Wedding Story

Wedding Story
Lima Puluh Satu ( Hamil?)


__ADS_3

"Bundaaaaa...Kakak pulang" Suara cempreng fiona dari luar sana berhasil membangunkan ku yang ternyata sudah tertidur hampir 20 menit. Efek nemenin fayyadh tidur jadi ikutan tidur juga.


" Kok nggak salam sih kak?" Tegurku lirih kepada fiona yang udah ngehampiri aku di kamar di susul oleh onty kesayangannya. siapa lagi kalau bukan onty nana.


Tadi aku memang minta tolong nana sekalian jemput fiona juga. Kebetulan dia lagi nggak ada acara, jadi dia bisa jemput fiona.


Dulu, emang nana yang antar jemput fiona. Tapi setelah nana udah dapat kerja, jadi dia nggak punya waktu luang lagi buat antar jemput fiona terus. Dan kak fadil yang udah kembali, jadi kak fadil yang antar jemput fiona, setelah sembuh dari sakitnya. Sebelum sembuh emang aku yang antar jemput fiona, dengan fayyadh yang di jagain ayahnya


" Udah salam kan ya onty. bunda aja yang nggak denger" Protes fiona dengan meminta pembelaan dari nana.


Nana langsung mengangguk antusias " Iya sayang. Tau tuh bunda kamu hobi banget nelur di kamar"


Aku memutar mataku malas mendengar ucapan nana. ya memang benar, hari ini aku dan fayyadh di kamar terus, karena jujur aku lemes banget, di tambah dari tadi mual mual nggak jelas


" Kakak, ganti baju dulu ya nak. cuci tangan sama kaki nya, terus makan" Perintahku pada fiona.


" Siap bund" Kata fiona sambil melenggang meninggalkan aku dan nana dengan menenteng tas dora nya.


" Re, lo pucet banget" Tegur nana setelah ikut duduk nimbrung di ranjang dekatku.


" lagi nggak enak badan gue na" Kataku jujur


" Udah minum obat belum?" Tanya nana dengan nada khawatir


Aku tersenyum. nana begitu peduli dengan kondisi ku " nggak perlu minum obat deh na, gue cuman masuk angin kayaknya. Dari tadi pusing sama mual mual"


" Re, kok gue Feeling fayyadh mau punya adek ya?"


Aku sontak melebarkan mataku" Nggaklah. mana mungkin" Aku berusaha meyakinkan diriku untuk menolak perkataan nana. Walaupun sebenarnya aku sedikit khawatir, karena memang gejala yang sekarang aku alami mirip dengan awal awal aku hamil fayyadh


nana memukul tanganku pelan " Kenapa nggak mungkin. lo punya suami ya bisa ajalah"


Aku mendadak terdiam. ucapan nana sedikit masuk akal. Tapi gimana kalo aku beneran hamil. Aku belum siap, untuk membagi kasih sayang antar anak anak ku. Belum lagi fayyadh masih 5 bulan. Dan dia masih Perlu Asi.


" Na, gue takut"


" Takut kenapa sih re, lo punya suami. ya wajar ajalah. itu nggak aib apalagi dosa"


Air mataku sekarang udah jatuh. Ketakutan ku ini bukan di buat buat. Bayangan melahirkan sendiri juga turut menghantui ku " Gue belum siap na.. hiks"


" Fayyadh masih terlalu kecil buat punya adik, fiona juga masih butuh aku na" keluhku pada fiona di barengi dengan isak tangis

__ADS_1


" Udah ya re. Inikan masih tebakan gue aja, belum tau kepastiannya. Mendingan lo cek dulu" Ucap nana mencoba meyakinkan ku


" Gue takuut" cicitku


Nana menarik nafasnya berat " Anak itu anugrah re, lo nggak boleh nyesel seandainya emang bener dia ada disini ya" Ujar nana seraya memegang perutku.


" Onty nana, bunda fiona kenapa nangis?" Fiona datang dengan hebohnya. Sekarang dia udah berganti pakaian dengan baju rumahan dora emon andalannya.


Aku langsung mengusap air mataku secepat mungkin " Kan, re. Gue yang di serang anak lo" protes nana


Aku terkikik melihat eksfresi fiona yang sekarang udah bergelayutan manja di sebelah ku " Bunda, kenapa nangis?" Tanya fiona dengan tangannya yang telaten menghapus sisa sisa air mataku di pipi


" Bunda nggak papa kak. Bunda nggak nangis"


" Tuh fiona. Masa kamu tuduh onty yang cantik tiada banding ini sih"


" Masih cantikan fiona daripada onty" ucap fiona nggak mau kalah


" Nggak dong. Cantikan onty lah."


" Cantikan fion-"


" udah dong, kok pada berantem sih. " Ucapku melerai mereka. Kalo nggak segera di berhentiin bisa berlanjut sampe subuh. Yang ada fayyadh terusik dari tidurnya karna ulah fiona sama nana yang nggak inget umur.


Nana udah pulang dari habis maghrib tadi. Sekarang udah jam 9 malam. Tapi kak fadil belum ada tanda tanda pulang, seharian ini nggak ada kabar. Biasanya sehari bisa nelponin tiga kali nanyain apa aja kegiatan anaknya selama dia kerja. Tapi hari ini kayak ada yang kurang, anak anak juga merasakan itu. Fayyadh yang udah mulai rewel dan fiona yang dari tadi nanyai ayahnya terus.


