
" Ayahh..bangun dong, faza aja udah bangun ini" Ku arahkan tangan mungil faza untuk menepuk badan kak fadil yang matanya masih tertutup rapat kayak di lem.
Rasanya 3 hari belakangan ini, aku merasakan kembali keutuhan kelurga kecilku. Kak fadil yang sakit dan memutuskan istirahat di rumah membuat aku dan anak anak mempunyai banyak waktu dengan ayahnya. Bukan berarti aku mensyukuri kalo suamiku itu sakit. Tapi dari sini kita belajar, kalau sesuatu yang terjadi itu pasti ada hikamah di baliknya.
" Mas, bangun ih. Nggak malu sama faza yang udah cantik gini"
Kak fadil membuka matanya terpaksa dan mengambil alih faza yang ada di pangkuanku. Kalau udah gitu, di unyel unyel pasti anaknya. Dan herannya faza nggak pernah nangis atau protes kalau lagi di cium cium ayahnya terus. Kayak sekarang, malah udah cekikikan ketawa kegirangan. Coba kalo aku yang nyium, sekali aja udah keliatan nggak suka nya.
" Faza, padahal ayah belum mandi tau nak. Kok mau di ciumin gitu sih. Nanti jadi bau iler loh"
Kak fadil malah terkekeh mendengar ucapanku mengompori anak gadis bontotku itu.
" Bilang aja kamu mau di cium juga" Mataku membulat mendengar ucapan kak fadil
" Ihhh..kepedean ya bapak. Mana pernah aku minta gituan. Yang ada kamu tuh main nyosor mulu. Nempelin aku terus." Protesku nggak mau kalah.
" Masa, jadi siapa yang tengah malam, minta perutnya di usap dulu kalo mau tidur. Terus minta pelu-"
Aku menutup mulut kak fadil dengan tanganku. Kalau di biarin pasti keluar kata yang bukan bukan. Tuh si bapak bapak makin hari makin ngeselin. Padahal dulu waktu SMA perasaan orangnya kalem terus berwibawa. Makanya aku cintanya sampe tergila gila.
" Bundaa... kok mulut ayah di tutupin gitu sih"
Nah.. kan udah datang 1 lagi pasukan pembela kak fadil. Emang ayah selalu di hati anak anaknya. Kalo sama emaknya kalo lagi butuhnya aja.
__ADS_1
" Iya nih kak. Bunda jahatkan sama ayah" Adu kak fadil ke fiona yang udah rapi dengan seragam sekolahnya.
Mataku sontak membulat. Bisa bisanya ayah ngadu sama anaknya. Ingin rasanya marahin kak fadil, tapi tidak tau kenapa melihat fiona yang sekarang udah nempel nempel sama ayahnya hatiku sedikit sakit. Iri rasanya. Kak fadil selalu bisa ngambil hati anak anak. Walaupun dia terkadang membuat kesalahan. Seakan akan mereka akan baik baik aja tanpa aku.
kak fadil selalu bisa menjadi pahlawan bagi anak anaknya. beda kalau lagi sama aku yang mungkin suka ngomelin anak anak. tapi itu semua karena aku sayang sama mereka. Tapi yang membuat aku sakit hati, perlakuan kak fadil seakan akan membiasakan anak anak terbiasa hidup tanpa aku, mereka bisa, mereka nggak apa apa kalau misal aku nggak ada. aku juga mau menjadi yang nomor satu di hati anak anak.
" Ayah jangan sakit sakit lagi.. kakak nggak mau ayah sakit " Aku dapat mendengar peemintaan tulus fiona kepada ayahnya. Dan sekarang aku sama sekali tidak di anggap disini. Mereka berhasil menciptakan dunia mereka sendiri tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya. termasuk bundanya sekalipun. selalu saja begitu.
