
Perang dingin antara aku dengan kak fadil tampaknya akan masih terus berlangsung. Tadinya aku berniat ingin menyudahinya, tapi reaksinya sama sekali tidak menunjukkan bendera damai. Aku bela belain menurunkan sedikit ego dengan mengucapkan terimakasih atas ketopraknya tapi orangnya cuma balas 'Hem' doang. Dihh apaan banget kan.
Naluri perempuanku akhirnya semakin menggebu gebu. Awas aja, aku nggak bakalan mau ngajak ngobrol duluan.
Anak anak cepat cepat aku ajak naik ke tempat tidur biar segera tidur dengan di nina boboin. Tapi fayyadh yang emang tipe anak kalau udah tidur siang lama bakal susah buat tidur malam matanya sampai sekarang masih cerah melek. Pake acara gangguin adeknya yang tadinya sudah memerah matanya.
" Abang..adeknya jangan di jahilin ih. Kan adeknya mau bobok" tegurku pada fayyadh yang sedari tadi menoel noel pipi faza. Memang posisinya mereka tidur sebelahan.
" Adek beyum ngantuk bunda, sama kayak abang" ujar fayyadh dengan cadelnya membela diri.
Persis kayak ayahnya. Pinter beralasan.
" Siapa bilang adek belum ngantuk. Jangan ganggu adek mau bobok" Peringatku kembali pada fayyadh.
" Adek..jangan bobok dulu dong. Abang kan nggak ada temennya" Aku membulatkan mataku. Ini anak kenapa keras kepala banget sih.
" Kalo kamu gangguin adek lagi, bunda tidur di kamar kakak sama adek ya bang. Kamu disini sama ayah" Peringatku lagi pada fayyadh.
" Biarin lah re. Lagian belum jam 9 juga" sahut kak fadil yang sedaritadi bergulat dengan laptopnya. Ternyata masih menyimak perdebatan anak istrinya.
Aku yang awalnya sudah kesal dengan kak fadil bertambah kesal dengan kalimatnya barusan. Dengan gerakan pasti aku membawa faza ke gendonganku dan beranjak pergi ke luar kamar.
" Abang bobo sama ayah aja" Ucapku sebelum benar benar beranjak ke luar kamar.
Tujuanku saat ini kamar fiona. Sekalian menghilangkan sedikit rindu. Atau malah menambah rindu. Mungkin.
****
" Fayyadh udah tidur tau re" Ucap kak fadil yang baru tiba di kamar fiona. Kenapa pake susulin aku segala sih. Padahal baru aja mau ngikutin faza si anak bontot yang udah terjun ke dunia mimpi.
Aku diam tak menyahuti. Biarkan saja
Aku merasakan ranjang sebelahku bergerak. Siapa lagi pelakunya kalau bukan kak fadil.
Mataku kupaksa untuk terpejam. Berusaha tidak menggubris kak fadil yang akan melakukan apa saja. Toh nanti bakal capek sendiri kalau nggak di peduliin.
" Jangan kekanakan deh re"
Mataku sontak terbuka lebar. Apa katanya kekanakan. Darahku rasanya mendidih mendengar kalimatnya " Kekanakan gini ibu dari tiga anak, otw 4 malah" kataku asal. Kak fadil malah tertawa terbahak bahak mendengar ucapanku. Apa yang lucu. Kan emang benar.
__ADS_1
" Duduk dulu dong re. Masa suaminya di punggungin terus sih"
Aku kaget setengah mati. Itu kak fadil sehat. Kok aku rada ngeri liat perubahan sikapnya dia.
Aku lantas membalikkan tubuhku jadi mengarah kepada kak fadil. Ku teliti wajahnya nggak ada yang aneh disana " Kamu sakit, mas?" Tanyaku spontan.
" enak aja" protes kak fadil sambil menyentil pelan keningku. Pelan gitu tapi tetap aja terasa.
Kak fadil menarik tanganku agar duduk. Awalnya aku males banget. Tapi karena tenaga kak fadil yang super, akhirnya aku duduk dengan ogah ogahan.
" Cemberut mulu perasaan"
" Biarin" cuek ku.
" Nggak rindu suami?" Tanya kak fadil lagi lagi mencoba mengarahkanku untuk menjawab perkatannya.
" Nggak. Soalnya suaminya galak" jawabku asal. Kesel sih.
" Galakan istrinya padahal" ucap kak fadil tak mau kalah.
" Anak ayah di dalem gimana. Udah seneng habis makan ketoprak dari temennya Bunda" tuh kan. Sukaannya nyindir mulu tuh bapak bapak.
