
Hari ini aku udah buat janji sama dokter kandungan yang biasa aku datangi. Seharusnya jadwalnya itu kemarin, tapi karena kak fadil sibuk jadi di undur hari ini. Sebenarnya aku bisa aja pergi sendiri, ngajak mbak mirna atau nana yang sekarang jadi pengangguran diusia dini wkwkw. Tapi kak fadil nggak ngebolehin, katanya dia nggak mau ngelewatin sekali aja momen liat si jagoan kecil
Seminggu belakangan ini kak fadil sibuk banget. Pergi pagi pulang malam. Kadang sampe larut malam bahkan. Aku nggak masalah sih ditinggal lama lama, cuman aku khawatir kak fadil jatuh sakit karena kecapean
" Mas, rere udah buat janji sama dokternya jam 10 pagi. Kamu bisa kan?" Tanyaku memastikan
Kak fadil yang lagi fokus berkutat mandangin laptop cuma ngangguk ngangguk aja. Padahal masih pagi, sarapan aja belum. Udah ngapelin laptop aja
" Mau aku buatin minum nggak?" Tanyaku pada kak fadil, sebelum aku keluar dari kamar
" Kopi deh sayang" Katanya sambil tersenyum menatapku sekejap
Aku berjalan ke dapur. Suasana rumah sepi banget, karena nggak ada fiona yang suka ngoceh ngoceh nggak jelas, mengkritik aku maupun mbak mirna. Kemarin mama mampir kesini, terus mama kangen bawa fiona kerumahnya, Aku agak nggak rela sih, tapi masa aku larang larang mama bawa cucunya sih, lagian fiona juga mau mau aja. Ya gimana nggak mau, kalo lagi sama oma nya semua permintaan dikabulin, lain lagi dari papa. Panen besar deh fiona.
" Mau makan bu?" Tanya mbak mirna menyambut kedatangan ku di dapur. Mbak mirna lagi cuci piring di dapur
Aku tersenyum pada mbak mirna, ternyata dia udah hafal kebiasaan ku yang suka ngoret ngoret makanan pagi pagi sebelum sarapan " Nggak mbak. Mau buat kopi buat mas fadil"
" Biar saya aja bu yang buat" Kata mbak mirna
" Nggak usah mbak, Makasih. Mbak lanjutin aja cuci piring nya" Tolak ku.
Kopi hitam dengan sedikit gula. Sudah siap ku buat. Tinggal bawa ke kak fadil.
Aku masuk ke kamar, kak fadil udah nggak ada di meja kerjanya. Aku mendengar suara gemircik air dari kamar mandi. Lagi mandi?. Padahal perginya masih nanti jam 10. Ini masih jam setengah tujuh. Apa mau pergi
Ku letakkan kopi yang ku bawa tadi di meja kerja kak fadil, bertepatan dengan itu ada suara notifikasi pesan dari hp kak fadil. Aku yang udah mulai curiga sama kak fadil pun membuka hp nya, melihat siapa yang ngirim pesan. Kan aku kepo
Mataku memanas saat membaca pesan yang dikirimkan seseorang yang selalu jadi bumerang dalam keluar kecil kami. Siapa lagi kalo bukan fania. Mereka mau ketemuan. Sepagi ini?. Kak fadil terlalu pandai memainkan kebohongannya, bukti chat sama fania udah pada dihapusin. Room chat fania kosong, cuman pesan yang baru dikirimin barusan yang ada. Kebohongan apalagi sih ini
Aku melangkah gontai ke arah ranjang. Masa pagi pagi udah nangis aja sih. Ku tunggu kak fadil keluar dari kamar mandi.
kak fadil keluar dari kamar mandi udah berpakaian rapi. Nggak biasanya pake baju di kamar mandi
__ADS_1
" Mau kemana mas?" Tanyaku berpura pura
" Ada urusan kantor sayang" Kata kak fadil yang sedang menyisir rambutnya
Aku tersenyum hambar. Bohong kan, urusan kantor. Emang fania itu sekarang udah jadi kantor.
