Wedding Story

Wedding Story
Tujuh Puluh Lima ( Fiona pergi)


__ADS_3

Ntah sudah berapa lama aku ketiduran akibat menahan kram di perutku. Keadaan kamar saat ini hening sepi, cuma ada aku. Kemana anak anak dan orang rumah lainnya. Akupun tidak tahu. Namun pertanyaanku seakan mendapat jawaban mendengar suara tangisan bayi. Aku sangat mengenal suara itu. Suara faza. Aku baru ingat, pasti faza lapar, haus juga. Pasalnya tadi belum sempat aku buatin bubur bayi nya. Maafkan bundamu ini nak.


Aku mencepol rambutku yang sedikit berantakan sebelum melangkahkan kaki menuju sumber suara. Tapi, baru saja aku ingin keluar, kak fadil sudah


masuk ke dalam kamar dengan faza yang masih meraung menangis dengan wajah merah dan berkeringat.


" Faza kenapa sayang?" Aku mendekat ke arah kak fadil yang ternyata ke kamar mencari dotan faza. Memang sekarang faza aku selingi dengan susu formula selain asi. Sebelum nanti memutuskan untuk memberhentikan asinya total.


" Biar sama aku mas" Tanyaku hati hati. Takut kak fadil akan membentakku seperti di meja makan tadi.


" Nggak perlu" jawab kak fadil ketus


" Kasian anaknya nangis gitu mas" kataku lirih yang udah nggak tega karena melihat faza menangis sesenggukan.


Kak fadil menatapku nyalang " Sama fiona tadi kamu nggak ada kasihan nya sama sekali. Fiona sampe nggak mau ke sekolah gara gara sikap kamu re"


Aku semakin merasa bersalah mengetahui fakta tentang fiona yang mogok sekolah karena permasalahan pagi tadi.


" Aku jadi berfikir, selama ini kamu cuma pura pura sayang sama fiona"  Mataku membulat mendengar tuduhan kak fadil " Tega kamu nuduh aku kayak gitu mas. Fiona itu anak aku, aku tulus sayang sama dia" jawabku dengan air mata yang udah berlinang.


" Anak kamu cuma fayyadh sama faza doang. Aku rasa kamu cuma pura pura sayang sama fiona"


" iya. Fiona memang bukan anak yang aku lahirin, tap-"


" Bunda beneran nggak sayang sama kakak?"


Ucapanku terhenti dengan fiona yang muncul di depan pintu kamar.


" Kakak.. nggak gitu nak. Bunda sayang sama kakak" Aku berjalan mengahmpiri fiona yang udah menunduk sambil terisak.


" Karena fiona bukan bunda yang lahirin kan?"


Aku menggeleng keras " Kakak jangan ngomong gitu. Bunda nggak suka sayang"

__ADS_1


Fiona menatapku dengan tatapan kekecewaan. Aku tau itu, dia pasti kecewa sama aku.


" Ayahh.. Anterin fiona ke rumahnya mama ya. Fiona mau di sana aja"  pinta fiona pada kak fadil.


" Kakak mau ninggalin bunda. Bunda sayang sama kakak.  Maafin bunda yang tadi pagi. Bunda kayak gitu cuma karena bunda takut kehilangan kakak, sama adek adek kamu juga kak"


Sekarang aku udah nggak tau mau gimana lagi. Aku takut kalau fiona benar benar mau tinggal sama mamanya. Bukannya aku melarang fiona buat ketemu mamanya. Tapi kalo fiona mau menetap di sana aku nggak rela.


Fiona pergi ke luar kamar tanpa memperdulikan aku yang udah lemas takut fiona bakalan benar benar pergi. Fiona itu udah besar. Dia udah bisa merasakan cemburu dan sakit hati. Seharusnya aku mengerti akan hal itu. Tapi aku cuma mentingin ego aku sendiri. Sekarang aku menyesal dengan tundakanku sendiri.


" Mas.. jangan  ijinin fiona tinggal sama mbak fania plis. Aku mohon"


" Kamu yang membuat semuanya jadi kayak gini" Kata kak fadil menusuk. Setelahnya dia pergi menyusul fiona keluar kamar. Meninggalkanku dengan rasa penyesalan diselimuti rasa takut akan kehilangan fiona.


