Wedding Story

Wedding Story
Dua Puluh Enam( Mulai Melunak)


__ADS_3

Mati matian aku memaksa agar nasi bisa masuk ke dalam mulutku. Di heningnya malam ini, mataku masih terjaga menyelesaikan makanku yang dari tadi tidak selesai selesai. Sebenarnya aku lagi pengen makan gado gado, tapi mana ada penjual gado gado tengah malam begini. Alhasil aku cuma makan nasi putih tanpa embel embel yang lain.


Makan dalam keadaan menangis. Begitulah aku sekarang. Aku jadi teringat waktu dulu, ibu lagi sakit pas ketepatan uangku sama sekali tidak ada. Aku menangis tengah malam, tak ada tempat pengaduan. Persis seperti sekarang tak ada tempat pengaduan, dan tidak ada lagi tempat untuk pulang. Miris.


" Adek, udah kenyang ya. Tapi baru sedikit " tanyaku pada bayi yang diperutku


Aku jadi ingat besok adalah jadwal ku untuk ngecek si bayi, tapi kak fadil mau apa tida mengantarkan aku


Ditengah kesibukan ku mengajak bicara bayi diperutku, aku mendengar langkah kaki menuju meja makan. Benar saja, ternyata kak fadil.


" Kamu mau makan mas?" tanyaku lemah. Karena walaupun sudah makan badanku masih saja terasa lemas


" Aku buatin nasi goreng ya?" Tawarku antusias


Aku bersiap untuk kedapur, namun baru saja 3 langkah, kaki ku udah lemas. tidak bisa menopang badanku lagi. Untung ada kak fadil yang sigap menampung diriku


" Kalau mengurus diri sendiri saja tidak sanggup, jangan sok mau ngurus orang lain" katanya ketus


Di papahnya aku menuju kamar " Rere tidak mau ke kamar mas" Tolak ku.


kak fadil menghentikan langkahnya yang otomatis akupun ikut menghentikan langkahku


" Aku mau liat fiona, sebentar saja" Aku memohon dengan harap pada kak fadil.


" Sudahlah re, nikmati saja kesendirian kamu. Itukan yang kamu mau. aku cuma mengikuti apa yang kamu mau . Bukannya kamu bosan ngurus fiona dan cape jadi istri?"


Aku menggelengkan kepalaku cepat " Kamu salah paham mas."


" Aku tidak mau berantam sama kamu tengah malam begini Re. Ayo aku antar ke kamar" Pangkas kak fadil


Aku tersenyum hambar kearah kak fadil " Siapa sih mas yang mau berantam. Aku pun tidak mau. aku capek" lirihku


Sekarang kak fadil sudah melepaskan pegangannya padaku " Kamu bawa fiona ketemu fania, tidak bilang ke aku. Sikap fiona juga berubah ke aku, Aku sakit hati mas" Jelasku dengan disertai isakan


" Ya wajarkan, fiona ketemu mama kandungnya" Jawab kak fadil santai


Isakanku makin kencang saat mendengar jawaban kak fadil " Kalau memang kesalahan aku sebesar itu, Pulangkan saja aku mas" Ucapku dengan mantap. Aku udah nggak sanggup lagi berkata kata


Kak fadil senyum miring mendengar permintaanku " Mau pulang kemana?, Kamu sebatang kara sekarang" katanya remeh.


Sakit. Sakit rasanya. Walaupun yang dibilang kak fadil itu benar, tapi tetap saja hatiku tidak bisa menerimanya


kepalaku makin lama makin berat, pandanganku mulai buram. Detik selanjutnya dunia berubah jadi gelap. Dan aku tak tahu apalagi yang terjadi.


****


Aku terbangun diruang yang serba putih, ku lihat tanganku sudah terpasang infus. Brarti tadi malam aku langsung dibawa kak fadil kerumah sakit


Aku memijat batang hidungku. Kepalaku rasanya masih sedikit pusing.

__ADS_1


Pintu diujung sana terbuka, menampakkan seorang dokter dan juga suster " Selamat pagi bunda" sapa dokter wanita itu ramah


Aku tersenyum menanggapi sapaannya " Dokter, bayi saya tidak papa kan?" Tanyaku khawatir


Dokter itu tersenyum" Bayinya kuat. Tapi bundanya juga harus kuat dong Ya. Jangan setres setres, Sama makannya dijaga ya" ucap dokter itu mengingatkan ku


" Saya kapan bisa pulangnya dok?" Tanyaku lagi


" Nanti kalau infusnya sudah habis, dan keadaan bunda sudah memungkinkan, bisa langsung pulang" Jelas dokter itu


" Kalau begitu saya permisi dulu ya bunda. Sehat sehat" pamit dokter itu setelah mengecek keadaanku


Setelah kepergian dokter dan suster itu, mama datang dengn wajah paniknya


" Kok bisa masuk rumah sakit si sayang?" Tanya nya heboh


Aku tersenyum melihat mama yang paniknya luar biasa. Bayangan ibu mertua yang galak sama menantunya seperti di sinetron sinetron sama sekali tak berlaku sama mama mertuaku ini


