
" Mbak mir, fiona mana?" Tanyaku begitu sampai rumah tidak melihat sosok anak cantiku itu
Mbak mirna yang merasa terpanggil menoleh ke arahku dan meninggalkan kegiatan cuci piringnya " Anu bu, dibawa nyonya oma"
Aku mendadak lemas, kenapa mama tidak bilang dulu ke aku kalau mau bawa fiona. Perasaan tidak enak mulai bermunculan di imajinasiku apa ini ada kaitannya dengan sikap mama belakangan ini
" Mama belum ada bilang ke aku dulu ya" lirihku ntah bicara kepada siapa
" yasudah sih re, namanya juga omanya. ya bebaslah dia mau bawa cucunya" ujar nana yang memang ikut mampir kerumahku
Aku menggeleng tidak percaya, air mata pun turut menambah kesan betapa sedihnya aku ditinggal anak perempuanku " Apa aku kurang becus jadi ibu buat fiona ya na?" Tanyaku pada Nana
Nana membawaku kedekapannya " Kamu itu hebat Re, Di usia semuda seperti kamu sekarang sudah bisa jadi istri sekaligus ibu yang baik"
Nana melepaskan pelukannya, dibawanya tanganku ke perutku " ingat dia re. Jangan setres setres ya"
Tadi setelah pulang sekolah, sesuai rencana, kami langsung ke apotek. Bukan kami sih, lebih tepatnya Nana. Karena aku memilih menunggu dimobil, dan Nana yang pergi buat beli testpacknya.
karena Nana yang super duper kepo, dia memaksaku untuk mengeceknya di toilet pom bensin, yang kebetulan tidak jauh dari apotek tempat kami beli testpack tadi. Awalnya aku menolak, tapi Nana tetap memaksaku dengan alasan kalau dirumah aku tidak akan ada waktu buat menggunakan testpack kalau sudah ketemu fiona
Memang benar sih, kalau sudah sama fiona, makan saja terkadang lupa. Tapi siang ini beda, Saat aku pulang sekolah fiona tidak beraada dirumah
Dan hasilnya ya, Positif. Awalnya aku juga tidak menyangka dan belum percaya. Ada kehidupan yang tumbuh di rahimku. Nana menyarankan ku untuk mengecek menggunakan 5 testpack sekaligus. Aku juga tidak mengetahui kenapa Nana bisa sepintar itu urusan beginian. Apa betul nana sekarang hobi ngenovel, tapi Nana kan malas baca.
" Makasih ya Na. sudah selalu ada buat Aku" Ucapku melow
Nana tertawa terbahak bahak. memang paling jago merusak suasana tuh perawan. Tapi aku tetap sayang sama sahabatku yang satu itu. tidak bisa lagi diuangkapan dengan kata kata pokoknya
"Aku pulang ya bumil" Pamit nana padaku
Aku seperti tidak rela nana pulang " Bentar lagi sih na" larangku
Nana sudah siap siap berdiri dan merapikan seragam sekolahnya yang sudah sedikit lecek " udah sore Re. Nanti mamaku khawatir" Jelas Nana
Aku memanyunkan bibirku
" Mending istirahat sana. Ingat jangan capek capek. jaga baik baik keponakan aku" nasehat Nana padaku. Kalau begini aku merasa mempunyai sosok ibu lagi.
__ADS_1
Bicara tentang ibu, aku jadi rindu ibu. Aku harus ke makam ibu buat ngasih kabar kalau ibu bentar lagi bakalan jadi nenek.
" hati hati" Titahku pada Nana setelah nana berada dimobilnya
" iya.. tidak usah sedih gitulah aku pulang" Ucap nana pd. padahal sudah didalam mobil masih sempat sempatnya ngeledekin
Aku memutar mataku malas " Iyuhhh. mana mungkin aku nangisin perempuan jadi jadian kayak kamu"
" Oke Re, makasih pujian nya. Aku pulang" Tuntas nana dengan membunyikan klakson sebelum mobilnya melaju meninggalkan pekarangan rumah
Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Nana. Terkadang nana bisa jadi sosok ibu untuk ku, dan terkadang nana bisa jadi sosok anak kecil, yang mengharuskan aku jadi sosok ibu, kakak dan sekaligus sahabat untuknya.
Aku menutup mulutku yang menguap, kantuk mulai datang bertamu. padahal sudah sore, mau tidur juga nanggung. Tapi, rasa kantukku kali ini tidak bisa diajak kompromi, apa bawaan bayi ya
" anak bunda ngantuk ya sayang" tanyaku pada janin diperutku. Ku usap lembut mencurahkan kasih sayang kepada buah hatiku dan kak fadil
Ku kunci pintu dari dalam, karena sekarang cuma ada aku dirumah. Mbak mirna tadi pamit pulang lebih cepat, karena ada urusan katanya.
