
Kamar bernuansa klasik dengan perpaduan warna yang pas, sangat menunjukkan karakteristik si pemilik kamarnya yang menyukai ketenangan. Kamar yang dulu pernah ku tempati selama seminggu setelah menikah ini, masih sama seperti terakhir kali ku tinggalkan. Nggak ada yang berubah disini, tatanannya masih sangat rapi. Walaupun nggak di tempati, aku yakin kamar ini masih rutin di bersihkan karena debu yang menempel pun tak tampak sedikitpun.
Ku lihat foto pernikahan yang terpajang rapi di nakas dekat tempat tidur. Hatiku menghangat. Mengingat bagaimana lantangnya kak fadil mengucapkan namaku saat ijab kabul yang sangat dadakan itu. Tapi nggak ku pungkiri rasa bahagia yang nggak bisa untuk ku ungkapkan setelah resmi menyandang status sebagai istri dari seseorang yang selalu mempunyai tempat khusus di hatiku.
" Bundaaa.."
Aku segera meletakkan foto yang dari tadi ku pegang yang membawa aku pada kenangan saat pertama menikah dengan kak fadil
" Kenapa kak?" Tanyaku pada fiona yang datang menghampiriku di ranjang
" Bunda udah nggak sakit lagi?" Tanya fiona dengan mata sembabya. Habis nangis sepertinya
Ku usap lembut rambutnya yang di kuncir satu. Pasti mbak mirna sih yang nguncirin. " Bunda udah nggak papa kak. Buktinya bunda udah disini"
" ini kenapa matanya sembab gini. Kakak habis nangis?" Tanyaku sambil mengusap lembut matanya yang sangat kentara sembabnya
" Hiks..hiks opaa.. hiks"
Fiona tiba tiba menangis " Opa kenapa kak?" Tanyaku. Karena samar samar aku mendengar fiona menyebutkan kata opa di sela sela isakannya
Fiona menghambur kepelukanku. Ku usap punggungnya berusaha menenangkan " kenapa sayang" Tanyaku lagi
" Hiks..opa tadi mukulin ayah hiks"
Aku sangat terkejut. Jadi luka memar di wajah kak fadil itu ulah papa. Tapi kenapa
" Kakak takut bund" Lanjut fiona lagi
" Iya kak. Udah ya jangan nangis lagi" Ku usap air matanya yang berlinang. Anak mana yang nggak sedih liat ayahnya di pukuli di depan matanya sendiri.
" Sekarang ayah dimana?"
Fiona menggeleng. Aku menghembuskan nafasku berat. Sebenarnya ini ada apa sih. Kenapa seakan akan semuanya disembunyikan dariku.
" Kakak udah makan?" Tanyaku pada fiona yang masih menyandarkan dirinya padaku dengan sisa sisa isak tangisnya
Fiona menggeleng " kakak mau makan sama bunda" Katanya
Aku tersenyum, ternyata anak cantik ku ini masih membutuhkan bundanya " Ohhh mau makan cama bunda ya. Manja banget cihh kakak" Kataku lembut dengan meniru suara anak kecil " Tuh kak, dibilangin adeknya kakak manja"
Fiona sontak menegakkan badannya yang tadi nempel nempel denganku " Adek, kata ayah nggak boleh iri" Kata fiona yang membuat aku kembali teringat kak fadil. Banyak hal hal kecil yang udah di ajarkan kak fadil sama anaknya walaupun kadang mereka suka berantem, tapi kak fadil punya caranya sendiri buat ngedidik anaknya
" Emang ayah pernah ngomong gitu kak?" Tanyaku. Padahal aku tau kejadian nya waktu kak fadil ngomong gitu ke fiona. Cuman aku mau ngetes daya ingatnya fiona aja.
" Itu loh bund, waktu kita makan nasi goreng malem malem, terus bunda manggil 2 orang anak anak yang kayak fiona ini gedenya"
__ADS_1
" Hemm terusss?" Tanyaku sambil terus menyimak
" Terus kakak marah, karena bunda beliin mereka juga. Terus bunda meluk meluk sama cium mereka"
Kejadiannya itu udah lama. Waktu aku lagi hamil hamil dua bulan. Ceritanya lagi ngidam gitu, hehe . jadi ceritanya pengen makan nasi goreng yang dulu sering aku datengin tiap habis gajian dari fotokopian. Terus aku ngajak kak fadil buat makan disitu, ya fiona mana pernah mau ketinggalan. Dia harus tetap eksis dimanapun dan kemanapun orang tuanya pergi , apalagi kalau aku yang udah mau pergi, behhh, dandan sikit aja udah heboh ditanyain mau kemana.
" Terus ayah bilang gini. Kakak nggak boleh iri sama orang, itu nggak baik. Kakak kan bisa di peluk sama cium bunda tiap hari. Mereka kan cuman sekali ini." lanjut fiona menceritakan semunya sangat lengkap pikirku
Aku tersenyum bangga kepada fiona " Tapi kakak tetep aja ngambek ke bunda kan?" Tanyaku mencoba menggoda fiona
Fiona tersenyum malu " Nggak, kakak nggak ngambek" katanya beralasan. Padahal jelas jelas sepanjang perjalanan pulang dari tempat nasi goreng dia diem aja. nggak ada ngomong ke aku
" Masa sih kak?"
