Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh Lima ( Bohong?)


__ADS_3

Sebenarnya aku mau marah sama kak fadil, aku kecewa, tapi itu hanya tertahan di angan angan saja, saat melihat fiona begitu senang saat ada ayahnya di sampingnya, mengajaknya ngobrol dan bercanda.


Subuh tadi kak fadil baru heboh nelponin aku nanya kami dimana. Karena rumah kosong, mbak mirna masih dirumah sakit nemenin aku. Lama banget baru sadar, apa nggak ada hatinya sedikit terpanggil anaknya terus manggilin dia


" Kakak..makan dulu ya" Pujuk ku lembut pada fiona. Namanya anak lagi sakit, musuh terberatnya ya makan


Fiona menggeleng lemah " Pahit bund" Tolak fiona


Aku menghembuskan nafas lelah. Jujur aku capek banget sekarang. Aku sama sekali nggak ada tidur malam tadi.


" Makan dong anak ayah, kan biar sembuh" Kak fadil yang duduk disebelah fiona mencoba membujuk anaknya.


" Nanti kalo udah sembuh, ayah ajak jalan jalan"


" Nggak usah janjiin anak aku apapun. kalo kamu nggak yakin bisa nepati" Ucapku keceplosan yang nggak sadar sekarang masih ada fiona


Aku langsung mengalihkan pandanganku pada fiona " Makan ya kak, nanti buburnya nangis kalo nggak di makan"


Fiona berfikir sejenak " Emang makanan bisa nangis bund?"


" Bisa dong. Dia kan sedih nggak dimakan"


Aku mengrahkan sendok yang berisi bubur itu kemulut fiona " Jadi kakak harus makan, biar buburnya nggak nangis" . Fiona membuka mulutnya. untung saja drama makanan nangis masih di yakini oleh fiona


Di ruangan ini cuma tinggal kami bertiga. Mbak mirna udah pulang dari dua jam yang lalu. katanya nanti dia datang lagi buat bawa baju ganti untuk ku. Padahal aku nggak ada minta. Penampilan bukan hal yang penting sekarang, tapi kesembuhan fiona yang menjadi prioritas


" Kamu udah makan re?"


" Belum" Jawabku singkat. Pertanyaan yang nggak berfaedah sama sekali. Padahal dia daritadi liat aku disini aja ngurusin fiona.


" Aku ke kantin dulu kalo gitu, beli sarapan" Katanya


Aku hanya berdeham menanggapi ucapannya


" Bunda kenapa sama ayah?" Tanya fiona setelah kepergian ayahnya


"Nggak kenapa kenapa sayang" Jawabku sambil sekali lagi menyuapkan fiona

__ADS_1


" Bun, hp ayah bunyi" Ujar fiona yang udah mengenal suara dering hp ayahnya.


Aku berjalan ke arah sofa yang menjadi tempat sumber suara, Dahiku mengernyit, Fania?. Nama yang terpampang di layar hp nya


Saat ingin ku angkat, telponnya terputus. Namun detik selanjutnya ada whatssap masuk dari fania. Aku yang memang mengetahui pola kunci layar kak fadil pun dengan cepat membuka aplikasi hijau tersebut " Dil, kirim foto kita yang berdua tiga hari yang lalu itu dong" Begitulah isi pesan singkat dari fania. 3 hari yang lalu, berarti saat perjalanan kantor kak fadil ke luar kota. Aku tersenyum getir, Dia bohongi aku lagi?


****


" Re, makan dulu" Kalimat itu terus yang diucapkan kak fadil dari saat baru pulang membeli beberapa bungkus makanan


Aku cuma menggeleng, nafsu makan ku ilang total saat membaca pesan dari fania


" Kak, mau apel nggak?" Tawarku pada fiona. Dia mengangguk. Aku langsung mengambil satu buah apel dan mengupasnya untuk fiona


" Bund, fiona kangen sama sisi, bombom sama popi deh bund" Adu fiona


Aku terkekeh mendengarnya, tiga nama yang disebutkan fiona itu adalah boneka pilihan yang sangat di sayangi fiona diantara banyak boneka yang ada dikamarnya


Ku serahkan beberapa potongan apel yang udah ku kupas bersih pada fiona " Makanya kakak harus sembuh. Biar bisa bobo bareng mereka lagi"


" Kakak udah sembuh. Bilangin sama bu dokternya kakak mau pulang" Rengek fiona


" Mau apel nya lagi?"