" Aku iri sama kamu mas. Yang selalu bisa ngambil perhatiannya anak anak. Seakan akan kalian itu biasa aja kalopun aku nggak ada" Ucapku lirih yang mengalihkan atensi kak fadil yang semula nyiumin kedua anak perempuannya. begitupun juga fiona yang menatapku dengan pandangan herannya.
" Re-"
Aku langsung berdiri tak ingin memberi kesempatan kak fadil yang ingin bersuara. Katakanlah aku ini lebay. Iri melihat anak anak dekat sama ayahnya. Tapi bukan karena di sengaja. Tapi memang selalu begitu, dunia anak anak seakan semua tentang ayahnya kalo lagi ada ayahnya.
Aku keluar dari kamar dengan air mata yang udah di pelupuk mata. Tujuanku sekarang cuma dapur. Mencurahkan kesedihanku sepertinya akan bisa dengan cara memasak. Tapi sebelum sampai di dapur, Mama menghentikan langkahku.
Aku menggelengkan kepalaku. " Enggak kok ma. ini cuman kelilipan biasa kok tadi"
" jangan bohong sama mama. itu kenapa matanya kayak nahan tangis gitu?. Bukan kaya habis kelilipan mama lihat" Tanya mama sambil menatap ku intens.
Aku terdiam. Paling nggak bisa kalo udah di tanyain gini. Air mata yang tadinya masih tertahan di mata, sekarang udah berhasil jatuh butir demi butirnya.
" Yaudah, kalo kamu nggak mau cerita. Mama nggak akan maksa. Tapi kalo misalnya lagi ada masalah. Di selesaian baik baik, ya sayang" .
__ADS_1
Aku mengangguk sekali lagi " Rere ke dapur dulu ya ma" Pamit ku dan di balas anggukan oleh mama.
****
" Bunda.. susu kakak mana?" Tanya fiona yang tidak melihat segelas susu putih di meja makan seperti biasanya.
" Emang fiona masih butuh bunda?. Enggak kan.?" Semua atensi orang yang ada di meja makan kini beralih menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Bunda kok ngomong gitu sih?" Tanya fiona dengan suara yang bergetar. Aku tau di pasti sedih karena aku memanggilnya dengan sebutan nama aslinya. Dia pasti merasa kalo aku udah nggak manggil dia pake sebutan kakak pasti aku lagi marah.
" Kan kamu sama adek adek kamu nggak masalah kalo nggak ada bunda. Ayah aja udah cukup. Bunda pergi dari hidup kalian aja pasti kalian baik baik aj-"
" Renata!"
Aku tersentak saat kak fadil memotong ucapanku dengan nada keras.
" Apa pantas kamu ngomong kaya gitu sama anak. Kamu iri anak anak dekat sama ayahnya. Sekarang kamu maunya apa sih. Pas aku jauh sama anak anak, kamu bilang aku berubah udah nggak mau merhatiin anak anak lagi. Tapi di saat aku udah berusaha untuk kembali dekat lagi sama anak anak, respon kamu malah gini. Mau kamu apa sih sebenarnya ha!"
" Fadil.. nggak perlu pake urat ngomongnya nak. Dibicarain baik baik bisa kan?"
" Nggak bisa ma..Dia udah keterlaluan" sentak kak fadil tidak santai.
Air mataku sekarang udah banjir. Rasanya sakit banget di bentak suami di depan banyak orang. Ya walaupun yang melihat masih keluarga, tapi rasanya sakit sekali. Perutku mendadak mulas sekarang. Aku berusaha bangkit dari kursi sambil memegangi perut buncitku yang mendadak kram.
__ADS_1
" Ayah.. bunda kenapa jahat. Kakak takut"
Baru dua langkah aku berjalan. Hatiku langsung mencelos mendengar penuturan fiona. Apa aku sejahat itu. Sampai anak anak takut. Aku tidak lagi memperdulikan mereka yang masih berada di meja makan. Aku segera menuju kamar berniat mengistirahatkan diri, siapa tau kram di perutku bisa berkurang.