WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
77 - Selamat Tinggal Arega


__ADS_3

Arega dan Raka berjalan menghampiri ku dengan senyum yang mengembang, tampak sekali raut kebahagiaan terpancar dari sorot matanya. Berbeda dengan ku yang sudah mulai gusar semejak kedatangan mereka.


"Arega," ucap Nina yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya ketika sosok pria yang sangat aku wanti wanti untuk tidak bertemu, telah ada dihadapannya. Tanpa berucap Arega hanya tersenyum kearah Nina.


"Sorry gue lama. Tadi pas mau otw kesini, Arega tiba-tiba nelepon ngajakin beli makan. Gue fikir yaudah sekalian." Raka menjelaskan apa yang sedari tadi mengganjal didalam hatiku. Bukan seperti itu perjanjian awalnya, tapi jika sudah begini aku harus apa.


"Gak apa-apa, kan? Tiya? Lu enjoy kan," kini Raka menatapku dan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat bodoh menurutku. Apa dia tidak bisa melihat expresi wajahku yang berubah beberapa detik setelah melihat Arega.


"Yaudah," jawabku pelan dengan detik berikutnya membuang muka agar tidak bertatapan dengannya.


Nina menarik Raka yang masih berdiri kearah lain dan mulai berbicara dengannya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarnya. Tapi sepertinya Nina tengah memprotes Raka tentang Arega yang ikut bersamanya.


Aku dan Simi masih duduk sedangkan Arega masih belum mengambil posisi. Simi mendekatkan mulutnya ketelingaku dan berbisik, "si WR marah gak kalau tau lu ketemu sama Arega?"


Aku hanya mengangkat kedua bahuku tanpa membalas bisikan Simi.


Nina telah kembali bersama Raka dengan sebuah senyum yang tampak terpaksa. Mungkin Nina merasa bersalah padaku karena telah membuat aku bertemu kembali dengan Arega.


"Ayo mau kemana nih nyari kadonya?" Ucap Raka tanpa rasa canggung sedikitpun.


"Hmm, kayanya aku nyarinya sendiri aja deh. Kalian lanjutin aja tanpa aku." Ku balas ajakan Raka dengan sebuah kalimat yang cukup membuat Arega terhenyak.


"Dih gue ikut lu, ah." Balas Simi menimpali ucapanku.


"Lah, terus gue gimana?" Tanya Nina dengan menatap bergantian kearahku dan kemudian kearah Raka.


"Ya lu kalau mau bareng Raka silahkan. Gue sama Simi aja." Jawabku.


"Loh, gimana sih ini katanya mau ditemenin nyari kado?" Jawab Raka.


"Siapa yang minta temenin? Nina kan bukan gue. Jadi lu tau dong siapa yang harus lu temenin. Lagian Arega kesini buat beli makan kan? Bukan buat nemenin beki kado." Ucapku membungkam Raka yang sedari tadi selalu menimpali setiap ucapanku.


"Kamu kenapa, Tiya?" Arega yang semenjak kedatangannya diam kini mulai membuka mulutnya dan bersuara.

__ADS_1


"Aku?" Ku ulangi maksud dari pertanyaannya.


"Iya. Kamu benci sama aku? Sampai sampai kayanya kamu gak suka ada aku disini." Keluh Arega dengan netra yang enggan menatap kearah lain selain menatapku.


"Aku gak benci sama kamu. Tapi ngeliat tingkah temen kamu yang kayanya kok sengaja banget biar aku bisa selalu ketemu kamu, itu yang aku gak suka. Lagian, Sekarang keadaannya udah berbeda. Mungkin dulu kita sempet pacaran, tapi kan hubungan itu sudah berakhir untuk waktu yang cukup lama. Biarin aku bahagia sama pilihan aku. Dan kamu juga harus mencoba untuk bahagia dengan wanita lain. Belajar buat menerima pasangan baru kamu. Jangan selalu membandingkan wanita manapun dengan aku. Semua wanita punya kelebihan dan kekurangannya masing masing. Aku udah pernah ngecewain kamu. Dan aku gak mau untuk hubungan kali ini aku ngecewain WR. Jadi tolong lah, please. Jauhi aku." Kutatap Arega dengan mendongakan kepala keatas dan mulai menjelaskan semua isi hatiku padanya.


"Apa sih yang udah WR kasih buat kamu sampai kamu sebegitu cintanya sama dia? Hah?" Tanya Arega yang sepertinya tidak mau mengerti dengan apa yang aku jelaskan.


"Dia ngasih WAKTU nya yang gak bisa kamu kasih ke aku dulu. Kapanpun aku butuh dia, dia selalu ada buat aku." Ucapku dengan tegas.


"Wajarlah. Dia tinggal dikosan yang deket sama kosan kamu. Lagian dia juga kan gak kerja, wajar kalau dia selalu ada buat kamu." Jelas Arega.


Simi Nina dan Raka sama sekali tidak ada yang bersuara. Semuanya seolah terhipnotis dengan perdebatan yang sedang mereka saksikan secara langsung antara aku dan Arega.


"Ya terus salah? Kalau akhirnya aku lebih pilih WR ketimbang kamu? Iya."


"Kamu gak salah. Laki laki itu yang salah udah ngerebut kamu dari aku."


Aerga terdiam mendengar perkataanku yang mengungkit semua masalalu diantara kita berdua. Tangannya meraih senderan kursi yang ada didekatnya dan kemudian mendudukinya.


Raka mengusap pundak Arega beberapa kali seolah memberikan temannya itu kekuatan.


"Tapi aku masih sayang banget sama Tiya." Kalimat singkat itu yang keluar dari mulut nya setelah beberapa saat bungkam mencerna ucapanku.


"Tapi aku udah gak sayang sama Arega."


"Terus aku harus gimana?"


"Lupain aku."


"Aku gak bisa. Aku udah mencoba nya berkali kali tapi selalu gagal,"


"Kamu pasti bisa. Kamu ganteng, gak sulit buat kamu dapetin cewe lain."

__ADS_1


"Percuma ganteng kalau gak bisa buat kamu jadi milik aku lagi."


"Tuh, kan. Udahlah. Aku gak benci kamu, tapi kalau sikap kamu kaya gini terus bisa-bisa aku benci beneran sama kamu."


"Jangan, aku akan berusaha lupain kamu."


"Nah gitu, dong."


"Tapi aku boleh kan genggam tangan kamu untuk yang terakhir kali. Aku janji setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi."


"Hmm, gimana ya?" Jawabku bingung.


"Sekali aja, janji." Ucapnya.


"Yaudah." Kubiarkan tangan Arega meraih jari jemariku dan menggenggamnya. Dia terus menatapku. Hingga dengan cepat kutarik kembali tanganku dari tangannya.


"Maaf," Ucap Arega.


"Gak apa-apa.Tapi aku harus pergi sekarang. Aku takut kalau WR atau temannya melihat aku sedang bersama dengan laki-laki lain.


" Kamu yakin WR laki-laki yang baik."


"Iya aku yakin."


"Sesaat setelah kamu pergi dari sini. Aku bakal lupain semua tentang kamu. Untuk itu aku bertanya satu kali lagi sama kamu. Kamu yakin gak mau balikan sama aku?" Arega menatapku dengan tajam.


"Yakin."


"Baiklah. Semoga bahagia."


"Kamu juga. Aku pamit ya."


Aku berdiri dan mulai meraih tangan Simi dan Nina untuk pergi melanjutkan membeli kado ulang tahun untuk WR dan meninggalkan Arega dan Raka yang tengah menatap kepergian kami.

__ADS_1


__ADS_2