" Kangen kamu tauu" lirihku. Gimana nggak kangen hampir seminggu tidurnya jauh jauhan. Nahan biar nggak minta yang aneh aneh karena gengsi dan sedikit takut.
" Ketoprak yang kamu beliin aku makan kok, nggak di buang. Beneran deh" jawabku jujur. Takutnya kak fadil mengira kalau aku benar benar membuang ketoprak yang dia belikan.
Tangan kak fadil terulur mengusap rambut panjangku " Aku tau. Tapi, lain kali kalo pengen sesuatu nggak harus ngerepotin orang lain. Kalau aku masih ada disini" kata kak fadil lirih dan sangat pelan.
Aku menganggukkan kepalaku dengan posisi yang masih tenggelam di pelukan kak fadil.
" AYAH...KENAPA PEYUK PEYUK BUNDA NYA ABANG"
Aku sontak menarik badanku dari dekapan kak fadil karena jeritan fayyadh. Memang nggak bisa lihat orang tua bahagia kamu bang.
Fayyadh perlahan naik ke atas ranjang dan langsung memelukku. Kentara sih wajah wajah ngantuknya.
"Kenapa bangun?" Tanya kak fadil yang tidak di gubris fayyadh sama sekali.
" Kata ayah tadi abang udah bobo. Kok bangun lagi sih sayang?" Tanyaku kali ini membuka suara.
__ADS_1
" Ayah sih, abang di tinggalin sendiri di kamar. Malahan ke sini peyuk peyuk bunda" Jelas fayyadh dengan suara paraunya. Nih anak emang dasarnya masih ngantuk, terus terpaksa bangun nyari ayahnya.
" Yaudah sekarang abang bobo lagi ya. Bunda puk puk, mau?"
Fayyadh menganggukkan kepalanya. Aku jadi lega. Kali ini fayyadh nggak sulit di bujuk. Sedari tadi aku udah nggak nyaman banget, karena fayyadh nimpahin adeknya yang masih di perut secara spontan.
Setelah fayyadh kembali terjun ke alam mimpinya. Sekarang giliran kak fadil yang manja mode on. Padahal di kamar ini masih banyak bantal, tapi harus banget milih paha istrinya buat di tidurin.
Ku perhatikan wajah kak fadil yang matanya sudah tertutup rapat. Aku merasa kak fadil kurusan. Tulang pipinya sekarang lebih kentara. Ntah hanya sekedar perasaanku saja, tapi memang msnurutku lebih kurus. Keseringan diem dieman, suami jadi sedikit nggak di perhatikan.
" Mas.." panggilku sambil mengusap rambutnya yang sedikit memanjang.
Kak fadil membuka matanya karena panggilanku
" Kamu kalo di kantor makan siang nggak sih?" Tanyaku. " Kamu kurusan loh mas" ujarku lagi melanjutkan perkataanku.
" Makan kok" jawab kak fadil simpel
" Mulai besok kamu harus bawa bekel pokoknya mas. Nggak nerima penolakan aku" Putusku akhirnya. Aku tau bagaimana kak fadil kalau udah fokus kerja.
" Nanti kamu repot" Kata kak fadil menolak
" Nggak ada yang merasa kerepotan" ketusku. Lagian masak apa repotnya sih. Ada si mbak juga yang bantuin.
Pahaku sekarang udah mulai panas karena ulah kak fadil " Mas..kamu kalo udah ngantuk, tidurnya di benerin dulu." Kataku pada kak fadil yang sama sekali tak menggubris ucapanku.
" Aku masih mau disini re. Biarin dulu ya, siapa tau aku nggak bisa kaya gini lagi sama kamu"
Aku spontan menepuk tangan kak fadil pelan
" Kamu ngomong apa sih. Nggak usah ngomong ngelanturlah" kataku nggak suka.
" Umur nggak ada yang tau, re" kata kak fadil lirih.
Aku nggak suka kak fadil bicara kayak gitu. Sekarang aku mendadak sedih, air mata udah nggak kebendung lagi " Hiks..kita berdua itu harus sehat terus mas.. anak anak masih butuh kita" lirihku dengan isakan.
Karena mendapati aku yang menangis. Kak fadil lantas merubah posisinya menjadi duduk. " Jangan sedih. Jangan nangis. Aku tau kamu bunda hebatnya anak anak" Kata kak fadil sambil membawaku ke pelukannya.
" Jangan tinggalin aku sama anak anak" pintaku lirih pada kak fadil.
__ADS_1
Nggak ada respon apa apa darinya. Tapi aku masih merasakan usapan lembut tangannya di kepalaku.