" Ayah mau apel nggak" Bukannya menjawab pertanyaanku, fiona malah menawarkan pada ayahnya


" Ma-"


" Ayah bisa kupas sendiri kak" ucapku cepat memotong jawaban yang ingin diutarakan kak fadil


Aku tau, kak fadil dari tadi ngeliatin aku yang lagi sama fiona terus. Mungkin dia berasa kalo sikap aku agak beda ke dia, Tapi itu juga karena kesalahannya dia.


Fiona udah tidur sekarang, mungkin efek minum obat. Sekarang ruangan ini jadi sangat hening karena nggak ada lagi ocehan dari fiona. Kak fadil juga diam, nggak ada buka suara. Padahal aku berharap dia mau cerita perihal fania


" Tadi fania nelpon" ujarku


Aku dapat melihat ekspresi terkejut fania. Pasti ada yang ditutupi kan?

__ADS_1


" Dia ngomong apa?"


" nggak sempet di angkat" Jawab ku seadanya


" Dia kangen fiona mungkin"


Aku memutar mataku malas " Kangen ayahnya fiona lebih tepatnya" ujarku pelan.


Kak fadil menatapku tajam. Aku yakin dia denger apa yang barusan aku ucapkan.


" Re, aku tau aku salah. Nggak ada waktu buat kalian. Sampai fiona sakit aja aku nggak tau"


Aku udah nggak mau dengar penjelasan dia. pasti ujung ujungnya minta maaf. Udah khatam aku soal beginian


Aku merebahkan badanku di sofa. Sambil nunggu fiona bangun, lumayan mengistirahatkan badan sejenak " Kalo mau minta maaf, udah aku maafin" Ujarku dengan mata yang udah ku tutup.


Nggak ada yang diucapkan kak fadil lagi, mungkin dia mengira kalau aku udah tidur. Padahal aku cuma mejamin mata. Kalo aku terus melek, pasti kak fadil ngomong terus, dan aku pasti lawan apa yang dia bilang. Aku nggak mau berantem depan anak, apalagi ini fiona lagi sakit dan kondisinya sekarang kami ada di rumah sakit, aku nggak mau buat keributan


" Tolong, jangan buat permasalahan"


Aku menajamkan telingaku. Kak fadil ngobrol sama siapa. Ku buka sedikit mataku, ternyata dia lagi nelpon


" Kita udah selesai, aku udah punya kehidupan baru. Fania"


Ternyara yang nelpon fania. Kan benar dugaan ku, di luar kota kak fadil ketemu sama fania


" Anggap hari itu nggak pernah terjadi di antara kita. Cari kebahagiaan kamu" kata kak fadil setelah itu mematikan sambungan teleponnya.


Aku buru buru menutup kembali mataku. Takut ketahuan kak fadil, kalo aku nguping pembicarannya di telpon tadi


" Aku akan menyelesaikan masalah yang aku buat sendiri. Biar rumah tangga kita nggak ada yang ngusik sayang" Kak fadil mengusap kepalaku


Aku sadar kak fadil datang menghampiriku dan berjongkok menghadapku yang tidur. Pura pura tidur sih tepatnya.


Masalah apa yang dimaksud kak fadil, apa yang disembunyikannya sebenarnya. Kalo aja kak fadil mau jujur dan terbuka sama aku, pasti nggak ada kesalah pahaman di antara kami. Yang membuat aku terus menduga duga dan menerka nerka, apa sebenarnya yang dilakukan oleh suamiku


Aku merasakan perutku di elus oleh tangan kak fadil " Jagoan ayah, kalo kamu udah besar jangan tumbuh jadi laki laki berengsek kayak ayah ya. Yang bisanya nyakitin hati perempuan terutama bunda kamu" lirih kak fadil

__ADS_1


Kak fadil menangis?. aku mendengar isakan disela sela perkatannya. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari keluarga kamu mas. Ingin rasanya aku membuka mataku dan menanyakan semuanya, tapi aku tahan. Bukan ini saatnya


__ADS_2