Wedding Story

Wedding Story
Enam Puluh Dua ( Maaf dan Terimakasih)


__ADS_3

Apakah luka yang lebih pedih bagi seorang ibu selain kehilangan anaknya. Belum tau bagaimana wujudnya tapi sungguh menyisahkan luka yang sangat dalam karena kepergiannya.


Aku nggak tau siapa yang harus disalahkan atas kejadian ini. Tapi untuk saat ini rasa kecewal ah yang mendominasi.


Rasanya aku nggak percaya kalo dokter bilang anak ku udah nggak ada. Dia nggak bisa di selamatkan. Aku kecewa sama diriku sendiri, sebagai ibu nggak bisa becus menjaga anaknya.


Perasaan ku saat ini. Jujur, aku takut untuk kembali mengandung. Aku nggak tau ini namanya trauma atau apa, yang jelas aku nggak mau hamil kembali. Aku nggak mau jadi pembunuh darah dagingku sendiri. Apa aku ibu yang buruk?


" hikss..maafin bunda ya nak. Yang nggak bisa mempertahakan kamu" bisikku lirih.


Ruangan kosong putih ini. Di keadaan sepi begini. Aku sendirian disini. Siapa yang membawaku kesini pun aku nggak tau. Yang jelas aku terbangun hanya disambut oleh dokter dan suster yang lagi didalam ruanganku


" Re.. lo udah sadar?" Pintu rawat inap dibuka asal dan menampilkan nana yang heboh setengah mati.


" Gue nggak papa na" Jawabku, bohong. Iya kebohongan besar, karena didalam lubuk hati paling dalam tersimpan luka yang amat sangat besar.


" Bayi gue udah nggak ada na" Ucapku lirih


Nana menatapku sendu " Reee.."


" Gue ibu yang buruk kan na?"


Nana menggeleng keras. Dia udah nggak bisa nahan buat nggak mewek " jangan bilang gitu. Lo itu wanita hebat" ucap nana menyemangati.


" Sebenarnya ada apa sih re. Apa yang terjadi?" Tanya nana


Aku refleks teringat anak anak. Dimana mereka siapa yang jaga mereka selagi aku disini " na, anak guebdimana na?" Tanyaku nggak sabaran .


" Sekali aja pentingin diri lo bisa?" Tanya nana dengan penuh tekanan.


Aku menatap nya nggak suka " Ya nggak bisa lah na. Aku khawatir sama anak anak aku"


" Tapi anak anak lo nggak bakal kenapa napa renat-"


" lo nggak bakal tau. Karena lo belum punya anak" selaku.


" Sekarang dimana anak anak gue. Ini jam berapa, fiona belum di jemput disekolah na" kataku sedikit frustasi. Aku takut mereka kenapa napa. Cukup kesedihan mereka hari ini. Jangan ditambah lagi.


" Gue nggak bakal kasih tau anak anak lo dimana, sebelum lo cerita semuanya sama gue" Ketus nana


" Ya apa yang mau lo tau, gue keguguran lo pasti udah tau na"


" lo habis ribut sama kak fadil?" Tanya nana penuh slidik


" luka disudut bibir, siapa pelakunya?" Kali ini nana menatapku dengan sangat serius.

__ADS_1


" Kak fadil kan?" Lanjut nana kembali menyelidik


Nana itu orangnya nekat. Kalo sampe dia tau kak fadil main tangan sama aku, dia nggak bakal segan segan buat geret kak fadil ke polisi. Dan aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau anak anak pisah sama ayahnya.


" Bu..kanlah. ngarang aja lo"


" Lo nggak bisa bohong sama gue re. Bukan sehari dua hari gue kenal sama lo. Lagian, kenapa kak fadil harus nyuru gue dateng kesini buat jagainlo. Kenapa nggak dia aja. kalo kalian nggak lagi ada masalah"


Aku menggeleng tak yakin. Brarti kak fadil sama sekali nggak peduli sama aku dan anaknya. Sampe sampe nana yang nungguin aku dirumah sakit. Tega sekali kamu mas.


" sekarang dia dimana na?" Tanyaku dengan tatapan kosong.


" noh diluar. Daritadi nggak mau masuk. Malah gue yang disuruh masuk. Ini gue yakin nih habis ribut" ucap nana menerka


Aku mengangguk lemah pertanda jawaban atas pertanyaanku yang menanyai kak fadil " anak anak gue mana na?" Tanyaku yang rindu berat sama anak cantik dan gantengku.


" gue titipin sama Aldo" jawab nana singkat yang membuat aku tergelak kaget.


" Na.. emang aldo bisa ngurus fayyadh?" Tanyaku sedikit syok. Masalahnya fayyadh masih bayi umur 6 bulan. Diri aja belum bisa. Gimana bisa aldo yang pecicilan ngurusin dua bocah.


" Bukan dia yang jaga. mamanya" jelas nana yang membuat aku sedikit lega.


" Naa, telpon Aldo dong bawa anak anak kesini. Gue kangen" cicitku.


Fyi, nana sma Aldo itu rencana mau nikah. Rencana awalnya sih, setelah aldo lulus kuliah. Tapi nana yang ngebet minta cepet cepet di halalin, takut aldo kepincut cewek lain di kampusnya. Dikira nikah muda itu indah, ya walaulun emang indah, tapi banyak juga nggak enak nya.


