
Hari ini tepat seminggu kak fadil berada di luar kota. Banyak drama yang harus kuhadapi, mulai dari anak anak yang nggak mau tidur kalo belum liat muka ayahnya walaupun cuma virtual, nggak mau makan sebelum denger sendiri suara ayahnya yang nyuruh makan. Bener bener menguras kesabaran.
Dihari kedua fayyadh demam. Nggak tau apa penyebabnya, padahal pas sore anak gantengku itu masih ceria ceria aja, tapi tengah malam mendadak rewel, ternyata penyebabnya demam. Nggak sampai dibawa kerumah sakit sih, cuma aku kompres dan alhamdulliah bangun pagi aku cek panasnya udah turun.
Besoknya, dilanjut dengan fiona. Sama kayak fayyadh juga, demam. tapi fiona lebih lama hampir 3 hari. Sekarang aja masih agak lemas badannya. Alhasil selama ayahnya diluar kota fiona cuma sekolah sehari.
Aku ngerasa nggak ada ngasih makanan yang salah ke anak anak. Jadi aku yakin anak anak demam karena terserang penyakit malarindu sama ayah gantengnya. Sama bunda juga nak. Tapi gengsi hihi.
" Kakak, udah enakan belum badannya?" Tanyaku pada fiona yang masih terlelap. Memang selama kak fadil nggak dirumah fiona tidur bareng aku dan adiknya.
Fiona melenguh terusik dari tidurnya. Kemudian menggeleng sebagai respon dari pertanyaanku " Tapi mulut kakak pait" adunya.
Aku tersenyum " Namanya kakak baru sakit. Nanti kalo udah sembuh pasti nggak pait lagi"
Fiona tersenyum menanggapi " Bunda, mau kiss" pinta fiona
" Mana yang mau di kiss?" Ku kecup seluruh bagian wajah fiona berkali kali membuat si empunya terkekeh kegelian.
" Pasti ayah " sorak fiona girang mendengar ponselku yang berbunyi.
Benar sekali. Satu panggilan vidio dari mas suami. Tanpa panjang lebar aku langsung mengangkatnya " Assalamu'alaikum" ucapku pertama.
" Waalaikumussalam" jawab kak fadil dari balik telpon sana.
" Baru bangun tidur mas?" Tanyaku. Terlihat jelas memang dengan wajah bantal kak fadil plus posisinya yang masih meluk guling.
Kak fadil cuma nyengir " Tadi habis subuhan tidur lagi hehe"
"Ayahhh" Sorak fiona heboh setelah gelendotan dipangkuanku.
" Hai cantik. Gimana uda sehat?"
Fiona mengangguk tapi detik berikutnya menggeleng. Nah. Bingung tuh pasti pak fadil
" Udah apa belum sih kak?" Tanya kak fadil gemes
" Udah, tapi mulut kakak pait" adu nya. Kalok udah gini nggak akan ada waktu buat ngobrol lagi sama kak fadil, pasti semuanya diborong anak anak.
" Nggak papa. Bentar lagi pasti nggak pait lagi. Harus rajin makan ya kak"
Fiona mengangguk " Ayah kapan pulang?" Lanjut fiona yang sepertinya pagi ini berprofesi sebagai wartawan. Banyak nanya. Wkwkw.
__ADS_1
" Nanti malam ayah udah dirumah kok. Sabar ya sayang"
Fiona udah nggak bisa nyembunyiin rasa bahagianya. Langsung semangat begitu dibilang ayahnya bakalan pulang. Tadi wajah lesu jelas terpampang ditambah bibir yang masih pucat. Sangat mengkhawatirkan. Tapi sekarang udah mulai ceria. Memang cuma ayahnya yang bisa jadi penawarnya.
Setelah mendapat kabar bahagia tentang ayahnya, fiona pamit mau ketemu oma. Paling mau pamer kalo ayahnya mau pulang.
Nah, bicara soal mama. Seminggu ini hubunganku dengan mama sudah makin membaik. Mama udah mau ngajak aku ngobrol, nonton tv bersama anak anak. Pokoknya udah makin membaik. Dan cerita bahagia ini pastinya udah sampai ketelinga suami gantengku. Habisnya aku kelewat bahagia, jadinya nggak sabar buat berbagi cerita.
