
Dari subuh tadi aku udah ngerasain mules mules. Tapi masih aku bawa santai. Aku masih bisa sholat kayak biasanya dan nyiapkan sarapan dengan dibantu oleh bi surti, yang memang bantu bantu di rumah mama.
Bicara tentang bi surti, aku jadi teringat sama mbak mirna yang di cutikan mendadak oleh mama. Mbak mirna di kasih ijin libur tapi gaji nya masih tetap jalan, sampai waktu yang belum bisa di pastikan. Jadi kangen mbak mirna yang selalu jadi temen aku makan pas subuh subuh. Tapi bi surti juga nggak kalah baiknya kok, cuman karena bi surti udah jauh lebih tua umurnya dari aku, jadi aku sedikit canggung untuk ajak ngobrol, tapi tetep ngobrol kok, soalnya bi surti juga nyambung kok kalo lagi aku ajak cerita sambil masak di dapur kayak gini.
" Awww sshhh" Ringisku kecil, karena aku kayak ngerasain kontraksi
" Kenapa atuh neng?" Tanya bi surti panik sambil menghampiriku yang tadi sibuk motongin sayur.
Aku udah nggak sanggup lagi berkata kata. Karena rasanya sakit nggak terbilang. Apa aku mau ngelahirin ya?
Keringat dingin udah memenuhi diriku.Bi surti yang semakin panik pun berlari keluar dapur mencari mama, terdengar dari teriakannya yang mencari mama di seluruh ruangan rumah.
" Ya ampun re, kenapa nak?" Tanya mama heboh saat udah masuk dapur mendekati aku yang udah berpegangan erat di dekat meja.
"Bi, siapin tas yang udah di siapin rere. Kita sekarang ke rumah sakit. Kamu pasti udah waktunya lahiran" Kata mama
Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya mama udah wanti wanti buat aku ke rumah sakit dari kemarin, karena perkiraan dokter gitu jadwalnya. Tapi aku nggak mau. Aku mau nungguin kak fadil, yang sampai sekarang belum ada kabar, dari pertemuan kami terakhir di kamar. Itu udah hampir 2 minggu yang lalu
" Rere mau nungguin mas fadil ma.." Lirihku. Aku masih terus menolak ajakan mama
" Jangan keras kepala re. Kamu nggak perlu ngarepin laki laki berengsek kayak dia" murka mama
" Tapi ma, mas fad-"
" Sekarang kita kerumah sakit. Fadil nggak akan pernah datang. Jangan siksa diri kamu dan juga calon anak kamu" Lanjut mama tegas. Mama menggiringku keluar kamar, Aku udah nggak tau harus gimana lagi. Katakutanku selama ini akhirnya akan terjadi, melahirkan sendiri, berjuang antara hidup dan mati tanpa seorang suami yang menemani di detik detik kehadiran jagoan kecil kami .
Sepanjang perjalanan aku terus meracau manggilin nama kak fadil. Rasa mules di perut aku sakit banget, tapi lebih sakit rasanya ngebayangin melahirkan tanpa kak fadil. Kenapa dia bohong lagi sih.
" Shh maa..Mas fadil dimana sih hiks"
Mama daritadi nggak bersuara. Tapi aku dapat melihat mata mama yang daritadi udah berkaca kaca. Sebagai seorang ibu dan istri, mama pasti tau gimana perasaan ku sekarang.
__ADS_1
" Sabar ya nak, kamu pasti bisa lewati ini semua"
Aku masih terus saja mengeluarkan air mata, ntah air mata menahan sakit dari perutku, atau sakit karena tanpa kehadiran ayah dari anak yang sedang aku perjuangkan kehidupannya sekarang .
Aku masih berharap kak fadil mendengar suara hatiku yang terus memanggil namanya, dan hadir menemaniku bersalin, meskipun sedikit mustahil
Aku udah di bawa ke ruangan bersalin. Aku memilih persalinan normal. Walaupun kata dokter cukup berbahaya mengingat umurku yang masih terlalu muda untuk melahirkan, tapi aku tetap mau normal, dan dokter mengizinkan aku untuk itu. Alasan aku mau tetep normal sederhana sih, aku mau ngerasain gimana perjuangan ibu dulu waktu ngelahirin aku ke dunia.
" kita tunggu sebentar lagi, bukaannya belum sempurna" Kata dokter tersebut
" Maa...rere nggak kuat" Aku udah lemas banget. Bajuku udah basah karena keringat, Kalau diperas mungkin ada segelas. sakingkan basahnya baju aku sekarang.
