
Berakhir sudah acara yang WR buat bersama teman temannya. Entah kenapa, Nina dijemput oleh pacarnya sehingga membuat dia pulang lebih awal. Akupun meminta untuk pulang bersama WR naik motornya dengan alasan "malu, di bus gak ada Nina," dia pun menyetujui nya.
Ketika sedang mengemas baju baju ku, Tiba tiba aku teringat pada Arega. Segera ku ambil hp ku dan mengirimkan sebuah pesan padanya yang berisi "Aku mau putus," dengan cepat dia membalas pesan ku "iya," jawabnya tanpa ada pertanyaan "kenapa atau ada apa".
Aku mengganggap bahwa dia sudah mempunyai penggantiku. Terbukti dari sikapnya yang terkesan biasa saja diputuskan oleh ku. "kenapa aku tidak memutuskan nya dari dulu," batinku.
"Jangan hubungi aku, lagi," sebuah pesan dari ku, kembali terkirim padanya.
lagi lagi dia hanya membalas "iya,"
Segera ku hapus pesan masuk dan pesan terkirim atas nama nya dan tak lupa juga ku hapus no tlpn nya. Berakhir sudah, kisah cinta yang hampir 10 bulan ini aku jalani dengan dia.
Aku, jauh dilubuk hati ku yang terdalam. Sepertinya masih menyimpan rasa padanya. Hati ku tidak diciptakan dari batu yang dengan mudahnya, begitu saja melupakan seseorang yang pernah menetao didalam nya. Hanya saja, saat ini aku merasa bahwa sebagian hati ku telah terisi penuh oleh cinta yang baru. Aku minta maaf, Arega. semoga kamu mengerti dan mendapatankan gadis yang jauh lebih baik dariku.
***
Sore hari kami semua kembali ke kota, 1 buah bus besar dan beberapa motor berjalan bersama.
Senang rasanya bisa berada diatas motor yang sama dengan nya.
"Cie.. cie..," teriak beberapa orang teman WR. yang kami dahului motornya di jalan raya. Akupun hanya bisa tersenyum tanpa tau harus berbuat apa.
Langit tiba tiba saja menghitam, seolah mengerti kesedihan yang di alami Arega setelah putus dariku. Tunggu dulu, Sedih? apa mungkin Arega bersedih. Entahlah, yang pasti saat ini aku sudah benar benar di miliki WR, tidak lagi terbagi.
Gerimis mulai turun secara bersamaan. Bus masih melaju seperti biasa, sedangkan beberapa orang yang berkendara motor satu persatu menepi ke sebuah warung kopi.
Untuk sesaat fikiran ku terbang melayang layang. Membayangkan bahwa, aku pernah ada di posisi seperti ini, berdua di atas motor dan ditemani hujan. Tapi, kali ini. Laki laki yang bersama ku, bukan laki laki yang dulu pernah ku titipkan kepala ku dipundaknya.
Saat itu, saat aku menikmati rintiknya hujan bersama dengan Arega. Tidak pernah terbayangkan bahwa akan ada laki laki lain yang menggantikan posisi nya.
"Tiya...," ucap WR sambil melambai lambaikan tangan nya dihadapan wajahku. "Kamu, ngelamun?"
"Eh. Engga. Lagi nikmatin ujan, aja."
"Nikmatin ujan atau bayangin orang yang pernah ujan ujanan bareng kamu?" lagi lagi, entah bagaimana caranya, Dia bisa membaca dengan jelas isi fikiran ku.
"Aku gak pernah ujan ujan," jawabku berbohong. Sepertinya dia tidak percaya jika dilihat dari raut wajahnya. Tapi, biarkan saja. Paling tidak, pembahasan mengenai hujan tidak berkepanjangan.
"Nih. Minum," segelas teh manis hangat dia berikan padaku disertai dengan beberapa gorengan yang diletakan nya diatas piring.
"Dingin, gak?" tanya nya lagi.
"Dingin lah," jawabku yang saat itu memang sedang tidak menggunakan jaket. Sedangkan tas yang berisikan jaket ku telah lebih dulu melaju bersama bus.
"Yah jaket nya cuma ada 1. Nih, yang aku pake doang.?"
"Trrus?"
__ADS_1
"Kamu mau pake?" tanya nya lagi.
"Gak ah, buat kamu aja. Kan, kamu yang nyetir," Padahal saat itu, aku berharap dia akan memaksaku untuk memakai jaketnya. Tapi ternyata aku salah, dia malah menyetujui kata kata ku dan berkata "Yaudah."
***
Perjalanan pulang berjalan agak lambat. Beberapa kali kami harus menepi karena hujan yang senang sekali pergi, lalu datang lagi. Tapi syukurlah kami semua tiba dengan selamat, sekitar pukul 8 malam.
Setelah mengantarkan ku kembali ke kosan. WR langsung pamit kembali kekosan nya. Akupun menyetujuinya karena aku ingin secepatnya mandi dan merapihkan beberapa barang bawaan ku.
Dikosan sudah ada Nina yang telah sampai lebih dulu dari ku dan juga ada Simi yang sudah kembali karena ibu nya telah dinyatakan sembuh.
"Gue putus sama Arega?" ucapku pada mereka berdua. Tampak nya, hanya Simi yang kaget mendengar penuturan ku. Nina terlihat biasa saja karena pasti sudah menduga bahwa aku akan lebih memilih WR.
