Wedding Story

Wedding Story
Tujuh Belas ( Rumah Baru)


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam dan begitu seterusnya. Tanpa terasa aku sudah menjalankan peranku sebagai seorang istri, ibu dan sekaligus siswi kelas 12.


Sedangkan kak fadil sekarang sudah menjadi mahasiswa di kampus ternama dikota kami, yang memang sudah menjadi pilihannya dari awal


"Re, hari ini kamu berangkat ke sekolah sendiri ya, aku ada kelas pagi" kak fadil baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya


Aku menghampiri kak fadil, dan mengambil handuk yang terlampir di lehernya" Iya mas, tidak papa" ucapku sambil mengeringkan rambutnya


Sudah menjadi kebiasaanku mengeringkan rambutnya, ntah disengaja atau bukan, kak fadil selalu saja keluar kamar mandi dengan rambut yang masih sangat basah


" Kamu sengaja atau bagaimana sih mas. Masa tiap hari aku terus yang mengeringkan rambut kamu" omelku tapi masih tetap dengan aktivitas ku megeringkan rambutnya yang mulai kering itu


Kak fadil menarik ku untuk duduk dipangkuannya, aku yang kaget dengan perlakuannya pun hanya bisa menurut " Sengaja sih, biar bisa berduaan sama kamu"


Aku memutar mataku malas. inilah kebiasaan kak fadil, belakangan ini jadi rajin ngegombal


" Kamu kuliah jurusan pergombalan ya, kok belakangan ini jadi pandai ngegombal sih?" Tanyaku dengan menatapnya seperti mengintrogasi


Kak fadil terkekeh mendengar pertanyaanku " Kok ngegombal sih, sayang"


Tolong, baru dipanggil sayang saja rasanya aku seperti mau terbang ke langit ke tujuh,


" Re, mau ini deh" Ucap kak fadil seraya mengusap lembut bibirku


Aku menarik nafas berat " Masih pagi, rere nolak ah" tolak ku halus. memang kesepakatan kami yang waktu itu masih berlaku sampai sekarang diusia pernikahan yang sudah menginjak 3 bulan. Kak fadil memang meminta tidak lebih dari itu, makanya sampai sekarang aku masih perawan, karena kak fadil tidak pernah meminta hal lebih padaku. Sebenarnya kalau dia meminta haknya pun, aku gak akan menolak, karena itu sudah menjadi haknya dan menjadi kewajibanku


" Sebentar saja, sebelum berangkat" Kak fadil mendekatkan wajahnya ke wajahku.


" Bundaaa.."


Aku sontak menarik diriku dari kak fadil, hampir saja benda kenyal itu menempel, tapi tidak jadi karena rengekan fiona. Uhh, kamu menyelamatkan bunda nak


" Iya sayang, bunda disini " Aku menghampiri fiona yang sudah duduk di ranjang dengan mengucek ngucek matanya


Aku duduk disamping fiona yang langsung berhambur memelukku, dan ku terima dengan sepenuh hati.

__ADS_1


" Mas, handuknya di taruh di gantungan ya, jangan di letak di kasur" protesku saat kak fadil hendak keluar kamar, dengan handuknya yang masih tergeletak di kasur


" Ayah jolok"


Aku tertawa mendengar ejekan fiona terhadap kak fadil. Ya tapi benar sih, fiona yang masih kecil saja sudah paham, masa kak fadil yang sudah berumur tidak paham paham


" Batal ayah beliin boneka lagi kamu fio" Ancam kak fadil seraya keluar kamar meninggalkan kami


Aku melirik fiona dengan wajah sedihnya karena ucapan sang ayah " Jangan sedih dong princess nya bunda. Ayah pasti tidak serius kok" aku mencoba untuk menghibur fiona


" Kita minta maaf sama ayah ya"


Fiona mengangguk lesu. Kak fadil memang paling bisa buat anaknya sedih. heran sekali meligat orang yang satu itu


Aku berjalan menuruni tangga sambil menggendong fiona. Aku melihat kak fadil yang sudah berada di meja makan, dengan sepiring nasi goreng di depannya.


Kak fadil itu tipe orang yang harus makan nasi saat sarapan, makanya itu tiap pagi aku harus masak. Ya walaupun, dirumah mama kak fadil ini sudah tersedia asisten rumah tangga, aku tetap saja memasak untuk kak fadil. Karena ibu pernah bilang, hal hal kecil seperti memasakkan untuk suami itu bisa membuat ikatan antara seorang istri dan suami menjadi lebih erat. Dan ya memang terbukti, sekarang kak fadil apa apa selalu aku. Jadi aku merasa bahagia karena merasa dibutuhkan oleh seorang fadil.


