedek bayi lagi kayaknya" ucap oma sambil melangkah pergi, tapi masih bisa kudengar dengan jelas kalimatnya.
Mau ditaro mana wajahku ini. Malu banget kalo harus ketemu oma lagi. Ini semuanya gara gara kak fadil pokoknya.
" Itu sih mbak, yang aku mau tanya tadi. Emang nggak dingin ya keramas sepagi ini"
" Mbak mirrrr ihhh" rengek ku yang membuat mbak mirna tertawa terbahak bahak. Kenapa semua orang dirumah ini hobi banget ngeusilin aku sih. Sekarang mbak mirna juga udah ikut ikutan.
Tapi apa salahnya sih keramas pagi pagi. Kan sehat ya, segar juga mandi pagi sambil keramasan. Nggak melulu tentang hal hal yang mengarah ke yang dipikirkan orang orang. Ya walaupun alasan aku keramas pagi ini ya karena seperti yang dipikirin orang orang. Tapi ya tetap aja malu.
__ADS_1