WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
63 - Sakit Part 3


__ADS_3

"Aku mau pulang, yank." Aku menatap WR dengan manik mata penuh pengharapan. Siapa yang betah berlama-lama berada ditempat asing seperti ini. Aku merasa tubuhku sudah cukup sehat untuk beristirahat dirumah saja, untuk itulah aku merengek meminta pulang.


"Besok, tunggu keputusan dokter." Ucap WR lembut membalas tatapan nanarku.


"Eh ini klinik udah bayar belum?" Aku tersentak ketika tiba- tiba saja ingatanku teratah pada biaya klinik ini.


"Belum, hayo lu ngutang." Ledek Simi dengan cercaan.


"Yank, kamu gak megang uang?" Aku menatap WR dengan harap.


"Megang." Jawabnya santai.


"Bayarin dulu lah, nanti aku ganti."


"Gak mau ah," Jawab WR tenang.


"Dih, terus ini gimana?" Aku mulai kebingungan karena sepertinya uang cash yang aku punya tidak cukup untuk membayar biaya klinik ini.


"Boong ih Tiya, nanti dibayarin Miss Mala." Ucap Nina menenangkanku.


"hah? Miss Mala? kok bisa?" Aku heran bagaimana bisa Miss Mala ikut andil dalam biaya klinik ini.


Simi bercerita bahwa ketika aku pingsan, handphone ku bergetar dan ada sebuah panggilan masuk dari Miss Mala. Akhirnya Simi menjelaskan semua yang aku alami padanya.


"Besok kesini katanya sambil ngelunasin biaya klinik. Tadi Miss Mala sibuk jadi gak sempet kesini. Cuma tadi Miss Mala udah nelepon sama pihak kliniknya gak tau ngomongin apa." Terang Simi dengan tenangnya.


"Yah, gue gak bisa balik sekarang dong?" Keluhku.


"Lu sampe sehat dulu disini. Nanti kalo lu pingsan lagi, gue yang repot." Umpat Simi dengan nada menyebalkan. Tapi , walaupun begitu aku tau dia mengkhawatirkanku.


"Ah, dulu juga waktu ikut ke acaranya Bang WR si Tiya pingsan malem-malem." Nina bercerita kembali mengenai kejadian beberapa bulan lalu yang menjadi awal awal kedekatanku dengan WR.


"Hahaha," Aku hanya mampu tertawa tanpa banyak bicara.


"Eh seriusan ini dibayarin Miss Mala." Tanyaku meyakinkan.


"Iyalah, apa sih yang engga buat guru kesayangannya." Ledek Simi dan Nina yang diiringi tawa mereka bersama.


Rasa kantukku kembali tiba ditengah tengah obrolan seru bersama mereka, mungkin salah satu dari ketiga buah obat yang aku minum mengandung obat tidur karena rasanya kantuk ini semakin tidak terbendung.

__ADS_1


"Kamu ngantuk?" Tanya WR yang menyaksikan ku menguap beberapa kali dengan netra yang mulai membentuk sebuah garis kecil.


"Iya. ngantuk banget." Jawabku parau.


"Yaudah, Nina sama Simi pulang aja. Biar aku yang jagain Tiya. Besok kan kalian ngajar." Titah WR pada Simi dan Nina.


Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Karena belum sempat Simi berpamitan pulang, mataku sudah lebih dulu terpejam.


***


Waktu menunjukan pukul 2 dini hari ketika aku merasa tenggorokan ku begitu kering. Ku lirik botol infusan sudah terisi penuh lagi, sepertinya tadi ada perawat yang datang untuk menggantinya tapi aku tidak menyadarinya.


Beberapa jarak dari tempat tidurku ada sebuah sofa yang berukuran tidak cukup panjang. Disitulah WR memejamkan matanya dengan kedua lengan yang dipertemukan didada dan kaki yang di lengkungkan.


Kuarah kan pandanganku pada sebuah meja yang berada dipinggir ranjangku. Tapi, tidak ada sesuatu yang bisa aku minum disana. Sebenarnya, aku tidak ingin membangunkan WR dari tidur lelapnya. Tapi tenggorokanku rasanya sudah semakin mengering.


"Yank," Aku memanggil WR dengan pelan karena tidak mau mengagetkannya. Tapi rupanya tidurnya begitu nyenyak hingga panggilanku tidak mampu menembus alam bawah sadarnya. Beberapa kali aku memanggilnya hasilnya tetap sama, WR masih saja terpejam tanpa pendengar panggilanku.