"Tiya, lu serius?" Tanya Simi sambil mendekatkan wajah nya kehadapan ku.
"Gak beres nih orang," tambah nya lagi.
Sengaja, aku tidak langsung menjawab kata katanya. Karena, sepertinya. Simi masih akan mengeluarkan unek unek nya.
"Tiya, lu gak mikir, apa? Lu mutusin Arega demi orang yang baru aja lu kenal belum lama. Lu yakin dia sayang sama lu kaya Arega yang sayang sama lu? lu yakin dia mau nerima semua keegoisan lu? lu yakin dia bisa setia seperti setia nya Arega sama lu? kalo apa apa tuh di fikir dulu, jangan langsung bertindak."
Benar saja, Simi ngedumel panjang lebar. Dari awal kedekatan ku dengan WR. Simi selalu mengingatkan ku untuk tidak jatuh cinta. Tapi nyatanya, siapa yang bisa menduga bahwa cinta bisa datang kapan saja.
"Elu juga Nin," Simi memalingkan wajahnya ke arah Nina. "Bukan nya kasih tau si Tiya, jangan main putus putusin aja orang. kadang suka gak mikir panjang emang si Tiya tuh,".
"Biarin aja Simi. Kalo Tiya lebih nyaman sama WR. Kenapa engga. iya kan, Tiya?" Nina menoleh ke arah ku. Raut wajahnya seolah ingin mengatakan bahwa dia mendukung keputusan ku.
Aku terdiam memikirkan apa yang simi katakan. Bagaimana jika ternyata WR hanya mempermainkan ku saja. Masih bisa kah aku kembali pada Arega jika kejadian seperti itu benar benar nyata nanti nya.
Malam semakin larut, lebih baik aku tidur, dengan begitu aku memberi waktu istirahat kepada otak dan hati ku agar terlupa sejenak dari semua kekacauan ini.
***
Hari ini di kampus, WR menemuiku. Dia bilang, dia akan pergi untuk suatu urusan 3 hari lamanya bersama beberapa orang teman nya.
"Baru juga pulang, udah pergi lagi." kata ku dengan sedikit bersedih.
"Iya, sibuk." jawabnya.
Seperti tidak punya hak untuk melarang nya pergi. Aku, dengan berat hati mengijinkanya walaupun pasti aku akan merindukan nya.
WR pergi beberapa saat, setelah dia pulang dari kampus.
"Pergi dulu, ya." sebuah pesan masuk ku terima dari nya.
"Hati hati," balasku.
__ADS_1
Ku charge hp ku yang tinggal 20% lagi. Ku baringkan tubuh ku ditengah tengah antara Simi dan Nina.
"Tok.. tok.. tok.." suara pintu diketuk.
"Mi, liat sono mi. Lagi pewe (posisi wenak "nyantai") banget gue," titah ku yang disetujui oleh Nina.
Simi berlalu hendak membukakan pintu. Sesaat kemudian dia kembali dan menatapku.
"Siapa?" tanyaku.
"Arega," jawabnya singkat seraya merebahkan badannya kembali diatas kasur. "Rasain, lu," tambahnya ketika mekihat kepanikan terpancar dari wajah ku
Buru buru aku keluar dan terlihat Arega sedang duduk diruang depan. Dia menatapku dengan senyum.
"Aneh," batinku.
Untuk apa dia menemuiku lagi. Padahal aku sudah berkata untuk jangan pernah menemui ataupun mengubungi ku lagi. Lalu, untuk apa dia kesini?.
"Kok, kesini?" tanyaku dengan canggung dan duduk agak jauh dari nya.
"Kenapa? gak boleh?" tanya nya.
"Kan kita udah putus?"
"Serius, gitu?"
"Maksud kamu?"
"Boongan doang kan," jawabnya sambil tersenyum.
Ya Tuhan, susah payah aku mengirimkan pesan ingin putus. Nyatanya dia hanya menganggap kata kata ku sebagai lelucon.
"Aku serius," aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku benar benar ingin putus darinya.
Percakapan kita berjalan lambat karena beberapa kali aku harus kembali ke kamar untuk membalas pesan dari WR. Aku tidak ingin sampai dia curiga dan menyangka bahwa aku menyembunyikan sesuatu dari nya. Namun ternyata tindakan ku tersebut justru malah menimbulkan kecurigaan pada Arega.
"Pasti gara gara WR, ya?" tanya nya seolah sedang mengintrogasi ku.
"Enggak. Aku mau kita putus, aja."
"Bohong. Kok bulak balik terus ke dalem. Buat apa coba? Sms.an kan sama cowo yang namanya WR?
Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. karena memang yang dia katakannya adalah kenyataan.
"Gak mungkin kamu mau putus dengan mudah, kalo belum ada yang bisa gantiin posisi aku," tambahnya lagi bersiap hendak pergi.
Aku masih terdiam saat itu, hingga dia duduk dimotornya pun aku masih saja bungkam.
__ADS_1
"Semoga kamu gak salah pilih. Aku pergi." ucapnya dengan raut wajah sedih. sempat aku melihat beberapa bulir air mata memaksa keluar dari netra nya.
Aku mematung menyaksikan nya pergi. Kisah cinta ku dengan nya harus berakhir seperti ini. Cepat atau lambat kita pasti akan berpisah. bukan kah lebih cepat lebih baik. Arega, terimakasih pernah mencintaiku.