
NAGITA sibuk berkutat dengan peralatan dapur dengan karl yang berdiri di samping meja makan. Pria yang hanya 3 tahun lebih tua dari raffi itu baru 5 menit yang lalu datang.
"Sayang?! Pomade aku dimana? Dimeja rias kamu kok gak ada?!". Teriak raffi dari lantai dua. Nagita berdecak kesal ia mematikan kompor nya, lalu berjalan menemui sang suami.
"Say---!". Teriakan raffi berhenti saat melihat nagita masuk dengan masih menggunakan celemek."Pomade aku gak ada". Sambung raffi dengan suara pelan.
"Kamu tuh yah! Kalo sehari gak teriak-teriak nyari barang gak enak kali rasanya! Kalo gak ada ya cari yang bener! Bukan malah teriak". Omel wanita itu.
Raffi nyengir saat nagita mulai mencari barang yang ia mau."Ini apa?Hah?!". Dengan kesal nagita meletakan pomade diatas meja. Ternyata pomade itu ada di dalam laci meja rias nagita.
"Lho kok ada?". Raffi pura-pura kaget agar istrinya itu tak mengomel."Tadi aku cari disana, lho yang". Cengir pria itu, bodoh.
"Sini!". Raffi mendekat pada nagita yang hendak memasangkan dasi-nya, pria itu membungkuk, agar tinggi badan mereka sama-rata.
Raffi menatap lekat wajah nagita."Udah gak sakit lagi?". Bisik raffi. Selesai memakaikan dasi pada raffi, nagita membawa tas serta jas pria itu. Wanita itu sama sekali tak menjawab pertanyaan suami-nya.
"Aku berangkat ke rumah bapak setelah kamu berangkat ke kantor, ya". Raffi cemberut saat nagita malah membahas hal lain. Padahal kan ia berencana memulai kembali penggempuran jika perih yang dirasakan istrinya itu sudah pergi.
"Aku udah suruh orang buat sopirin kamu nanti". Ujar raffi akhirnya
Nagita mengangguk. "Lain kali, cari dulu yang bener baru kamu boleh teriak manggil aku, kalo tetep gak ketemu". Saran nagita pada suaminya.
Merek berjalan menuju ruang makan."Kasian karl nunggu kamu lama". Raffi mendelik pada nagita. Karl tak akan mungkin protes atau marah-marah jika menunggu raffi.
"Tuan". Karl membungkuk sopan saat raffi datang yang dibalas anggukan oleh pria itu.
"Duduk dulu, makan sarapan-nya". Perintah nagita pada karl, raffi memandang nagita lalu memandang karl bergantian. Dia memberikan tatapan tajam pada lelaki itu.
"Saya sudah makan nyonya". Karl yang tau maksud dari tatapan raffi, menolak.
"Mata kamu gak sakit melototin karl terus, mas?". Sindir nagita. Ia tau pasti jika suami-nya itu yang membuat karl menolak.
—Wedding story—
__ADS_1
Raffi berjalan dengan angkuh saat memasuki kantor, dengan karl yang setia mengikuti di belakang-nya.
Pria yang sekarang berstatus suami itu memang terlihat berbeda jika berdiri dihadapan karyawan-nya. Angkuh--tampan--menyeramkan.
"Pagi pak!".
"Selamat pagi pak raffi".
Berbagai macam sapaan di terima-nya, raffi hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Karl, jadwal pagi ini?". Tanya raffi pada sekertaris pribadi-nya itu. Mereka memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
"Pagi ini jadwal anda kosong, tuan". Jawab karl. Raffi mengangguk dalam diam.
Ting!
Lift terbuka dilantai 50, raffi kembali berjalan menuju ruangan nya."Tuan". Panggil karl.
Raffi duduk di kursi kekuasaan nya, dia mendongkak menatap karl yang berdiri dihadapan nya sambil menyodorkan ponsel."Nyonya catrine, menelfon anda".
"Raffi!". Catrine disebrang sana berteriak, membuat raffi segera menjauh kan ponselnya dari telinga. Bisa-bisa pecah gendang telinga nya.
"What's wrong?".
"Kamu kapan kerumah?! Ajak nagita juga! Kamu gak tau kalo mami udah kangen banget sama mantu!". Raffi hampir saja memutar bola matanya,mengingat itu tidak-lah sopan.
"Mi, mami-kan tau raffi sibuk dikantor. Lagian hari ini Nagita mau ke rumah bapak nya, nginep dua hari disana". Beritahu raffi pada catrine.
"Kamu, tu, ya. Sebelas-duabelas sama papi kamu! Kerjaan mulu yang diurusin". Omel catrine.
"Kalo gak kerja raffi bakal ngasih makan anak-istri raffi sama apa, mi?".
Disebrang sana, catrine berdecak kesal. "Mau kamu ngasih makan satu negara juga duit kamu gak bakal habis! Makanya jangan pelit".
__ADS_1
"Raffi gak pelit". Elak nya.
"Kamu pelit! Apa yang udah kamu kasih buat istri kamu? Emas? Berlian? Batu mulia? Mas kawin aja papi sama mami yang siapin!!".
Raffi meringis mendengar ucapan sang ibu. Benar juga, dia belum memberikan apapun untuk istrinya itu. Akh! Apa ini yang menyebabkan nagita selalu marah-marah setiap pagi?.
Bagaimana jika nagita memberitaukan hal itu pada media? Mengumumkan jika nagita bahkan belum mendapatkan apapun dari raffi--- selain uang bulanan?! Bagaimana jika nagita menggelar konfersipers, bagaimana jika, bagaimana jika! Akh! Jiwa kaya-raya raffi langsung bangkit memikirkan segala kemungkinan itu.
—Wedding story—
To be continue
Haii gaes!
Aku mau tanya beberapa hal sama para pembaca WS
Apa tanggapan kalian tentang cerita ini?
Judul filem yang kalian pernah tonton, yang berkisah tentang pernikahan?
Jangan lupa jawab di kolom komentar ya! See you bay-bay!
__ADS_1
Vote dan saran.