Aku memilih berbaring dikursi panjang yang ada diruang tamu, dengan alasan agar aku bisa buka pintu kalau kak fadil pulang, kalau dikamar takut tidak kedengaran.
****
kubuka mataku yang masih berat untuk dibuka. Kulihat pencahayaan yang minim, diruang tamu ini. Sudah berapa lama aku tidur, sampai malam begini
" Mas, sudah pulang?" Tanyaku saat sadar yang mengusik tidurku adalah kak fadil
kulihat jam di dinding ternyata sudah pukul 8. Aku tersadar, aku melewatkan sholat maghribku
" kenapa tidak tidur dikamar hem?" tanya kak fadil lembut. Aku terharu dengan perlakuan kak fadil sekarang. sangat berbanding dengan sikapnya pagi tadi padaku
" Nunggu mas pulang" Ucapku sambil mencoba duduk
Aku baru tersadar, kalau fiona belum dipulangkan oleh omanya. Aku menangis, saat khayalan tentang mama yang mau misahkan aku dengan fiona berputar diotak ku.
" mas, Fiona pergi " Aduku pada kak fadil dengan disertai air mata
" hey, kok nangis sih. " Ucap kak fadil seraya membawaku kepelukannya.
__ADS_1
rasanya nyaman sekali, aku merindukan pelukan yang sebulan terakhir ini nggak lagi kurasakan karena perubahan sikap kak fadil terhadapku.
" Rere tidak becus jadi bundanya fiona ya mas?" tanyaku pada kak fadil
" Kamu ngomong apa sih. Kamu itu bunda terbaik buat fiona, dan Istri terbaik untuk aku"
Kak fadil menatap lekat mataku, aku terkejut dengan pengakuan kak fadil tadi, istri terbaik katanya
" Maafin sikap buruk aku ke kamu. Maafin juga kata kata menyakitkan yang aku ucapin ke kamu. Aku akan berusaha jadi suami yang baik buat kamu sekarang " kata kak fadil sambil tak hentinya mengecup lembut rambutku. tidak ada kebohongan dimatanya.
Aku tidak bisa membendung tangisku lagi, tangis bahagia tepatnya. Apa ini rezeki dari bayi yang akan hadir ditengah tengah keluarga kecilku
" Makasih ya mas"
Aku membawa tangan kak fadil mengarah ke perutku. Aku ingin memberitahukan tentang janin yang tumbuh dirahimku. Kak fadil menatap ku bingung, aku tersenyum menunggu reaksi kak fadil
" Ada hasil dari malam itu re?" Tanya kak fadil meyakinkan
Aku mengangguk, Aku sedikit takut kak fadil enggan untuk menerima kehadiran bayi yang ku kandung.
Aku melepaskan tangan kak fadil yang tadi kubawa ke perutku " Mas tidak suka ada dia?" tanyaku takut
Kak fadil kembali membawaku kepelukannya " Aku bahagia Re" jelas kak fadil yang membuat aku lega akhirnya
" Hai anak ayah. Kamu baik baik disini ya sayang" Kak fadil sudah beranjak ke arah perutku mengajak anaknya berbicara.
" Iya ayah" Jawabku dengan gaya bicara anak kecil
" sejak kapan?" Tanya kak fadil.
Aku yang mengerti arah pertanyaan kak fadil pun menceritakan awal mula aku mengetahui kehadiran malaikat kecil di perutku. Kak fadil juga merasa bersalah dengan pertengkaran kami pagi tadi.
Aku tidak tahu apa yang membuat kak fadil kembali baik kepadaku, dan mau berusaha mencintai aku layaknya seorang istri. Yang jelas aku sangat bahagia akan hal ini
" Kamu sudah makan atau belum mas?" Tanyaku pada kak fadil yang membaringkan kepalanya di pahaku, dengan menghadapkan wajahnya ke perutku. Pasti seneng banget deh dede bayi, disambut bahagia oleh ayahnya.
" nanti saja Re" tutur kak fadil sambil mengarahkan tanganku untuk mengusap usap rambutnya.
__ADS_1
Aku jadi teringat bulan ke dua pernikahan kami kak fadil sudah mulai terbiasa denganku. dia selalu melakukan hal seperti ini kalau aku lagi duduk seperti ini, terkadang sampai berantem sama fiona. Ya memang dasar kak fadil suka jailin anaknya sendiri, dia tidak akan pindah dari pahaku sebelum fiona nangis. dan hatinya puas karena merasa berhasil mengganggu fiona
Aku sangat berharap ini dapat bertahan selamanya. Adapun permasalahan, aku dan kak fadil dapat menyelesaikannya dengan baik. sampai tak ada kata perpisahan.