" Masa sama calon suami gitu" godaku pada nana


" Ihh mual gue denger lo ngomong gitu re" ucap nana menggidik geli.


" Ayo dong na, gue ngida-"


" Ape lo, mau bilang ngidam. Lo udah nggak hamil lagi" pangkas nana


" upss..re. asli gue nggak sengaja" kata nana merasa bersalah.


" Nggak papa na. Kan yang lo bilang bener" lirihku yang kembali teringat luka, yang sempat sedikit ku lupakan beberapa menit tadi.


" Gini deh, gue ke rumah Aldo dulu buat jemput anak anak lo ya" kata nana meberikan usul buat jemput anak anak.


Aku mengangguk " Makasih ya na. Maaf juga udah ngerepotin"


Nana mengangguk lalu meraih sling bag nya di nakas. " gue pamit re"


" Na, panggilin kak fadil ya" pintaku yang di angguki oleh nana .

__ADS_1


****


Keheningan menyelimuti kami berdua, aku dan kak fadil. Cukup lama aku menunggu kak fadil masuk kedalam ruangan ini, tapi setelah masuk keheningan yang terjadi. Ini gimana sih, apa nggak mau gitu minta maaf, nyesel, atas apa yang terjadi.


" Re.."


" Udah nyesel kamu?" Kataku memotong ucapan kak fadil.


" Atau belum puas. Karena aku nya masih hidup?". Sebenarnya niat awal aku juga nggak mau marah marah, karena gimanapun kak fadil pasti juga terluka kehilangan anaknya. Tapi gimana lagi, liat wajahnya nggak bisa nahan buat nggak marah. Gimana teganya dia nyiksa aku tadi. Sungguh aku mau menghapus bayang bayang mengerikan itu secepat mungkin. Terlalu sakit buat di ingat ingat.


" Aku pembunuh ya re" ujar kak fadil lirih yang membuat hatiku sedikit teriris mendengarnya


" Aku ayah apa sih re, yang udah buat nyawa anaknya melayang. Aku berengsek kan re. Aku berengsek" kak fadil memukul mukul wajahnya sendiri dengan sangat kuat. Pasti sakit banget rasanya. Aku yang melihatnya saja meringis.


" Stopp, nggak ada gunanya kamu nyakitin diri kamu sendiri, nggak akan ngembaliin semua kayak semula" lirihku menghentikan kak fadil yang menyakiti dirinya sendiri.


Kak fadil luruh ke lantai dengan isak tangis yang menyertai. Ingin rasanya aku memeluknya menguatkan bahunya yang biasanya kokoh, sekarang bergetar menahan tangis " Aku harus gimana buat nebus kesalahan aku re"


"Mas..berdiri kesini" panggilku pada kak fadil. Aku nggak bisa marah lama sama ayah anak anak. Hatiku lembek dibuat cinta. Sehingga seburuk buruk salah kak fadil dengan sangat mudah ku maafkan, walaupun terkadang masih membekas. Dan mungkin ini yang akan paling membekas.


Kak fadil berdiri disebelahku serta menatapku dengan penuh luka.


" Ada fiona sama fayyadh yang masih butuh kasih sayang kamu mas"


" Yakinkan mereka untuk menghapus ingatan tentang kejadian pagi tadi. Terlebih fayyadh yang menyaksikan semuanya"


Begitu terkejutnya aku mendapat pelukan tiba tiba dari kak fadil. Pelukan yang beberapa hari ini ku rindukan, dan sekarang aku kembali bisa merengkuh tubuh kekar suamiku itu.


" Maafin aku re" isak kak fadil


Aku mengangguk yakin di dekapannya " Jangan ikutin ego kamu kalo lagi marah mas. Aku sama anak anak takut" lirihku juga yang udah nggak bisa menahan tangis lagi.


" Maafin aku sayang..maaf..maaf " ucap kak fadil bertubi tubi.


" udah mas. Aku sesek" ujarku yang membuat kak fadil menyudahi acara peluk pelukannya.


Kak fadil menatap ku lekat, disentuhnya sudut bibirku yang terluka yang mengakibatkan aku sedikit meringis " Kamu nggak mau bales aku "


Aku mengangguk semangat " mau. Tapi nanti kalo aku udah siuman. Sekarang tenaga aku belum kuat buat ngehajar kamu " ucapku dengan disusul tawa kecil.


Kesedihan, bukan untuk dipupuk semakin tumbuh subur di dalam diri. Kesalahan seseorang bukan untuk diingat ingat sampai menjadi dendam yang dalam. Cobalah untuk ikhlas dan memaafkan, itu lebih baik untuk hati dan kehidupan.


Begitulah yang sekarang sedang ku usahakan. Bukan aku nggak terluka kehilangan anak. Tapi ini udah takdir, yang ditetapkan Tuhan dan merupakan pilihan hidup kita. Jalani dan terima dengan lapang dada, mudah mudahan akan datang kebahagiaan yang menyertai.


Maafin bunda nak, dan terimakasih udah sempat singgah dikehidupan bunda dan memberi warna walaupun hanya beberapa waktu. Jangan benci kedua orang tua kamu sayang, terlebih ayah. Karena sebenarnya ayah juga sangat menanti kehadiranmu. Yang tenang disana, bunda nggak akan lupa kalau kamu adalah anak ke 3 bunda. Doa bunda akan senantiasa tercurah untuk kamu sayang. Maaf dan terimakasih

__ADS_1


__ADS_2