
Dari bangun tidur sampai sekarang, fiona sama sekali tidak mau lepas dariku. Ntah apa yang menyebabkan mode manja nya muncul dipagi hari ini, aku pun tidak paham. Alhasil aku harus melaksanakan kegiatan rutinku setiap pagi, dirumah baru yang sudah seminggu kami tempati dengan menggendong fiona.
Dirumah ini ada mbak yang bantu bantu. Awalnya aku nolak karena merasa masih sanggup untuk merawat kedua belahan jiwaku sendiri, rasanya kurang rela harus berbagi tugas untuk mengurus mereka. Tapi berkat perintah mama, yang mengharuskan aku dibantu mbak, akhirnya mau tidak mau harus kuterima. Lagian siapa yang akan menjaga fiona saat aku sekolah dan kak fadil kuliah atau kerja.
Mbak mirna, yang usianya masih 38 tahun, bekerja hanya sampai sore. Pekerjaannya juga tidak banyak, hanya menjaga fiona dan menyiapkan segala keperluannya saat aku tidak dirumah. Saat aku dirumah, fiona akan langsung lengket padaku, dan lepaslah tugas mbak mirna terhadap fiona. Dan satu lagi, urusan masak memasak masih jadi tugas ku, karena aku ingin anak dan suamiku harus makan hasil masakanku.
" Makan ya sayang, bunda suapin " Bujuk ku ntah keberapa kalinya, namun sesuap pun belum berhasil mendarat ke mulut fiona
" Tidak mau bun" Tolak fiona dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan nya
Aku merasa kesabaran ku diuji pagi ini. jam bel masuk sekolah hanya tinggal setengah jam lagi. Tapi nasi fiona belum tersentuh sama sekali
" Bunda mau sekolah sayang"
" Bunda jangan dulu sekolah" Ujar fiona yang membuat aku heran. tidak biasanya dia melarangku pergi ke sekolah
kuusap lembut kepalanya " Nanti bunda dimarahi guru dong sayang kalau tidak sekolah". kupeluk dia mencarikan posisi senyaman mungkin di dekapank
" Anak bunda kenapa sih. Kok tumben manja gini?" Tanyaku halus
" Kamu kok tidak membangunkan aku sih re" Aku langsung mengalihkan pandanganku dari fiona. Kak fadil datang menghampiri kami dengan setelan kampusnya, dengan terburu buru.
Aku baru sadar, karena fokusnya ke fiona, aku jadi melupakan kak fadil
" Rere lupa Mas. Fiona lagi manja" Jawabku jujur
Kak fadil diam tidak lagi menyauti jawabanku
" cuman roti?" tanya kak fadil dengan tatapan yang sedikit tajam
Aku menggigit bibir bawahku reflek, Aku takut dengan tatapan dari kak fadil barusan " Rere minta maaf kak. Rere masakin sekarang ya?" Tawarku
Kak fadil duduk dengan menggeser kursi makan dengan kasar " tidak perlu. sarapan di kampus saja" Jawabnya setelahnya pergi meninggalkan kami, tanpa pamitan sama anaknya terlebih dahulu.
Aku memaklumi sikaf kak fadil barusan. mungkin dia capek dan banyak pekerjaan. tadi malam saja dia baru tidur jam 2 dini hari,karena harus membuat laporan kantor katanya. Dan pagi pagi sekali dia harus pergi ke kampus lagi.
" Bunda, ayah kenapa?" Aku tersadar dari lamunanku berkat teguran fiona
__ADS_1
aku tersenyum " tida papa sayang. Fiona makan ya. habis ini bunda temenin bobo."
Mata fiona langsung berbinar mendengar ucapanku. Hari ini aku memilih bolos sekolah, karena fiona yang tidak seperti biasa.
Aku sudah mengirimkan pesan kepada Nana untuk mengizinkan aku dikelas, dan dia pun sudah menyetujuinya.
****
Rupanya sifat manja fiona tadi tanda tanda kalau dia sedang tidak enak badan. Siang tadi badannya panas. untung ada mbak Mirna, yang bantu aku mengurusi fiona. karena aku tak tahu mengurus anak yang sedang sakit bagaimana.
Sekarang sudah menunjukkan jam 10 malam. Tapi tidak ada tanda tanda kak fadil pulang. Satu hari ini belum pulang dari pagi. Fiona yang rewel mencari ayahnya pun membuat aku semakin khawatir. ku telpon berulang kali pun tak ada jawaban sama sekali. Kemana perginya kak fadil. Gak tau apa orang khawatir.
" Bundaaa..." Rengek fiona terbangun dari tidurnya
" hussssyy kenapa sayang. Bunda disini kok" ku tepuk tepuk lembut badannya. Dengan harapan fiona bisa tidur kembali
" Ayah mana?" .
