
Seminggu telah berlalu dari malam dimana aku harus melihat suamiku di hajar dan di buat babak belur oleh papa nya sendiri, ya walaupun memang karena kesalahannya sendiri yang sudah sangat fatal.
suasna dingin malam hari ini menusuk sampai ke tulang, masih ada sisa sisa gerimis yang masih turun ke bumi. Dingin sunyi begini aku jadi rindu kak fadil. Seminggu tanpa kabar, mendengar suaranya saja pun nggak pernah. Mama dan papa kak fadil melarang ku keras untuk bertemu sama anak semata wayang mereka. sekalipun hanya bertukar kabar lewat telpon.
" Re, belum tidur" Mama masuk ke kamar yang memang belum ku kunci
Aku menoleh ke arah mama sambil tersenyum. Bahagia dan beruntung sekali rasanya punya mertua yang sangat begitu menyayangiku, baik mama dan papa udah kayak orang tua kandungku, mereka bukan lagi memperlakukan aku kayak menantu. Tapi udah kayak puteri kandung mereka
Mama ikut duduk denganku yang bersandar di kepala ranjang " kenapa kok belum tidur?" Tanya mama lagi
" Rere belum ngantuk ma" jawabku jujur
" Dede bayinya rewel ya, ngga ngebolehin bunda nya bobo" Mama udah ngusap lembut perutku. Kembali lagi. Teringat ayah bayi yang lagi di perutku ini. Sebanyak apa pun rekaman kejahatan yang kak fadil buat, tapi tetap aja selalu ada tempat di hati anak anaknya. Termasuk juga bundanya. Aku, nggak akan bisa benci sama kak fadil
" Kangen ayah oma" Ceplosku yang membuat mama menatapku sendu. Aku yakin, mama juga kangen anak laki laki semata wayangnya itu. mustahil sekali, karena mama amat sangat peduli sama kak fadil, sekalipun kak fadil udah berumah tangga dan punya anak dan istri kayak sekarang. Tapi, anaknya sudah membuat kesalahan fatal, mama nggak bisa ngelak dari itu semua.
" Bobo ya jagoan oma. Kakak aja udah bobo, masa jagoan belum bobo sih" Ujar mama yang ku sadari sedang mengalihkan topik pembicaraan. Selalu seperti itu
Di usap mama lembut pipiku " Tidur re, jangan begadang. Nggak baik buat ibu hamil" Kata mama yang hendak siap siap ingin beranjak
" Ma, mas fadil nggak salah" kataku cepat. Aku udah nggak sanggup lagi dalam kondisi seperti ini
Mama kembali duduk. ke tempat nya tadi " udahlah re, mama tau kamu cinta banget sama suami kamu itu. Dan mama bahagia banget, kalo anak laki laki mama di cintai perempuan sehebat kamu"
Aku udah nggak tahan lagi untuk nggak nangis " Kalo aja ibu nggak maksa mas fadil buat nikahin rere, mungkin mas fadil udah bahagia sama fania. Besarin fiona bareng bareng, nggak harus ngelakuin kesalahan fatal kayak gini di belakang kita ma, hiks"
" Ini bukan salahnya mas fadil, Tapi rere yang udah terlalu maksain mas fadil buat nerima rere"
Mama udah nggak sanggup lagi mendengar penjelasanku, direngkuhnya tubuhku yang bergetar karena menangis ke pelukannya " Kamu nggak salah re, Jangan terus nyalahin diri kamu karena kesalahan orang lain"
Aku menggelengkan kepalaku " Biarin mas fadil nikahin fania ma"
Mama sontak melepaskan pelukannya dariku dan menatapku lumayan tajam" Maksud kamu apa sih re!?"
