Wedding Story

Wedding Story
Dua Puluh Tujuh ( Proses PDKT )


__ADS_3

Aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi dengan catatan harus banyak istirahat. Jadilah aku seharian lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, bersama bantal dan teman temannya


" Si kakak mana mas?" Tanyaku pada kak fadil yang sudah rapi dengan kemejanya seraya membawa nampan yang berisi nasi dan buah, untuk sarapan. Sesekali suami yang layanin istri tidak papa kali ya


" Lagi menemai mbak mirna goreng sosis" Ucapnya sambil duduk disampingku


Kuraih piring yang berisi nasi tersebut " Ajak kesini dong mas" Pintaku


" Orang anaknya belum mau, ya mana bisa dipaksa lah bund" Jawab kak fadil


Aku menghentikan aktifitas menyendokkan nasi ke mulutku. Ku tatap kak fadil dengan mata memohon " Kalau ada fiona, pasti nasi ini habis deh mas. Tapi ini tak ada dia, nafsu makanku mendadak hilang"


Kak fadil menyentil keningku dengan tangan kanannya " Paling bisa kamu ya mencari alasan" Ucapnya


" Aku coba pujuk fiona lagi. Tapi kalau dia belum mau, kamu harus tetap makan" lanjut kak fadil yang membuat mataku berbinar


Aku mengangguk girang melihat kak fadil yang sudah melangkah keluar. Aku berharap kali ini fiona bisa luluh, aku sudah rindu mau nyiumin pipi gemeshhnya


Mataku berbinar saat kak fadil datang dengan menggendong fiona. Ya begitulah fiona, walaupun sudah 4 tahun masih hobi minta gendong. Aku tidak keberatan sama sekali, ya seperti biasa, ayahnya aja yang rewel melarangku untuk gendong gendong fiona lagi


Kuletakkan piringku ke nakas sebelah ranjang, dan mengisyaratkan kak fadil untuk meletakkan fiona ke pangkuanku. Walaupun agak ngeri takut dedek bayi nya ketimpa, tapi tak papa aku akan lebih hati hati


" Anak cantiknya bunda kok wangi sekali sih" Kataku pada fiona sambil menciumi area wajahnya bertubi tubi


" Kakak pakai sampo stroberi ya nak?" Tanyaku lagi saat mencium rambutnya yang beraroma stroberi


Fiona masih diam, tak menggubris ocehanku sama sekali, bagaimana caranya lagi biar fiona mau berbicara


" Bunda ada salah ya. Kalau bunda salah, bunda minta maaf" Isak ku. ntah memang hormon ibu hamil, aku sekarang lebih mudah menangis


Aku terkejut saat fiona memelukku yang menangis " Bunda, kata mama fania, kalo fiona punya adik, nanti bunda saya ayah tidak sayang sama fiona lagi. Fiona takut."


Aku terkejut mendengar pengakuan fiona. ku tatap kak fadil yang sama terkejutnya denganku. Kemarin aku bilang sama kak fadil bahwa dalang dari perubahan fiona ini ya fania, cuma kak fadil tak percaya. Ya tidak percayalah orang yang disayangi kena tuduh tuduh begitu, tapi kan akhirnya dugaan ku benar


" Bunda sayang sama kakak sama adek juga. tidak ada bedanya antara kamu sama adik" ku peluk dia erat. Kasian fiona yang menyimpan ketakutan atas hasutan mama nya.


Memang wanita tak berhati, masih bisa senang diatas penderitaan orang lain. sekalipun yang menderita anaknya sendiri


" Kamu percayakan sama bunda?"


Fiona menatapku ragu, namun detik selanjutnya dia menganggukkan kepalanya.


Kupeluk lagi dia. Mencurahkan rindu selama beberapa hari tak bisa peluk cium, akhirnya hari ini dapat tergantikan

__ADS_1


" Ayah tidak diajak nih" Aku baru sadar kalau disini masih ada kak fadil


" Emang gitu tuh bunda kamu nak, kalau sudah sama kakak pasti ayah dilupakan " lanjutnya berbicara. Bisa bisanya dia ngadu sama bayi yang masih dalam perut


****


Malam ini kami berempat yang terdiri dari aku, kak fadil, fiona dan bayi utun lagi santai santai diruang tv. Sederhana, tapi mampu buat aku bahagia


Hari ini kak fadil pulangnya lumayan cepat. Katanya tidak singgah ke kafe dulu. Makanya bisa pulang cepat. Iya, kak fadil juga punya kafe yang dia rintis dibantu sama temen nya. Ya kalau lagi sibuk sibuknya ngampus sama kantor, biasanya teman nya yang akan mengurus semua. Tapi tetap dipantau kak fadil juga.


" Mau kemana kak?" Tanyaku pada fiona yang sudah berdiri dari karpet bulu tempat kami duduk.