Tiba-Tiba saja, aku teringat akan sebuah kalimat yang pernah aku baca, entah dari mana aku lupa. Yang aku ingat begini kalimatnya " Jika dia berada jauh dari jangkauan mu. Tataplah dia, dan berteriaklah dalam hati menyebut namanya, dia akan melihat kearahmu segera."


Aku fikir tidak ada salahnya aku mencoba. Toh aku sudah berusaha membangunkannya menggunakan suara tapi tidak mempan juga. Baiklah, kita coba dengan suara hati.


"Yank," Langsung ku panggil dia dengan segera sebelum mimpi membawa lagi kesadarannya.


Kesadaran WR mulai pulih dan segera bangun ketika melihatku dengan mata terbuka.


" Kamu kok bangun sih?" Dia menghampiriku dengan beberapa kali mengucek matanya


"Pengen minum." Ucapku lirih.


"Oh sebentar," WR mengambil satu buah botol mineral yang masih tertutup rapat di tas hitam miliknya.


"Nih, minum dulu."


Dengan segera aku meminum dan menghabiskan hampir setengah dari botol minum tersebut.


"Udah?" Tanya WR.


"Pengen kekamar mandi." Pintaku.

__ADS_1


"Bisa sendiri?"


"Bisa,"


Aku berjalan dengan pelan menuju toilet dengan sebuah alat penyangga infusan yang menemaniku masuk kekamar mandi.


"Tiya?" WR memanggilku dari arah luar. Mungkin takut aku pingsan untuk kedua kalinya.


"Iya. Ini udah." Jawabku yang saat itu juga langsung membuka pintu kamar mandi.


WR membantuku kembali berbaring diatas ranjang yang sedari tadi aku tempati dan menyelimuti kakiku menggunakan selimut berwarna biru yang senada dengan alas kasurnya.


"Udah, tidur lagi. Biar besok udah boleh pulang." Ucap WR


"Handphone aku dimana?" Tanyaku lain, yang menghiraukau perintahnya untuk tidur.


"Gak dibawa kayanya dikosan." Jawab WR


"Mau kasih kabar orang tua kamu? Pake handphone aku aja." WR mengeluarkan sebuah ponsel miliknya dari saku celananya dan menyodorkan handphone tersebut padaku.


"Gausah, nanti mereka khawatir."


Karena melihat WR yang masih mengantuk sedangkan aku belum. Jadi aku memutuskan untuk meminjam ponsel miliknya dan membiarkan dia tidur kembali di sofa.


"Sok. Pake aja." WR memberikan handphone tersebut padaku. "Gak apa-apa aku tinggal tidur?" Tanyanya lagi sebelum membalik badan menuju sofa.


"Gak apa-apa."


"Kalo ada perlu apa-apa. Bangunin aja." Ucapnya sambil berlalu meringkukan badannya dan kemudian terpejam.


Kasihan, dia pasti lelah setelah seharian ini menunggu dan menemaniku diklinik ini.


Ponsel milik WR dikunci dengan kata sandi yang sudah sangat aku hafal sekali "Tiyajelek"


Klik -


Kunci terbuka dan menampilkan fotoku sebagai wallpapernya. Walaupun tangan kiriku seolah dirantai dengan selang infusan namun hal tersebut tidak mengurangi keahlianku dalam bermain gawai. Ada beberapa notifikasi yang belum sempat terbaca olehnya. Ku buka satu persatu mulai dari facebooknya, hingga WA nya. Ku upload beberapa fotoku bersamanya di akun facebook miliknya, memang seperti itu biasanya karena WR jarang bermain facebook jadi dia tidak terlalu memperdulikan DP (Display Picture) nya yang belum diganti berbulan bulan lamanya. Biasanya aku yang bertugas mengganti foto Profile miliknya, dan dia setuju. Terserah aku saja, begitu katanya.


Setelah selesai mengunggah beberapa foto ku di akun media sosial miliknya, aku mulai beralih keakun facebook milikku yang juga terdaftar di ponselnya. Scrol atas bawah beranda berulang ulang membuatku bosan dan rasa bosan telah mengundang rasa kantuk itu kembali datang. Ku simpan handphone tersebut dimeja dan mulai memejamkam mata kembali, dengan harapan hari esok keadaanku sudah pulih dan aku bisa melanjutkan aktivitas ku seperti biasa lagi.

__ADS_1


__ADS_2