Wedding Story

Wedding Story
Enam Puluh Tujuh ( Faza)


__ADS_3

Gejala mual mual dan badan lemas ku tempo lalu ternyata faktor aku yang sedang berbadan dua. Secepat itukah, Allah kembali kasih aku kepercayaan untuk menjadi ibu lagi. Kali ini aku akan berusaha buat jaga bayi yang ada dikandunganku dengan baik.


Udah 2 bulan berlalu. Sekarang fayyadh udah bisa berdiri, jalan satu sampai 2 langkah. Aktifnya nggak ketulungan. Merangkak kesana sini sesuka hati. Kata mama itu wajar, berarti fayyadh tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.


Hamil kali ini aku menjelma jadi pemalas. Bawaannya pengen rebahan terus. Mandi aja malas, makan apa lagi. Suka di suapin kak fadil dulu baru masuk ke mulut. Memang udah manja kian nih anak bayi masih di dalam perut juga.


" Mas, kamu nggak ke kantor?" tanyaku heran. Pasalnya udah jam 9 gini kak fadil masih pake setelan baju rumahan.


Kak fadil menggeleng. Dia menghampiriku dengan membawa nampan yang berisi nasi dan susu ibu hamil. Untukku pastinya.


" Nanti mau ke panti asuhan. Oma kan donatur utama panti itu. Tapi berhubung oma udah balik ke Belanda. Aku yang nerusin" jelas kak fadil.


" Aku ikut boleh?" Tanyaku penuh harap


Kak fadil mengangguk " nanti sekalian kita jemput fiona dulu ke sekolah"


Senyumku mengembang mendengar ucapan kak fadil.


" Malam tadi kamu kenapa nggak pulang mas?" Tanyaku


Kak fadil sontak menghentikan tangannya yang ingin menyendokkan nasi ke mulutku " Banyak kerjaan yang harus di selesaikan"


Aku manggut manggut mendengar penjelasan kak fadil. Sebenarnya logika menolak untuk menerima penjelasan kak fadil. Tapi hati tetap aja selalu berusaha untuk percaya.


" Rumah ibu lagi proses pembangunan. Mungkin 1 bulan kedepan bakalan kelar" ucap kak fadil memecahkan keheningan yang terjadi sejenak diantara kami berdua.


Mataku langsung berbinar. Rasanya bahagia sekali lahan yang kosong akibat kebakaran beberapa bulan lalu akhirnya akan ada bangunannya lagi.


Aku nggak minta bangunan yang megah sama kak fadil cukup menyerupai rumah yang semula aku nggak masalah. Aku cukup bahagia.


" Makasih ya mas" ujarku seraya memeluk kak fadil. Kak fadil balas memelukku dengan sangat erat ditambah menghujaniku banyak ciuman di rambutku.


" Aku cinta sama kamu re" lirih kak fadil pelan. Tapi sungguh itu sangat jelas terdengar di telingaku.


" Kok tumben?" Tanyaku heran. Kak fadil itu tipe orang yang malas mengungkapnkan perasaan gitu.


Hidungku ditarik kedepan dengan tangan kanannya " Kenapa. Emang nggak boleh bilang cinta ke istri sendiri, hem?"


" Iss, sakit tau mas."


" Tapi, aku suka kamu bilang cinta gitu. Kalo bisa tiap hari ya" kataku menawar

__ADS_1


" Lanjut makan nih, bentar lagi pasti fayyadh nyariin kamu karena haus" titah kak fadil


Aku manggut manggut. Karena aku yang lagi fase lemas gini, fayyadh lebih banyak ngehabisin waktu sama omanya atau mbak mirna. Sama aku paling kalo dia lagi ngerengek mau nyusu. Tapi kalo tidur tetep sama aku. Mana bisa aku tidur kalo belum ndusel ndusel sama anak gantengku itu.


****


Kedatangan kami di panti asuhan di sambut hangat oleh anak anak panti dan ibu pengasuh di panti ini. Rasanya hati ini sakit melihat senyum tulus anak anak yang masih kecil tapi udah di beri cobaan tinggal tanpa adanya orang tua. Tidak ada gurat kesedihan di wajah mereka, bermain, belajar dengan senang itu yang terlihat pada anak anak itu.


" Terimakasih nak fadil udah menyempatkan hadir" sapa lembut wanita paruh baya berhijab coklat tua itu, bunda Aisyah namanya yang telah ku ketahui setelah tadi beliau memperkenalkan diri.