" Sudah jalannya aku masuk rumah sakit ma" Jawabku


" Kamu kalau ada masalah rumah tangga, cerita sama mama Re" Ucap mama. sekarang mama udah duduk di kursi dekat ranjang tempatku berbaring


Aku mengerutkan keningku. Darimana mama tau kalok aku lagi ada masalah sama kak fadil


" Fadil sudah cerita semua sama mama, tadi malam re"


" Fadil itu sayang sama kamu. Cuma fadil itu orangnya keras dan teguh pendirian. Satu lagi, dia orangnya mudah tersinggung" jelas mama


" Mas fadil tidak cinta sama aku ma" ucap ku yang tak berani menatap mama


Mama memegang tanganku " Fadil anak mama re, mama kenal betul gimana fadil" Terang mama


Ku alihkan pandanganku ke arah mama " belakangan ini Kak Mas Fadil sering ketemu mbak fania, bahkan bawa fiona juga " isak ku.


Mama terkejut mendengar perkataanku. Sudah kuduga kak fadil nggak akan menceritakan perihal fania pada mama


" Mas fadil belum cerita tentang itu kan ma?" Tanyaku lirih.


" Ma, Rere mau pisah saja, biar..".


" Re, kamu ngomong apa. ingat anak kamu" Potong mama


" Tida ada lagi alasan rere bertahan ma. Rere capek. Ditambah fiona udah tidak suka sama rere" aduku pada mama


" Keterlaluan memang anak itu" geram mama


" Ingat anak kamu sayang. Cari jalan keluarnya, Mama bakalan dukung kamu terus " Ucap mama menyemangatiku


" Ma, Aku mau ngomong berdua sama Rere. Bisa kan?" Kak fadil datang menghentikan perbincangan aku dan mama

__ADS_1


Mama bangkit dari duduknya " Selesaikan masalah kalian fadil. Bahkan mama lebih sayang sama Renata dibanding anak brengsek seperti kamu" ucap mama sebelum pergi kekuar


" Re.." panggil kak fadil


Aku hanya berdeham. Aku tak mau menatapnya. Kuarahkan pandanganku ke tempat lain


" Aku minta maaf "


" Seperti biasa kan mas, tugas aku selalu memaafkan kamu saat kamu buat kesalahan dan minta maaf" Jawabku masih enggan melihat kak fadil


" Hati aku bimbang re, setelah kehadiran fania"


Aku kembali menangis " Itu karena kamu tidak cinta sama aku mas" lirihku


" Aku sayang sama kamu re, tapi hati aku tidak bisa berbohong kalau aku masih ada rasa sama fania"


Sakit rasanya saat suami sendiri mengaku kalau masih ada rasa sama wanita lain


Kuberanikan menatap kak fadil " Terus rere harus bagaimana mas?" Tanyaku lirih. Jujur batinku sudah sangat lelah dengan semua ini.


" Tolong bantu aku mempertahankan rumah tangga kita Re. Aku mohon " Digenggamnya tanganku erat


Hatiku melemah saat melihat mata kak fadil berair. kalau ditanya hati, akupun sama nggak mau rumah tanggaku hancur yang berdampak pada anak anak


" Kamu harus janji berubah mas?" Tanyaku akhirnya


Kak fadil mengangguk dengan cepat


" Dan satu lagi, kalau aku ada salah tegur aku mas hiks. Jangan hukum aku seperti kemarin" Lanjutku masih menangis. Bayangan kak fadil mendiamkan ku sangat melukai hati.


" Maafkan aku re" Kata kak fadil lagi sambil menciumi tanganku


" Satu lagi, Fiona kenapa mendadak berubah sama aku mas" Tanyaku sedih


Kak fadil menggeleng " Aku juga tak tau re. Tapi sepanjang perjalanan kerumah semalam, fiona terus bilang kalau dia tidak mau punya adik" Terang kak fadil.


Aku nggak tau apa yang terjadi sama fiona. Tapi feelingku ini pasti akibat hasutan fania.Apasih mau wanita satu itu. Dulu saja meninggalkan fiona, sekarang kenapa datang lagi


" Kamu pasti bisa mengambil hati fiona lagi" ucap kak fadil menyemangatiku


" Kamu bantu aku mas" pintaku lemah


" Iya bunda pasti"


Tangan kak fadil beralih mengusap perutku " anak ayah yang disini apa kabar?" Tanyanya mendekatkan wajahnya keperutku


" Maafin ayah yang nyuekin kamu sama bunda ya sayang. Habis bunda kamu kalau ngomong suka tidak hati hati " adu kak fadil pada anaknya


Aku jadi teringat omongan mama tadi, kak fadil beneran sakit hati dengan ucapanku " Maafin Rere mas" Ucapku sambil memandangnya dalam

__ADS_1


" Dengan senang hati" Jawabnya sambil memainkan sebelah matanya


Kan kalau begini aku jadi senang, sifat jailnya yang kurindukan sudah kembali. Aku berdoa agar otak mesumnya tidak kembali. Karena kalau sudah datang, sulit untuk bisa mengatasinya.


__ADS_2