
Mungkin memang sudah jalannya. Akhirnya aku dan keluarga kecilku harus tinggal seatap lagi dengan orang tuanya kak fadil. Sebenarnya bisa saja aku memaksa kak fadil untuk mencari rumah kontrakan yang kecil pun tak apa. Tapi, setelah ku pikir pikir mau sampai kapan perseteruan antara aku dan ibu mertuaku terjadi. Mama kak fadil sekarang sudah menjadi mamaku juga. Aku nggak mau menjadi anak yang durhaka kepada ibunya.
Memang, perilaku mama padaku sedikit kurang baik. Raut tidak suka jelas tercetak diwajahnya. Sangat berbeda sekali dengan awal awal aku jadi menantu dulu. Aku sangat mengidolakan mama yang sangat baik padaku. Sampai aku tidak percaya dengan isu kejamnya ibu mertua. Bukan brarti aku beranggapan mama adalah mertua yang kejam. Tidak, sedikitpun mama tidak pernah melukai aku secara fisik, namun secara batin iya. Aku sangat tersiksa dengan prilaku mama sekarang. Aku berharap mama bisa kembali seperti mama yang pertama kali ku kenal. Yang lembut dan sangat mengayomi.
Pekerjaan rumah seakan dilimpahkan semua kepadaku. Kalian tau, dirumah mama yang luas ini, tidak lagi ada Art selain tukang kebun, sopir dan satpam. Kalau urusan rumah dan dapur, semuanya menjadi bagianku. Padahal baru terhitung seminggu aku keluar dari rumah sakit, tapi rasa iba mama sedikitpun tidak ada untukku.
Ingin rasanya aku protes. Tapi apalah daya. Aku hanya gadis beruntung yang menikah dengan laki laki kaya. Aku nggak mau dibilang kacang lupa kulitnya, karena setelah menikah hidupnya mau enak enakan saja. Mengingat pernikahanku dengan kak fadil bukan berlandaskan suka saling suka, cuman aku yang suka sama kak fadil dulu. Pernikahan kami terjadi karena permintaan terakhir ibuku. Semuanya berawal tanpa direncanakan. Spontan terjadi hingga saat ini.
Merebahkan kaki seperti yang ku lakukan sekarang adalah hal yang sangat indah bagiku. Rasanya aku ingin meminta kak fadil untuk memijat kaki ku. Tapi aku sadar, suamiku juga pasti lelah karena bekerja.
" Mas.. Pakein baju yang warna army buat fayyadh ya" ucapku pada kak fadil yang sedang sibuk menyulap penampilan anak laki laki nya.
" Siap bunda" jawab kak fadil dengan semangat tanpa menoleh kepadaku sedikitpun
Malam ini aku dan anak anak diajak kak fadil untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan rekan kerjanya. Asli, selama pernikahan yang udah lebih setahun, inilah kali pertama aku di ajak ke acara seperti ini. Selama ini ya paling acara hajatan. Kalo berkaitan dengan rekan bisnis ya baru kali ini. Dulu dulu aku kan istri yang nggak di anggap.
" udah ganteng nih bund, anak ayah" kata kak fadil sambil membawa fayyadh ke arahku yang lagi selonjoran di ranjang.
Aku tersenyum hangat melihat senyum tulus anak laki laki ku yang udah mulai tumbuh besar itu " Sini sayang" Ajak ku pada fayyadh
Fayyadh dengan senang hati menerima uluran tanganku " Nen..nda..nen " celoteh fayyadh. Memang apa lagi kebutuhan anak ganteng ini selain nyusu ke aku. Kalo ayah nya bisa nyusuin barangkali aku nggak bakal di inget deh sama anak anak. Semuanya tergila gila sama ayahnya. baik fiona maupun fayyadh. Yang masih di perut mudah mudahan nanti berada dikubuku.
" Kamu pucet deh re. Nggak usah jadi pergi aja ya " kata kak fadil yang sedari tadi memang menatap intens aku yang lagi nyusuin anak gantengku.
" Apaan deh mas. Aku nggak papa. Lagian anak anak udah rapi gini. Kamu juga udah siap siap " protesku. Gimana bisa kak fayyadh membatalkan semuanya hanya karena wajahku pucat. Lagian aku juga nggak papa. Di kehamilanku yang masih 4 minggu ini, aku memang sedikit lemah. Gampang lelah dan dikit dikit mual dan pusing. Tapi sekarang masih bisa ku atasi. Mana mungkin aku membatalkan ingin pergi, sementara anak anak udah semangat 45 buat pergi, terlebih fiona yang udah cantik dengan gaun ter the best hadiah dari omanya.
