Wedding Story

Wedding Story
Enam Puluh Delapan ( Alur Kehidupan)


__ADS_3

Rahasia kehidupan. Tidak ada yang mengetahuinya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa agar terus bisa bahagia. Menjalani kehidupan walaupun sebenarnya tidak sesuai yang diharapkan. Kita tidak bisa mengatur mau seperti apa alur cerita kehidupan, kita juga tidak bisa memilih ending yang bahagia atau malah sebaiknya. Intinya jalani dan syukuri. Karena sejatinya kebahagiaan itu sesuai kadar syukur kita.


Nggak terasa, sudah sebulan pasca pengandopsian faza dari panti asuhan, banyak konflik di awal, dari mulai fiona yang keberatan, sampai mama yang sedikit keberatan mengingat aku kondisinya berbadan dua. Tapi, setelah berhasil kuyakinkan, mama akhirnya perlahan menerima faza, berkat dukungan suamiku juga pastinya.


Nggak ada yang dibedakan antara mereka. Ketiganya sama sama anak ku. Begitu juga dengan kak fadil, yang nggak akan membedakan kasih sayangnya antara fiona, fayyadh dan faza. Dan itu, yang membuat aku bahagia sekarang.


Kalo ditanya repot, iya pasti. Gimana sih ngurusin 3 anak yang masih kecil kecil semua. Fiona walaupun udah sd, tapi semua semua harus ke bundanya. Padahal kadang mbak mirna mau ngebantuin, kan mbak mirna cs nya fiona tuh kan ya, tapi karena mungkin takut kekurangan kasih sayang, jadinya semua muanya aku melulu. Tapi aku senang, karena merasa dibutuhkan oleh anak anak.


Seperti pagi ini, aku harus menghadapi fiona yang lagi manja mode on. Ya gimanasih kalo anak anak lagi sakit. Kan maunya di perhatiin mulu. Tidur harus di keloni dulu, makan harus disuapin. Harus extra sabar.


" Kakak, bunda tinggal bentar ya nak. Mau liat adek adeknya dulu ya, sayang"


Fiona menggeleng lemah. Daritadi tanganku dipegang erat erat nggak mau dilepas. Padahal matanya terpejam. Takut banget kalo aku pergi.


" Nanti bunda kesini lagi kok kak. Kasian oma yang jagain dedek faza. Mbak mirna juga, pasti diusilin fayyadh terus ini"


Fayyadh sekarang memang lagi aktif aktifnya. Hobi ngusilin orang. Mentang mentang udah bisa jalan sambil megangin tembok, udah ngerasa paling jagoan dia itu. Keturunan kak fadil kalo pd tungkat dewa gitu. Bukan aku. Hihi.


" Fayyadh suka ganggu bund. Nanti rambut kakak di tarik sama adek" protes fiona yang membuat aku terkekeh. Lucu rasanya kalo ngingat gimana fayyadh ngusilin kakaknya yang lagi main, kalo dia nggak di ajak alamat deh kena ganggu mulu, sampe jambak rambut kakaknya. Kalo fiona udah nangis baru tuh berhenti, kalo belum nangis belum afdol kayaknya.


Berbagai alasan yang aku buat nggak ada satupun yang fiona terima. Akhirnya aku ngalah nungguin dia sampe bener bener tidur dulu. Setelah dirasa fiona nggak akan terusik, barulah aku keluar.


Dengan balutan daster dan perut yang udah lumayan membuncit, aku berjalan keluar kamar fiona, mencari keberadaan anak ganteng dan anak cantikku sibungsu.


Diruang tengah sunyi, ke dapur juga nggak ada. Kemana anak anak dibawa mama dan mbak mirna. Karena nggak ada orang yang kudapati. Aku melangkahkan kakiku ke kamar. Mau lihat suami gantengku udah bangun apa belum. Berhubung hari libur puas puasin deh bangun siang.


Tapi sampai di kamar, aku menatap sendu kak fadil yang sibuk masukin baju ke dalan koper. Akhir akhir ini kak fadil selalu aja keluar kota barang 2 sampai 3 hari. Malahan 1 bulan terakhir hampir tiap minggu pasti pergi.


" Ke luar kota lagi mas?"


Kak fadil menatapku sendu " Maafin aku re. Tapi ini tuntutan kerjaan"


" Besok nengokin anak bayinya aku sendiri lagi dong?" Lirihku. Mengingat kak fadil yang selalu saja sibuk saat jadwal ngeliat anak bayi.


Kak fadil menghentikan aktifitasnya yang nyusunin baju. Dia berjongkok mensejajarkan dirinya biar sejajar denganku yang lagi duduk di tepi kasur " Anak bayi.. maafin ayah lagi ya nak. Tapi lain kali ayah pasti ikut liat perkembangan kamu" ucap kak fadil pelan sambil mengusap perutku yang sedikit membuncit.


Ku usap lembut tangan kak fadil yang masih berada diperutku yang terbalut daster batik merah " Berapa hari, ayah?"


" lusa balik kok sayang"


Aku mengangguk. Mau dilarang juga nggak mungkin, yang namanya kerjaan itu udah jadi tanggung jawab kak fadil. Dia kerja juga buat aku dan anak anaknya.

__ADS_1


" Ohh iya mas. Anak-anak mana ya?" Tanyaku pada kak fadil, saat teringat aku tidak melihat keberadaan anak anak dibawah tadi.