" Bundanya anak anak gimana, sehat?" Tanya kak fadil yang menyadarkanku dari lamunan.
" Tadi malem aku ngidam nasi goreng yang diperempatan jalan. Tapi nggak kesampaian" aduku. Udah kayak fiona nggak sih. Hihi.
" Kenapa nggak kesampaian?"
Aku mengerucutkan bibirku " siapa yang mau beliin?"
" Kan ada supir mama sayang"
Aku menggeleng yakin " takut ngerepotin"
Kak fadil mengubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk " yaudah nanti aku pulang kita beli ya"
Mataku langsung berbinar mendengar penawaran kak fadil " Beneran ya"
" jagoan aku mana nih?" Tanya kak fadil yang nggak ngeliat keberadaan anak keduanya itu.
" Lagi bobo nih" kuarahkan hp nya menampakkan fayyadh yang lagi terlelap dengan jempol tangan kananya yang udah nyelip dimulutnya.
" yaudah kalo gitu aku siap siap dulu ya re. Biar cepet sampe rumah nya"
Aku mengangguk " hati hati nanti dijalannya mas" peringatku
" Iya bunda. Ehh sayang, pengen nyapa yang diperut dong" pinta kak fadil sebelum menutup telponnya.
Aku terkekeh, padahal belum keliatan kalo aku lagi hamil. Ada ada aja nih bapak " udah bisa nendang belum sih re"
" Ya belum lah. Masih 2 bulan juga. Ngarang aja" .
" Hehe siapa tau aja kan. Yaudah aku tutup telponnya ya "
Aku mengangguk dan berikutnya sambungan telpon terputus.
__ADS_1
****
" Ehh ma, kok ngepel. Biar rere aja ma"
Saat aku turun ke bawah pandanganku langsung tertuju pada mama yang lagi ngepel. Padahal mama belum terlalu fit. Lagian itu biar aja jadi tugas aku
" Mama istirahat aja. Ini biar rere" pintaku dengan harap.
" nggak papa re. Mama capek kalo duduk diem terus. Nggak ada keringat yang keluar " ucap mama tanpa menghentikan aksi ngepelnya.
" Tapi ma, ntar pinggang mama sakit. Mama kalo mau cari keringat, olahraga diluar aja. Panas mataharinya masih bagus ini"
" mending kamu ngerjain yang lain. Ini biar mama. Lagian tanggung udah setengah gini" ucap mama yakin.
Aku menghela nafasku berat. Jujur aku nggak enak hati ngebiarin mama ngepel rumah selebar ini. Tapi mama tetap aja sama pendiriannya.
Mau nggak mau aku meninggalkan mama yang tampaknya sangat menikmati acara ngepelnya.
Kugeret kaki ku menuju dapur buat masak sarapan pagi hari ini.
Lama aku berkutat di dapur menikmati kegiatan masak ku pagi ini, Sampai aku dikagetkan teriakan fiona dari ruang tengah.
Aku langsung berlari ke ruang tengah. Karena khawatir mendengar teriakan fiona.
Begitu kegetnya aku melihat mama yang udah tergeletak dilantai. Dengan fiona yang udah nangis histeris di sampingnya.
" maa... kakak. Oma kenapa nak?" Tanyaku panik
" Oma. .hikss oma jatoh bund "
Aku berlari keluar rumah mencari keberadaan pak didik. Sopir pribadi mama.
" Pak.. pak didik tolongin mama" teriak ku
" kenapa atuh non?" Tanya pak didik heran
" Mama pingsan pak. Hiks bantu rere bawa ke rumah sakit " isak ku. Yang udah panik pake banget sekarang.
Pak didik bergegas menyiapkan mobil untuk kerumah sakit. Sementara aku buru buru buat ke kamar. Nggak mungkin aku ninggalin fayyadh sendiri dirumah.
Fayyadh yang masih dalam keadaan tidur segera ku gendong keluar. Dan kami langsung bergegas kerumah sakit segera.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan aku nggak henti hentinya merapalkan doa supaya mama baik baik aja. Penyesalan memang selalu terjadi dibelakang. Kalo aja aku tadi tetap nggak biarin mama ngepel. Ini nggak bakalan terjadi. Apa yang harus aku katakan nanti sama kak fadil, kalo tau mama masuk rumah sakit.
Ya allah. Ini semua salahku. Tolong mama agar baik baik aja.