Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh Empat (Fiona Sakit)


__ADS_3

Hari ini genap tujuh hari kak fadil di luar kota. Selama itu pula kak fadil cuma dua kali menghubungiku. pertama memberi kabar kalau dia sudah tiba di penginapan, dan malamnya saat kak fadil mau tidur. Selain itu tak pernah sama sekali. Aku juga sudah beberapa kali menghubunginya karena paksaan fiona, tapi hp nya tidak aktif. mungkin kak fadil sibuk pikirku


" Bunda...kakak kangen ayah" Rengek fiona yang terbaring lemah dengan kompresan di keningnya.


Ntah sudah berapa kebohongan yang ku katakan pada fiona bahwa ayahnya akan segera pulang. karena aku juga tak tahu mau berbuat apa. tidak mungkin kan aku bawa fiona menyusul ayahnya


" Iya sayang, bentar lagi ayah pulang. Masih dijalan pasti" Ucapku menenangkan fiona. Seharusnya memang hari ini adalah jadwal kepulangan kak fadil, kalau memang dia menepati janjinya akan pulanh setelah seminggu


" Kakak mau makan apa, biar bunda suapin ya?" Tanyaku pada fiona, berharap dia bisa melupakan tentang ayahnya sejenak


Fiona menggeleng, air matanya terus mengalir. Aku jadi tak tega melihat anakku seperti ini. segitu rindunya dia sama sayahnya


" Ayah bohong lagi sama kakak" lirih fiona dengan suara lemahnya


Hatiku terasa teriris mendengar penuturan fiona. aku sudah sering bilang ke kak fadil, fiona itu sudah besar, sudah bisa megang janji janji yang diberikan ke dia. Jadi ginikan, anak sendiri ngecap ayahnya sebagai pembohong


" Kakak, tidak boleh begitu ya nak. Ayah kan lagi kerja, biar bisa beli boneka yang banyak buat kakak" ucapku berusaha memberi tahu fiona. Karena aku tak mau fiona beranggapan buruk terhadap ayahnya


" Tapi boneka kakak sudah banyak bund, ayah tidak perlu pergi pergi lagi, kakak tidak mau boneka lagi"


Ku usap air mataku yang nggak sengaja jatuh. Dewasa sekali pikiran anak ku ini. " Kakak bobo saja lagi ya, nanti pas kakak bangun, ayah pasti sudah ada disini" Kataku yang sebenarnya tidak yakin. Aku aja tak tahu kapan ayah dari anak anak itu akan kembali. Setidaknya fiona bisa tenang walaupun sebentar


Aku tidak beranjak dari tempat tidur fiona. dia sudah berhasil ku tenangkan dan sekarang lagi tidur. Aku berharap kak fadil pulang sebelum fiona bangun, agar aku tak perlu memberi ucapan ucapan bohong kepada anak gemesku ini lagi


" Bu, bapak sudah pulang" Mbak mirna datang ke kamar fiona memberi tahu ku


Senyum ku mengembang " Titip fiona ya mbak" Pintaku pada mbak mirna sebelum menemui kak fadil


Aku membuka pintu kamar kami dan benar saja disana sudah ada kak fadil yang sedang ganti baju. Dahiku mengernyit. Mau pergi lagi?

__ADS_1


" Mas" ucapku sambil menghampirinya


Kak fadil tersenyum kepadaku. Aku mendekat kearahnya dan mengambil alih kegiatannya yang sedang mengancing kemejanya " Mau pergi lagi?" Tanyaku


" Ada yang harus aku selesain sayang"


Aku menghembuskan nafas kecewaku " Kalau nunggu si kakak bangun dulu bisa? .Dia rindu sama kamu mas" ujarku memberi tahu.


Kak fadil mengusap rambutku " Aku usahain pulangnya lebih cepat ya"


Ku perhatikan kak fadil yang sedang merapikan rambutnya di depan kaca. padahal aku sudah senang sekali kak fadil sudah pulang, fiona pasti juga senang sekali kalau tahu ayahnya sudah pulang. tapi kalau begini caranya kak fadil seperti menomor satukan pekerjaannya dan menomor duakan keluarga.


" Aku pergi dulu ya" Pamitnya.