" Jalan jalan sama oma dan mbak mirna. Katanya mau keliling komplek sih"


Aku mengguk. Pantasan rumah sepi ternyata lagi pada pergi.


" Kenapa mas?, ada yang mau diomongin?" Tanyaku pada kak fadil yang daritadi menatapku nggak berkedip.


" Jangan tinggalin aku ya re, apapun alasannya"


Aku terkekeh mendengar perkataan yang belakangan ini sering ku dengar kalo waktu waktu senggang kayak gini dari mulut kak fadil. Heran deh, emangnya aku mau pergi kemana.


" itu mulu yang kamu ucapin mas. Insya allah aku akan tetep disamping kamu sampai satu diantara kita dipanggil Allah. Ntah aku atau kamu yang pertama dipanggil"


Ku tangkup wajah kak fadil yang masih bengong menatapku sendu " Udah dong mas, mending sekarang buatin aku nasi goreng ya. Anak bayi yang minta" pintaku dengan menampakkan wajah gemes. Biar dikabulin gitu.


" Ngidam ceritanya?" Tanya kak fadil sambil senyum


" Mau nya anak bayi ini" kataku sambil mengusap usap perutku.


" Yaudah. Nasi goreng spesial buatan ayah segera mendarat buat anak bayi" kata kak fadil semangat.


****


" Darimana bang?" Tanyaku pada fayyadh yang udah berdiri sambil megangin pahaku biar nggak jatuh.


Fayyadh udah terbiasa dengan sebutan abang untuk dirinya. Ayahnya sih yang ngebiasaian semenjak ada faza.


" ain..ama oma" kata fayyadh. Anak gantengku yang udah 10 bulan itu udah bisa ngomong ya walaupun masih cadel gitu.


Aku terkekeh, ku angkat fayyadh kepangkuanku sambil menghujaninya banyak ciuman, biasanya dia bakalan risih kalo udah aku ciumin gitu " Mau nasi goren bang?" Tanyaku pada fayyadh. Fayyadh udah nggak mau asi. Nggak tau kenapa. Tapi dia nolak kalo udah mau aku kasih asi. Ya alhasil sekarang minum susu formula.


Fayyadh mengangguk. Ku suapkan sesendok nasi goreng buatan kak fadil tadi ke mulut fayyadh, yang pastinya disambut dengan sangat antusias.


Lama memangku fayyadh, aku rasanya sesek. Pasalnya fayyadh nyender diperutku. Aku mengkode kak fadil buat mindahin fayyadh ke kursi sebelah, kalo aku yang nyuruh dia pindah nggak bakalan mau.


" Bang, pindah kesini yuk. Kasian bundanya " titah kak fadil. Fayyadh nggak berontak saat dipindahin. Karena masih menikmati kunyahan nasi dimulutnya.


" Ma, faza nya biar sama rere aja" pintaku pada mama. Lagian pasti faza juga haus, dari pagi tadi belum ada nyusu.


" Ishhh gemes banget anak bunda. Udah cantik ya nak ya. Di mandiin oma ya?"

__ADS_1


" Makasih oma" kataku pada mama


Mama tersenyum. Setelah menyerahkan faza kepadaku, mama duduk disebelah fayyadh yang makannya belepotan. Nasi goreng yang baru 2 suap masuk perut, akhirnya sama fayyadh semua. Padahal belum kenyang bunda nak.


" Girang banget tadi faza di ajak jalan pagi re" ujar mama yang lagi ngebersihin mulut fayyadh yang belepotan.


" Waahh.. seneng ya nak. Di ajak oma jalan jalan ya" ujarku disela sela menyusui faza.


Obrolan larut kami dimeja makan berhenti karena rengekan fiona dari kamar. Pasti nyariin aku itu


" Mas, bawa si kakak kesini aja, pasti kecarian aku itu" kataku pada kak fadil yang udah jalan ke arah kamar fiona.


" Masih belum turun panasnya re?" Tanya mama perihal fiona.


" Udah kok ma. Tinggal manjanya aja yang masih ada itu" kataku menanggapi ucapan mama.


Fiona datang dengan muka kusutnya. Udah gede masih minta gendong.


" kenapa kakak ditinggalin" Protes fiona dengan muka sedihnya.


" Tatak..ayah atu ituu" Fayyadh udah heboh mau turun dari kursi makan, karena ngeliat fiona digendong kak fadil. Ayah bersama loh itu bang, bukan ayah kamu doang.


" Enggak..ayah kakak ini" protes fiona nggak mau kalah.


" Ayahh atuuuu.." Ucap fayyadh keras sambil mukulin piring pake sendok yang dia pegang.


" Enggak. Ini ayah kakak kok"


" Ayah tuuu"


" Ayah kakak sama adek ya nak"


" enggak "


" ndak"


Jawab fiona dan fayyadh serentak.


Aku memijat pangkal hidungku. Kepalaku mendadak pusing melihat kegaduhan ini


" Mas.. pusing aku" aduku pelan pada kak fadil.

__ADS_1


"Masih ada 1 lagi coming soon, sayang" kata kak fadil terkekeh.


Aku nggak bisa berkata apa apa lagi. Kedua adek kakak itu selalu aja bertengkar mempermasalahkan hal apa pun. Semua nggak mau kalah. Harus ekstra sabar.


__ADS_2