Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh ( Ujian Dari Oma)


__ADS_3

Aku dan fiona masih menunggu kedatangan kak fadil yang menjemput oma ke bandara. Sebenarnya bukan malas, Tapi lebih ke mempersiapkan diri mau ketemu oma. Jantungku dag dig dug seperti menunggu pengumuman rangking kelas


" Kak, Bunda takut deh mau ketemu oma"


Fiona malah ketwa mendengar pengaduanku. memangnya ada yang lucu dari ucapanku.


" Kakak, bunda serius " Ucapku lagi


" Kan udah kakak bilang, oma buyut itu baik bunda sayang" Kata fiona. Tapi sama sekali tidak membuat hatiku tenang. Malah makin lama makin cemas


"Awhss" Aku sedikit meringis. Jagoan yang diperut menendang sedikit lumayan keras. Apa mungkin karena aku terlalu cemas berlebih


" Bunda kenapa?" Tanya fiona yang mendengar aku meringis


" Dede bayinya nendang nih kak"


" Adik, jangan main bola dulu di sini " Kata fiona sambil mengusap lembut perutku. Memang saat ini aku duduk di kursi belakang sama fiona saat kak fadil pergi menjemput oma.


" Kamu jangan mau di ajarin ayah main bola. Main bola itu capek. Nanti kita main boneka saha sama kakak oke" Lanjut fiona yang membuat aku terkekeh


Ku usap lembut rambut lebatnya dengan sayang. sekarang fiona sudah membaringkan badannya dengan bantalan pahaku " Masa adik cowo diajak main boneka sih kak?" Tanyaku yang sangat ingin tahu apa jawaban fiona


" Ya tidak papa dong bund, kakak aja di ajak ayah main bola. padahal kakak kan cewe"


Aku jadi ingat kalau lagi hari minggu kak fadil suka mengajak fiona main bola, di halaman belakang. ya walaupun sebenarnya fiona tak mau, yang namanya fadil pasti memiliki seribu cara untuk merayu anaknya. Memang seingin itu sih mau punya anak cowok


Aku menoleh ke kaca jendela mobil yang di ketuk. Ternyata kak fadil. " kak duduk dulu, ayah sudah datang tuh" ujarku pada fiona sambil menunjuk ke arah luar kaca


Aku membuka pintu mobil dan keluar dibantu dengan kak fadil. Memang diusia kandunganku yang sudah menginjak 6 bulan, perutku makin besar ditambah kaki yang bengkak bengkak. Kalau malam itu aku paling suka kalau kak fadil sudah memijat badanku sampai aku tidur


" Oma buyuuutt" Teriak fiona. Padahal posisinya dia masih di dalam mobil


" Ayah gendong" Rengek fiona saat aku sudah berhasil turun dari mobil yang langsung dituruti kak fadil


" Oma" Sapaku ramah


Ku ulurkan tangan untuk menyalamnya, tapi tak ada respon sama sekali darinya


" Oma, istri fadil itu" Tegur kak fadil. Barulah oma memberikan tangannya untuk ku cium


Oma, wanita yang sudah berumur tapi kecantikannya sama sekali belum pudar, pantas saja papa ganteng pake gitu, dan turun ke kak kak fadil yang tak kalah gantengnya. Mudah mudahan si jagoan yang diperutku juga ketularan ganteng ayah sama opanya nanti


" sudah hamil saja" ketus oma sambil menatapku menilai dari bawah hingga atas.


" Iya oma. Sudah 6 bulan" kata kak fadil


" Bagus yaa, nikah tak memberi kabar pada oma. Tahu tahu sudah bawa istri yang sudah hamil aja" Kata oma sama kak fadil

__ADS_1


" Oma pasti capek kan. Fadil antar kerumah mama ya. Biar oma istirahat dulu" Ujar kak fadil lembut


Oma meggeleng " No, Oma tudaj mau kerumah orang tua kamu. Oma mau dirumah kamu saja" Kata oma yang membuat aku membulatkan mataku. Bisa mati bediri aku kalau harus menghadapi sikap oma yang amat sangat ketus padaku tiap hari


" yasudah iyaa, kita kerumah fadil" Putus kak fadil


" Oma buyut, mau ciummm" Rengek fiona, karena daritadi dia belum di respon oma buyutnya.


" Oohh fiona cicit kesayangan oma. Sampai lupa kan" Kata oma begitu lembut. Beda sekali sama ke aku tadi. oma Langsung menciumi fiona yang ada di gendongan ayahnya


****


" Kalian nikah karena kecelakaan ya?" tanya oma menyelidik


Aku yang duduk disebelah kak fadil yang sedang mengemudi, hanya menatap kak fadil mengisyaratkan agar dia saja yang menjawab pertanyaan oma. Kalau aku tidak tau mau menjawab apa sama sekali. Bibir ini rasanya kelu untuk berbicara.