" Ayah, fio minta maaf" lirih fiona menunduk tak berani menatap ayahnya


Aku merasa iba melihat fiona. masih kecil sudah berani mengakui kesalahannya. Kak fadil berhasil mendidik fiona. Tapi disatu sisi aku takut psikis fiona terganggu. karena yang ku lihat dia masih menyimpan ketakutan terhadap ayahnya. ya walaupun belakangan ini sudah mulai berkurang sih


" Nanti ayah beliin boneka yang banyak" tawar kak fadil yang membuat mata fiona berbinar


" Janji?" Ucap fiona meyakinkan dirinya terhadap ucapan ayahnya


" Iya dong, emang apasih yang tidak buat princess nya ayah"


" Yeaaayyy. Makasih ayah " girang fiona sambil menghadiahi ayahnya kecupan bertubi tubi.


Aku terkadang iri melihat kedekatan ayah dan anak ini, aku merasa mereka gak membutuhkanku kalau mereka sudah asik berdua. Ya memang aku sadar, aku hanya orang baru yang masuk kedalam hidup mereka.


" Mas, jam berapa mau ke kampusnya. nanti terlambat loh" tanyaku pada kak fadil, seraya menyendookkan suapan nasi ke mulut fiona


" Iya, sebentar lagi. Masih sempat kok." Ucapnya

__ADS_1


Aku mengangguk paham. " aaak lagi nak" Pintaku pada fiona seraya mengarahkan suapan ke arah mulut fiona.


" Ayah dulu bunda" pinta fiona


Aku melototkan mataku mendengar permintaan fiona. Ada ada saja permintaan anak ini " Ayah sudah besar. harus bisa makan sendiri" Elak ku


" Tapi ayah mau juga deh bun di suap makannya sama bunda" Ucap kak fadil seperti meledek ku


Pasti dia kegirangan mendapat lampu hijau untuk meledek ku. Saat ini fiona berada di kubunya.


Mau tidak mau aku harus menyuapi kak fadil. bukannya aku malas atau apa, tapi jantungku tak bisa diajak kompromi kalau sudah berinteraksi dengan kak fadil terlalu dekat. Ya walaupun tidak bisa ku pungkiri dalam hati tetap bahagia.


****


" Re, kamu menunggu kak fadil?" Tanya nana yang baru saja keluar dari pekarangan sekolah. Tadi saat bel pulang sekolah, nana nggak keluar bareng samaku karena ada urusan katanya. tidak tau deh urusan apa


" Iya nih, katanya tadi mau jemput" jawabku. Memang tadi saat dirumah, kak fadil bilang mau menjemputku.


Hari ini kami mau pindah rumah. Aku belum tau pasti bentuk dan letak rumahnya. yang pasti kata kak fadil dekat sama kampus dan kafenya, jadi mudah kalau ada urusan katanya.


Barang barang ku beserta fiona dan kak fadil sudah kubereskan dari semalam. Kayaknya sudah di angkat sama sopir pribadi mama pagi tadi. jadi kami bisa langsung meluncur kerumah baru yang mau ditempati


Soal kepindahan kami ini, awalnya tidak disetujui oleh mama mertua ku, atau lebih tepatnya mama kak fadil. Tapi dengan jurus seribu pujukan, kak fadil berhasil meyakinkan mama cantiknya itu. Tapi dengan syarat kami harus sering sering datang berkunjung kerumahnya, dan di iyakan oleh kak fadil. Semoga saja iya


" Sama aku aja mau?. Aku bawa motor kok" Tawar nana padaku


" Tidak usah Na. Bentar lagi juga datang kok" Tolak ku. pasalnya aku mau minta antar nana kemana. Alamat rumah barunya saja tidak ku ketahui


" Nah itu, kak fadil sepertinya" Tunjukku ke arah mobil yang baru saja berhenti di seberang jalan sekolahku.


Kulihat kak fadil membuka kaca mobilnya. Aku langsung pamitan pada nana dan langsung menghampiri kak fadil.


" Mau jemput fiona dulu?" Tanyaku pada kak fadil setelah mobilnya melaju


" Fiona sudah disana sama mama" Jawab kak fadil yang sedang fokus menyetir

__ADS_1


Aku mengangguk mendengar ucapan kak fadil. Aku menyandarkan kepalaku ke jok penumpang. Rasanya aku mengantuk sekali " Rere tidur bentar ya kak. Kalau udah sampai bangunkan Rere.


kak fadil hanya berdeham menyahuti ucapanku. setelahnya aku tidak sadar apa lagi yang terjadi. Karena aku sudah sibuk menyelami dunia mimpi.


__ADS_2