
Pagi ini kesabaranku sedang diuji oleh dua orang berbeda generasi yang masih bergulung dengan selimut, ya siapa lagi kalau bukan ayah sama anak sejoli itu. Tadi malam fiona ku bujuk biar tidur dikamar ku dan kak fadil, karena kangen tidur meluk melukin dia. dengan bujukan seribu bahasa fiona akhirnya mau. jadilah fiona sekarang masih tidur dikamarku dan kak fadil. Sudah pukul 7 pagi, tapi tak ada tanda tanda mau bangun, padahal fiona udah mulai masuk PAUD dari minggu lalu.
" Kakak, bangun yuk. Kan mau sekolah" Ku usap rambut anak gadis gemoy ku pelan, supaya dia bangun
Fiona menggeliat di balik selimutnya " Ayo bangun sayang, sudah siang loh" Kataku. kuciumi hampir seluruh wajahnya
" Mandi ya jangan lupa giginya di sikat" Ucapku pada fiona yang masih meregangkan otot otot nya
Fiona berjalan dengan gontai keluar kamar. Pasti menemui mbak mirna dulu, Minta temani mandi.
Sekarang beralih ke bayi besar. Harus butuh tenaga dan kesabaran yang ekstra buat membangunkan manusia yang satu ini " Mas, bangun"
tak ada gerakan sama sekali " Mas, bangun ihh" Kataku sudah mulai kehilangan kesabaran. Sedangkan si empu cuma berdeham tapi mata masih saja tertutup rapat rapat.
Kuambil bantal yang kebetulan dekat denganku, kupukulkan kebadannya kak fadil " Massss bangunn!!"
" Apasih re, pagi pagi sudah Kdrt saja" Ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur
" Bangun bangun bangun. Kamu dengar aku dari tadi atau tidak sih" Kesalku
" Jangan marah marah gitu ah. Masih pagi juga" Katanya seraya menaikkan selimut menutupi wajahnya.
Kesabaranku memang betul betul diuji. Siapa yang tidak marah marah sih kalau ceritanya begini
" Mas, aku cape tau. Ayolah bangun" kataku melemah
Bukannya bangun, kak fadil malah menarikku untuk ikut tidur dengannya. Aku memberontak, aku sudah mandi rapi, mau ke sekolah fiona malah diajak tidur lagi
" Awas ah" Kesalku dan kembali duduk
Cara lembut tak bisa, cara kasar pun sama. Satu satunya ya harus di ancam dulu nih " Yasudahlah, tidur saja terus sampai puas, aku sama fiona biar naik GoJek aja ke sekolah nya. Punya suami kok tidak bisa di andalkan"
Memang selalu ampuh kalau pakai jurus mengancam, langsung duduk tuh si bapak " 5 menit langsung siap nih bund" Katanya langsung lari ke kamar mandi
Sambil menunggu kak fadil siap siap, aku turun kebawah untuk melihat fiona. Ternyata dia sudah rapi dengan seragamnya. Dan makin cantik dengan rambut kuncir kuda hasil kreasi mbak mirna
" Sdah cantik aja nih anak bunda " Kataku seraya mengecup pipi fiona yang lagi duduk di kursi meja makan
" Biar rere aja mbak" ucapku pada mbak mirna yang baru saja datang membawa nasi goreng dengan telur ceplok diatasnya. ya untuk siapa lagi kalau bukan untuk princessku.
" Sini kak, lebih dekat sama bunda" pintaku pada fiona yang langsung diturutinya
__ADS_1
Kusuapkan nasi dan telur pada fiona. Aku selalu semangat kalau lagi menyuapai fiona. Karena fiona makannya selalu habis" Mau bawa bekal apa kak?" Tanyaku disela sela menyuapinya
Fiona tanpak berfikir sejenak " ehmmm, roti boleh bund" Requestnya
" Oke siap, nanti bunda buatkan di kotak bekalnya kakak ya" kataku
" Kak, ayo. sudah siap kan?" tanya kak fadil seperti terburu buru
" Ya sabar dong mas. Anak nya lagi sarapan kok" ucapku. Ya memang fiona masih makan. nasi dipiring juga masih banyak, datang datang sudah ngajak pergi aja. Tadi saja dibanguni susah sekali
" Lanjut makan di mobil ajalah kak" kata kak fadil lagi setelah menyeruput teh hangat yang ku buatkan tadi
Kak fadil sudah rapi, sudah megang kunci mobil lagi. memang tidak sabar sekali, harus pergi sekarang
" Sabar dong mas. Ya ampun" Kesal ku
" Aku bisa terlambat Re" Katanya sambil memegang tas fiona yang ada diatas meja
Pagi pagi sudah dibuat kesal. Apa tidak tua sebelum umurnya aku, tapi kalau tiap hari harus menghadapi seperti ini, ya memang tua beneran aku.
