Wedding Story

Wedding Story
Tujuh Pulu Tiga ( Haruskah tetap diam?)


__ADS_3

Karena sudah cukup lama tidak berkunjung ke kafe, aku jadi lupa waktu. Karena anak anak yang juga happy berada disini jadi aku tidak merasa kerepotan. Apalagi fayyadh yang sudah akrab banget sama Boy, Pegawai baru yang baru 2 bulan kerja disini. Perihal Pegawai baru, aku tau. karena  nana yang sekarang aku percaya buat ngehandle kafe, udah sempat konfirmasi soal penambahan pegawai, hanya saja aku tidak tahu kalau itu adalah boy.


Berbicara tentang Boy, dia orang nya asik. Setelah berbincang sedikit dia ternyata seumuran sama aku dan Nana. Seangkatan juga lulusan SMA nya. 1 hal yang buat aku kagum sama Boy, dia kerja Part time buat ngebiayain  kuliahnya. Jadi teringat aku yang dulu juga kerja buat biaya hidup sama biaya sekolah. Rasanya itu capek banget. Kadang rasanya mau menyerah. Tapi, setelah di jalani dengan ikhlas, rasanya itu nikmat sekali bisa sekolah dengan biaya sendiri. Bedanya aku sama Boy, dia berhasil selangkah lebih maju menuju gerbang kesuksesannya. Sedangkan aku, harus putus di tengah jalan karena sesuatu yang memang mungkin sudah takdir hidupku. Tapi, aku mensyukuri kehidupanku yang sekarang, berada di sekeliling orang orang yang aku sayang dan pastinya juga sayang ke aku.


Aku geleng geleng kepala sendiri melihat fayyadh yang dari tadi sibuk ngintilin Boy. Untung siang ini kafe tidak terlalu ramai. Jadi fayyadh lebih leluasa buat berkeliaran di kafe ini sesuka hatinya.


Asik memperhatikan fayyadh dengan Boy, aku tersentak saat ada seseorang yang memelukku dari samping. Dan pelakunya ternyata adalah Kak fadil.


Karena masih merasa kesal, awalnya aku mau protes. Tapi niat ku itu harus ku urungkan karena merasa kak fadil badannya panas.


" Kamu demam?" Tanyaku sambil menyentuh kening kak fadil yang ternyata memang panas.


Kak fadil cuma menggelengkan kepalanya, sambil memperdalam pelukannya di ceruk leherku. " udah makan siang ?" Tanyaku lagi.  Dan kak fadil menggeleng lagi.


Aku menghembuskan nafasku kasar. " Ke ruangan aku aja di atas ayo. Biar aku kompresin."


" Atau mau pulang aja?" Lanjutku lagi terus bertanya. Jujur sekarang aku khawatir. Istri mana sih yang tidak khawatir kalo suaminya sakit.


" Lemes re" Lirih kak fadil. Nah kan. Udah keluar sifat manjanya. Harus kembali ekstra sabar.


" Makanya aku bilang ke ruangan aku dulu, mas. Biar bisa rebahan disana"


Kak fadil akhirnya mengangguk. Dari tadi kek" Minta tolong nana ya re, buat jemput fiona"  ujarnya.


Aku menganggguk " Iya nanti aku minta nana buat jemput si kakak"  setelahnya aku menuntun kak fadil menuju lantai atas ke ruangan pribadiku. Kebetulan disana ada ranjang kecil yang emang sengaja aku siapin.


Kak fadil sekarang udah berbaring di ranjang. Aku membantunya melepas sepatu dan kaus kakinya. Kalau udah gini, aku seakan lupa kekesalan ku sama bapak 3 anak ini.


" Aku ke bawah dulu, ambil kompresan"


Kak fadil menggeleng  " Disini dulu re" pinta kak fadil dengan mata yang masih tertutup.


" Cuma ngambil kompresan mas, nanti balik lagi ke sini" Ucapku.


