Wedding Story

Wedding Story
Enam Belas ( Kehidupan Baru )


__ADS_3

Hari ini aku disibukkan dengan beberes barang barang yang kemaren baru kami bawa dari rumahku yang lama. Kini aku sudah sah memyandang status sebagai istri, dan yatim piatu.


sesaat setelah ijab kabul minggu lalu di rumah sakit, ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Duniaku berasa berhenti saat mengetahui fakta bahwa ibu telah meninggalkan ku untuk selama lama nya. Ibu seakan akan sudah mengetahui bahwa dia akan pergi, makanya dia ngotot agar aku menikah dengan kak fadil.


Rasanya aku belum percaya dengan kehidupanku yang sekarang. Bagaimana aku akan menjalankan peranku dikehidupanku yang baru seperti sekarang. Aku berharap ini awal dari bahagiaku bersama keluarga kecilku, kak fadil dan anak gemoy ku fiona.


" Bunda..." fiona masuk dengan langkah kecilnya dari luar kamar


Aku tersenyum melihat wajah asamnya fiona. Tadi dia tidur dikamar omanya. lalu ku tinggal beberes barang barangku di kamar kak fadil


ku rengkuh tubuh mungilnya agar naik ke pangkuanku


" ada apa?"


" Kenapa bunda tidak menemani fiona bobo" adunya dengan gaya ngambek ala ala bocah


Aku gemas melihat tingkah lakunya. mungkin fiona sudah terbiasa tidur denganku. memang sebelum pindah kerumah kak fadil. fiona dan kak fadil sudah tinggal dirumah ku dulu sama ibu. Karena masih harus ada tahlilan dirumah. setelah selesai barulah kami pindah kemaren.


Aku sebenarnya sudah bilang sama kak fadil, gak perlu ikutan tinggal dirumah ku. Tapi kak fadil tetap saja ngotot dan nginap dirumahku, plus si centil fiona yang tidak mau ketinggalan.


" Anak bunda ngambek hemm?" Tanyaku membujuk


Aku yang mengerti fiona masih dalam mode pura pura merajuk pun mati matian nahan tawa. bisa bisa nya anak umur 3 tahun, ehh belum genap tiga tahun, bisa masang gaya ngambekan ala anak ABG


" Bunda kan lagi beres beres sayang, biar cepat selesai, terus bisa menemani fiona bobo lagi"


" Bunda minta maaf deh ya" lanjut ku lagi saat ucapanku tadi tak digubris fiona sama sekali


" Tapi bunda janji dulu, jangan pernah meninggalkan fiona kalo lagi bobo"


Aku mengangguk mengiakan " siap tuan puteri" Kataku sambil membuat gaya menghormat ke arah fiona


" fiona tidak mau jadi tuan puteri. Maunya princess aja bunda" protes fiona


Aku tersenyum, padahal princess sama tuan puteri itu sama. emang anak kecil

__ADS_1


Kak fadil datang dengan wajah lelahnya. iya, mulai semalam kak fadil sudah mulai bekerja di kantor milik orang tuanya plus ngurusin kafe yang baru dia rintis. sebenarnya kak fadil gak suka berbaur dengan dunia perkantoran, namun atas desakan mamanya dia tidak ada pilihan lain. Aku jadi semakin bersalah sudah jadi beban untuk kak fadil


"Salim dulu sama ayah gih" perintahku pada fiona dengan lembut.


Fiona mendekat ke arah kak fadil yang sedang membaringkan dirinya disisi kiri ranjang. Aku dari sisi kanan ranjang melihat aksi fiona, hatiky jadi menghangat.


Aku ingin membiasakan fiona untuk lebih dekat dengan ayahnya. Karena selama ini dari kacamataku pengamatanku, kak fadil memang dekat dengan fiona, tapi fiona seperti ada rasa takut dengan kak fadil.


" Mau minum mas?" Tanyaku


" Air putih saja" Jawabnya


Aku mengangguk, mengiakan permintaannya mengambil air putih ke dapur.