" kenapa baru ikut sekarang neng?" Tanya bunda aisyah padaku saat kami lagi asyik berkeliling panti. Sedangkan kak fadil bersama fayyadh dan fiona yang daritadi ngekorin ayahnya lagi bicara sama bapak panti yang mau ngebahas pembangunan panti ini. Katanya sih mau penambahan jumlah kamar.


" Mas fadil nggak pernah ngajak, bunda" jawabku jujur.


Bunda aisyah tersenyum sambil mengangguk " Lagi isi ya nak?" Tanya bunda sedikit ragu agaknya dari cara bicaranya yang agak sedikit di gantung


" iya bunda. Udah mau 3 bulan"


" Semoga kalian berdua sehat terus ya"


Oeekk..oeeekkk


Langkah kami terhenti disalah satu ruangan karena mendengar suara tangisan bayi. Aku mengikuti langkah bunda aisyah memasuki ruangan itu. Seorang bayi mungil sedang menangis terisak dengan air mata yang mengalir deras.


Bunda aisyah berusha menenangkan bayi itu, tapi bayi itu masih saja menangis kencang. Ntah naluri atau apa aku berkeinginan untuk menggendong bayi itu.


" Bunda. Renata yang gendong boleh?"


Bunda aisyah mengangguk dan memberikan bayi mungil itu kepadaku " Cup..cup..kenapa sayang..haus ya nak?" Tanyaku sambil menimang nimangnya pelan. Ntah kebetulan, bayi itu bak terhipnotis oleh ku. Dia langsung diam dan menatapku lekat.


" Berapa bulan ini bund?" Tanyaku pada bunda aisyah.


" Menurut surat yang ditemukan bersama bayi itu. Dia masih berumur 2 bulan" jelas bunda aisyah.


" Faza. Namanya faza. Bayi perempuan mungil yang kami temui di halaman panti 1 bulan lalu"


Aku nggak tau kenapa, rasa sayangku muncul begitu saja saat menggendong bayi ini " Kasian sekali kamu sayang"


" Bunda, renata susuin faza ya?" Tawarku.


" Silahkan nak. Kalo kamu tidak keberatan"

__ADS_1


Dengan senang hati aku mengambil posisi untuk menyusui faza di kursi yang ada di kamar ini. Lahap sekali, mungkin benar bayi ini benar benar haus.


" Loh re.." tatapan bertanya kak fadil jelas terlihat saat dia yang sedang menggendong fayyadh masuk menghampiri bersama fiona yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


" Nda..ndaa" rengek fayyadh. Mungkin cemburu melihat apa yang selama ini jadi hak patennya harus dibagi sama orang lain.


" Bagi ya bang. Sama dede bayinya" ucapku sambil terkekeh karena wajah kesal fayyadh.


" Bawa pulang ya mas" ucapku tiba tiba yang membuat kak fadil ternganga heran.


" apa yang mau di bawa pulang?"


" Ini" jawabku sambil melirik faza yang masih anteng nyusu.


" Re, fayyadh masih kecil. Kamu juga lagi mengandung. Pikirin lagi lah"


Aku menatap bayi cantik ini dengan sendu


" nggak tau kenapa, aku merasa kalo dia bayi kita yang udah pergi mas"


" Kamu yakin mau rawat dia?"


Aku mengangguk pasti tanpa ragu " yakin mas"


Kak fadil menarik nafasnya panjang " yaudah, kita urus surat adopsinya ya"


Mataku berbinar mendengar ucapan kak fadil


" makasih mas"


" Pulang sama bunda ya nak" Aku mengajak bayi berumur 2 bulan itu. Lucunya dia senyum girang gitu.


" Bund. Ini dedek bayi siapa?" Tanya fiona yang mungkin dari tadi udah heran karena bundanya gendong anak bayi.


" Dedeknya kakak dong nak"


Fiona mendadak murung setelah mendengar penuturanku " kakak nggak mau, bund" tolak fiona


" Kenapa kak?. Kan dedeknya lucu"


" Kakak nggak suka" ketus fiona dan pergi menyusul ayahnya yang lagi ngurus surat adopsi faza.

__ADS_1


Hatiku udah yakin buat ngadopsi faza. Kalo untuk fiona aku akan meyakinkannya perlahan buat nerima faza. Yang terpenting izin dari kak fadil.


"Bunda sayang faza"


__ADS_2