Kak fadil mengubah posisinya menjadi duduk dengan wajah yang memang terlihat pucat. " Aku nggak butuh kompresan. Aku cuma mau kamu. Please"


Hatiku melunak mendengar permintaan kak fadil. Aku melangkah maju mendekat ke arah ranjang.


" Yaudah sekarang tidur kalo gitu"


Alih alih menuruti keinginanku, kak fadil malah menarik aku masuk kedekapannya. " Aku kangen sama kamu" ujar kak fadil sambil menghujani kecupan di puncak kepalaku.


" Kamu yang kerjaannya pergi mulu" ucapku yang masih di dalam dekapan kak fadil.


" Maaf" Kata kak fadil


" Aku nggak butuh kamu minta maaf terus. Tapi aku mau kamu berubah mas"

__ADS_1


" Jangan tinggalin aku re. Aku nggak bisa kalo nggak ada kamu"


Jangan tanya bagaimana keadaan hatiku sekarang. Rasanya aku terbang tinggi ke langit karena ucapan kak fadil barusan.


" kamu baper ?" Tanya kak fadil merusak mood ku saja


" Ihh.. nggak ya. Apaan" Elakku dan menarik tubuh dari dekapannya.


" Kamu lagi sakit aja masih bisa ledekin aku. " kesalku


" Lucu banget sih istri akuuu" Kata kak fadil sambil terkekeh


" Nggak ada yang luc-"


" Renata..." Panggil nana.  Kebiasaan nana kalo masuk ruangan aku. Tidak pernah ingat untuk ketuk pintu. Untung aku sama kak fadil tidak berbuat yang iya iya.


" Kebiasaan buruk nggak bisa hilang ya naa"


Nana cuma cengengesan " hehe sorii bumil"


Aku memutar mataku malas " Gue mau jemput fiona.  Jadi, gue mau balikin nih si bayi gemessh" jelas nana sambil menyerahkan faza yang udah terlelap ke pangkuan ku.


" Pake mobil gue, na" Tawar kak fadil pada nana


" Makasih kak. Gue pake mobil sendiri aja"


Setelah nana benar benar pergi, aku membaringkan faza di ranjang sebelah kak fadil. Kalau di pangku terus, takut anak cantikku ini tidur nya tidak nyaman.


" Jangan di gangguin anaknya ya mas. Awas aja kalo bangun terus nangis, Kamu yang diemin" peringatku pada kak fadil. Pasalnya ayah 3 orang anak otw 4 itu suka banget ngejahilin anaknya.


****


Fiona menghampiriku dengan mata sembabnya. Aku menatap Nana mengisyaratkan seolah bertanya apa yang terjadi sama fiona. Tapi nana cuma geleng kepala.


" Gue ke bawah re. Pengunjung udah mulai ramai" pamit nana setelah meletakkan tas dorong milik fiona.


" Minta Boy buat anterin fayyadh ya na. Takutnya fayyadh buat Boy repot" nana cuma mengacungkan kedua jempolnya tanda menyetujui.


Atensiku sekarang tertuju pada anak cantik ku yang sekarang sudah ku dengar suara senggukan nangisnya.


" Kenapa kak?" Tanyaku hati hati. Takut fiona semakin nangis dan ujung ujungnya mengusik ayah sama adik bontotnya yang lagi menyelami alam mimpi.


" Hiks..ada yang nakal sama kakak di sekolah bund hiks.."


Aku menarik fiona pelan ke dalam pelukanku. Aku ingin fiona bercerita sejujur jujurnya tentang apa saja permasalahannya dengan nyaman padaku.


" Nakal gimana, cerita sama bunda"

__ADS_1


" Dia nggak suka kalo kakak punya adik hiks, karena dia nggak punya adik. Terus dia bilang kalo punya adik banyak nanti kakak bakal di lupain terus nggak di sayang lagi sama bunda sama ayah jugaaa huaaaaa"


Aku kelabakan karena fiona semakin menaikkan volume tangisannya. " cup cup.. nggak boleh nangis kalo udah gede sayang" aku berusaha menenangkan fiona. Bisa bahaya kalo ayahnya kebangun. Emosi dan ujung ujungnya memperburuk suasana hati fiona.


