Wedding Story

Wedding Story
Empat Puluh Satu ( Mulai Dari Nol)


__ADS_3

" Mas, rere ikut ya" Kataku memohon. Dari mulai selesai sholat subuh hanya kalimat itu yang aku lontarkan. Aku nggak mau di tinggal lama lagi sama kak fadil. Di tambah ini udah masuk minggu minggu persalinanku


" Kamu di sini dulu re, Sampe aku dapat tempat yang layak buat kamu sama anak anak kita" Kata kak fadil


Aku terus menggelengkan kepalaku. Kak fadil nggak tau apa, gimana rasanya di detik detik persalinan nggak ada suami di deket kita. " Aku takut kamu nggak ada waktu aku melahirkan mas" lirihku


Kak fadil tersenyum " Nggak mungkin kan aku melewatkan hal bersejarah itu re, kecuali Tuhan emang nggak mengijinkan"


Aku menatapnya nggak suka " Tapi mas, rere nggak-"


" Tatap aku. Kamu percaya kan sama aku. Setelah semuanya beres, aku bakal jemput kamu sama anak anak kita" Kata kak fadil meyakinkan


" Doain usaha aku re, kita mulai dari nol. Biar papa sama mama ngelepasin puteri kesayangan mereka buat aku bawa"


Aku mengerucutkan bibirku, aku agak tersindir. Yang anaknya mama papa kan kak fadil bukan aku " Orang tua kamu itu mas"


kak fadil terkekeh " Tapi mereka lebih sayang sama kamu daripada aku"


Ini masih sangat gelap. Kak fadil udah bersiap mau pergi. Udah kayak buronan di rumahnya sendiri. Sebenarnya kasihan. Tapi anggap aja ini ujian dalam pernikahan kami " Mas, nggak mau ketemu si kakak dulu" Kataku masih berusaha mengulur waktu kepergian kak fadil


" Nanti fiona bilang dong ke oma nya, kalo ayahnya yang berengsek ini datang"


" Mas, jangan bilang gitu ah. Ucapan itu doa" Protesku nggak suka


" anak kecil kan nggak bisa bohong sayang"


Pipiku pasti udah bersemu merah nih, dari malam tadi kak fadil sering banget manggil aku sayang. Kalo nggak lagi ada masalah kayak gini nggak pernah tuh romantis romantisin aku, manggil manggil sayang.Tapi kalo modus sering, mana bisa dia ngilangin otak mesumnya.


" Aku pamit ya. Titip anak anak. Aku percaya sama kamu" Kata kak fadil memeluk aku erat banget. Kalo udah gini udah nggak bisa lagi deh nahan air mata buat nggak keluar


" kamu harus cepet pulang mas. Jemput aku hiks"


Kak fadil terkekeh yang liat aku mewek mewek gini. kalo lagi gini pasti di ledekin, disuru ngingat perut yang udah gede.


" Aku ngga lagi becanda mas, hiks. Aku serius"Kataku nggak terima kak fadil ngetawain aku

__ADS_1


" Ayah ragu deh jagoan. Kamu sebenernya laki apa perempuan. Bunda kamu jadi hobi nangis gini. Apa memang udah dari lahir cengeng ya"


Aku menepuk pundak kak fadil yang lagi nunduk ngajakin anaknya ngerumpiin bundanya " Jangan ajarin anak aku jadi suka ngerumpi deh mas"


" Tuh nak, kamu siap siap aja kalo udah lahir, bunda kamu galaknya nggak ketulungan"


Aku memutar mataku malas, bisa bisa nya bayi yang masih dalam perut di kompor kompori buat takut sama bundanya " jangan percaya dek, ayah kamu tuh tukang boong. Bunda sama kakak udah sering jadi korban" Ujarku nggak mau kalah


" Re, masa kamu buka aib aku di depan anak aku sih" Protesnya nggak terima. Ya aku nggak peduli, dia aja jelek jelekin aku sama anak aku kok


" Bundaaa.."


" itu fiona udah teriak manggilin kamu dari luar. aku peri dulu ya" Pamitnya tergesa gesa. Pasalnya fiona udah heboh di luar minta bukain pintu, mungkin dia kira aku masih tidur.


" Kamu jaga kesehatan mas" Lirihku sambil menyalim tangan kak fadil


Kak fadil bergantian mengecup lembut keningku lama " Kamu juga, jaga kesehatan. Jangan males makan karena galauin aku. nggak perlu kayak anak Abg" Katanya mengejek. Padahal lagi suasana sedih gini masih sempat sempatnya ngelawak. padahal aku masih bisa dibilang Abg, Tapi Abg yang udah mekar duluan. wkwkw


" hati hati mas" Ucapku saat kak fadil udah keluar melalui jendela. Nangis lagi. liat punggung kak fadil yang sedikit demi sedikit menghilang


" Bundaaa.."