Ntah sudah pertanyaan keberapa kali yang dilontarkan fiona kepadaku. " Bentar lagi pasti ayah pulang kok. Anak bunda bobo lagi ya" Pujuk ku lembut sambil mengusap usap keningnya yang masih hangat
Bukannya tenang, fiona malah makin terisak" Hiks, mau sama ayah bunda hiks"
" Tidur lagi ya sayang, bunda disini kok" ucapku mengalihkan pertanyaan fiona terhadap ayahnya
memang dasar anak cantik ku sangat baik dan penurut, dia langsung menurut dan memejamkan matanya. Tak berapa lama. aku sudah melihat nafasnya teratur. menandakan anak gemoy itu sudah tidur.
Melihat fiona sudah tidur, mengundang datangnya kantuk ku juga. wajar sih udh jam 10 lewat. Tapi, kalau aku tidur, siapa yang bakalan nungguin kak fadil pulang. mbak mirna hanya bekerja samapai jam 8 malam.
kurebahkan diriku disebelah fiona yang sudah tidur. kupandangi princess gemoyku itu. walaupun dia bukan anak kandungku, tapi rasa sayangku tulus padanya.
Aku tersadar ada yang menggedor gedor pintu depan rumah. Apa kak fadil pikirku.Tapi knapa harus di gedor
Aku dengan cepat menuju luar, untuk melihat siapa yang datang
" kak fadil" Teriakku saat kak fadil datang digotong dengan 2 orang temannya.
" Bawa masuk re" Perintah salah satu dari dua orang teman kak fadil. Aku gak tau knapa dia tau namaku. Tapi saat ini itu nggak penting
__ADS_1
ku bantu kak fadil berjalan ke dengan sekuat tenagaku " kamu mabuk mas?" Tanyaku geram saat mencium bau alkohol.
" Kalau begitu kita pamit re. Fadil mungkin ada masalah makanya mabok gitu"
" Makasih ya kakak kakak" Ucapku ramah
kututup pintu setelah dua orang teman kak fadil sudah pergi.
" kamu kenapa sih mas" Geram ku sambil berusaha membawa kak fadil kw kamar bawah. Tidak mungkin aku membawa kak fadil ke kamar kami. Aku takut fiona terganggu melihat keadaannya kaucau begini.
" Kamu tunggu sini. Aku mau ambil air hangat" ucapku saat sudah berhasil membawa kak fadil ke kamar dan membaringkannya diranjang
Saat aku hendak berdiri, kak fadil menarik tanganku kasar, hinggak aku terduduk kembali di ranjang
" Kamu mau kemana sih sayang " raung kak fadil tidak jelas
" aku mau kamu malam ini. jangan pergi lagi" Mohon kak fadil padaku
Jujur, aku sedikit takut dengan kak fadil sekarang. Bicaranya ngelantur dan tidak jelas
Kak fadil menarik kasar aku agar terbaring di ranjang. Aku yang tidak bisa mengimbangi tenaganga hanya bisa menangis pasrah
" Kita kasi fiona adik biar ada temennya. Tapi kali ini darah dagingku asli. bukan dari laki laki lain, fania sayang"
Hancur sudah semuanya. kak fadil mengambilnya dengan paksa.
Aku menangis sejadi jadinya. Disepanjang pergulatan itu, kak fadil hanya terus menyebut nama fania. Fania yang kuyakini adalah cinta pertama kak fadil dan tak lain adalah ibu fiona.
Aku tidak akan menolak kalau kak fadil memintanya dengan baik baik. Dari awal juga aku sudah menyiapkan diri. Karena itu merupakan hak suami dari seorang istri
tapi bukan dengan cara seperti ini yang kumau, diambil secara paksa. layaknya aku adalah wanita yang dibayar untuk memuaskan nafsu sesaat para lelaki
" Terimakasih udah buat rere hancur mas" isak ku dibalik selimut yang menutupi tubuh polosku
kuyakin itu tidak di dengar oleh kak fadil. karena sekarang dia sudah tidur dengan pulas. tanpa merasa bersalah sedikitpun.
" Bu,, bukan seperti ini yang rere mau bu. Rere punya mimpi yang indah untuk pernikahan rere. Tapi kenapa ini yang rere dapatkan dari lelaki yang rere cintai" Isak ku di tengah tengah tangisku.
__ADS_1
Dalam keadaan seperti ini, pasti ibu yang selalu ada dalam ingatanku. Ibu yang selalu mengerti keadaan putrinya. Meskipun ibuku tidak bisa melihat bagaimana keadaan anaknya secara langsung. Tapi ikatan batin seorang ibu itu tidak teragukan lagi. Dia pasti tau ada yang berbeda dari anaknya, tanpa harus mendengar kita bercerita tentang keluh kesah yang kita alami. Hebat banget kan sosok ibu diseluruh dunia .
" Hiks, sekali lagi terimakasih sudah buat hati rere hancur mas. jangan khawatir, karena apapun yang terjadi hati rere tidak akan bisa benci sama mas. Terlalu besar rasa di hati rere ini untuk sekedar membenci mas" isak ku lagi dengan tatapan sayu ke arah kak fadil