" Dengerin bunda ya. Emang selama ini ayah sama bunda nggak sayang sama kakak?" Fiona menggelengkan kepalanya.


" Pernah ayah sama bunda lupain kakak, terus cuma inget ade aja?" Lagi. Fiona menggelengkan kepalanya.


" Nah.. Terus kenapa kakak harus nangis kayak gini?"


" Kakak takut nggak di sayang lagi bunda hiks"


" Kakak lebih percaya sama omongan teman kakak daripada omongan bunda?"


" Enggak bund"  ku usap dahi fiona yang berkeringat karena nangis. Kasihan sebenarnya. Sudah dua kali fiona pulang sekolah dalam keadaan nangis dengan permasalahan yang sama. Aku  takut kalau itu bisa jadi beban pikiran buat fiona.


" Kalau gitu, bunda nggak mau kakak nangis lagi kalo ada yang ngatain bunda sama ayah nggak akan sayang lagi sama kakak,  kalau kakak ada ade. Kan kakak sama ade sama sama anaknya ayah sama bunda. Jadi kalian semua sama di sayangnya"


" Kakak juga sayang kan sama adenya?" Lanjutku bertanya pada fiona


Fiona mengangguk " Sayang banget"


Aku tersenyum melihat fiona yang menyunggingkan senyumannya " Nah, kalo senyum kan anak bunda jadi cantik. Jadi nggak boleh sedih sedih lagi. "


Fiona kembali menganggukkan kepalanya " janji" ucapku sambil mengarahkan jari kelingkingku.


" kakak janji bunda"


****


Kak fadil bersama anak anak tercinta sekarang masih bertanding tidur, belum bisa ku pastikan siapa pemenangnya. Mereka bisa berbagi ranjang yang kecil gitu. Tadi kak fadil sempat kebangun bentar, aku ajakin pulang katanya nanti aja. Kasihan kalau harus ngebanguni anak anak katanya. Alhasil ya mereka lanjut tidur sampe sekarang.


Tadinya aku juga mau nyusul mereka ke alam mimpi. Tapi sepertinya dede bayi yang di perut tidak memberi izin bundanya buat gabung sama ayah dan kakak kakaknya. Makanya dari tadi di dalam aktif sekali.


Tidak mau terlewatkan momen sosweet anak anak sama ayahnya tidur gemes gitu, aku berinisiatif buat motoin mereka. Aku meraih ponsel milik kak fadil buat motoin mereka. Kenapa harus ponsel kak fadil, karena menurutku kamera ponselnya kak fadil lebih jernih daripada ponselku. Ntah apa alasannya tidak tahu.


Satu jepretan berhasil ku ambil. Aku tersenyum puas melihat hasil jepretanku sendiri. Tak ingin menyiakan waktu, aku mengambil fose kedua berselfi biar aku juga kebagian foto. Tapi saat hendak mengambil foto selanjutnya, aku harus mengurungkan niatku karena panggilan masuk ke ponsel milik kak fadil.


'Rania'. Nama yang sama dengan yang mengirim pesan singkat tempo hari ke hp kak fadil.


Dengan keberanian yang cukup kuat, aku mengangkat panggilan masuk itu.


" Halo mas fadil... ayah udah siuman. Mas bisa ke rumah sakit sekarang?"


Aku diam seribu bahasa. Siapa rania. Kenapa sepertinya dia sudah sangat akrab dengan suamiku. Akhirnya aku memutuskan panggilan sebelah pihak. Dan langsung tersentak saat mendengar panggilan khas bangun tidur dari kak fadil.


" Kenapa?" Tanyanya

__ADS_1


Aku cuma menggeleng menahan tangis karena dugaan yang ku terka terka di dalam hati. Haruskah tetap diam dengan pra sangka. Atau buka suara tapi takut akan kebenaran fakta.


__ADS_2