Wedding Story

Wedding Story
Enam Puluh Sembilan ( Oleh Oleh )


__ADS_3

Apalagi kebahagiaan orang tua selain melihat anak anaknya selalu tersenyum ceria. Apa saja akan dilakukan demi kebahagiaan anak, sekalipun itu menggadaikan kebahagiaan diri sendiri.


Dulu, aku juga pernah diposisi menjadi anak yang paling terbahagia di dunia. Ayah dan ibuku selalu memberi kasih sayang yang lebih dari cukup di dalam kondisi keuangan yang minim. Apa yang anak anak lain punya, dulu ayah pasti berusaha buat aku agar juga punya seperti anak anak yang lain. Sempat dulu aku berpikir, seharusnya orang tuaku nggak perlu berbuat diluar kemampuan mereka hanya agar aku bahagia. Ternyata membahagiakan anak adalah cara mereka untuk membahagiakan diri sendiri, walaupun sulit caranya. Dan aku sekarang berada di fase itu, berusaha memberi yang terbaik untuk anak anak ku.


Kepulangan kak fadil setengah jam lalu dari luar kota disambut meriah oleh anak anak. Ntah rindu ayahnya atau cuma nungguin bingkisan oleh olehnya. Pokoknya mereka bertiga, fiona fayyadh, dan faza tentunya yang berada dalam gendonganku lagi asik nungguin kak fadil keluar dari kamar mandi, buat ngebersihin diri.


" Ayahhhh" Heboh fayyadh sambil berjalan sempoyongan ke arah kak fadil


Dan, hap. Kaki jenjang kak fadil yang masih make handuk udah di tangkup fayyadh. Nggak sabaran banget sih nak.


" Apa ganteng. Rindu ayah iya?"


Kak fadil meraih fayyadh dari bawah untuk dibawa ke gendongannya dan menerbangkan fayyadh ke atas yang langsung buat fayyadh girang, tapi berhasil juga buat aku jantungan. Aku udah sering ngelarang tuh bapak bapak, kalo terjadi apa yang nggak diinginkan gimana. Tapi tetep aja di lakuin. Emang batu.


" Ayahh.. Oleh oleh buat kakak mana?" Tanya fiona yang udah mulai kesel nungguin ayahnya. Kenapa pada nggak sabaran sih.


" Nggak ada oleh oleh buat kakak" kata kak fadil sambil berjalan menghampiri anak gadisnya yang selonjoran di kasur king size kamar kami.


Nah kan, ngusilin lagi pasti. Udah jelas jelas aku liat tadi banyak bawa tentengen paper bag kok. Apalagi isinya kalo bukan oleh oleh buat anak anaknya. Tapi ya seperti biasa, nggak fadil namanya kalo nggak buat anaknya kesel dulu.


" Peluk dulu ayah baru di kasih oleh oleh." Kata kak fadil jail. Sekarang dia udah duduk di sebelahku di tepi ranjang, lagi ngegodain fiona yang udah sedikit kesel.


" ihh nggak mau kakak" tolak fiona dengan tegas.


"Nggak peluk nggak ada oleh oleh" ancam kak fadil yang berhasil membuat fiona sontak duduk semangat.


" Peluk bunda aja deh ya, yah?" Ucap fiona bernegoisasi sama ayahnya.


" Kalo gitu minta oleh olehnya sama bunda"


Mataku terbuka lebar mendengar ucapan kak fadil. Bisa bisanya ngomong gitu ya. Aku aja dirumah terus dengan daster kebanggaanku. Malah dimintain oleh oleh.


" Mas.. udah ah. Udah jam 9 ini. Udah waktunya anak anak tidur. Kasih aja oleh olehnya kalo memang kamu ada bawa" tegurku akhirnya membuka suara.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, fiona pergi meninggalkan kamar kami dengan membawa paper bag berisi boneka dora emon kesukaannya pastinya, tapi sebelum keluar tadi, kak fadil dapat kecupan singkat dari fiona, ucapan terimakasih katanya.


Faza udah tidur. Anak perempuan bungsuku itu juga dapat oleh oleh dong dari ayahnya, boneka juga sama kayak kak fiona. Padahal belum ngerti ya anak bayi 3 bulan di kasih oleh oleh gitu.


Kalo si ganteng juga udah tepar disebelah faza. Dengan meluk robotan baru hadiah dari ayahnya. Jadi, semenjak ada faza, kami tidurnya berempat, nggak bisa mepet mepet ke aku tuh kak fadil. Hehe.


Kak fadil udah ngusulin buat fayyadh tidur sendiri, tapi aku nggak mau. Gimana kalo dia jatuh dari tempat tidur. Secara fayyadh itu aktifnya luar biasa. Nanti aja kalo udah umur 2 tahun.

__ADS_1


Baru aja sampai rumah, sekrang kak fadil masih sibuk di depan laptop. Banyak banget ya kerjaannya, sampe udah tengah malam gini nggak bisa ditunda besok. Istirahat gitu loh. Istrinya juga pengen di perhatiin gitu, mumpung anak anak udah tidur. Seharusnya sekarang waktunya buat bundanya.


