Wedding Story

Wedding Story
Tujuh Puluh Sembilan ( menyerah)


__ADS_3

" Re..ngelamunin apa?" Sapaan nana mengejutkan ku yang saat ini sedang beberes di ruang tengah. Sudah seminggu aku tinggal dirumah peninggalan ibu bersama fayydh dan juga faza.  Rumahnya memang tidak seperti dulu. Akibat kebakaran tempo lalu, kak fadil memperbaiki rumah ini menjadi lebih luas dan pastinya lebih baik dari sebelum kebakaran.


" Nggak ngelamun kok na" jawabku pada nana yang datang bersama faza.


" Gue mau pamit nih Re. Mau ke kafe, udah habis jam makan siang lagian" kata nana sembari menyerahkan faza ke gendonganku. Tentunya aku menerima faza langsung ke pangkuanku.


" Kok belum bobo siang sih nak...abang aja udah bobo loh" faza malah tertawa saat ku ajak bicara. Sudah mulai paham sih anak cantikku ini kalau di ajak bicara.


Nana bergerak meraih tas selempang kulit berwarna coklatnya, dan segera pamit pulang ke kafe untuk bekerja. " Na, besok temenin ke sekolahnya fiona ya" kataku  sebelum Nana benar benar pergi.


" Mau ngapain?" Tanya nana dengan mengangkat sebelah alisnya.


" Besok sekolah  Fiona terima Rapor"


Nana menghembuskan nafasnya pelan " yakin?"


Aku mengangguk pasti " Apa yang harus diraguin. Gue kan mau ngeliat anak gue. Salah?"


Nana mengangguk " oke. Besok gue pagi kesininya" putus nana.


Setelah Nana pergi rumah kembali hening. Sekarang cuma ada aku, faza dan fayyadh. Sekarang faza malah udah tidur di pangkuanku. Memang sih, ini seharusnya jam tidurnya faza.


Aku melangkah perlahan membawa faza ke kamar. Jujur sekarang buat gendong faza aja rasanya susah, karena perut yang sudah semakin membesar. Tapi mau tidak mau ya tetap harus digendong. Faza belum bisa buat jalan " Tidur yang nyenyak ya anak bunda" ku kecup kening faza dan fayyadh yang tidur bersebelahan.


" ayah..nanti main ya sama fayyadh. Sekali ajaa.. fayyadh udah seneng kok"


Pergerakanku terhenti saat mendengar racauan fayyadh. Hatiku sakit sekali rasanya. Begitu rindunya fayyadh pada ayahnya sampai sampai kebawa mimpi. Seminggu kami tinggal di sini, sekalipun kak fadil tidak pernah berkunjung, menanyakan kabar anaknya melalui telpon pun tidak. Ntahlah, apa kesalahan yang sangat fatal pada diriku sehingga kak fadil begitu menaruh kebenciannya padaku.


****


Suara gemercik hujan yang bersautan di atas seng memenuhi keheningan di siang menjelang sore begini. Sudah mulai musim penghujan. Beberapa hari ini setiap hari hujan datang berturut turut, terkadang menghambat aktivitas tapi Hujan merupakan rahmat yang harus di syukuri bukan.


Mendengar seperti ada orang yang ada di teras rumah, aku mengintip dari celah jendela depan. Ternyata di sana ada pedagang bakso yang sedang berteduh. Memang teras rumah ini setelah di renovasi menjadi lebih lebar. Tidak ada pagar pembatas untuk rumah ini. Memang sengaja permintaanku. Karena menurutku rumah yang tidak berpagar itu terkesan lebih ramah dibanding rumah yang berpagar.


Jiwa laparku jadi meronta ronta membayangkan sendok demi sendok kuah bakso yang hangat dimakan saat hujan begini pasti mantap. Jadilah aku keluar untuk menuntaskan keinginanku saat ini. Mumpung anak anak lagi pada tidur.


" Bang, baksonya ya 1 porsi" kataku pada penjualnya yang sedikit terkejut dengan kedatanganku yang tiba tiba.


" bisa mbak. Dibungkus kan ya" aku mengangguk mengiyakan.


" maaf ya mbak, numpang disini. Tadi kebetulan ini doang tempat teduhan terdekat" ujar abang tukang baksonya tidak enak.

__ADS_1


Aku tersenyum " nggak apa apa bang. Santai aja" kataku sambil terus memperhatikan abangnya yang sangat lihai dalam menyiapkan seporsi bakso pesananku.


" berapa bang?" Tanyaku setelah melihat baksoku sudah selesai dibungkus.


" nggak usah mbak. Anggap aja bayaran saya neduh disini" tolak abang tukang baksonya.


"  Saya nggak mau lah bang. Saya kan beli. Jadi diterima ini uangnya" kataku seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribu, setelahnya aku berbalik pergi " ini kelebihan uangnya mbak" teriak abang tukang baksonya.