" Kamu kalau buru buru, pergi saja deh mas. Biar aku yang ngantar fiona" ucapku sebal.
" Ya mana bisa begitu dong. Kamu mau naik apa sama fiona?"
" Minum susunya kak. Bunda cuci tangan dulu ya" Kataku sambil mengambil kotak bekal yang mau ku isi roti untuk bekal fiona
Saat aku balik dari dapur, kak fadil masih duduk disebelah fiona, menikmati sepiring nasi goreng. kenapa tidak jadi pergi pikirku
" Kok belum pergi?" Tanyaku sambil memasukkan bekal fiona kedalam tasnya
" Fiona libur sekolah dulu hari ini. Kita jemput oma di bandara" Kata kak fadil
Aku terkejut, memangnya mama darimana?, Perasaan kemarin baru telponan mama bilang lagi dirumah
" Emang mama darimana mas?" Tanyaku penasaran
" Bukan mama re, tapi oma aku yang dari papa"
" Oma buyut datang ya yah?" Tanya fiona antusias
" Iya. Makanya kamu libur dulu hari ini ya" Kata kak fadil yang langsung di angguki fiona cepat
__ADS_1
****
sekarang aku dan kak fadil lagi dimobil menuju bandara. Aku sebenarnya sesikit merasa takut, karena belum pernah ketemu oma sama sekali. Aku sama kak fadil sudah menikah selama 10 bulan kurang lebih, tapi kak fadil atau bahkan mama tidak pernah menyinggung soal oma
" Aku kok belum pernah melihat oma ya mas?"
" Oma di Belanda. sudah 2 tahun belum pernah kembali ke Indonesia" Jawab kak fadil masih fokus dengan jalanan
Aku mengangguk paham " Oma tinggal disana?" Tanyaku lagi
" Oma disana sedang menjalani pengobatan."
" Sebenarnya di indonesia juga ada sih pengobatan yang cukup bagus, seperti pengobatan yang dijalani oma di Belanda, Tapi.."
Kak fadil menjeda kalimatnya " Tapi..?"
" Tapi oma kurang suka berada disini, katanya tidak ada yang bisa peduli sama dia kalau di Indonesia. Karena mama saja selalu sibuk" Lanjut kak fadil
Aku mulai paham dengan alur ceritanya. Mama adalah menantu satu satunya oma, karena papa adalah anak tunggal. Dan anak mama cumanl 1 yaitu kak fadil. Jadi punya anak banyak itu kadang ada hikmahnya guys, ehh..jangan sampai kak fadil tau. Bisa bisa aku dijadiin pencetak clup sepak bola yang di ketuai oleh dia
" Aku takut deh mas" Kataku sedikit khawatir
Kak fadil terkekeh " Takut kenapa?, Oma itu baik, ya walaupun sedikit- "
" sedikit apa mas?"
" Oma buyut itu seperti apa sih kak?" Kata kak fadil yang bukannya melanjutkan perkataannya, malah nanyak ke fiona yang lagi anteng di belakang
" Oma buyut itu baik, Tapi suka cerewet" Kata fiona dengan sangat lucu
" Nah itu" Sambung kak fadil membenarkan ucapan fiona
" Seperti bunda kalau lagi marah marah buat suru kakak mandi" lanjut fiona lagi yang membuat mataku membulat
" Emang bunda suka marah marah kak?" saut kak fadil yang bahagia karena mendapat bahan untuk meledek ku
Fiona mengangguk pelan. sedangkan kak fadil sudah cekikikan melihatku di ledek fiona
" Itu karena kakak saja yang tida nurut sama bunda" ucapku sedikit kesal
" Kak, bunda ngambek tau kamu bilang suka marah marah" kata kak fadil meledek ku lagi
__ADS_1
Aku meliriknya sinis, selalu saja bahagia kalau lagi ada teman buat meledekku. Seperti punya dendam gitu ke istri sendiri.
Aku daritadi hanya menjadi pendengar setia atas cerita cerita antara kak fadil dan fiona. Sesekali aku menyahuti kalau di tanya oleh fiona. Tapi sesungguhnya yang menjadi pikiranku sekarang ya hanya oma. Bagaimana kalau oma tidak suka dengan aku yang menjadi istrinya. Dan meminta kak fadil untuk menceraikan aku. aku sampai keringat dingin seperti mau presentase di depan kelas. Padahal belum ketemu oma langsung, tapi sudah ada aura aura horornya.