
"Ya Allah, apapun hasilnya nanti. Pasti itu yang terbaik."
Azan subuh sudah berkumandang setengah jam yang lalu, Solat ku pun sudah selesai sedari tadi. Tapi mukena yang aku kenakan rasanya belum ingin aku tanggalkan. Cukup lama aku bersimpuh dan berdoa pada Sang Maha Kuasa untuk diberikan segala yang terbaik, apapun hasilnya nanti pasti itu semua sesuai dengan kemampuanku.
"Tiya, bangun." Suara Simi membangunkanku yang tidak sengaja tertidur diatas sejadah dan masih mengenakan mukena.
"Astagfirallah, jam berapa Sim." Tanyaku dengan kaget sembari celingukan melihat jam.
"Selow baru jam 6.30." Jawab Simi sambil berlalu kekamar mandi dengan handuk yang melingkar dilehernya.
Dengan segera aku melepaskan mukena dan menggantungnya kembali ketempat semula, juga sejadah yang tidak lupa aku lipat lalu menyimpannya ditempat biasa.
Ku raih baju PGRI yang semalam sudah aku setrika dengan rapi dan mulai mengenakannya. Celana bahan berwarna hitam sudah sejak tadi aku pakai, jadi sekarang hanya tinggal kerudung yang belum aku kenakan.
Aku berdiri didepan cermin dengan mulut yang tampak seperti sedang berkumat-kamit.
"Woy, baca mantra lu." Suara Nina benar-benar membuyarkan fokusku yang saat itu tengah berlatih.
"Nina ih. ilang, kan hafalan gue."
"Gausah dihafal. Jalanin aja, kaya hubungan lu sama Bang WR." ucap Nina dengan cengengesan.
"Dih apaan sih lu, ngelindur. mandi sana."
"Eh, Arega apa kabar ya?" tiba-tiba saja Nina bertanya tentang Arega. Membuatku mau tidak mau kembali terbayang akan wajah dan kisahnya.
"Dih, gak tau. bikin mood gue ilang aja.." Entah kenapa saat itu aku sedang tidak ingin mendengar namanya ataupun mengingat tengangnya. Aku sudah cukup nyaman bersama WR untuk saat ini.
"Haha maap." Jawab Nina dengan tertawa dan bergegas menuju kamar mandi.
Gubrak !!
Terdengar suara gaduh dari arah dapur yang diiringi dengan teriakan Simi dari dalam kamar mandi. Aku berlari kearah suara tersebut dan nampak Nina telah mendobrak pintu kamar mandi, karena Simi tidak kunjung selesai sedari tadi.
"Parah banget si Nina." Simi mendumel keluar dari kamar mandi.
Aku hanya tertawa melihat tingkah laku mereka. Ku ambil sebuah kerudung berwarna hitam yang sudah tergantung di dinding sebelah kanan. Aku mulai mengenakannya dan sekali lagi menatap diriku sendiri di cermin sebelum akhirnya Simi mendorong tubuhku. "Minggir, gue lagi." Ucapnya begitu.
Ku periksa kembali semua perlengkapan yang aku butuhkan untuk tes penentuan ini. Mulai dari tanaman, pot, karton, pupuk, tanah. Dan..
"Sim, gue belum beli jahe lupa. Sim.Gimana ini, Astagfirallah" Dengan segera aku berjalan kearahnya dan mulai mengeluh kepadanya
"Nanti dijalan. lebay banget lu. Udah sono ah" Ucap Simi yang sedang mengenakan bedak.
Ku cari gawaiku dan mulai menghubungi WR.
__ADS_1
"Hallo," terdengar suara WR pelan.
"Beliin jahe dong. buruan penting. semalem lupa mau beli. sekarang mau beli takut gak keburu. Simi masih makeupan soalnya. tau sendiri dia kalo makeup lama banget."
"Apa sih. pelan-pelan kalau ngomong, tuh." WR terdengar kebingungan mendengar perkataanku yang melebar.
"Beli jahe."
"Berapa?"
"Berapa ya? 10ribu cukup kali ya."
"Yaudah."
"Sekarang."
Dia menutup panggilan telpon dariku setelah sebelumnya menjawab "Iya".
Simi masih terlihat berdiri didepan cermin dan Nina sudah selesai dengan ritual mandinya.
Aku menunggu dengan cemas kedatangan WR sambil sesekali mengingat apa yang akan aku sampaikan nanti pada saat micro teaching.
