Wedding Story

Wedding Story
Dua Puluh Empat ( Terakhir Sekolah)


__ADS_3

Aku menikmati pemandangan sore hari di teras samping rumah. Fiona sedang pergi bersama ayahnya beli cemilan. Biarkan saja fiona menguras habis uang kak fadil. Siapa lagi coba yang mau menghabiskan kalau bukan aku sama fiona. hihi


Belakangan aku sering berfikir, diusiaku yang masih 17 tahun sudah menjadi seorang istri dan bentar lagi mau jadi ibu dari dua anak. Apa ini definisi berkembang sebelum waktunya. Aku juga tidak tahu pasti sifat keibuanku muncul darimana. Tapi , dulu waktu masih TK aku suka main boneka dan aku yang jadi ibunya, ntahlah, yang jelas aku suka sama anak anak.


" Re, Anak kamu berhasil buat tipis dompet aku hari ini" ya begitulah kak fadil, kalau yang jelek jelek pasti melimpahkannya ke aku


Aku menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Fiona memilih langsung duduk disampingku . Kulihat kak fadil menenteng banyak kantong belanjaan, yang kuyakini punya fiona semua.


" Beli apa saja. Kok banyak sekali sih kak?" tanyaku pada fiona


Aku memang membiasakan memanggil fiona dengan sebutan kakak semenjak aku hamil. Dan fiona senang sekali begitu tahu dia mau punya adik


" Buka cuman buat kakak bun. Kan ada dede bayi" ucap fiona sambil menciumi perutku yang sedikit membuncit. Wajar sih, udah 3 bulan usia kehamilan


Aku terkekeh mendengar jawaban fiona. Ku usap kepala fiona dengan sayang " Adenya kan belum bisa makan Sayang" ucapku memberi tahu


" Yasudah kalau begitu berarti sekarang semuanya buat kakak saja, nanti kalau dedeknya sudah keluar beli lagi sama ayah" ucap fiona beralasan


" kan, memang dasar buat kamu semua" sambut kak fadil menanggapi ucapan fiona


" Yasudahlah mas. Masa berantem terus sama anak sih" Leraiku


" Re, Minta tolong ambil nasi dong. Laper ni aku" perintah kak fadil padaku.


memang tak ada kasihannya sama istri tuh orang, udah tau kemana mana bawa beban diperut masih aja disuru suru


Aku memutar mataku jengah. Yang namanya tugas istri harus berbakti sama suami mau tidak mau ya tetap harus di laksanain " Mau makan pakai apa?" Tanyaku sebelum pergi


" Telor ceplok enak sepertinya" ujarnya


Mataku membulat" Masss, kalau masak telur Rere mana kuat ah. Amis tahu" Protes ku pada kak fadil. bukan apa, dikehamilanku yang ke 3 bulan ini aku jadi lebih sensitif sama yang amis amis. Termasuk telur


"minta tolong mbak mirna" Jawabnya enteng


Memang benar benar anak sultan. kemauannya harus dituruti. mana bisa tidak


" Mbak, Rere minta tolong buatkan telur ceplok bisa?" Pintaku tak enak hati pada mbak mirna


Mbak mirna terkekeh " Ya bisa atuh bu. Buat bapak?" tanya mbak mirna sambil mengambil 2 buah telor di kulkas


Aku mengangguk " Rere jadi tidak enak mbak" ucapku tak enak hati


" Ya kan memang sudah tugas saya bu. Tidak perlu sungkan seperti itu. Lagian saya beruntung sekali kerja disini. Ibu sama bapak baik seakali pada saya. Ya walaupun bapak sedikit menyeramkan kalau lagi badmood" ucap mbak mirna panjang dibarengi dengan kekehan. karena sudah menggibahi pak bos nya


Aku ikut tertawa mendengar ucapan mbak mirna sambil memperhatikan mbak mirna yang telaten menggoreng telor


" Mbak mir, fiona punya banyak makanan. Kita makan sama sama ya" Fiona berteriak mendatangi dapur

__ADS_1


" Ngapain teriak teriak sih kak"


Fiona cengar cengir setelah kularang. Fiona memang sangat pintar di usianya sekarang. Kak fadil berulang kali memaksaku untuk fiona agar masuk sekolah PAUD, tapi aku masih belum rela kalau nanti fiona sibuk dengan dunianya. Ya walaupun sekarang fiona udah 4 tahun.


" hehe, maf bun. "


Fiona beralih mendekat ke arah mbak mirna. Sekarang fiona sudah lebih dekat sama mbak mirna. Apalagi semenjak kehamilanku, kak fadil melarangku untuk menggendong fiona. Padahal aku tidak masalah. Memang berlebihan sekali ayah anak anak itu. Jadi, fiona sekarang kalau siang sebelum mbak mirna pulang, lebih intens sama mbak mirna. Aku kan jadi sedih


" Mbak mir, nanti bantu fiona bawa belanjaan nya ya. Kalau minta tolong bunda nanti ayah marah" Adu fiona pada mbak mirna yang masih kudengar


" yasudah mbak, sama fiona saja. Ini biar rere yang nata ke piring" Ucapku sambil berjalan menuju rice cooker untuk mengambil nasi.


Sebelum membawa nasi dengan lauk telur ini pada kak fadil, aku terlebih dahulu mencuci tangan dan memakai masker. Karena sudah kutebak kak fadil pasti akan minta aku untuk nyuapi dia. Tidak mau pakai sendok lagi. harus dari tanganku langsung. Kebiasaan buruk bertambah.


