
NAGITA mendapat telefon dari sahabat-nya di kampung, katanya minggu depan sahabat-nya itu melahirkan.
Jadi, disinilah nagita sekarang. Di sebuah toko yang menyediakan segala macam barang dari keperluan bayi sampai alat-alat masak sekali-pun.
Tentu saja ini bukan toko yang beli dua geratis satu, dari tadi nagita berkeliling mencari apa yang cocok untuk diberikan kepada bayi sahabat-nya itu. Semua barang terpasang bandrol yang hampir saja membuat nagita menjerit karna nol yang tertera di semua bandrol lebih dari enam.
Untung saja nagita memiliki kartu yang diberikan suami-nya, jadi tidak perlu khawatir soal harga.
"Wah! Ini bagus nih". Gumam nagita pada sebuah trolli khusus bayi, nagita memanggil salah satu petugas toko, meminta petugas itu menjelaskan apa saja fungsi dari barang tersebut.
Petugas wanita itu menjelaskan, jika barang itu bukan hanya berfung si sebagai trolli tetapi juga sepeda dan fungsi lain-nya. Warna nya juga cantik, mengingat barang itu hanya ada lima dan semua warna nya sama, kecuali yang nagita pegang. Warna nya berbeda.
"Eh, itu saya yang mau beli!". Seorang wanita tiba-tiba saja mendorong tangan nagita sehingga pegangan tangah nagita lepas dari trolli bayi cantik itu.
"Ibu gak punya mata?! Saya yang duluan! Jadi saya yang berhak!". Ucap nagita tidak mau kalah.
Ibu-ibu berpakaian modis dengan segala aksesoris di tubuh-nya itu menatap nagita dari atas sampai bawah."Kamu gak mungkin bisa beli yang beginian! Cari yang lain aja sana!.
"Enak aja! Gak bisa gitu doang, bu. Siapa cepat dia dapat!".
Petugas wanita tadi merasa bingung, pasalnya kedua wanita itu terus berdebat mengenai siapa yang berhak membelinya. Akhirnya petugas wanita itu memanggil atasan-nya.
Tak lama seorang pria berpakaian rapu menghampiri mereka."Mohon maaf, ada apa ya?". Pria berumur itu bertanya sopan.
"Ini-nih pak, wanita ini masa mau beli barang incaran saya sih?!". Wanita itu menunjuk nagita dengan emosi.
"Lho, kan memang saya yang menemukan-nya duluan. Tanya aja sama mbak nya yang disana!". Nagita tak mau kalah.
Sejenak, pria itu memandang wanita berpakaian modis serta emas yang hampir menenggelamkan tubuh nya. Lalu, tatapan nya beralih kepada nagita, pria itu melihat nagita dari atas sampai bawah. Nagita hanya memakai celana kulot serta baju kemeja bercorak, membuat pria itu tak yakin bahwa wanita muda itu bisa membeli barang dengan harga selangit itu.
__ADS_1
Saat pria itu hendak bicara, tiba-tib muncul pria perubaya yang merupakan suami dari wanita tadi."Ada apa ini?". Tanya-nya kepada istinya.
Pria yang merupakan manager toko langsung membungkuk hormat saat pria bertubuh agak tambun itu datang. Yang manager toko ketahui, pria itu adalah seorang penanggung jawab sebuah perumahan elit di kawasan itu.
"Kamu! Bungkus barang-nya untuk ibu ini". Manager toko itu memerintahkan petugas wanita tadi.
Nagita yang mendengar itu langsung naik darah, ia tak terima dengan perlakuan deskriminasi yang terjadi."Lho, lho, gak bisa gitu dong pak! Saya kan yang duluan mau beli masa si ibu-nya yang dapet sih!". Kesal nagita memperotes.
Namun, manager toko itu tidak perduli, dia malah asik mengajak pria bertubuh agak tambun beserta istrinya itu mengobrol, membicarakan kelebihan apa saja yang dimiliki toko ini.
"Maaf, bu disini yang mampu membeli dialah yang dapat". Ujar manager toko itu pada nagita.
"Pokok nya saya yang beli!". Kekeuh nagita, enak saja wanita itu. Hanya karna suami-nya adalah seorang penanggung jawab sebuah perumahan elit, langsung mendapatkan yang dia mau. Mereka tidak tau apa perumahan itu siapa pemilik-nya.
"Bungkus saja! Jangan hiraukan". Ucap manager toko itu.
...—Wedding story—...
Tadi, setelah kejadian di toko itu, nagita dengan kekesalan luar bisa-nya pergi dari sana hendak mengadu kepada raffi tentang apa yang dialaminya hari ini.
Lalu sekarang, saat berada dikntor suami-nya, nagita kembali dibuat kesal karna resepsionis wanita itu tidak mengizinkan nya masuk. Dengan alasan bahwa nagita belum membuat janji.
"Saya ini istrinya! Kenapa juga harus buat janji?!". Teriak nagita kesal, entah kenapa hari ini wanita itu selalu dianggap remeh.
"Bu, maaf say--- ". Nagita tidak lagi mendengarkan resepsionis bernam-tag Sarah. Ia malah melongos tanpa menghiraukan teriakan sarah yang melarang nya untuk masuk menemui raffi.
Sarah, dengan kesal menghubungi satpam."Maaf anda tidak boleh masuk". Ucap salah satu satpam yang menghadang nagita.
Mereka menjadi pusat perhatian para karyawan kantor yang lain."Kenapa saya gak boleh?! Ini kan kantor suami saya?!". Ucap nagita kesal.
__ADS_1
"Mungkin ini cewek gila kali, kita hubungin rumah sakit jiwa aja". Salah satu dari mereka berbisik, tetap masih mampu untuk nagita dengar.
"Iya, cewek gila kali".
"Masa ngaku-ngaku istri-nya presdir".
"Gila kayak nya".
"Gila ya?".
Semua bisikan-bisikan itu membuat nagita ingin menangis rasanya, sebenarnya sendari ditoko tadi nagita ingin menangis, sekarang jadi tambah ingin menangis.
"Ada apa ini?!". Suara seorang pria terdengar, nagita tau suara itu. Itu adalah suara karl, sekertaris suami-nya.
Melihat kedatangan karl, sontak semua pegawai yang berkumpul disana membungkukan badan mereka sopan.
"Ini pak, ada seorang wanita yang mengaku adalah istri pak Raffi, tapi tenang saja satpan akan segera mengusir-nya". Lapor sarah.
Nagita mendelik mendengar ucapan wanita itu. Nagita berjanji dalam hati, orang yang pertama akan ia pecat adalah wanita bernama sarah itu.
Mata karl melotot saat melihat istri tuan-nya sedang dipegangi oleh dua satpan, mata wanita muda itu berkaca-kaca. Tanpa sadar, karl menelan ludah nya kasar. Perang dunia kedua nih. Batin karl.
...—Wedding story—...
...To be continue. ...
...Hola-hola friend's! ...
...How are you gyus?....
__ADS_1
...Sampai chapter 13 ini, bagaimana tanggapan kalian? ...