" Bukan oma. Orang fadil nikah udah 10 bulan yang lalu. Sedangkan istri fadil baru hamil 6 bulan" jelas kak fadil


Aku sesekali melirik oma yang berada dibelakang dengan fiona melalui kaca . Belum sampai rumah saja sudah banyak sekali pertanyaannya. Bagaimana kalau sudah dirumah


" Kamu kuliah jurusan apa?" Tanya oma yang ntah pada siapa


" Fadil ngambil bisnis oma. Kan fadil sebelumnya sudah pernah cerita ke oma" kata kak fadil menjawab pertanyaan oma


" Bukan kamu yang oma tanya"


" Dulu sempat kuliah berarti sebelum hamil?" Tanya oma lagi


Baru saja aku ingin membuka suara, tapi kak fadil sudah berbicara duluan " Rere itu adik kelasnya fadil waktu disekolah oma. Jadi rere seharusnya masih kelas 12 sekarang "


" Kamu nikah sama wanita bisu? Daritadi oma nanya dia. Tapi kamu yang selalu jawab" ketus oma


Nyess. Hatiku tertohok mendengar penuturan oma


" Saya masih SMA oma" Kataku pelan akhirnya.


" Jadi kenapa nikahnya cep.."


" Oma, nanti lagi bertanyanya ya. Sudah sampai di depan rumah kita nih" Kata kak fadil dibarengi dengan berhentinya mobil


Oma langsung keluar dari mobil dituntun fiona langsung kedalam rumah. Pasti fiona mau menunjukkan ke oma buyut kamarnya yang penuh dengan boneka itu


" Jangan terlalu didengar apa kata oma ya sayang" Kata kak fadil seraya menggenngam tanganku


Aku mengangguk. Lagian apa yang bisa ku perbuat, selain menghadapi oma. Anggap saja sebagai ujian.


" Oma itu aslinya baik kok. Sikap oma seperti itu ke kamu karena dia belum kenal sama kamu"

__ADS_1


Lah, tapi tadi udah kenalan. Seharusnya sudah kenal dong ya. Pikirku


" Oma pasti bakalan sayang sama kamu kalau kamu pandai mengambil hati oma. Apalagi kalau dia tau yang ada diperut kamu ini jagoan"


" Kamu percaya kan sama aku" Kata kak fadil meyakinkanku


Aku menggelengkan kepalaku. Dahi kak fadil mengkerut melihat jawabanku


" Kalo Rere percaya sama mas, rere musyrik dong " kata ku sambil tertawa lepas


Kak fadil menarik hidungku gemas " Aku sudah tenang kalau kamu sudah tertawa seperti ini. "


" Jangan setres setres ya " Kata kak fadil lagi sambil mengusap sayang pipiku


" Iya ayah ganteng kesayangan anak anak" ucapku


" kesayangan bundanya juga kan?" Kata kak fadil menggoda


" Bukan dong " Kataku cepat


" ohh, gitu yaaa.." Kata kak fadil sambil merapatkan dirinya kepadaku


" Mau ngapain sih mas?" Ujarku saat kak fadil makin mendekatkan wajahnya kewajahku. Makin lama makin dekat


" Fadilll" Teriak oma dari teras rumah


kak fadil reflek menarik dirinya dariku. Aku menjulurkan lidahku kepadanya. Tanda kemenanganku


" Kali ini kamu lolos sayang. Tapi lihat saja nanti." Katanya seperti mengancam. Dikira aku takut apa


" Dihh, pendendam. Sama istri sendiri juga" Kataku


" Lihat saja nanti, aku buat kamu tidak bisa berjalan selama seminggu " Kata kak fadil berbisik di telingaku


Aku yang mengerti maksud jahatnya langsung memukul badannya pakai tas selempang yang daritadi ku pegang.


" Iya ampun bun, ampun" katanya. Lebay banget. padahal aku mukulnya pelan


" Sudah sudah, nanti oma teriak lagi kalau kita belum masuk"


" Ya kamu yang buat kita lama disini" ujarku tak mau kalah


" Kalau meladeni kamu terus tak ada habisnya sayang. Ada terus jawabannya" Katanya sambil membuka pintu mobil


Aku terkikik, bahagia sekali rasanya kalau kak fadil sudah pasrah begitu. Aku keluar dari mobil yang pintunya sudah dibuka oleh kak fadil


Aku menarik nafasku sebelum melangkah masuk rumah. Selamat menghadapi oma. Semoga batin, raga dan mental aku kuat. Doain yaa guys

__ADS_1


__ADS_2