" Nih..mendingan bawa siganteng ini buat nengok si kakak. Rere mau siap siap " Pintaku pada kak fadil, berhubung fayyadh juga udah selesai nyusunya.
" kalo memang nggak kuat. Kasih tau aku re"
" Iya suamiku yang ganteng " jawabku jengah
" yaudah. Aku sama anak anak nunggu dibawah." Kata kak fadil akhirnya dan berlalu keluar kamar.
" Ohh iya sayang" katanya lagi. Padahal udah berada di ambang pintu kamar hendak keluar
" Mohon dengan sangat. Dandannya nggak usah sampe ber abad abad ya"
Mataku membulat hendak protes tapi suami yang super jail sama istrinya itu udah keburu ngacir. Huhhhh jadi istri memang harus sering sering mengusap dada. Harus ekstra sabar. Mungkin wanita memang di ciptakan Tuhan dengan stok sabar yang berlimpah.
****
Suasana pesta yang sangat mewah menurutku. Hiasan yang sangat menawan di hotel berbintang ini menunjukkan si pemilik acara adalah orang yang kekayaannya nggak akan surut 7 turunan.
__ADS_1
Keadaan udah mulai ramai. Aku berjalan disebelah kak fadil yang sedang menggendong fayyadh dengan tangan kirinya dan menggandeng fiona di tangan kanannya, menampilkan Ayahable pakek banget. Aku sih sangat berterimakasih pada anak gantengku malam ini yang nolak buat di gendong bundanya. Maunya sama ayahnya terus, jadi mata perempuan perempuan kurang belaian nggak akan ngelirik ngelirik suamiku lagi. Secara kan kak fadil nggak keliatan sama sekali kalo udah nikah dan punya 2 anak. Masih terlihat seperti lajang. Beda sama aku yang badannya udah melar kemana mana. Nasib jadi perempuan.
Aku menarik langkahku mengikuti kak fadil menuju dua orang suami istri yang terlihat bahagia malam ini. Bisa ku tebak sih itu yang punya acara.
" Wahh terimakasih sudah menyempatkan untuk datang pak fadil" sambut ramah laki laki yang ku terka terka berusia 30 tahunan
Kak fadil tersenyum ramah menyambut uluran tangan pria tersebut yang baru ku ketahui namanya pak handoko " Suatu kebanggaan bagi saya dan keluarga di undang ke acara ini pak"
Aku tersenyum kikuk ke arah istrinya pak handoko yang tadi memulai senyum ramah padaku. Jujur, aku sama sekali nggak tau bagaimana untuk bersikap. Aku termasuk tipe orang yang sulit untuk bergaul, bukan dalam artian memilih milih teman ya. Cuma karena keadaanku, aku takut untuk berteman, siapa yang mau berteman dengan orang miskin seperti diriku, alhasil aku cuma punya 2 teman, Nana dan Aldo. Bicara soal Aldo. Laki laki itu, sekarang lagi di luar kota mengenyam pendidikan dibangku perkuliahan. Makanya kami nggak pernah ketemu lagi.
" Pak fadil, kalo begitu saya mau menghampiri tamu tamu yang lain ya. Silahkan menikmati pestanya" Pamit pak handoko
" Mari nyonya fadil" Ucap ramah istri pak handoko, yang ku jawab anggukan dan senyuman juga pastinya.
" Re, kita duduk disana ya" Tunjuk kak fadil ke arah meja bulat dengan 5 buah kursi yang kosong.
Aku mengangguk menurut. Perutku udah mulai nggak enak. Sudah daritadi aku susah payah untuk menahan agar nggak muntah.
" Ayah, kakak mau minum " Rengek fiona saat kami sudah duduk
" Kakak mau minum?. Bentar ya ayah ambilin" kak fadil berdiri dari duduknya dan menyerahkan fayyadh kepadaku " kamu mau aku ambilin minum sekalian nggak bund?" Tawar kak fadil yang ku jawab gelengan lemah.
" Makan?" Tanya kak fadil lagi menawarkan
" Nggak mas..rere nggak nafsu apa apa. Ambil buat kamu sama si kakak aja "
Rasa mual di perutku semakin menjadi jadi. Aku nggak nyaman nyium aroma parfum para tamu undangan yang bermacam ragam aromanya. Ingin rasanya aku memuntahkan isi perutku sekarang. Tapi aku masih berusaha tahan. Kan nggak etis banget muntah di tengah tengah keramaian begini
" Nda..nen nda" Rengek fayyadh yang menambah pusing kepalaku. Bagaimana caranya aku nyusuin anak gantengku ini di tengah keramaian seperti ini. Walaupun sekarang aku memakai pakain yang berkancing, tapi kan tetap saja malu.