Aku beranjak dan segera membuka pintu ketika terdengar suara motor yang pasti milik WR.
"Ada gak?" Tanyaku sembari memegang gagang pintu.
Satu buah plastik berukuran kecil diberikan olehnya padaku.
"Gak bawa sarapan sih?" aku berharap dia membawakan sarapan seperti kemarin tapi ternyata tidak hari ini.
"Gak bilang."
"Kemaren gak bilang, dibeliin."
"Ya kemarin sih punya uang."
"Sekarang?"
"Abis.sisa 10ribu dipake beli jahe" Ucapnya sambil tertawa.
"Ish, nih diganti." Aku memberikan uang 10ribuan satu lembar padanya.
Ku buka kresek yang dia beli hanya sekedar untuk memastikan bahwa pesananku benar. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya secara perlahan,
"Disuruh beli jahe," Kataku ketika melihat isi dari bungkusan tersebut.
__ADS_1
"Lah itu sih."
"Iya jahe, tapi ada kunyit sama lengkuasnya juga. buat apa.Mau masak daging."
Ucapanku sepertinya didengar oleh Simi dan Nina karena mereka serentak tertawa mendengar perkataanku.
"Kata tukang warung nya "Jahenya campur? gitu. Aku jawab iya, orang gak tau."
"Yaudahlah biarin."
***
Aku mulai mengenakan kaus kaki dan sepatu warna hitam milikku. ketika melihat Simi telah selesai dengan makeupnya
"Bang WR," Simi memanggil WR. Ketika WR menoleh kearahnya, dengan cepat Simi melemparkan kunci motor miliknya. "Parkirin dong." Ucapnya.
"Males," Jawab WR cuek.
"Ih, buruan. Lama si Simi tuh." Aku memaksa WR memarkiran motor milik Simi karena melihat Simi yang sedari tadi memakai kaos kaki masih berkutat dikaki kiri.
Motor sudah diarahkan kegerbang dan Simi pun sudah melenggang keluar. Dengan cekatan WR menaikan karung berisi tanah serta menggantungkan beberapa kantong kresek berisi keperluanku yang lainnya.
"Naik dulu, " Titah WR padaku.
Aku menaiki motor tersebut dengan Simi yang sudah sedari tadi bersiap untuk menyetir. Segera WR memberikan 2 buah kresek yang aku pegang ditangan kanan dan kiri.
"Yakin gak mau dianter." Tanya WR memastikan.
"Gausah. Doain aja."
"Iya,"
"Bang WR. Aku mau berangkat ngajar. kamu mau disini atau mau pulang." Ucap Nina yang sudah siap untuk pergi mengajar.
"Pulang aja." Jawab WR yang dengan segera berlalu kearah motornya.
"Assalamualaikum." Ucapku sebelum Simi menarik gasnya dan berlalu pergi menuju tempat perlombaan.
***
Aku berangkat pukul 7.30 sedangkan perlombaan akan dimulai pukul 8.00. Kurasa 30 menit cukup untuk ku menempuh perjalanan dan sekedar beristirahat sejenak nanti disana.
Tempat micro teaching kali ini berbeda dengan tempat yang dulu ketika aku menjalani tes tulis ataupun tes lisan. Micro teaching kali ini dilaksanakan disalah satu TK yang lumayan sudah berdiri cukup lama dan juga sudah sangat mempunyai nama. TK IT Al- Furqun, begitu Miss Mala mengenalkannya padaku.
Kebetulan TK tersebut masih berada disatu desa yang sama dengan TK tempatku mengajar. Miss Mala banyak bercerita mengenai TK tersebut. Jika saja kedua sekolah tersebut memiliki basic yang sama, pasti akan menjadi saingan yang berat bagi sekolanya. Begitu kata Miss Mala.
__ADS_1
Untunglah, kedua sekolah itu mempunyai basic yang berbeda, Sekolah ku lebih berfokus pada bahasa inggrisnya, sedangkan TK tersebut lebih fokus dan memperdalam tentang ilmu agamanya.
Aku tiba sesuai dengan prediksiku. 10 menit lagi menuju perlombaan dimulai. Tampaknya bukan hanya aku yang disibukan dengan barang bawaan, hampir semua orang peserta yang hadir kali ini membawa banyak sekali perlengkapan. Ada yang membawa bola, ember, boneka, mainan. yang aku sendiri tidak tau apa materi mereka.