Mengenai panggilan ku terhadap kak fadil, itu adalah perintah dari mama nya kak fadil, katanya fadil itu suamiku bukan kakak ku. Ya aku juga tau, mana mungkin aku nikah dengan kakak ku sendiri. Ya alhasil aku harus membiasakan diri, terutama di depan fiona. walaupun masih canggung


" Fadil sudah pulang re?" Tanya mama saat aku baru keluar dari dapur dengan membawa segelas air putih


Aku menghentikan langkahku " sudah ma. itu lagi dikamar sama fiona"


Mama kak fadil mengangguk paham


" Ayah, kancing baju nya masih banyak. fiona capek"


" Baru juga satu"


Bibirku refleks tertarik kesamping melihat pemandangan antara ayah dan anak itu. fiona sedang duduk diatas perut kak fadil sambil bersusah payah membuka kancing kemeja yang di pakai kak fadil


itu pasti kak fadil lagi datang usilnya, masa anak kecil disuru lepasin kancing baju sih


" kenapa sih kok ribut ribut" Tanyaku seraya mendekat kepada fiona


Ku letakkan gelasnya di nakas yang ada di samping ranjang, dan ikut duduk diantara mereka


Fiona langsung beranjak dari perut kak fadil, dan pindah duduk di pangkuanku " bunda, fiona capek. ayah suru lepasin baju ayah" Adu fiona padaku

__ADS_1


" Baru juga satu yang kamu lepas" Bukan aku yang berbicara. melainkan kak fadil yang siap mengibarkan bendera peperangan sama anaknya


" Tapi fio sudah capek" Ujar fiona lagi gak mau kalah


" Sudah sudah, omongan orang tua tidak boleh di bantah bantah terus ya sayang" aku memasehati fiona dengan lembut


Fiona mengangguk


" Air nya diminum dulu mas " ucapku pada kak fadil


Kak fadil duduk dan mengambil gelas yang ku bawa tadi. Kak fadil meminumnya habis dalam satu tegukan. Haus apa doyan tuh orang


Tanganku bergerak membuka kancing baju yang masih terbuka satu. Tidak ada penolakan dari kak fadil. Mungkin kak fadil sudah mulai luluh hatinya. semoga.


" Mas mau makan, biar rere ambilin" tawarku saat aku sudah berhasil membuka kancing baju yang terakhir


"Boleh deh, tapi aku mau mandi dulu" ucapnya. yang membuat aku senang bukan main


Aku menyiapkan pakaian santai kak fadil, saat kak fadil sudah berada di dalam kamar mandi


sedangkan fiona masih sibuk memperhatikan pergerakanku


" kita nyiapin makanan buat ayah yuk " ajak ku pada fiona.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Tapi kak fadil masih belum beranjak dari meja belajar yang kini sudah merambat menjadi meja kerja kak fadil juga.


Aku masih terus setia memandangi kak fadil yang sedang sangat fokus. sedangkan fiona sudah masuk ke dalam dunia mimpi. dan jangan lupakan tanganku yang sudah berubah profesi menjadi bantal fiona tidur


Aku ingin menghampiri kak fadil, namun takut menganggu tidur fiona dan mengganggu konsentrasi kak fadil.


Kak fadil sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan, ditambah lagi beban kerjaan. aku cukup sadar diri untuk mengganngu kak fadil


" Bantu dan bimbing rere buat jadi istri yang berbakti pada suaminya mas" harapku pelan yang kuyakini tidak akan didengar oleh kak fadil.

__ADS_1


Aku menaruh harapan besar pada pernikahan ini. Walaupun ini terjadi karena keterpaksaan. Kenapa keterpaksaan, karena sampai saat ini aku belum tau bagaimana isi hati kak fadil. dia hanya pernah bilang untuk coba membuka hatinya untukku. Tapi, ntahlah hati itu sudah terbuka untukku atau belum


yang jelas, aku mencintai kak fadil dengan sepenuh hatiku, dan aku berharap kak fadil membalas cintaku yang terang terangan padanya.


__ADS_2