" Adek.. masa nggak malu sih nak. Minta nen rame gini. Nanti aja ya sayang " ucapku memberi tahu fayyadh. Walaupun aku tau dia belum terlalu ngerti.
Bukannya tenang. Fayyadh malah makin merengek karena aku nggak menuhin keinginan nyusunya.
" Anak ayah kenapa nangis?" Tanya kak fadil yang datang dengan penuh minuman dan makanan di tangannya.
" Minta nyusu mas" jawabku lemah
" Kamu nggak baik baik aja kan re? . Kamu makin pucet sekarang" tanya kak fadil dengan raut wajah khawatirnya.
" Mas.. tolong gendongin fayyadh dulu ya " Pintaku lirih.
Ditengah keramain huru hara pesta seperti ini. Kami malah sibuk dengan keluarga kecil kami sendiri.
__ADS_1
Kak fadil mengambil fayyadh dari gendonganku. Aku memijit pelan pangkal hidungku berniat mengurai pusingku sedikit. Nyatanya mual diperutku yang lebih memimpin sekarang.
Ditengah susah payah aku menahan mualku. Meja kami dihampiri oleh dua orang sepasang suami istri " Malam pak fadil. Boleh gabung disini ?" Tanya laki laki tersebut.
Aku mau nggak mau mendongakkan pandanganku kedepan. Menyapa dengan memaksakan senyum. Aku nggak mau karena kesalahan kecilku dapat mencoreng nama baik kak fadil.
" Silahkan pak riyan. Senang bertemu dengan anda " Ujar kak fadil dengan kondisi sekarang sedang berdiri menenangkan fayyadh.
" Pak fadil ini luar biasa ya. Sayang sama anaknya. Istrinya saya perhatikan dari tadi cuma duduk diam doang. Anak yang ngurus dilimpahkan ke suami terus." Ketus istri pak riyan dengan mata sinisnya ke arahku.
Cobaan apalagi ini Tuhan. Ingin rasanya aku mengucapkan sumpah serapah ke wanita yang cantik wajah tapi tidak dengan mulutnya ini.
" Nggak begitu nyonya riyan . Kebetulan istri saya memang lagi kurang enak badan" Ujar kak fadil memberi pembelaan dengan santai.
" Udah tau lagi sakit pak. Kenapa istrinya tetap ikut. Nggak pernah datang ke pesta orang kaya ya. Makanya sampe maksain diri. "
HUEEKK
Lepas sudah. Hal yang mengganjal yang berusaha ku tahan akhirnya tidak tertahankan lagi.
" Mas rere ke toilet dulu " pamitku sedikit berlari.
" Nggak ada sopan sopannya ya" cibir istri pak riyan yang samar samar masih bisa ku dengar.
Bukannya menuju toilet. Aku melangkahkan kaki ku keluar hotel. Aku menuju parkiran. Tujuanku adalah mobil kak fadil. Aku berusaha memuntahkan gejolak yang ada di perutku. Tapi hasilnya sama sekali nggak ada yang keluar.
" sayang.. kamu nggak papa? "
Aku terkejut dengan kedatangan kak fadil bersama anak anak. Ternyata mereka menyusulku keluar.
Aku menggeleng seraya tersenyum lemah " Kok ikutan keluar sih mas?. Rere nggak papa kok"
" Nggak papa gimana sih re. Jelas jelas kamu lagi nggak baik baik aja. Daritadi kan aku bilang. Nggak usah jadi pergi. Tapi kamu tetap ngotot buat pergi!!" ucap kak fadil dengan nada sedikit membentak
Tanpa di undang air mataku berhasil jatuh " Hiks kamu kok bentak aku sih mas" isak ku
" Ayahh ihhh kan bunda jadi nangis. Ayah kok jahat sih. Katanya anak laki laki kan nggak boleh buat nangis perempuan. Fiona kesel sama ayah " Fiona udah buka suara memarahi ayahnya dan berhambur memelukku.
" Bundanya kakak, jangan nangis lagi. Kakak jadi sedih " Lirih fiona
Kuusap air mataku di pipi " Bunda nggak papa kok kak. Jadi kakak nggak boleh sedih ya"
" Aku sama anak anak nunggu di mobil aja. Kamu masuk lagi aja ke dalam. Acaranya belum selesaikan ?"
__ADS_1
Kak fadil menatapku jengah " Kita pulang " ketusnya
Aku tau dia marah. Tapi aku juga sakit hati sama ucapannya yang seolah olah membenarkan ucapan istrinya pak riyan tadi. Pake acara bentak bentak segala lagi. Aku juga nggak mau kondisi ku seperti sekarang. Tapi keadaan nya memang seperti ini. Aku kayak gini juga karena ulahnya dia.