Kak fadil tertawa menyambutku yang membawa sepiring nasi dan segelas air putih. Ku pastikan dia tertawa karena aku pakai masker sih


" Re, kamu kaya lagi merawat orang yang lagi terinfeksi virus mematikan, pakai masker segala" Ejeknya


Aku menyerahkan piring yang berisi nasi kepada kak fadil dengan malas " Makan nih, bilang terimakasih kek" Kesalku


Aku bersiap mau meninggalkan kak fadil karena kekesalanku


" Yasudah. aku tidak jadi makan nasi"


Tuhkan, bisanya cuma mengancam. Istri cantiknya ini kan orangnya tidak tegaan.


" nih" Ucapku menyodorkan tanganku ku mulutnya.


Jelas saja kak fadil menerimanya dengan senang hati. kalau lagi di suap begini kadang mau nambah 2 piring


"Kamu sudah makan?" Tanya kak fadil sambil meletakkan gelas yang berisi air


Aku menggeleng " melihat mas makan rere ikut kenyang"


" Mana bisa gitu dong sayang. kasian dede bayinya. kalau bundanya malas makan"


Pipiku mungkin sudah merona merah mendengar kak fadil memanggilku dengan sebutan sayang.


" Iya nanti habis ini makan. Kamu kan khawtir banget sama anak. Kalau sama aku mana pernah peduli sama sekali " Ucapku sambil kembali menyuapi kak fadil


" Tanda tanda ngajak perang nih"


Aku memutar mataku malas. siapa juga yang ngajak perang. kan memang benar dia perhatiannya cuma sama anaknya saja.


" Re, kalau di ingat ingat aku sudah jarang kan minta pengganti rokok kayak kesepakatan kita pas masih pacaran" kak fadil membuka topik pembicaraan yang tidak menarik sama sekali


Aku diam. Terlalu malas untuk menyahuti pancingan pancingan modus dari ayah calon dua anak ini. Payah deh kalau otak mesumnya lagi bekerja

__ADS_1


" aku lagi pengen rokok deh Re sekarang" Lanjutnya lagi. walaupun sudah tidak aku tanggapi tetap saja masih berlanjut


" Terserah kalau mau ngerokok. Rere tidak akan melarang lagi"


Mata kak fadil langsung berbinar bahagia " seriusan?" Tanya nya


Aku mengangguk " Tapi ingat, Jangan harap kamu bisa dekat dekat aku sama anak anak lagi " ancamku


" kamu sudah mau jadi ayah dari dua anak loh mas. Seharusnya kamu mikir mana yang baik mana yang tidak. Kalau kamu sakit, siapa yang akan melindangi aku sama anak anak?" Tanyaku


" Iya iya. Becanda Re. Aku mana pernah menyentuh itu lagi"


" ya bagus. memang gitu seharusnya" jawabku cepat


" Aku kebelet. aku ke kamar mandi dulu ya" Kak fadil pergi berlari meninggalkan ku. Aku yakin 100 persen, dia tidak mau ke kamar mandi. pasti cuma mau menghindar dari omelan dan ceramahanku yang lagi mode on. Paling jago menghindar.


padahal nasinya masih bersisa. Kan jadi mubazir. Mau aku yang makan tapi tidak selera. kalau saja ini tadi tidak telur, pasti sudah aku makan walaupun sisa kak fadil. jadi ujung ujunya tidak harus terbuang begini


****


"Re, kamu janga dulu ke sekolah hari ini" Kata kak fadil tiba tiba


aku yang lagi fokus merapikan seragamku yang sengaja dibeli longgar agar menutupi perut buncitku pun mengehentikan aktifitasku


" Kenapa?" tanyaku penasaran


" Berita kamu hamil sudah tersebar disekolah" Jelas kak fadil. Aku syok mendengarnya


" jadi Rere gimana?" Tanyaku pelan. Hatiku diselimuti kepanikan sekarang.


" Nanti aku ke sekolah sama mama, buat menjelaskan semuanya" ucap kak fadil menggiringku duduk di ranjang


"Jangan nangis. Kamu masih bisa home schooling" Lanjut kak fadil berusaha menenangkan ku


" Coba saja aku tidak hamil. pasti aku masih bisa sekolah mas"


" Kamu nyesel ada dia?" tanya kak fadil dingin


Aku baru sadar dengan apa yang ku ucapkan" bukan gitu maksud Rere mas. Maksud Rere tu.."


"Sudahlah. Aku ke kantor, kalau kamu mau pergi sekolah silahkan. Tanggung sendiri resikonya" Ucap kak fadil seraya pergi meninggalkan ku


Aku merutuki kebodohanku. bisa bisanya kata itu keluar dari mulutku. Aku sama sekali tidak menyesal ada dia disini. Malahan kehadiran bayi ini di perutku menjadi awal sumber kebahagiannku dan keluarga kecilku.


Aku cuma reflek karena merasa kecewa mungkin tidak akan bisa sekolah lagi, padahal sekolah cuma tinggal beberapa bulan lagi setelah itu selesai


" Maafin bunda ya nak. Nanti bantu bunda bujuk ayah kamu ya" kataku sambil mengusap lembut perutku.

__ADS_1


__ADS_2