Apa yang bisa ku perbuat lagi sekarang, selain berfikir keras untuk membuat alasan kepada fiona


****


sudah berbagai cara ku perbuat agar fiona tenang, tapi tetap saja dia merengek memanggil ayahnya. Kak fadil dari tadi ku telpon tak ada jawaban. Padahal katanya pulangnya tak lama. Tapi ini sudah jam 9 kak fadil belum tiba tiba juga.


" Mbak mirna, badan fiona makin panas deh" Kataku pada mbak mirna. Aku cemas sekali sekarang. Aku bingung mau berbuat apa


Mbak mirna memegang dahi fiona dan membenarkan ucapanku " Kita bawa ke rumah sakit saja bu" Saran mbak mirna


" Mbak, pegangin fiona bentar ya. Rere mau mesan taksi online dulu"


Aku sudah tak bisa lagi membendung tangisku. Rasanya campur aduk, takut melihat keadaan fiona, ditambah kecewa sama kak fadil yang sama sekali tidak muncul saat dibutuhkan keberadaannya.


" Ayahhh" Racau fiona masih terus memanggil ayahnya

__ADS_1


" iya sayang, kita ke rumah sakit ya nak" lirihku memandang iba anak gemesku yang biasanya aktif, tapi sekarang terkulai lemah seperti ini.


" Sabar ya bu" Mbak mirna mengusap lenganku.


Mbak mirna ku minta agar ikut menemani ku ke rumah sakit membawa fiona.


" Fiona pasti baik baik saja kan mbak hiks" Tanyaku pada mbak mirna


" iya bu. Kita berdoa bu, semoga fiona baik baik saja" ujar mbak mirna, yang iba melihatku


Aku beruntung dapat mbak yang seperti mbak mirna. Yang bisa aku jadikan tempat curhat dan sharing. Kadang mbak mirna bisa jadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ibu yang selalu menasihati anaknya.


Aku daritadi tak bisa berhenti mengeluarkan air mata saat dokter menyarankan agar fiona di rawat inap. Fiona ternyata kena gejala tipus.


Aku berulang kali menyalahkan diriku, aku tak becus jadi ibu sampai sampai anak ku harus di infus gini dirumah sakit


Rasanya aku mau menggantikan posisi fiona yang kesakitan saat jarum suntik untuk infus mengenai lengannya. Tapi apalah dayaku sekarang selain menangis


Ku cek hp ku. Aku tersenyum hambar. Bahkan kak fadil taj ada nelpon aku balik. Apa dia tidak khawatir saat istrinya nelpon berulang kali seperti itu. padahal sudah hampir jam 12 malam sekarang, apa kak fadil belum pulang kerumah. Apa tak ada rasa cemas meninggalkan anak yang masih kecil dan istri yang keadannya sedang hamil tua


" Mbak mir, tidur di sofa saja. Biar rere yang jaga fiona" Ucapku saat melihat mata mengantuk mbak mirna


" Ibu saja yang tidur atuh bu. Kasian dede bayinya" Tolak mbak mirna


Aku menggelengkan kepalaku. Aku mau menunggu fiona sampai sadar. Aku tak mau terlewatkan perkembangan kesehatan anak ku sedikitpun


" Tidak papa mbak. Nanti kalau rere ngantuk pasti rere tidur" .


Mbak mirna akhirnya menuruti perkataanku. Dia merebahkan tubuhnya di sofa yang disediakan pihak rumah sakit di ruangan ini. Aku sebenarnya tak enak karena harus menyulitkan mbak mirna. Tapi bagaimana lagi. Aku sangat butuh mbak mirna sekarang

__ADS_1


Diruang serba putih yang hening ini, mataku masih terjaga. Menunggu anak gemesku ini membuka matanya, dan tersenyum ke arahku. Aku bahkan bisa menghitung detik jam yang berputar bergerak memenuhi ruangan ini sekarang. Di ruang yang sepi ini, aku menangis dalam diam. pekerjaan seperti apa yang sebenarnya ditugaskan kepada kak fadil. Sehingga tak bisa menerima telpon walaupun sejenak. Atau Paling tidak balasan pesan singkat. Ntahlah, aku berharap tak ada yang disembunyiin kak fadil dariku. Aku mau pernikahan kami baik baik aja. Dan semoga dia baik baik saja.


__ADS_2