" buat abang aja" kataku sambil tersenyum singkat.


Aku melangkah masuk rumah dengan perlahan. Kaki ku basah terkena cipratan air hujan saat diluar tadi. Terasnya juga terasa licin sekali tadi.


Bungkusan plastik berisi bakso kubawa dengan semangat ke arah dapur. Sangkin semangatnya aku melupakan kakiku yang masih sedikit basah.


BUGHH


Keseimbanganku hilang. Rasanya seperti mimpi, tiba tiba aku sudah terjatuh dengan posisi tengkurap dilantai.


" Ya allah..tolong..tolong" gumamku. Sungguh rasanya sangat sakit sekali.


" Tolong...." teriakku sedikit kuat. Berharap ada yang mendengar rintihan jeritanku.


" Masss fadill...tolongin anak kita mass"


" Fayyadh..tolong bunda nak" teriakku berharap fayyadh mendengarku.


" Tolongg.. ya Allah tolong hamba" gumamku semakin lirih. Tidak ada lagi yang sanggup ku lakukan selain pasrah. Dan akhirnya pandanganku makin lama makin memudar sampai semuanya menjadi hitam.


****


Perasaan nyeri dibagian perutku membuat aku tersadar, aku ingat apa yang membawaku berakhir di dalam ruangan rumah sakit ini. ku kira hanya mimpi, ternyata memang kenyataan.


tanganku refleks mengarah kebagian perutku. aku bernafas lega saat merasakan perutku masih membuncit. setidaknya Tuhan masih berbaik hati untuk tetap mengamanahkan janin di perutku.


" Maafin bunda ya nak.. Bunda hampir aja nyelakain kamu" lirihku sambil terus mengusap lembut perutku


" Sehat terus anak bunda"


Cairan bening yang keluar dari pelupuk mata tak bisa lagi untuk ku tahan. cengeng memang. tapi jujur dalam kondisi seperti ini aku butuh support dari kak fadil. Dari seseorang yang sama sekali tidak bisa ku singkirkan namanya dari hati, walau sebenarnya terlalu banyak menyakiti.


" Anak- anak sendirian di rumah" gumamku saat mengingat terakhir kali fayyadh dan faza sedang tertidur. aku mencoba untuk bangkit anak seusia mereka belum bisa untuk ditinggal sendirian di rumah.

__ADS_1


" Mau ngapain sih re.." Nana berjalan cepat menghampiriku.


" Anak anak gue, na. sendirian di rumah. gue harus pulang" kataku


nana menghentikanku yang hendak melepaskan jarum infus dari tanganku " Lo belum pulih na. jangan gila!!!"


Aku tertegun mendengar bentakan yang keluar dari mulut nana " Na.. gue udah nggak kuat lagi na, gue mau nyerah aja na" isakku.


" Diem. nggak usah ngomongin yang enggak enggak. sekarang fokus sama keadaan lo. anak anak lo aman sama Mama gue" kata nana.


aku kembali berbaring dengan air mata yang terus membanjiri " Mas fadil nggak ada nengokin gue ya na?"


" Tidur re.. nggak usah ngarepin yang mustahil. lo masih ngarepin laki laki kayak dia. suami mana yang tega ngelantarin anak sama istrinya yang lagi hamil. brengsek" kata nana emosi.


" Kayaknya anak gue nggak suka deh na, lo ngomongin ayahnya"


nana sontak membulatkan matanya tidak paham " ini yang di perut langsung nendang gitu" kataku.


" Anak onty, maafin onty ya. tapi ayah kamu emang jahat sama bunda kamu nak" Sekarang nana mengusap usap perutku sambil mengajak janin yang di perutku berbicara.


" Makasih ya na"


" Buat?" Tanya nana


" Buat semuanya yang udah lo lakuin ke gue. gue nggak tau kalau misalnya nggak ada lo. Gue kayaknya bakal udah lama nyerah" lirihku.


" Udah deh, nggak usah melow. sekarang bumil harus cepet sembuh, biar bisa pulang"


" Pulangnya hari ini nggak bisa na?" tanyaku mengingat besok aku mau menghadiri acara bagi rafor fiona.


" Nggak usah ngadi ngadi"


" Besok pagi ya na"


nana membuang nafas gusar " Ya makanya banyak istirahat, biar bisa pulang. tapi kalo besok pagi kayaknya belum bisa."


" Besok fiona bagi rapor na. gue harus datang"


" Fiona nggak kekurangan orang buat nemenin dia disana Re"


" iya, tapi kan beda. gue nggak mau fiona kecewa na"

__ADS_1


Nana akhirnya mengalah " Liat besok. kalo keadaan lo memungkinkan, kita pulang" ucap nana yang membuat aku langsung girang.


__ADS_2