" Rere nggak mau anak yang di kandung fania, lahir tanpa sosok ayah dan-"
" Dan biarin anak kamu lahir tanpa sosok ayah. gitu maksud kamu" Mama memtong ucapanku dengan nada yang sangat nggak bersahabat
Aku menggeleng cepat " bukan gitu ma"
" udah ya re, ini udah terlalu malam. Tidur, jangan mikirin hal hal yang nggak penting. ingat nyawa yang lagi di perut kamu"
" mama keluar dulu" Ujar mama mengakhiri dan meninggalkanku dengan sisah sisah isak tangis
__ADS_1
Aku nggak tau lagi harus gimana. Di satu sisi aku kecewa sama kak fadil, tapi di satu sisi sedih. Aku nggak sanggup ngebayangin kondisi kak fadil sekarang. Gimana hancurnya dia sekarang, Siapa yang ngurusin makannya, siapa yang ngobatin memar di wajahnya, atau kekhawatiranku cuman sia sia, karena kak fadil sekarang lagi bersuka cita menyambut bahagia fania yang lagi mengandung anaknya.
Lamunan ku buyar saat ku dengar suara ketukan dari jendela. Jantungku seakan berhenti berdetak membayangkan malam malam begini siapa yang mengetuk jendela dari luar, di tambah kondisinya hujan, yang menggantikan gerimis tadi. Aku buru buru merebahkan diriku ke kasur dan menutup seluruh tubuhku sampe wajah dengan selimut, aku aslinya orangnya penakut banget sebenarnya, apalagi dalam kondisi sendiri gini.
Mulutku daritadi udah sibuk melafalkan berbagai doa, berharap ketakutanku bisa berkurang. Tapi bukannya berkurang malah makin menjadi saat ku dengar seperti ada yang memanggil namaku. Aku yang dasarnya emang suka halusinasi udah berpikiran yang aneh aneh, takut tapi rasa penasaran juga dominan ingin tau ada apa sebenarnya. Kalo aku nggak segera memastikan nggak ada apa apa disana. Aku pasti nggak bisa tidur nyenyak malam ini.
" re, ini aku"
" Mas fadil?" gumamku saat sayup sayup ku dengar suara lagi dari luar jendela. Apa sekedar halusinasi karena aku terlalu kepikiran dia.
Aku nggak mau numpuk numpuk rasa penasaranku. Ku dekati jendela yang menjadi sumber utama ketakutanku " Mas itu kamu?" Tanyaku memastikan walaupun yang sebenarnya aku nggak yakin memang ada kak fadil disana
" Iya re, ini aku"
Dengan semangat aku langsung membuka jendela karena sudah mendengar jelas suara kak fadil yang merespon pertanyaanku
" Mas?" Lirihku saat membuka jendela terpampang jelas kak fadil dengan badan yang udah basah kuyup
Kak fadil masuk dari jendela ke dalam kamar. Nggak ada niat sama sekali untuk melarang kak fadil masuk ke dalam. Karena seminggu ini, hal ini yang ku nanti nanti. Kak fadil nemui aku dan kami menyelesaikan permasalahan dengan kepala yang udah sama sama dingin.
aku mendekat ke arahnya, berniat ingin memeluk dan menumpkahkan rasa rindu ku. selama seminggu ini. Tapi hatiku sakit saat kak fadil menolak pelukanku
" Kenapa?" Tanyaku sendu
" Kamu ngapain hujan hujanan sih mas?" tanyaku khawatir
Kak fadil malah terkekeh " kamu nggak ada niat buat kasi handuk ke aku re?"
Aku tersenyum asam ke arahnya, sakingkan paniknya jadk otak ku yang nggak seberapa ini nggak kepikiran buat kesitu
Ku ambil handuk dan baju seadanya dari dalam lemari dan menyerahkannya ke kak fadil. namanya ini kamar kak fadil, otomatis di lemarinya masih ada sisa sisa pakaiannya.
Sambil menunggu kak fadil mengeringkan badannya dan berganti pakaian aku duduk di pinggir ranjang. Jujur, aku nggak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. secepat itu kah menghilangkan rasa kecewa di hati ku?
" Gimana kabar kamu re?" Tanya kak fadil yang udah duduk di sebelahku
" Bukan kalimat itu yang mau rere denger setelah seminggu kamu nggak ada kabar mas" Lirihku
Kak fadil menarik ku ke pelukannya. Ku tumpahkan tangisku disana. Aku rapuh kalo udah di hadapkan sama kak fadil " Maafin aku re" Katanya
Aku menarik tubuhku dari pelukannya. Ku tatap dia dengan tatapan bertanya tanya " Sekarang rere harus gimana?"