****


Aku semakin lemas melihat koper mini milik fiona udah berada di ruang tengah. Aku nggak bisa biarin ini semua. Aku melangkah cepat ke kamar fiona. Di sana udah ada kak fadil dan juga mama yang lagi ngebantuin fiona beres beres.


Aku terduduk lemas di lantai. Lututku rasanya udah bergetar hebat. Nggak mampu lagi untuk menopang aku berdiri. " Kakak beneran mau ke rumah mama fania. Bunda ijinin, tapi nggak boleh lama lama. Satu malam aja cukup ya nak. Itu baju kamu kebanyakan. Bunda kurangin ya"  Kataku dan semangat mau berdiri mengurangi isi koper fiona yang penuh dengan baju.


" Fiona mau tinggal sama mama hiks" Kata fiona lirih.


Aku menggeleng kuat " Kakak kan bobo nya harus bunda usap dulu kepalanya. Nanti siapa yang mau usapin kepala kakak kalo disana sayang"


" Ada mama fania. Kan mama yang lahirin fiona. Pasti mama mau" Kata fiona yang membuat hatiku semakin sakit.


" Udah renata. Biarin fiona ke rumah mama nya nak" ucap mama.


" Tapi ma-"


" Fiona mau sekarang di anterin ke rumah mama ayah".  Kata fiona memotong percakapanku dengan mama.


" Mas aku mohon. Bujukin fiona" pintaku lirih.

__ADS_1


Kak fadil cuma diam. Aku tau dia pasti marah sama aku. Karena dari dulu, kak fadil nggak pernah ngijinin fiona buat tinggal sama mbak fania. Sekalipun mbak fania itu udah berubah.


Aku bertekad untuk berhasil bujukin fiona sebwlum dia benar benar pergi dari rumah ini.


Aku menarik tanga fiona yang hendak masuk ke dalam mobil. " Tangan fiona sakit hiks" Lirih fiona


Aku beru tersadar kalo aku udah kasar sama fiona " Maafin bunda kak. Tapi bunda mau kamu masuk lagi ke dalam ya. Jangan tinggalin bunda kak hiks" aku memohon dengan sangat sama fiona.


" FIONA NGGAK MAU" Teriak fiona yang membuat aku terkejut dengan sangat .


" KAMU KASAR BANGET RENATA!!" Kata kak fadil membentakku. Tapi aku tidak memperdulikan itu. Sekarang fiona yang paling penting. Aku terus menarik tangan fiona agar tidak jadi untuk pergi.


" Lepasin tangan kamu dari fiona" Kata kak fadil dan menarik tanganku dari fiona sampai aku terjatuh


" Aww" lirihku. Aku jatuh terduduk di teras rumah.


" Fadil.. nggak gitu nak. Kamu keterlaluan  kalau sampai kayak gini" kata mama menasihati kak fadil


" Fadil harus ngelakuin ini ma" kata kak fadil.


Setelah mengatakan itu. Kak fadil menuntun fiona untuk masuk ke mobil. Aku nggak bisa untuk menahan fiona lagi untuk tinggal. Pasalnya perutku sedikit sakit. Untung saja kandungan ku tidak apa apa. Benturannya tidak terlalu kuat dan beresiko.


" Ayo masuk renata" ajak mama lembut padaku.


" Mama nggak marah sama aku. Karena udah buat fiona nggak mau tinggal di sini lagi?" Tanyaku lirih  dan sedikit putus as.


Mama mengeleng " Jangan terlalu di pikirin. Nanti beresiko sama kandungan kamu"


" Renata nggak tau gimana hidup renata nggak ada fiona ma. Baru 5 menit renata udah rindu gini. Gimana kedepannya" isak ku.


Mama langsung membawaku ke dalam pelukannya. " Kamu yang kuat  sayang. Mama yakin, kamu bisa menghadapi ujian ini. Jangan nangis lagi"


Aku mengeratkan pelukanku pada mama. Nggak tau bagaimana hancurnya aku kalau misalnya nggak ada mama yang menguatkan aku. Rasanya bersyukur sekali karena mama yang udah kembali jadi sosok ibu untukku yang menganggap aku putrinya bukan sebagai menantunya.

__ADS_1


__ADS_2