" Iya tau bund, kakak nggak ngambek. Kakak kan nggak baperan kayak bunda kata ayah"
Aku sontak membelalakkan mataku mendengar ucapan fiona. Bener bener kak fadil, selain ngajarin yang baik ternyata yang buruk juga nggak ketinggalan
" Bunda nggak bapera-"
" Itu suara ribut ribut dimana kak?" Tanyaku langsung pada fiona menghentikan ocehanku masalah baperan dengan fiona
fiona menggeleng
" Pa, fadil mau ketemu rere pa"
" Pergi kamu dari sini!!. Malu saya punya anak laki laki berengsek seperti kamu!!!"
" Mass" Teriak ku hiteris saat melihat kak fadil yang terduduk di lantai dengan wajah yang makin parah lebamnya dan penuh luka
Ku hampiri kak fadil " Mass..kenapa bisa gini sih" Tanyaku sambil menangis
" Rere lepaskan dia" Perintah papa tegas
Aku menatap papa dengan tatapan bertanya tanya " Ini kenapa sih pa?. Kenapa papa mukulin mas fadil kayak gini?"
" Mas kenapa?" Ucap ku terus bertanya tanya. Nggak ada satu orang pun yang mau menjawab pertanyaanku
" Ma, bawa rere ke kamarnya" Perintah papa ke mama
" Ini semua ada apa sih. Kenapa nggak ada yang mau ngasih tau aku" sudah habis kesabaranku. Melihat suami yang udah babak belur begini. siapa yang nggak emosi
" Re..maafin aku ya" Ucap kak fadil akhirnya membuka suara
" Ayo sayang, ikut mama nak" ucap mama membujuk ku
__ADS_1
" Rere nggak mau ma" Tolak ku.
Ku tatap kak fadil dengan tatapan iba " Papa kenapa mukulin kamu mas. hiks Kamu ada buat salah apa?" Tanyaku sambil menatap lemah ke arah kak fadil
" Tolong cerita ke rere mas. Jangan buat rere terus bertanya tanya. Hati rere sakit liat mas kayak gini." kataku dengan tangan mengusap sudut bibir kak fadil yang mengeluarkan darah karena sobek bekas tinjuan
" Fania hamil" Ucap kak fadil. Aku terdiam masih menunggu lanjutan pernyataan yang baru saja dilontarkannya
" Rere nggak ngerti mas" ujarku memang belum mengerti sama sekali jalan pembicaraan kak fadil
" Fania hamil anak aku"
Bagai di sambar petir. Aku langsung terduduk lemas di lantai, dengan air mata yang makin deras " Rere salah denger kan mas?" Tanyaku berharap apa yang ku dengar tadi adalah salah
Kak fadil menggeleng " Maafin aku re"
" kenapa mas?, kenapa kamu tega lakuin ini ke aku" Kataku lemah
" Rere nggak becus jadi istri, apa rere nggak becus jadi bundanya fiona. Rere salahnya dimana mas hiks" Tanyaku bertubi tubi. Dimana letak kesalahanku sampai sampai suamiku bisa ngelakuin hal sebejat ini
" Re, udah nak ayo sayang" Mama kembali membujuk ku.
Aku terus menggeleng " Ma, rere udah gagal jadi istri. Dimana letak kesalahan rere ma hiks"
Mama sekarang udah berjongkok di sampingku " Kamu wanita hebat re. Bukan kamu yang salah. Tapi suami kamu yang nggak tau diri nak"
" Maafin anak mama" Kata mama sambil terus memeluk ku erat
Kulepaskan pelukan mama " Rere butuh waktu untuk menenangkan hati" Kataku
Aku berdiri dari duduk ku. Aku berjalan dengan gontai. Aku tau semua orang menatap ku dengan pandangan iba. aku nggak butuh belas kasihan dari mereka semua. Dimana letak kesalahanku. Kenapa masalah terus saja menghampiri ku. Kenapa seakan akan kebahagiaan dilarang untuk datang dan menetap dalam hidupku. Dosa apa yang ku lakukan dimasa lalu ya Tuhan, sampai sampai seberat ini hukuman yang sekarang harus kudapatkan
" Re tunggu re"
" Diam disitu fadil. Pergi kamu dari rumah papa. Selesaikan urusan kamu. Dan ingat, semua fasilitas kamu papa ambil!!"
" Fadil nggak masalah papa mau ambil semuanya. Tapi biarin fadil sama istri fadil pa"
" Masih ada muka kamu nyebut istri menantu papa, ha"
" Pa stop. Anak kamu bisa mati" Teriak mama histeris
Aku masih mendengar mereka. Bahkan aku masih mendengar papa yang kembali bertubi tubi memukuli kak fadil, aku kecewa sama kak fadil, tapi kalau melihat ayah dari anak anak ku itu di pukuli orang hatiku sama sekali nggak rela, walaupun itu papanya sendiri.
Aku tetap berjalan menuju kamar. Ntah keputusan apa yang akan ku ambil setelah ini. Semoga aku nggak salah langkah.
__ADS_1