" Kok teriak sih kak?" tanyaku setelah membuka pintu dan menampakkan fiona dengan muka yang udah di tekuk


" Bunda lama" Ketusnya sambil masuk kedalam kamar melewati ku begitu saja


ohh ngambek ceritanya. Gegayaan, anak kecil ngambek ngambekan " Kenapa teriak tadi?" Tanyaku sambil menghampiri fiona yang lagi duduk di atas ranjang dengan mulut yang udah di manyun manyunin. Bukannya aku takut, malah makin tambah gemes pengen cubit pipinya


" Bunda kenapa lama buka pintunya?" Tanyanya kembali padaku.


Aku menggelengkan kepalaku, ditanya bukannya di jawab malah nanya balik " Pertanyaan bunda belum kakak jawab"


" Kakak marah ya karena bunda lama buka pintunya. Kakak kan capek teriakin bunda" Kesalnya


Aku mengusap lembut rambutnya " Kan bunda udah bilang, nggak boleh teriak teriak. Nanti tenggorokannya sakit" Peringatku

__ADS_1


" Mau tenggorokannya sakit?"


Fiona menggeleng gemas " Nanti kakak nggak bisa makan es krim"


" Nah itu kakak tau, jangan teriak teriak lagi oke" Kataku.


Fiona sekarang lagi kumat manjanya, dia udah menyandarkan badannya di dadaku, kalo lagi kayak gini udah pasti lagi manja " Bunda, ayah kemana sih?" Tanya fiona lirih


Aku mengusap bahu fiona iba, dia pasti kangen sama ayahnya. Udah seminggu nggak ketemu " Ayah lagi sibuk kak, bentar lagi ayah pulang ya" Kataku berusaha menghibur fiona yang bersedih.


" Fiona kan udah nggak pernah mintak boneka baru lagi sama ayah, tapi kenapa ayah masih kerja terus"


Aku tersenyum, begitu besar hati anak ku ini " iya, tapi kan ayah mau beliin boneka terus sama kakak. Biar kakak seneng"


" Jadi, kakak nggak boleh sedih lagi oke"


Fiona menegakkan badannya " Bun, telpon ayah dong" Pinta fiona semangat.


Kalo aku megang hp sekarang, aku akan nelpon kak fadil, aku juga nggak perlu kangen berlebih begini, fiona juga nggak bakal kangen segininya sama ayahnya, yang jadi masalahnya hp ku masih tertinggal di rumah, nggak tau udah seberapa banyak pesan atau telpon yang terlewatkan ku selama seminggu ini.


" Bunda nggak megang hp kak, kan hp nya tinggal di rumah"


Fiona mendengus kecewa, terlihat raut wajahnya yang begitu sedih " Sabar ya sayang, ayah bentar lagi pasti pulang kok. Ayah kan kangen juga sama princess gemess nya ini" Ku cubit lembut pipinya.


Fiona udah tersipu malu malu gitu dibilang gemes, nurun dari siapa sih kok rada mentel gini sih anak aku


" Adek, kamu nggak kangen sama ayah" Sekarang fiona udah nemplok nemplok di perutku. Si jagoan langsung nendang gitu dengar pertanyaan kakaknya " bun, si adek nendang " Sorak fiona heboh


aku tersenyum melihat fiona yang udah ceria kembali " Adek juga rindu ayah juga dong kak, pastinya"


" Iya adek, kakak juga. Nanti kalo ayah udah pulang jangan kita kasih pergi lagi ya, kita harus jadi tim bertiga sama bunda"


" Ya kan bun?"


" Oke, bunda masuk tim juga. Biar ayah nggak suka pergi pergi lagi" Kataku semangat

__ADS_1


" Oke, semangat" Girang fiona yang udah heboh loncat loncat di tempat tidur, buat aku jadi pusing, karena tempat tidur yang ikut goyang karena ulah fiona


Aku bahagia, di pertemukan sama fiona yang selalu ada di setiap alasanku selalu tersenyum. Apapun caranya, aku nggak akan pernah ngelepasin fiona, termasuk ke mama nya sendiri. kecuali fiona sendiri yang mau, aku bisa apa. Aku nggak bisa memaksakan kehendak ku. Asal fiona bahagia aku pasti bahagia juga.


__ADS_2