
Ruangan serba putih ini seakan sempit, membuat dadaku terasa sesak. Bagaimana tidak, di sini ternyata udah berkumpul fania, mama dan kak fadil yang terbaring di brankar rumah sakit. Ntah apa yang terjadi padanya, untuk sekarang aku udah nggak mikirin.
" Kakak, pulang sama bunda ya nak?" Ajak ku pada fiona tanpa memperdulikan tatapan semua orang yang ada di ruangan ini.
Fiona menggeleng " Kakak masih kangen ayah"
Runtuh sudah pertahananku, air mataku lagi lagi kembali mengalir di pipi, apa sekarang saatnya fiona mau ninggalin aku juga.
" Ini kan mau kalian semua, merampas semua kebahagiaanku. Kalo iya. Selamat kalian udah berhasil"
" Renata, dengerin mama dul-"
Aku menatap mama dengan mata yang masih berair " Apa ma, Apa yang mesti rere dengerin. Mama yang diam diam ternyata tau keberadaan mas fadil iya?"
" Atau mama yang sebenarnya udah ngerestuin hubungan mas fadil sama fania?" lanjutku
" RE!"
Kak fadil berteriak menghentikan ku yang menyudutkan mama. Bukan aku nggak sopan, tapi kenapa mama harus nyembunyiin ini semua dariku.
" Kenapa mas, emang bener kan?" Lirihku sambil menenangkan fayyadh yang terkejut bangun dari tidurnya gara gara bentakan kak fadil.
" Na, kepala gue pusing. Tolong bawa gue pergi dari sini" Pintaku lirih kepada nana yang sedari tadi hanya diam. Aku sedikit nggak enak hati udah membawa nana terlalu dalam ke urusan rumah tangga ku.
Nana menghampiriku " Siniin fayyadh nya re, biar sama gue"
Ku serahkan fayyadh kepada nana. Karena jujur kepalaku mendadak pusing. Aku takut fayyadh jatuh dari gendonganku.
Aku berjongkok mensejajarkan tinggiku dengan fiona yang udah nangis pelan. Aku sadar, walaupun dia masih anak anak, tapi dia udah paham tentang orang tuanya yang nggak baik baik aja
" Kakak" Panggilku lembut. Tapi fiona masih enggan mengangkat kepalanya dan menatapku.
" Liat bunda sayang" Lirihku berusaha menahan tangisku agar nggak terdengar.
Fiona mengangkat kepalanya perlahan dan menatapku " Kakak nggak mau pulang sama bunda ya, kenapa sayang. Karena bunda nggak bisa beliin mainan yang bagus buat kakak ya?"
Fiona langsung menggeleng cepat dan memeluk leherku erat " Bunda minta maaf ya, udah ngajak kakak susah tinggal sama bunda. Sekarang bunda lepasin kakak buat ikut mama ya nak"
" Hiks enggak, kakak nggak mau sama mama. Kakak mau sama bunda, tapi mau sama ayah juga" Tolak fiona.
Ku tarik lembut fiona agar mau menatap ku " Nggak boleh gitu ya kak, mama itu ibu kandungnya kakak, jadi kakak harus sayang sama mama fania kayak kakak sayang sama bunda"
" Jangan nangis ya, Nanti bajunya kakak bunda anterin ke rumah oma. Kakak baik baik, jangan lupain bunda" Ku usap air matanya yang udah banjir. Seharusnya ini nggak di alami fiona, dia terlalu kecil untuk mengerti ini semua. Tapi keadaan yang memaksa.
" Ayo na" Ajak ku pada nana. Aku udah nggak sanggup lama lama di ruangan ini.
" Renata, tunggu" Panggil fania menghentikan langkahku
Ku tatap dia dengan mata lelahku " Apa lagi, mas fadil udah, fiona udah, sekarang mau apa lagi?"
" Tolong dengarkan penjelasan saya" Katanya
__ADS_1
Aku memutar mataku lelah " Penjelasan apa lagi, semua udah jelas dengan kamu mengundang saya ke sini kan?"
" Re, dengerin dulu nak" Sekarang mama udah ikut meyakinkan ku. Kenapa bisa lembut lagi. Bukannya belakangan udah ketus banget ke aku.
" Anak aku nggak baik terlalu lama di rumah sakit" Kataku beralasan.
" Itu anak aku juga re" Kak fadil menyahuti ucapanku dengan cepat
" Tolong ya, hentikan drama ini. Udah cukup, biarin aku bahagia sama anak aku sekarang"
" Renata, tolong 10 menit nggak lebih" Pinta fania memohon
" 5 menit atau nggak sama sekali" Aku mengalah akhirnya memberikan kesempatan buat fania bicara.
" Tapi sebelumnya, bisakan teman kamu bawa fiona dulu keluar sebentar"
Aku mengangguk, memang seharusnya fiona nggak mendengar semua ini dari tadi. Aku minta tolong ke nana untuk membawa fiona dan fayyadh keluar sebentar, lagian nggak lama hanya 5 menit.
" 5 menit dari sekarang " Ujarku malas
"Tolong jangan potong, biar waktu 5 menitnya nggak terbuang sia sia" Katanya
" Aku mau jujur re, sebenarnya anak yang lagi aku kandung sekarang bukan anak fadil, itu cuman akal akalan aku aja biar fadil mau nggak mau harus menikahiku. Aku iri kenapa fadil bisa bahagia tanpa aku sekarang, aku terbiasa di kejar dan selalu di harapin fadil, makanya aku jebak dia. Biar dia nggak bisa lepas dari aku"
Aku terkejut mendengar pengakuan fania, tapi aku masih diam setia mendengar penjelasannya.