Ku tahan air mataku biar nggak turun " Ngecek si dedek jadi kan mas?" Tanyaku masih berusaha sabar. Aku nggak mau pagi pagi harus berantem
" Kamu di temenin mama aja gimana, aku kayaknya sampe sore" .
Mau ngapain aja sampe sore sama fania. Katanya nggak mau melewatkan perkembangan si jagoan sedikitpun. Tapi ini apa, lebih mentingin fania daripada anak sendiri
" Ngapain harus bohong sih mas" Lirihku sambil tertunduk
" Maksud kamu apa sih re?" Kata kak fadil yang udah berdiri di depanku
Aku mengangkat kepalaku. memandangnya lekat "pentingan fania ya, daripada aku?"
" Aku nggak ngerti apa maksud kamu. Pake bawa bawa fania segala lagi" ucapnya beralasan
Kak fadil menatapku tajam " Jaga bicara kamu rere!!" Bentaknya
Aku tersentak mendengar bentakan kak fadil " Rere udah tau kok. Mas mau ketemu sama fania kan?. tadi rere nggak sengaja baca pesan dari fania" Kataku lirih
" Lancang kamu buka hp orang lain" Sarkasnya
Orang lain?, Suami sendiri termasuk orang lain kah.
" Orang lain ya mas. Rere orang lain. Sakit hati rere mas. Rere capek kalo gini terus. Kamu emang nggak akan pernah lepasin fania" Lirihku
" Sekarang mau kamu apa?" Tanya nya
" Kamu tanya mau aku apa?" Tanyaku balik
__ADS_1
" Tinggalin fania" Kataku cepat.
" Kenapa mas. nggak bisa kan?" Tanyaku lagi. Kak fadil masih diam. Memang dasar dia nggak bisa lepas dari fania.
" Kalo gitu Cerein ak-"
Plakk
Aku reflek memegang pipiku yang terasa panas. Kak fadil nampar aku?
" Jangan sekalipun kamu meninggikan suara di depan aku" Katanya dan pergi berlalu meninggalkan aku tanpa rasa bersalah
Aku luruh ke lantai. Ku pegang sudut bibirku yang pedih, bekas tamparan kak fadil. Tapi lebih pedih lagi luka di hati ku. Kak fadil nampar aku tadi?, Rasanya aku masih nggak percaya, kak fadil bisa kasar kaya gitu ke aku
Terlalu lama aku menangis. Kepalaku terasa pusing. Penampilan ku udah nggak teratur. Mata yang sembab karena kelamaan menangis. Dan luka disudut bibir yang sudag mulai mengering. Tapi belum dengan luka di hati ini
Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Mungkin kalo aku mandi aku bisa jadi segar kembali. Lagian pasti bentar lagi mama datang buat nganterin fiona. Aku nggak mau mama tau kalau aku lagi nggak baik baik aja sama kak fadil.
Kubuka pintu kamar mandi dengan lemah, Tapi baru satu langkah kaki ku melangkah masuk kamar mandi. aku nggak bisa menjaga keseimbangan tubuhku
" Awhsss" Aku udah terduduk di lantai kamar mandi
Aku panik melihat ada darah yang mengalir di kaki ku. Aku takut kandunganku kenapa napa.
" Mbak.. mbak mirna" Aku berteriak memanggik mbak mirna.
Perutku rasanya sakitt nggak tertahan " Mbak..tolong" Lirihku berharap ada yang datang menghampiriku
" Kamu yang kuat ya nak" lirihku sambil mengusap perutku.
Rasanya makin lama makin sakit nggak tertahan. Aku udah nggak sanggup lagi menahannya
" Tolonggg. Mbak mirr" Panggilku dengan sisa sisa kekuatan ku. Berharap ada yang mendengar. Darah terus mengalir dari kaki ku tanpa henti.
__ADS_1
" Mas, kamu dimana. Jagoan kamu butuh kamu mas awhss" kata terakhir yang mampu aku ucapkan. Setelahnya aku nggat tau apa apa lagi. Semuanya gelap.