" Kamu nggak boleh ngomong gitu re. Kamu harus kuat , demi dia" Kata mama sambil terus mengusap lembut perutku. Tapi nggak ada ngaruhnya sama sekali. Sakitnya makin lama makin tambah nggak tertahan.
Aku terus berdoa dalam hati persalinan ku ini lancar, walau tanpa kehadiran kak fadil. Aku akan berjuang agar anak aku bisa melihat dunia yang indah ini.
" Bukaannya udah sempurna. Sus, siapkan semuanya ya"
oeek oeeekk
Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi ruangan ini, membuat aku bernafas lega. Ternyata begini perjuangan seorag ibu dalam melahirkan anaknya. Sakitnya hilang seketika tergantian dengan haru bahagia saat mendengar suara tangis bayi yang di tunggu tunggu kehadirannya selama ini.
" Bayinya laki laki, ganteng banget" Kata suster tersebut menyerahkan bayi laki laki yang ku bawa selama 9 bulan ini kemana mana kepadaku. Sudah dibersihkan oleh susternya lalu diserahkan kepadaku.
Aku menangis memandang sedih anak laki laki ku ini. kak fadil versi kecil ini harus lahir tanpa di temani seorang ayah, bahkan kak fadil nggak ada untuk sekedar mengazani putranya.
" Anak bunda ganteng..selamat datang ke dunia nak" Lirihku, bahagia campur sedih bercampur menjadi satu
" Re, kasih ke papa dulu nak. Biar di azani" Kata mama yang membuat aku tersenyum lirih. Anak ku punya ayah tapi seperti nggak punya, hingga opa nya lah yang harus mengazani nya begitu lahir
Aku menyerahkan anak ku kepada mama dengan hati hati, aku masih sangat canggung menggendong bayi
__ADS_1
Pandanganku nggak terlepas sekalipun saat papa mengazani cucu laki lakinya sampai selesai. Setidaknya aku harus bahagia memiliki mertua yang sangat menyayangiku dan menerima aku dan anak ku denga sangat tulus.
" Kamu udah punya nama untuk cucu ganteng mama ini re?" Tanya mama yang masih menggendong gemes cucu nya itu
Aku tersenyum mengangguk " Muhammad Fayyadh Hulaifh" Nama yang sempat kami bincangkan berdua dengan kak fadil. Lebih tepatnya sih itu rekuesan nama dari kak fadil. Karena namanya bagus dan maknanya juga bagus, aku jadi mengiyakan nama tersebut untuk anak laki laki kami.
" Nama yang bagus. panggilannya fayyadh ya re" Kata mama antusias. Aku mengangguk. Sesuai kemauan kamu mas. Muhammad Fayyadh Hualaif, dipanggil Fayyadh. Aku memberikan nama itu untuk anak laki laki kebanggaan kita. Aku harap kamu cepat pulang. Temui aku sama anak anak kita.
"Pa.." Panggilku lirih ke arah papa
" Kenapa re" Respon papa dengan cepat
Aku menunduk ragu. Sebenarnya aku takut untuk menanyakan ini kepada papa. Tapi aku nggak bisa nahan lagi buat nggak nanya " Papa nggak tau mas fadil dimana?"
Papa memandangku dalam. Ditariknya nafasnya dalam dalam " Sekarang fokus sama anak kamu dulu re"
Aku menangis. Kenapa papa seakan akan ingin memisahkan aku dengan anak laki laki nya. Aku nggak tau permasalahan fania udah selesai atau belum. Mama, papa sama sekali nggak pernah memberi tahu aku perkembangannya. Aku yakin papa mama pasti tahu semuanya. Apa yang nggak bisa dilakukan oleh papa. Bahkan kalau dia mau, papa bisa menemukan keberadaan kak fadil sekarang juga.
" Sedih banget nasib anak aku ya ma.. Jadi yatim sejak masih dalam kandungan"
" Re!!" Mama membentak ku
Aku tersenyum hambar. Aku tau mama marah karena aku menyebut anak ku seorang yatim " Iya kan ma. mas fadil aja nggak tau ada dimana. Mungkin aja dia udah meninggal "
Mama menangis" Keterlaluan kamu re, bilang anak mama meninggal. Fadil masih hidup"
Aku diam nggak bergeming.Kalau masih hidup dimana raganya. Lebih baik di anggap mati kan, daripada masih berharap dia hidup tapi hanya akan menjadi luka. karena mengharap dia kembali agaknya menjadi hal yang sia sia
" Udah ma. Jangan emosi. Rere juga lagi sedih ma" Kata papa menenangkan mama
Mama masih berusaha menahan tangisnya. Akupun sama masih dengan air mata memandangi bayi kecilku yang berada dalam gendonganku.
__ADS_1