" Aku bingung re"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku nggak percaya. Seminggu ini dia hilang pergi nggak menampakkan dirinya, tapi cuma itu yang harus ku dengar dari mulutnya.
" Kenapa harus bingung mas. Bingung atas pilihan yang mana?. Kamu nggak punya pilihan selain nikahin fania kan?" Tanyaku yang lebih mengarah kepada pernyataan
Kak fadil menarik nafasnya panjang " Aku nggak mau re, aku nggak mau pisah sama kamu. Aku cinta sama kamu".
Hatiku bergetar dengan perkataan kak fadil. Udah lama kata itu ingin ku dengar. Berharap kak fadil mengeluarkan kata itu. Tapi kenapa harus dalam kondisi seperti ini
" Rere nggak tau harus seneng atau sedih mas. Kenapa harus sekarang kamu ngucapin kalimat yang udah lama pengen aku denger dari mulut kamu" Lirihku
"Nikahin fania mas" kataku dengan sangat yakin
Kak fadil menatapku dengan sendu " Kalo aku bilang fania nggak hamil anak aku. Kamu bakalan percaya sama aku?"
Dahiku berkerut bingung. Seminggu yang lalu dia yang udah ngasih tau aku langsung tentang kehamilan fania. Tapi kenapa sekarang berubah lagi.
" Jangan coba menghindar dari tanggung jawab" Ketusku. Aku juga wanita yang posisinya juga mengandung. Walaupun aku harus sakit menerima kenyataan yang pahit ini, tapi aku tau rasanya gimana kalo ayah anak yang kita kandung nggak mau mengakui anaknya. Aku nggak bisa biarin kak fadil menumpuk numpuk dosanya
" Padahal aku butuh kamu buat dukung aku re. Kalo kamu sendiri aja udah nggak mau percaya sama aku. Jadi buat apa lagi aku berjuang untuk mencari tau yang sebenarnya" Lirih kak fadil
Aku memandangnya. Kali ini dengan pandangan bertanya tanya " Aku nggak yakin kalo udah ngelakuin itu ke fania re. Dia udah jebak aku" Jelas kak fadil
" Mas?" Aku sama sekali belum percaya
" Kamu fikir aku selama seminggu ini, cuman berdiam diri.."
" Aku coba ngumpulin bukti bukti kalo aku nggak ngelakuin itu re. Tapi sepertinya, usaha aku nggak ada gunanya kan?"
" Karena kamu nggak percaya" Lirih kak fadil nggak mau menatap ke arahku.
Apa salahnya aku bersabar lagi, untuk keutuhan rumah tangga kami yang udah diujung kehancuran ini
Aku langsung berhambur ke pelukan kak fadil. " Aku kasih kesempatan buat kamu mas" Kataku cepat
Kak fadil tersenyum mendengar perkataanku " Makasih udah mau percaya. Aku janji bakalan memperbaiki semuanya, sayang"
Malam ini aku dan kak fadil menghabiskan waktu dengan bercerita tentang banyak hal terkait seminggu ini. Fakta baru lagi yang ku ketahui, papa udah ngeluarin kak fadil dari kantor, menyita kafe yang udah lama di rintis kak fadil, karena modal awal itu dari papa jadi kak fadil nggak bisa memberi perlawanan, dan fakta yang lebih mengejutkan, rumah kami pun ikut di tarik papa, Sebegitu marahnya papa ke kak fadil
" Terus mbak mirna kemana mas?" Tanyaku khawatir. Pasalnya, terakhir mama bilang mbak mirna masih di rumah
" Ternyata kamu lebih khawatir sama mbak mirna daripada aku. Padahal aku nggak punya tempat tinggal buat tidur" Sindir kak fadil
Aku tersenyum. sikap percemburu kak fadil ternyata masih bersarang, cemburu sama orang yang sama sekali nggak wajar buat dicemburui. Seharusnya aku sadar sikap cemburu kak fadil itu karena cintanya dia ke aku, iya nggak sih?
__ADS_1