Wedding Story

Wedding Story
Empat Puluh Enam ( Bertemu)


__ADS_3

Nana tadi ngabarin kalau nggak bisa jemput fiona di sekolah siang ini. Biasanya itu tugas nana. Udah kayak ojek fiona sih dia, tapi nggak di bayar sama sekali. Malahan fiona selalu di kasih nana uang buat jajan katanya. Nana bener bener baik banget ke fiona, gimana fiona nggak makin sayang ke onty cantiknya itu. Beda banget sama aku yang suka ngomel kalo fiona bandel di suruh mandi pagi.


Sekarang aku lagi beresin kue ke untuk di masukin ke dalam rumah. Udah seminggu aku jualan kue di depan rumah. Biasanya buka sampe sore, tapi karena mau jemput fiona ke sekolah, jadi di masukin dulu ke dalam rumah.


" Bentar ya anak ganteng bunda, kita masukin kue nya ke dalam dulu ya nak ya" Sambil beresin kue kuenya ke dalam, aku ngajak fayyadh ngobrol sambil bawa dia di gendonganku mondar mandir. Fayyadh sebenernya nggak rewel. Tapi maunya di gendong terus. Dulu ibu pernah bilang, kalo anak bayi itu jangan di biasaain di gendong, nanti bau tangan. Alias mau mintak gendong terus. Cuman ya masalahnya, karena aku nggak bisa nemenin fayyadh main di dalam atau kamar terus, jadi aku biasanya kerja sambil gendongin dia. Akhirnya ya gitu, pengennya di gendong bundanya terus.


" Permisi dek"


Aku menghentikan aktifitas beres beresku " Iya bu, ada yang bisa saya bantu?"tanyaku ramah


" Katanya di sini bisa nempah kue buat acara seminar gitu ya?"


Mataku berbinar mendengar pertanyaan ibu di depanku ini " Bisa bu, bisa" Jawabku semangat


" Ibu mau nya yang seperti apa. Bisa kita sesuaikan ukuran dan isinya sesuai kemauan ibu" Lanjutku lagi


Aku mendengarkan permintaan pesanan kue ibu tersebut dengan teliti. Ini pelanggan pertama, jadi harus maksimal nggak boleh ngecewain. Siapa tau ini jalan usaha ku ini jadi maju


" Jadi semuanya udah saya catat sesuai permintaan ibu. Acaranya lusa tadi kan bu?" Kataku sambil menepuk nepuk pantat fayyadh yang udah mulai gelisah karena ku ajak duduk. Nggak mungkin dong aku ngajak pelanggan ngobrol sambil berdiri, nggak sopan banget ya


"Iya bu, jadi mau di anter atau di jemp-"


Oeekkk oeekkk


" Hussyss.. bentar ya nak. ini udah mau siap" Aku coba menenangkan fayyadh yang akhirnya udah nangis histeris. Aku jadi nggak enak sama ibu yang mesen kue


" Ibu, maaf ya. Saya berdiri ini. Anak saya sedikit rewel" Aku terpaksa berdiri sambil gendong fayyadh, biar fayyadh anteng lagi.


Ibu itu tersenyum ramah padaku " Iya nggak apa apa dek. ibu maklum kok"


" Jadi tadi pesenannya mau di anter atau di jemput ya bu?" Tanyaku lagi memastikan


" biar di jemput aja dek, nanti orang suruhan saya yang dateng ke sini"


Aku bahagia banget dapat pesanan kue lumayan banyak. Uangnya udah di bayar di depan setengahnya sama ibu itu, jadi bisa aku belanjaain buat modal buat kue nya.


" Astaghfirullah" Aku kaget liat jam di dinding. Udah lebih 15 menit dari jam nya fiona pulang sekolah. Karena keasikan ngobrol sama ibu tadi, jadi kelupaan jemput fiona.


Aku buru buru nutup pintu dan langsung menuju ke sekolah fiona. Fayyadh aku bawa, nggak mungkin kan aku tinggal dirumah. Lagian udah umur 2 minggu lebih, jadi aku udah nggak terlalu khawatir bawa anak ganteng ku ini keluar rumah, ya walaupun sebenernya nggak di sarankan bawa bayi pergi pergi dulu, tapi ya mau gimana lagi.


Suasana sekolah fiona udah mulai sepi. Aku mendekat ke arah gerbang sekolahnya, sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan fiona, tapi aku belum melihatnya sama sekali. Perasaan takut udah mulai mendatangi, khawatir terhadap fiona yang belum keliatan. Di tambah lagi berita berita tentang penculikan anak tiba tiba memenuhi kepalaku.


" Pak, maaf. Di dalam masih ada kelas yang belum keluar ya?" Tanyaku pada satpam yang lagi berjaga disitu.

__ADS_1


" Udah keluar semua mbak. Kalo hari jum'at keluarnya barengan semua "


Jantungku rasanya udah mau copot mendengar penjelasan satpam yang ku tanyai. Jadi dimana fiona?


" Bapak kenal fiona nggak?" Tanyaku berharap pak satpam tadi melihat keberadaan fiona


" Kenal dong bu. Fiona yang mudah senyum itu. Dia udah pulang tadi bu saya liat"


Mataku sontak membulat. pulang sama siapa?. Nana nggak mungkin deh. Katanya tadi dia ada urusan sampe sore.