" Mas.."


Kak fadil menyauti cuma dengan dehaman. Nggak noleh sama sekali ke aku. Kesel kan?.


" Nggak ada yang kelupaan nggak?" Tanyaku yang membuat kak fadil menatapku dengan dahi yang berkerut. Bingung mungkin


" Apa?"


" Kamu belum tua tua banget loh. Masa udah pelupa sih" Jawabku sedikit kesel.


" Beneran deh re. Aku nggak paham"


Aku memutar mataku malas " oleh oleh buat anak bayi yang di perut mana?" Tanyaku sambil menunjuk perutku.


Kak fadil malah terkekeh. Diletakkannya laptopnya yang tadi di pangku, dan berjalan menghampiriku yang selonjoran di ranjang.


" Mau minta oleh oleh aja harus pake anak bayi. Gengsian kamu re" kata kak fadil mengejek.


" Ihh apaan. Kakak kakaknya semua dapet. Masa yang di perut nggak dapet. Anak kamu juga ini kalo kamu lupa, mas"


Bukannya menjawab, kak fadil malah membuka laci nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. Di serahkannya kotak hati berwarna merah kepadaku. Aku sedikit bingung. Ini maksudnya apa.


Dengan ragu aku membukanya. Mataku berbinar kagum melihat isinya adalah kalung permata, cantik banget.


" Buat anak bayinya nanti aja kalo udah lahir. Sekarang buat bundanya dulu" kata kak fadil. Di ambilnya kalung yang ada ditangankub" sini biar aku pakein" tawar kak fadil yang langsung ku angguki.


" Makasih mas"


" Anything for you, re" jawab kak fadil.


Aku langsung memeluk kak fadil erat. Rasanya rindu walaupun cuma 2 hari ditinggal tapi serasa kayak sebulan. Waktu itu lama banget berputar.


****


Tidurku terusik karena mulas yang kurasakan di perut. Kulirik kasur sebelah ternyata kak fadil udah tidur. Tadi aku pamit tidur luan karena udah nggak sanggup nahan ngantuk kalo harus nungguin kak fadil selesain kerjaannya. Ntah tidur jam berapa suamiku itu, tapi yang jelas Gurat wajah lelah jelas terpampang diwajahnya.


Lama aku mengusap usap perut ku yang udah nggak datar lagi untuk mengurangi rasa mulas, walaupun nggak ada kurangnya sama sekali. Atensiku beralih ke nakas yang diatasnya ada hp kak fadil bergetar. Layarnya terang. Siapa yang mengirim pesan kepada suamiku dini hari begini.


Karena penasaran, ku ambil hp dari atas nakas, dan terlihat 1 buah pesan dari aplikasi hijau itu

__ADS_1


mas.. tadi nyampe jam berapa di rumah?


Dahiku berkerut. Siapa yang ngirim pesan seperti ini pada kak fadil. Tapi setelah ku perhatikan lagi, ternyata itu nomor yang tidak dikenal. Aku jadi bernafas lega, mungkin itu orang iseng atau orang salah sambung. Aku nggak boleh suudzon sama suamiku.


Kantukku seakan lenyap karena menahan mulas di perutku. Punggungku juga rasanya nyeri banget. Mau ngebangunin kak fadil tapi kasihan. Tapi asli aku nggak nyaman kalo harus nahan gini terus.


" Mas.." mau nggak mau aku terpaksa bangunin ayahnya anak anak.


Mata kak fadil terbuka sedikit. Ngantuk banget pasti dia


" Punggung aku nyeri banget" aduku


Kak fadil memaksakan dirinya untuk bangun dan menatapku dengan iba " Sakit?" Tanya kak fadil dengan suara khas bangun tidur.


Aku menganggung mengiyakan.


Kak fadil berjalan mendekat ke arahku " Mau di olesin minyak?" Tawar kak fadil


Aku mengangguk lagi. Berharap nyerinya bisa berkurang.


Kak fadil dengan telaten mengusap punggungku dengan minyak seraya memijatnya pelan sesekali.


" Besok besok nggak usah gendongin faza lagi"


" Ya nggak bisa lah mas" tolakku.


"Biar nggak sakit punggung gini re"


" Bukan karena gendongin faza. Dulu hamil fayyadh juga sering nyeri gini kok" jelasku.


" Kok aku nggak tau?" Tanya kak fadil


" Yaiyalah. Dulu kan kamu nggak peduli sama aku" jawabku asal


" Maaf " satu kata dari kak fadil yang berhasil membuat aku menyesali perkataanku barusan.


" Nggak papa mas. Sekarang ya sekarang. Masalalu biar jadi pelajaran buat bahan evaluasi di masa depan, biar kita nggak ngelakuin hal yang sama untuk kesekian kalinya."


" Makasih re" ucap kak fadil


Aku tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


Tidak ada gunanya mengingat ingat kesalahan orang lain terlalu dalam, karena akan berakibat menjadi dendam. Biarkan menjadi pelajaran untuk menata hidup di masa depan. Sambut kebahagiaan yang menantimu di sudut persimpangan jalan.


__ADS_2