" Mau tempat mbak mirna bund" Jawab fiona


" Jangan ganggu mbak mirna lagi deh nak. Kakak mau apa biar sama bunda saja " larangku pada fiona. Pasalnya ini sudah jam 9 malam lebih, jadi sudah waktunya mbak mirna istirahat.


" Bentar saja bund" Jawab fiona sambil melangkah kecil kearah kamar tamu yang sekarang udah jadi kamar mbak mirna


Mbak mirna memang sekarang tinggal disini, karena anaknya sudah dibawa ke kampung oleh neneknya. Alhasil mbak mirna sekarang sendiri disini. Makanya aku mengajak mbak mirna agar tinggal dirumah kami aja.


Kak fadil merubah posisinya menjadikan pahaku sebagai bantalnya, diciumi perutku sesekali diusapnya sayang


" sudah bisa ngecek jenis kelaminnya belum sih re?" Tanya kak fadil. Sekarang baju kaos longgar yang kukenakan udah disingkap sedikit menampakkan perut buncitku langsung.


" Aku berharap dia laki laki deh re, biar bisa aku ajak main bola. "


" Jangan terlalu berharap lah mas, nanti kamu kecewa" Ucapku mengingatkannya


" ya bukan gitu, kalaupun dia perempuan ya tetap sayang aku" Ucapnya


Aku tersenyum, Kadang kadang aku belum nyangka bisa hidup menjalin rumah tangga dengan orang yang sangat kusukai. itulah namanya kekuatan takdir, tak ada yang mengetahui bagaimana kedepannya


" Mas tangannya ih" Larangku saat tangan kak fadil sudah menjalar kemana mana. emang dasarnya omes paling jago nyari nyari kesempatan


" Kamu juga suka kan, yang tadi siang saja kamu ganas seka.."


Kututup mulutnya dengan tanganku " kenapa harus dibahas lagi"


Kak fadil tertawa melihat aku yang malu malu. Yang betul saja, bisa bisanya dia mengungkit itu. Liat saja kalau dia minta lagi tidak akan mau kuberi lagi.


" Awas ah mas, aku mau berdiri" Ku goyang goyangkan kepalanya yang berada di pahaku.


Kak fadi langsung duduk, puyeng mungkin karena kepalanya ku goyang goyangkan " Mau kemana sih?" Tanyanya sedikit geram

__ADS_1


" Mau ngelonin anak cantikku tidur" Ucapku seraya berdiri


" Ayahnya juga mau nih" Ucapnya


Aku hanya geleng geleng kepal meninggalkannya yang gilanya rada suka kumat. Tapi aku masih sayang


" Kakak, bobok sama bunda yok" Aku masuk kedalam kamar mbak mirna dan melihat fiona lagi berbaring menonton kartun sikembar botak dari hp mbak mirna


" Mau sama mbak aja bund" tolak fiona masih fokus pada tontonannya


" Kakak, bunda kangen tau bobok sama kakak" ucapku lagi masih mencoba merayu fiona


Aku mengambil posisi berbaring disebelah fiona yang masih ada kosong sedikit. Ku toel toel pipi gemesshnya agar dia sedikit terganggu


" Bunda, kakak sempit tau" ucapnya sedikit kesal


" ya makanya ayo, bobok sama bunda. lagian ini sudah malam banget tau kak. Kamu harus bobok" Ucapku


" Mbak, matiin hp nya. Besok disambung lagi" Pintaku pada mbak mirna


" Tapi kakak mau digendong sama bunda ke kamarnya" Pinta fiona akhirnya


" Dengan senang hati princessnya bunda" ucapku semangat sambil langsung duduk


Ku ulurkan tanganku untuk menggendongnya. Lumayan juga membawa beban sekali dua. Tapi tak masalah namanya proses Pdkt sama anak


" Kok minta gendong sih kak?" Tanya kak fadil begitu kami sampai di kamar. Ternyata kak fadil langsung ke kamar setelah ku tinggal tadi


" Aku yang minta " Jawabku santai


Ku letakkan fiona ke atas ranjang. Aku pun duduk mengatur nafasku yang sedikit ngos ngosan. Karena harus naik tangga sih. Kalau seandainya datar saja mungkin tidak akan sengos ngosan ini


" Sudah sikat gigi belum kak?" Tanyaku pada fiona.


" Sudah dong bunda yang cantik"


Aku tersenyum bahagia. Sepertinya Pdkt ku berhasil. Fiona sudah mulai kembali seperti dulu lagi


" Mas, minta tolong ambilkan air putih dong. Haus aku" pintaku pada kak fadil sambil memperbaiki letak selimut fiona.


Kak fadil tak menjawab ucapanku, dia langsung pergi keluar kamar, pasti ke dapur mengambilkan aku minum. ya walopun mukanya ditekuk sebel gitu


" Bobok ya kak" Ku usap lembut kepala fioana. Senyaman mungkin.

__ADS_1


Aku bahagia sekarang. semuanya sudah kembali normal, aku berharap tak ada masalah lagi setelah ini.


__ADS_2