WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
10 - Undangan Makan Bersama


__ADS_3

Sudah hampir 3 hari dari semenjak kejadian pria bernama WR meminta no ponsel ku. Tapi, dia belum juga mengirimkan pesan apapun padaku. Kenapa? Apa dia sudah tidak menginginkannya? Ah WR. dia selalu membuatku menciptakan banyak pertanyaan ketika mengingat tentang dirinya.


Sore itu, ketika pulang kuliah. Aku melihat ada beberapa orang pria dan juga wanita yang membawa beberapa kardus berisikan buku buku dan juga baju, keluar dari arah kosan ujung, kosan yang ditempati oleh WR dan teman-temannya.


"Ada apa? mau dibawa kemana barang barang itu? Apa mereka akan pindah kosan". Batin ku.


Aku berdiam diri dan memperhatikannya tepat didepan kosanku sedangkan Nina dan Simi telah maduk terlebih dulu.Tak lama setelah itu, munculah seorang pria yang sudah ku ketahui nama nya, WR. Dia keluar dari kosan dengan membawa kardus yang berisikan piring piring dan juga gelas.


Ia tersenyum kearah ku. Akupun membalas senyum nya seraya berkata : "pindahan,?" Entah kenapa kata kata itu terucap begitu saja dari mulutku.


"Iya, kedepan. Nanti malem dateng ya. Ajakin Nina sama Simi juga. Mau ada acara makan makan dikosan baru,"


terangnya yang tidak lama berlalu tanpa menunggu jawaban apakah aku akan datang atau tidak.


Aku masuk kedalam kosan dengan beberapa kali keluar berharap bertemu lagi dengan nya. Tapi ternyata tidak ada.


Ku ceritakan perihal undangan yang aku terima dari WR yang meminta kami untuk datang malam ini kekosan baru nya. Nina dan Simi sangat antusias sekali mendengar nya.


"Yes, bisa ketemu Bang Alex," ucap Nina.


Sedangkan Simi sepertinya dia tidak punya incaran hanya saja dia seneng berkumpul apalagi dalam sebuah acara makan makan.


***


Ba'da isya kami bersiap siap menuju kosan baru nya, yang hanya terhalang oleh dua bangunan rumah warga.


Sebetulnya, ingin ku urung kan niat ku untuk menemuinya saat itu. Karena banyak sekali pria dan wanita yang datang ke acara malam itu. Tapi, Nina melarang ku dengan alasan Bang Alex juga meminta nya untuk datang, melalui pesan yang diterima nya tadi selepas magrib. Entah sejak kapan mereka saling bertukar no hp, aku tidak tau pasti.

__ADS_1


Dengan perlahan kami berjalan menuju kerumunan orang orang yang tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu nya. Ada yang menggelar karpet besar dan panjang, ada yang bulak balik bawa makanan, ada yang menyiapkan air mineral, dan ada juga yang bersantai sambil main gitar.


Ramai sekali malam ini. Aku dan teman teman ku seperti anak ayam yang mencari induk nya, celingak celinguk tidak tau harus berbuat apa. Sampai tiba tiba aku melihat seorang laki laki dengan perawakan yang gemuk. Seorang laki laki dengan wajah yang sudah tidak asing lagi.


Bang Eman. Begitulah orang orang memanggilnya. Dia pernah menjadi disipliner yang paling menyeramkan waktu masa ospek ku dulu. Jangan kan untuk berbicara dengan nya, menatapnya saja aku tidak berani. Tapi sekarang dia ada disini, dihadapan ku dan menyambutku.


"Wah. Akhirnya dateng juga, Bu Ketua," Ucap bang Eman melihat kedatangan ku bersama kedua temanku.


Baik aku maupun Nina dan Simi. Kami sama sama bingung. Tidak mengerti, siapa yang di maksudnya dengan Ibu Ketua. Seingat ku, aku tidak menjabat sebagai ketua kelas, begitupun dengan simi dan Nina, mereka hanya mahasiswa biasa seperti ku.


"Ayo duduk, duduk," Ucap Bang Eman dengan sangat ramah dan senyuman yang baru aku lihat. Karena semenjak kejadian Ospek dulu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan nya.


Kami telah duduk mengelilingi makanan yang telah diletakan dibagian tengah karpet. Ku taksir ada sekitar 20 orang cewe cowo yang hadir malam itu.


Acara belum bisa di mulai karena sang Ketua belum datang katanya. Aku bertanya tanya seperti apa ketua yang mereka maksudkan dan perkumpulan apa ini sebenarnya.


***


"iya," jawab ku dengan senyuman seramah mungkin . Entah siapa mereka dan entah kenapa hampir semua dari orang yang berada disitu mengetahui namaku.


Hp ku berbunyi, Arega menelpon dengan alasan rindu. Obrolan di tlpn kali ini tidak berlangsung baik karena terlalu ramai disini, hingga membuat Arega bertanya. Aku sedang dimana? Sama siapa ? Ngapain?.


"Lagi di kosan temen. Ada acara makan makan,". jawabku.


Ku tutup tlpn yang tadi sempat tersambung beberapa menit. Karena, mendengar orang orang berkata bahwa Ketua telah tiba.


ku arah kan pandangan ku ke segala penjuru mencoba mencari Sosok ketua yang mereka gandrungi.

__ADS_1


"Ayo buruan, Ketua. udah laper, nih," ucap salah seorang dari mereka.


Siapa yang mereka maksud sebagai ketua. Bukankah disana hanya ada laki laki yang memakai kaos putih dengan lengan panjang, bertuliskan "WR" di dada bagian kiri nya.


WR? gak mungkin dia ketua nya. Aku tidak mempercayainya sebelum akhirnya aku menyaksikan sendiri bagaimana dia membuka acara tersebut dan mulai memimpin doa untuk makan bersama.


***


Selesai sudah acara makan makan. Sebenarnya, aku ingin segera pulang. Hanya saja, Nina masih asik mengobrolkan banyak hal dengan Bang alex. Simi, ah dia terlalu sibuk dengan gawai nya hingga mengacuhkan ku yang berada disamping nya.


"Jangan pulang dulu," suara itu terdengar lagi, memecah lamunan ku.


"eh, Bang WR," ucapku gugup. jantung ku berdetak tidak karuan. keringat mengucur deras di udara yang seharusnya membuatku dingin.


"Panggil WR aja. maaf, ya. Tadi sibuk. Jadi, baru sempet nemuin Tiya, sekarang,"


"Mmm. Iya gak apa apa, kok."


"No hp yang waktu itu Tiya kasih, ilang. Makanya gak bisa sms," pengakuan nya sudah menjawab rasa penasaran ku perihal dia yang tidak mengirim pesan padaku.


***


Kami mengobrol banyak hal malam itu. Dari obrolan itu pula ku ketahui bahwa dia dan teman teman yang berada di acara tsb terlibat dalam suatu organisasi External Kampus. Sebut saja meraka Aktivis.


Dan WR di pilih sebagai Ketua untuk Cabang dari Fakultas ku. "karena gak ada yang mau, yaudah terpaksa deh," jawabnya ketika kutanya alasannya kenapa dia menjadi ketua.


kurang lebih pukul 10 pm. Aku kembali ke kosan ku. Aku Segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setekah itu merebahkan badan dan mulai membalas beberapa pesan yang sengaja tidak aku buka. Saat itu, aku tidak ingin terlihat sibuk dengan hp ku di hadapan WR. Seolah aku tidak ingin dia tau bahwa aku sudah memiliki pacar.

__ADS_1


Apakah aku salah? Entahlah.


__ADS_2