" Udah pulang pak?"


Satpam itu mengangguk " Tapi nggak sama mbak mbak yang biasa anter jemput dia mbak"


Air mataku udah turun tanpa aba aba. Aku langsung mengambil handphone ku dan mengabari nana.


****


" Re, tenang dulu. ceritain gimana kejadiannya?" Nana langsung menghampiriku yang udah duduk lemas dekat pos satpam, begitu tiba di sekolah fiona


" Hiks.. ini salah gue na. udah teledor"


" Lo jangan nangis. fayyadh takut liat bundanya nangis" Kata nana lagi berusaha menenangkanku.


" Pak, ini gimana sebenarnya kejadiannya ?"


Aku masih mendengar nana yang berbincang dengan pak satpam. Aku udah lemas kayak nggak ada gairah buat hidup lagi. Fayyadh yang nangis malah buat aku makin nangis histeris.


" Re, tenang. Anak lo jadi nangis kan"


Nana mengambil alih fayyadh yang udah nangis kejer di gendonganku. " Kalo lo panik gini nggak akan ngerubah kondisinya re!"


" Na, kita lapor polisi ayo na hiks. Aku takut fiona kena-" Ucapanku terhenti saat ada suara telpon dari dalam tas ku. Ku raih benda pipih panjang itu, dan menampilkan nomor yang nggak di kenal dari layarnya


" Angkat aja re, siapa tau ada hubungannya sama fiona" Ujar nana setelah ku perlihatkan hp ku padanya


" Hallo?"


" Loudspeaker re" Perintah nana yang langsung ku turuti


" Rere, ini saya fania"


Aku sontak ingin mematikan sambungan teleponnya begitu mendengar suara dari balik telpon sana ternyata adalah fania. Tapi nana melarangnya dengan alasan siapa tau fiona di bawa oleh ibu kandungnya itu .

__ADS_1


" Fiona sama saya re"


Aku merapatkan gigi ku geram " Kamu mau nya apa sih ha?, balikin fiona sama saya!! " Kataku penuh penekanan.


" Denger dulu baik baik renata. Saya nggak berniat ngambil fiona dari kamu. Tapi ini saya lakuin biar kamu mau ketemu sama saya, dan mendengarkan penjelasan saya"


" Jangan bertele tele tolong" Geramku. Rasanya aku mau membantingkan hp ku yang memperdengarkan suaranya dari balik telpon sana. Tapi masih bisa aku tahan, karena sayang kalo hancur.


" Temui saya di rumah sakit cendana"


" Kamu apain fiona ha!!" Sentak ku


" Sejahat jahatnya saya, nggak mungkin saya mencelakai anak saya sendiri. Saya tunggu kedatangan kamu disini"


"Kamu memang-"


Tuuutt


Sambungan telepon di putuskan secara sepihak olehnya. " Na, ayo kita susulin fiona sekarang"


Aku dan nana langsung menuju ke rumah sakit yang di sebutkan fania tadi. Sepanjang jalan aku nggak henti hentinya mengucapkan sumpah serapah, tapi dalam hati. Takut fayyadh terbangun dari tidur nyenyaknya berkat onty nana.


Tiba di rumah sakit aku langsung bergegas keluar dari mobil. Aku menuju ruangan yang di sampaikan fania tadi lewat chat.


Dengan langkah seribu ku susuri koridor rumah sakit ini dengan masih bersama fayyadh di gendonganku.


" Ini kan na, ruangannya?" Tanyaku pada nana setelah berhenti di depan pintu rawat yang fania maksudkan.


Ku buka pintu ruang itu dengan tergesa, dan tampaklah fiona yang lagi duduk anteng nyemilin ice kream di tangannya.


" Kakak, hiks" Ku hampiri fiona dan langsung memeluknya walaupun dengan sebelah tangan. Sebelah lagi masih menjadi tempat tidur fayyadh nyaman.


" Kenapa nggak nunggu bunda jemput pulangnya hem, bunda takut hiks kamu kenapa napa tadi" sekarang udah nggak ada urat malu nangis di depan anak.


" Maafin bunda udah lama jemput kakak, bunda janji nggak akan lama lagi kalo mau jemput ke sekolah. Tapi kakak harus janji jangan kemana mana ya?"


Mata fiona udah berair karena liat aku yang udah banjir dengan air mata " Maafin kakak, tapi tadi mama fania ngajak kakak ketemu ayah" Jelas fiona sambil merunduk


Aku mengepalkan tanganku geram mendengar pengaduan fiona, apa fania berniat ngambil fiona dari kehidupanku.


" Kakak nggak ada yang sakit kan nak, ada luka nggak?" Tanyaku sangat khawatir, pasalnya kenapa fania sampe bawa dia kerumah sakit.


" Ini alasan aku tenang ninggalin fiona sama kamu re"

__ADS_1


Jantungku seperti terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar di telingaku. Ku lihat ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya aku melihat apa yang mestinya nggak terlihat.


" Mas fadil?"


__ADS_2