Aku sebisa mungkin menenangkan kedua buah hatiku itu. Di tambah lagi badanku yang dari tadi pagi masih lemes sampe sekarang, mungkin karena efek nasi yang terlalu sedikit masuk ke dalam mulut. Gimana mau selera makan, Rasanya perut nolak semua makanan yang coba mau aku makan. Belum lagi masalah tadi pagi yang membuat kak fadil marah besar kepadaku.


" Bunda.. Kakak bobok sama bunda ya" rengek fiona yang dari tadi memang berada dikamar orang tuanya, main sama adiknya


" Kok tumben kak?" Tanyaku seraya mengusap lembut rambut nya


" Pengen nungguin ayah"


" Yaudah sekarang bobok ya sayang. Adek aja udah nyenyak tuh"


Aku memposisikan diriku untuk berbaring di tengah tengah antara fiona dan fayyadh. Sisi kiri ada fiona dan sisi kanan ada si ganteng fayyadh.


" Bund, kangen oma deh" ucap fiona bercerita. kebiasaan fiona yang sebelum tidur pasti ada aja yang mau di ceritakan ntah itu keluh kesah dirumah ataupun kegiatannya di sekolah.


" Besok bilang ke ayah, biar di anterin ke rumah oma ya nak"

__ADS_1


" Bunda ikut?"


Ntah alasan apa lagi yang harus ku berikan untuk fiona. Beberapa kali dia dan ayahnya berkunjung kerumah mama tapi aku selalu saja menolak untuk ikut. Bukan karena aku yang terlalu keras atau egois yang nggak mau ngertiin orang tua, cuman rasanya nggak enak aja, kalo kita ngunjungin rumah orang yang nggak suka ke kita. Yang dari raut wajah sama perlakuannya aja udah keliatan banget.


Keenggak sukaan mama padaku bertambah waktu aku nolak ikut pulang kembali ke rumah mama atau ke rumah kami yang lama, dan memilih tetap tinggal dirumah sederhana mendiang ibuku. Mungkin mama sedikit nggak rela kalo anak laki laki satu satunya harus tinggal di rumah yang sempit. Mama memang menentang keras ke inginan ku itu, tapi karena papa mendukung dengan alasan biar kami bisa mandiri, dan sebagai pelajaran buat kak fadil, akhirnya mama mau nggak mau menyetujui keinginan ku itu. Tapi, sikap mama ke aku sangat sangat berubah dari waktu dulu awal awal aku nikah sama kak fadil.


" Mendingan kakak bobok, baca doa dulu sayang" Kataku mengalihkan pembicaraan fiona.


Fiona menuruti perintahku, setelah membaca doa, dia langsung memejamkan matanya. Emang dasarnya anak yang gampang banget buat tidur ditambah memang udah ngantuk. Jarak sepuluh menit, aku udah mendengar dengkuran halus dari fiona, yang udah tepar masuk ke dalam mimpinya.


Niatku menyusul kedua anak ku ke alam mimpi nampaknya harus di urungkan, Aku memdengar suara dari luar kamar, yang ku yakini adalah kak fadil.


Nggak berapa lama muncul lah kak fadil dengan wajah lelahnya, kemeja yang udah nggak serapi tadi pagi saat berangkat kerja.


Aku lantas memaksakan diriku untuk duduk. Setidaknya nggak nungguin suami pulang diluar, minimal menyambutnya.


" Lembur lagi mas?" Tanyaku walaupun aku yakin nggak akan di jawab oleh kak fadil. Keliatan dari wajahnya yang masih marah mode on.


Hening. Aku tau kekecewaan yang dirasakan kak fadil. Aku menyembunyikan hal sebesar ini darinya, yang semestinya itu menjadi kesepakatan antara aku dan kak fadil.


" Kamu udah makan mas, Aku siapin ya?"


" Aku udah makan" katanya ketus


Ku pandangi suamiku itu yang sibuk mondar mandir di kamar. dari mulai masuk kamar mandi sampai kini udah berganti dengan pakaian tidur


" Si kakak tadi pengen tidur di sini mas, katanya kangen ayah" Jelasku yang mengerti tatapan kak fadil yang lagi menyalurkan rindu ke pada kedua anaknya.


Selesai mencium kedua kening anaknya kak fadil bergegas berdiri " aku tidur di kamar sebelah"


Aku tau maksud kak fadil, dia mau menghindar dariku " Kenapa mas, biasanya juga kita sering tidur berempat kok" Protesku


" Kamu mau ngehindar kan mas?" Tanyaku lirih


" Udah ya re, aku capek mau istirahat"


Aku lantas menitikkan air mataku, ntah kenapa aku jadi sesensitif ini " Kalo kamu nggak mau tidur seranjang sama aku bilang aja mas. Biar aku aja yang tidur di kamar fiona, anak anak kangen kamu. Biar mereka ngeliat ayahnya pertama kali pas buka mata besok pagi"


Aku bergerak perlahan turun dari ranjang, biar anak anak ngak terusik tidurnya karena pergerakanku " Aku masih nunggu kamu bersedia dengerin penjelasanku mas"


Aku berjalan perlahan keluar kamar, pusing di kepalaku kembali hadir kalo aku lagi nangis kayak gini. badanku hampir aja terjatuh kalo aku nggak cepat cepat memegang lengan kak fadil yang memang berdiri di dekat pintu kamar.

__ADS_1


" Rere nggak papa mas. nggak usah khawatir" Lirihku saat menatap ekspresi khawatir kak fadil karena aku yang hampir jatuh. Aku senang, berarti suamiku itu masih punya rasa peduli terhadapku di sela sela kekecewaannya ke padaku.


" Kalo fayyadh kebangun, anterin ke aku ya mas" Ucapku sebelum akhirnya melangkah gontai ke arah kamar fiona.


__ADS_2