" Tapi, setelah aku perhatiin, kamu sayang dan tulus banget sama fiona, aku jadi menyesal merusak kebahagian kamu. Wanita yang rela mencintai anak yang bukan darah dagingnya dengan setulus hati"
" Jadi re, aku sama fadil nggak ada apa apa sampai sekarang, hanya sebatas orang tua fania"
" Aku kecelakaan re" Jawab mas fadil lemah
" Re, mama saksinya kalo fadil itu sebenarnya mau ke rumah sakit, waktu mama ngabarin kamu udah mau ngelahirin. Tapi, nggak berapa lama mama dapat telpon kalo fadil mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah"
Aku menutup mulutku nggak percaya, apa ini sebabnya kak fadil berada di rumah sakit
" Makanya waktu kamu bilang kalo anak kamu anak yatim, mama marah re. Karena saat itu kondisinya fadil lagi kritis. Mama takut kalo ucapan kamu itu jadi do'a" Mama menjelaskan dengan air mata yang membanjiri.
Ku hampiri mama yang terlihat rapuh " Maafin rere ma. rere nggak tau kejadiannya" Ucapku merasa bersalah.
" minggu lalu aku ke rumah kamu, itu fadil baru siuman dari koma nya dan langsung nyariin kamu renata. Tapi kamu nggak mau mendengarkan aku" Kata fania yang membuatku makin merasa bersalah.
Ku lihat kak fadil yang terdiam dalam keadaan berbaring " Maafin rere mas" Ucapku pelan. Aku rasanya malu udah marah marah tadi, sekan aku yang paling tersakiti.
" Sini re" panggil kak fadil lemah
Aku menatap mama meminta persetujuan. Mama menganggukkan kepalanya. Aku melangkah perlahan mendekat ke arah kak fadil.
" Kenapa kurus gini?"
Aku sontak melihat tububku dari atas sampe bawah. Emang iya sih, aku sedikit kurus sekarang.
__ADS_1
" Makan hati" Jawab ku asal
Kak fadil terkekeh " Pantesan, mana kenyang" Ledeknya
" kamu nggak kangen aku re, nggak mau peluk gitu?"
Pipiku sekarang pasti udah merah sekarang " Disini ada mama ya mas, nggak usah aneh aneh" Kataku pelan
" Mama udah keluar sama fania"
Aku langsung melihat ke belakang. Benar saja, diruangan ini sekarang cuman ada aku sama kak fadil. Kapan mama keluarnya.
Kak fadil menarik ku agar mendekat ke pelukannya " Mas apaan sih, aku masih marah ya. Kamu harus jelasin semuanya sama aku"
" Mau jelasin yang mana lagi. Semuanya udah jelas, kamu nggak bahagia tanpa aku"
Aku reflek mencubit perutnya " Aduhh duhhh sakit luka aku itu re" .
Aku sontak menegakkan tubuhkan dari yang bersandar di dada kak fadil karena ulahnya " Rere nggak tau, mana yang sakit biar rere liat"
" ini re" Ujar kak fadil sambil menunjuk nunjuk pipi kanan nya
Aku membulatkan mataku. Bisa bisa nya di bercanda di saat orang udah jantungan
" Sini re" Panggil kak fadil lembut, kan aku jadi luluh.
Aku mendekat dan di tariknya agar aku bersender kembali ke dadanya. Kak fadil udah sedikit duduk karena brankar rumah sakitnya di naikin sedikit.
" Rere kangen tau mas" aduku pada kak fadil
Kak fadil mengusap lembut rambutku. Hal yang paling ku rindukan selama ini " Maafin aku ya, Udah buat air mata kamu jatuh lagi dan lagi"
" Jangan pergi pergi lagi" Lirihku
Kak fadil mengecup puncak kepalaku lama " Aku janji sayang"
" ohh gini nih, udah baikan anaknya dilupain"
Aku sontak langsung berdiri dari duduk ku yang sangat nyaman tadi saat Mendengar perkataan nana yang baru datang dengan menggendong fayyadh
Aku tersenyum nggak enak ke arah nana " Makasih onty nana, udah jagain anak anak nya bunda rere" kataku menirukan suara anak kecil
" Gue pamit re, jaga keluarga kecil lo" Pamit nana setelah menyerahkan fayyadh kepadaku.
" Mas" panggilku pada kak fadil yang nggak lepas pandangannya dari bayi ganteng yang ku gendong sekarang.
Aku tersenyum " Muhammad Fayyadh Hulaif, sesuai kemauan kamu mas"
Kak fadil tersenyum hangat " mau gendong?" Tanyaku yang langsung di angguki kak fadil antusias
" Aku yang hamil, aku yang ngelahirin sendiri, tapi wajahnya mirip di kamu semua mas" Tuturku sedikit nggak terima
__ADS_1
Kak fadil tersenyum bangga " Bibit unggul aku ini re. Nggak papa ya, habis ini kita buat lagi, siapa tau lahir versi kamu" katanya tanpa dosa
Aku sontak membulatkan mataku, bisa bisa nya dia udah berpikiran sampe sana. Fayyadh aja belum genap 1 bulan, udah mau nambah lagi. Dasar laki laki, mau enak nya aja, nggak mikirin sakitnya perempuan kayak apa.